
Hari-hari berlalu, hubunganku dengan Julian semakin hari semakinlah bertambah baik.
Aku semakin sayang pula dengan kekasih pujaanku ini dan sangat menikmati waktuku ketika bersamanya.
Dengan segala ketampananya kebaikanya sunguh membuatku tak berhenti bersyukur atas nikmat yang di berikan Tuhan yang satu ini.
Julian Dokta....
Beribu bintang pun tak sangup meyamai rasa sayangku kepadamu.
Dalamnya lautanpun tak mampu menyepadani akan dalamnya rasa sayangku yang kuberikan untukmu.
Mukin aku sedang bergurau namun itu lah kenyataanya.
Serta harapan cintaku terhadapmu akankah sangatlah besar.
Maka jangan pernah kau uji cintaku lagi terhadapmu.
"Eliza.. " ucapnya sembari melambaikan tangan saat melihatku sedang duduk melamunkan dirinya di kursi taman dekat danau.
"Jangan teriak malu lah" jawabku sedikit bercanda walaupun sebenarnya dia tak terlalu berteriak.
"Ini bicara El gak teriak" jawabnya yang sepatutnya dia ucapkan.
"Tapi liat tu suara kamu mengelegar" bantahku lagi mencoba bercanda lagi.
Cup....!!!
Kecupan itu selalu mendarat manis di bibir mulusku aku tak malu akan sekelilingku karena kebetulan aku duduk sedikit menepi jadi tak terlalu terlihat langsung oleh banyak orang.
"Nambah gak..." ucapnya mengoda yang membuatku sedikit kesal.
"Apa sih emang kuah apa di tanya nambah-nambah mulu" jawabku sedikit jail.
"Ya habis kaya kurang aja" godanya dia lagi yang tak mau kalah ucapan dariku.
"Udah mendingan kamu duduk sini deh Jul liat tempat pertama kali kamu nembak aku" ucapku seraya mempersilahkan dia duduk.
Tanpa di ketahui oleh mereka ternyata Putri sedang mengintip mereka dari kejauhan.
"Iya El indah banget ya tempat ini gak salah aku nembak kamu pas banget sama suasana tempatnya" ucap Julian yang membuat hatiku teduh.
"Telat kamu bilangnya" jawabku sedikit bergurau lagi.
"Oh iya kalo di pikir ujian hubungan kita sangatlah banyak ya mulai dari Dea Rehan yang terakir Putri" tambahku lagi sambil sedikit melirik hidungnya yang mancung itu.
"Iya tapi kamu cuma percaya sama aku kan El...??" tanya Julian yang membuatku semakin yakin bahwa dia sangatlah menjaga hubungan diantara kita.
"Kalo saat ini iya sih tapi gak tau Deh nanti" jawabku sedikit menguji dia.
"Oh iya liburan akir semester nanti kita jalan-jalan ke Jogja yuk sekalian tahun baru" ucap Julian yang membuatku sedikit terhenyak namun juga sedikit bahagia.
"Tapi apa gak terlalu kejauhan itu Jul...??" jawabku sambil berusaha menyentuh tanganya.
"Eh kita udah dewasa kali bukan anak kecil lagi jadi gak masalah kalo kita pergi berdua" ucapnya sembari mengelus-elus lembut rambutku yang membuatku semakin yakin dia berkata benar.
"Tapi lo gak akan apa-apain gue kan...?"" ucapku sedikit takut.
__ADS_1
"Kok lu malah ngegoda gue kalo nanti gue bener lakuin lo mau apa" jawabnya yang membuatku justru malu.
"Jahat banget sih yaudah batalin aja deh" ucapku sambil sedikit cemberut karena tiba-tiba mood ku berubah.
"Ish gitu aja ngambek " ucapnya sambil memeluku dari belakang dan berusaha menciumku lagi.
"Juliannnn...!!" teriaku ketika dia mencoba menciumku lagi.
"Pelit amat sih ama pacar sediri" ucapnya sedikit kecewa karena dia gagal mencium bibirku lagi.
"Oh iya kita pesen apa ni...??" tanya Julian menawariku makan.
"Aku pesen bakso aja kali ya udah lama juga gak makan bakso" jawabku sambil sedikit berfikir.
"Iya udah aku pesenin dulu ya" ucapnya sembari berjalan menuju warung bakso itu.
"Oke " jawabku sambil mengambil tas dan berjalan menuju warung bakso itu.
Putri pov.
Hari berhari berlalu aku tak pernah bisa melupakan Julian entah cara apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa sedikit menghilangkan dia dari pikiranku.
Kenapa aku terlalu lemah mencintai seseorang yang suka aku pun tidak, dan sekarang hubunganku dengan Feri sedikit renggang lagi karena sifatku yang tak menentu membuat dia sedikit menjahuiku sekarang.
Aku teringat saat dia bilang break waktu kita ngedate bareng karena aku tak menikmati sedikitpun kebahagiaan saat bersamanya karena hatiku saat ini sedang berpaling.
"Oke Put mending kita break dulu hubungan kita, kita perbaiki apa bisa lanjut atau tidak...!!" ucapnya sedikit menyentuh hatiku dan membuat pikiranku sedikit bergetar.
"Tapi Fer...??" ucapku sambil memohon.
"Udah gue mau pulang dan ini ongkos buat lo pulang jangan lupa jaga kesehatan" ucapnya singkat dan membuatku merasa bersalah.
Sekarang aku mencoba menuruti langkah jahat hatiku mengikuti kemana perginya Julian bersama Eliza aku cape aku lelah namun hatiku berteriak minta di ikutin semua keinginanya aku melakukan hal salah dan ini membuatku tersiksa.
Aku cemburu tentu aku ingin seperti Eliza layaknya orang yang saat ini sedang di sayang Julian.
Sekarang dia sedang di taman dia bercanda ria, dia tersenyum dia selalu mengoda Eliza.
Satu kata untukmu Jul...
Aku butuh aku butuh seperti yang di rasakan Eliza saat ini Jul.
Hem....
"Hey lo ngapain put kok lo ada disini juga???"
"Dag... dig... dug...."
Jantungku berdetang tak berirama.
Seseorang yang kulamunkan dari tadi datang tepat di depan mataku dengan segala kesempurnaan yang dimiliki membuat mataku tak ingin berhenti berkedip.
"Woy lo kok malah ngelamun terus sih ada apa....??"
"Ya gue, gue lagi itu.." jawabku tersendat karena hatiku sakit aku butuh kamu Jul ucapku dalam diam.
"Oh lo lagi coba cari suasana buat lo sama Feri ngedate kan ini serius lo put tempatnya cocok banget...!!" ucap Julian tanpa mengetahui keadaan hatiku saat ini.
__ADS_1
"Btw lo sediri...??" tambah Julian lagi.
"Iya oh, udah sore gue mau balik" ucapku berusaha menahan semua beban yang aku tahan.
"Kenapa...??" ucapnya menanyai alasanku.
"Ya ini ponsel gue low Jul" jawabku berbohong.
"Gue ada pb kok pinjem gak papa" ucapnya menawari kebodohanku.
"Gak usah" jawabku sambil brrusaha beranjak pergi.
"Tunggu lo kok nangis...???" darrr ucapnya membuatku semakin tertekan.
"Apaan sih gue dari tadi keasikan liat tu orang lagi naik kapal gue sedikit pengen aja" jawabku mengada-ada.
"Oh gitu o iya gue lupa mau pesen bakso gue juga duluan ya" ucapnya sambil berlalu pergi.
"Iya Jul" jawabku dengan berat hati.
Setelah itu dia pergi menuju penjual bakso
Hatiku sangatlah sakit enatah dari mana rasa sakit ini datang padahal dia tak sedikitpun menyakitiku karena emang pada dasarnya mencintai itu lebih sakit dari pada di cintai.
Aku segera menyeka air mataku dan berbalik pulang .
***
"Sory ya El lama..." ucapku ketika mengetahui Eliza sudah di luar menungu pesanan datang padahal aku baru memesan.
"Iya gak papa tapi emang antri ya..??" jawabnya sembari menanyai alasan aku yang sedari tadi lama.
"Gak kok" jawabku sambil berusaha menyeimbangkan suasana hatinya.
"Tapi gue liat lo dari tadi gak ada di tempat pesanan makanan kemana kamu...??" tanya Eliza sedikit marah dan membuatku harus jujur.
"Tadi gue liat Putri disini..." jawabku tentu tak bohong.
"Oh jadi lebih mentingin Putri ya daripada aku...??" jawab Eliza sedikit terdengar kesal dan cemburu.
"Gak gitu sayang aku cuma nyamperin doang kan aku kira..." ucapku menjawab pertanyaan darinya namun belum sempat berlanjut dipotong olehnya
"Udah mending kamu duduk aku cape berantem bahas Putri" ucapnya sedikit membentak dan membuat wajahnta sedikit terlihat jelek.
"Iya udah sebentar lagi pesananya datang kok" ucapku sedikit mengalihkan suasana.
"Iya..." jawab Eliza sedikit mengalihkan pandanganya dari aku.
Setelah pesanan tiba kita menikamti kebersamaan kita dia selalu membuatku bahagia dengan sifat dia yang sekarang sedikit manja.
Tiba-tiba langit berubah mendung dan sebentar lagi mukin hujan deras akan segera tiba rasanya teduh nan menyentuh aku bersama Eliza menikmati kebersamaan kita penuh kehangatan ditambah ada seseorang musisi menyanyikan lagu pop nan merdu.
"Dingin ya..??" ucapku ke Eliza karena sedari tadi tanganya tak berhenti bergerak.
"Iya sedikit" jawabnya berusaha menutupi hawa yang dia rasakan.
"Coba liat" ucapku sembari meraih tanganya dan berusaha menyatujan telapak tanganku denganya
__ADS_1
"Ini gak terlalu merubah hawa dingin yang kamu rasakan namun setidaknya aku berusaha menghangatkan hawa di hatimu" ucapku sambil terus melakukan hal yang membuat dia bahagia.
Dia tak menjawab dan hanya membalas ucapanku dengan senyum manisnya.