
Jam lima sore nanti aku sudah di perbolehkan pulang oleh pihak dokter yang menanganiku.
Jujur sebenarnya aku bosan bila harus ke rumah sakit dan di rawat seperti ini.
"Sayang mama sama ayah menebus obat dulu ya, lagian kamu juga gak papa kalau mama tinggal" ucap mama ku sambil mencium keningku untuk mengambil obat yang tempatnya tak terlalu jauh dari kamarku.
"Iya gak papa kok ma..." jawabku sambil senyum ke mama menandakan aku baik-baik saja bila sendiri.
"Bentar ya sayang..." pamit ayahku yang keluar dari kamar bersama mama.
Aku mencoba memainkan ponsel dan mengecek beberapa notif pesan masuk yang sedari tadi tak aku sentuh, akupun berharap Julian mengabariku seengaknya dia menanyai kabarku..
Karena sesunguhnya aku rindu dan mukin untuk kali ini aku akan memaafkan kesalahanya karena aku ingin memeperbaiki hubunganku denganya.
Namun sedari pagi, siang, ataupun sore ini masihlah sama dia tak mengabariku sekedar kirim pesan pun tak di lakukan jua olehnya.
Aku kecewa namun aku bisa apa hanya bisa berharap dia tak mukin menghianatiku.
Belum sempat aku melamunkan yang lain tentang dia, aku di kejutkan akan sesosok yang bagiku seperti iblis.
"Dea...!!" umpatku dalam ketakutan dan sedikit berkeringat dingan.
"Ya Tuhan apa kurang puas dia melihatku yang sekarang kurang apalagi sebenarnya yang ia harapkan dariku apakah mukin harus nyawaku yang aku hilangkan..." umpatku dalam hati dengan gelisah.
"Ngapin lo kesini Dea...!!" ucapku dengan sinis dan tangan yang bergetar.
"Ups kasian banget sih lo El sakit....!!" ucapnya sok peduli walau ku tau itu hanya ucapan busuk dari mulutnya.
"Gak usah sok peduli deh...!!!!" jawabku berusaha meladeni ucapanya yang seharusnya tak perlu aku jawab.
''O iya kok lo di rawat di klinik kaya gini sih cari gratisan ya apa cuma cari pamor...!!" ucapnya lagi dengan pertanyaan yang membuatku terkejut.
''Lo pergi ....!!!!!!!!!!!'"" ucap ku dengan keras dan kepala yang terasa terguyur air mendidih.
''Gue kesini mau kasih kejutan ke lo tau El...!!" ucapnya lagi sembari mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Apa hah....??" tanya ku berusaha meladeni tingkah Dea.
"Liat aja vidio ini....!!" ucap Dea sembari menunjukan ponselnya ke arah ku.
Dam....!!!!!!!!
"Ini serius Julian dan ini Putri yang kulihat Julian benar-benar dekat dengan Putri dari bicaranya, tingkahnya. serta gerak-gerik aura di wajahnya" umpatku dalam diam mengutuk dalam hati dan air mata yang mulai mengumpul bagai awan hitam yang siap menjatuhkan hujan deras namun aku berusaha sebisa mukin untuk menahan semua ini.
"Oh kaya gitu doang biasa banget...!!" ucapku sedikit santai dan sebisa mukin menutupi rasa sakit di hatiku yang sedari tadi terasa mengerogoti hatiku walau sebenarnya itu sangat sakit.
"Lo kok keliatan biasa aja apa karena lo udah biasa di giniin Julian...??" ucapnya dengan bola mata di gerakan.
"Lo bisa pergi lo mau apa sih dari gue mau gue mati" ucapku dengan kencang dan kulempar bantal ke arah mukanya.
"Sialan lo Eliza dasar cewek gila..!!" ucapnya dengan keras dan itu membuat rambutnya sedikit berantakan.
"Kenapa lo gk bunuh gue sekalian hah...??" tanyaku ke Dea dengan melotot tajam.
"Inget ya El gue gak akan pernah berhenti buat hidup lo sengsara...!!" ucapnya dengan sombong dengan ucapan mengancam.
__ADS_1
"Lo cuma gara-gara Rehan lo jadiin gue tumbal De..!!!" jawab ku dengan amarah yang mulai terlihat.
"Serah gue dong karena lo yang pertama kali buat Rehan ngejauh dari gue..!!" ucapnya dengan membolak-balikan perkataan yang basi.
"Emang dengan lo giniin gue, bakal ngerubah semua...??" tanyaku ke dia dengan ketus.
"Seengaknya gue puas" jawabnya dengan menyeringai puas.
"Inget De lo gak akan pernah bisa bahagia karena sikap busuk lo dan satu hal Dea lo bakal dapet karma dari apa yang lo perbuat" ucapku mengancam.
"Apa...??? Karma gue gak percaya tu..??" jawabnya dengan angkuhnya yang mirip iblis.
"Ini apa apaan-sih...!!" ucap Julian yang tiba-tiba datang membuatku sedikit bimbang.
"Lo ngapain ada disini Jul...!'" ucap Dea yang juga terlihat terkejut.
"Lo yang harusnya ngapain...?" ucap Julian balik bertanya.
"Kok cewek lo gak lo ajak sih...??" tanpa menjawab pertanyaan dari julian justru Dea menanyakan pertanyaan yamg membuat hatiku teriris-iris.
Plakkk..!!!!! tiba-tiba Julian menampar keras Dea dan membuat Dea mundur beberapa langkah.
"Lo bisa gak sih gak main tangan sama cewek...!!" ucapnya dengan emosi sembari memegang wajahnya yang kena tamparan dari Julian.
"Lo sadar De..??"
"Udah gue mohon semua pergi..!!" ucapku dengan lantang.
"El...!!!" ucap Julian seraya mendekatiku
"Lo gak perlu kesini...!!" ucapku dengan air mata yang berurai deras melepaskan beban yang sedari tadi siap jatuh kapanpun.
"Hhhhhh lanjutin deh akting kalian...!!" ucap Dea menertawaiku yang ku tahu rancana dia kali ini gagal.
"Cepet sembuh ya El oh iya mukin kata dokter benar lo gila kali ya...!!" tambahnya yang membuat otakku mendidih.
"Udah cukup mending lo pergi...!!" ucap Julian dengan keras.
"Lo juga harusnya pergi punya cewek kok di se....!!" belun sempat Dea melanjutkan ucapanya di potong oleh Julian.
"Mending lo pergi atau pukulan ini akan buat hidung lo patah" ucap Julian memotong perkataan Dea.
"Uh sory yuk gaes kita cus...!!"
Akhirnya dia keluar bersama kedua temanya.
"Eliza...!!" ucapnya sembari mendekatiku.
"Lo apa-apaan sih Jul lepas ...!!" ucapku menolak sentuhanya.
"Lo gak perlu lakuin semua ini hanya karena lo kasian sama gue...!'" tambahku dengan tatapan kosong.
"Gue gak ngerti El...??" ucapnya dengan pelan namun itu berarti buatku.
"Iya lo gk pernah ngerti apa yang gue rasain ini..!!" jawabku dalam emosi yang memuncak.
__ADS_1
"Cup.." dia mencium bibirku dalam namun aku tampar keras wajahnya
''Gue mohon lo pergi Jul cukup lo buat hidup gue kaya gini dulu gue gak pernah selemah ini tapi gara-gara lo pikiran gue kacau" ucapku dengan membabi buta.
"Eliza gue mohon lo percaya sama gue, gue sumpah El gak jadian sama Putri" elaknya yang membuat seribu alasan yang membuatku justru tak percaya.
"Lo gak perlu jelasin apa-apa gue hanya minta sama lo jangan giniin putri suatu sat nanti karena rasanya sakit banget Jul"
Ucapku sambil terisak membayangkan akan Dia.
''Muah.." dia menciumku lagi namun rasanya sangatlah beda tiada rasa bahagia yang aku dapat sekarang.
"Eliza gue harus apa..??" tanyanya dengan serius.
"Gue hanya butuh lo pergi..!!" jawabku dengan berat dan tatapan kosong.
Karena aku tidak tahan dengan pikiran yang menjeratku dengan brutal aku lepas selang infus dari tangan ku secara paksa dan menimbulkan keluarnya darah walaupun sakit namun aku berusaha kuat.
"El lo apa-apaan sih lo tu gak harus nyiksa diri gini..." teriak Julian melihat tingkahku yang melewati batas.
"Lo kira gue seneng liat lo kaya gini" jawab Julian dengan tatapan mendalam.
"Terus apa Jul yang buat gue gak depresi kaya gini" ucapku dengan sesengukan dan suara yang terputus-putus.
Dia meraih tanganku dengan paksa dan dia melilitkan dasinya di pergelangan tanganku yang terasa masih sakit.
"Lepas...!!" teriaku sembari berusaha melepas peganganya.
"Lo diem" ucapnya dengan kasar.
"Sayang kamu kenapa sih...??" ucap mamaku yang tiba-tiba datang dengan raut wajah kawatir.
"Ini buk barusan Eliza melepas selang infusnya mamun secara paksa" jawab Julian memberikan penjelasan.
"Gak jadi pulang dong kalo kamu malah nangis gini.... !!" ucap mamaku sembari menyeka air mataku.
"Kenapa sih tu sebentar lagi dokternya mau ngecek kamu..." tambah mamaku sembari mengelus lembut rambutku.
"Maaf buk om saya permisi sebentar..." ucap Julian sembari melangkah keluar.
"kok buru-buru sih...!!!" seka ayahku yang baru duduk.
Tanpa menjawa ucapan ayahku dia hanya membalas dengan senyum tipis dan berjalan keluar.
"Ya tapi aku kesel ma...!!" ucapku mengadu ke mama seperti anak kecil.
Belum sempat aku melanjutkan ceritaku tiba-tiba dokternya datang aku sebisa mukin membersihkan air mataku dan menjaga emosiku agar stabil.
"Kalo mau cepat sembuh jaga ya emosinya soalnya bisa bikin syarafnya tegang lagi ya kak....!!" ucap wanita yang berpakain rapi tersebut.
"Iya dok" jawabku dengan senyum.
Setelah selesai pemeriksaanya akhirnya aku di perbolehkan pulang.
**********
__ADS_1