
Lelaki itu tak habis pikir dengan tingkah laku Julian yang membuat Rehan menjadi tak sadarkan diri seperti saat ini.
Dengan gerak cepat Ayunda segera mengambil minyak katu putih yang berada di dalam tas mililnya dan segera menempelkannya di dekat hidung Rehan.
Tersirat jelas dari raut wajah Ayunda tampak kecewa dengan semua ini apalagi melihat keadaan anaknya yang tak sadarkan diri di tambah pelakuanya adalah anak dari lelaki yang disayanginya itu menjadikan masalah ini semakin rumit dan bertambah rumit.
"Kamu lihat sendiri kan anak kamu tu udah kelewatan oke Dia ngatai aku, aku tau aku salah tapi plis jangan bawa-bawa Rehan Dia tak tau apa-apa...." ucap Ayunda dengan kesal ke arah lelaki yang sedang duduk di sebelahnya itu tanpa mau tau perasaanya saat ini.
''Ayunda..." jawab lelaki itu perlahan kepada Ayunda yang sedang menempelkan minyak kayu putih di dekat hidung milik Rehan.
"Cukup mas jangan bikin aku gila lagi..." jawab Ayunda tanpa menolehkan kepalaya ke arah lelaki itu hatinya begitu marah dan kesal terhadap kelakuan Julian yang melampui batas ini.
"Iya aku minta maaf sama kelakuan Julian aku mohon kamu bisa mengerti..."ucap lelaki itu berusaha menyentuh pundak Ayunda namun hanya mendapat tolakan keras dari Ayunda yang masih tetap fokus membangunkan Rehan dari pingsanya.
"Oke untuk kali ini aku maafin tapi jika Dia sampai bikin Rehan kenapa-napa aku mohon kita udahan cukup mas buat sakit ini..." jawab Ayubda pada akhirnya dengan ucapan serius dan dengan nada suara yang tegas
"Ayunda..." ucap lelaki itu lagi dengan nada memohon agar wanita itu bisa memahami anak lelakinya.
"lepas mending mas pulang sebelum Rehan sadar...." ucap Ayunda dengan nada dingin Ayunda tau Rehan akan semakin membenci lelaki ini jika Dia sampai sadar dan melihat ada lelaki yang Dia sangat benci ini di hadapanya.
"Iya tapi Dia gak papa kan...?" tanya lelaki itu dengan nada khawatir ya walaupun hanya anak dari selingkuhanya namun Dia juga punya hati untuk sekedar basa-basi.
"Iya doain aja Dia cuma kelelahan...." jawab Ayunda dengan sinis dan masih dalam posisi yang sama tanpa mau menoleh ke arah dirinya.
"Oh iya yaudah aku balik" ucap lelaki itu pada akhirnya kepada Ayunda dan segera berjalan ke arah mobil hitam miliknya.
Ayunda tak menjawab ucapan lelaki itu dan hanya Diam sembari menarik nafas dalam-dalam dan Ia keluarkan perlahan Dia cukup sakit hati namun Dia berusaha menerima semua ini dengan tenang.
Lelaki itu mulai melajukan mobilnya keluar dari perumahan Ayunda pikiranya sedang kalang kabut dan dengan emosi yang sudah tak tak usah di tanya lagi rasa lelah kecewa serta kesal itu bercampur jadi satu dan membuat kepalanya semakin terasa panas.
Dia membuka pintu rumah itu dengan kasar mendapati ruang tamu yang terlihat berantakan itu menjadikanya semakin marah. Walau pembantu iu sudah sekuat tenaga membereskan tempat itu namun sayang guci kesayangan lelaki itu pecah.
Namun Dia tau siapa pelaku ini semua ya tentu anak lelakinya yang saat ini sedang makan di meja makan tanpa bersuara lelaki itu menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Duduk..." ucap lelaki itu yang mulai menghentikan langkah Julian yang terlihat mulai berdiri itu.
Ya bagi Julian tak ada gunanya duduk dengan lelaki yang tak punya perasaan itu apalagi ketika mengingat keadaan mamanya menjadikanya semakin tak ada niatan untuk berdamai dengan dirinya serta lelaki yang dipanggil papa itu.
"Kamu semua yang lakuin ini...?" tanya lelaki itu berusaha sekeras mungkin menanyai anaknya dengan nada halus walau rasanya ingin sekali Dia meluapkan emosinya.
"Iya kenapa emag salah ya ..?" tanya Julian dengan menatap tajam ke arah papanya namun dengan nada mengejek.
"Jebrek....." lelaki itu memukul keras meja makan itu dengan kedua telapak tanganya ya emosinya mulai membuncah rupanya.
"Jelas salah kamu masih punya otak kan papa tu kerja capek-capek buat sekolahin kamu biar kamu tu punya sopan santun punya adab yang baik nak sama tadi kamu apain Rehan hingga pingsan..." jelas lelaki itu dengan nada tinggi sembari menasehati putranya.
"Cukup gak usah di lanjutin ucapan papa gak ada gunanya papa bicara apapun di depan aku...." jelas Julian dengan tertawa karena baginya ucapan papanya layak halnya mirip gurauan belaka apalgi di tambah ada kalimat Rehan menjadikan rasa benci itu tak akan ada jedanya.
Lelaki itu hanya Diam berusah mengatur pernafasanya agar kembali teratur baru kali ini Dia menghadapi orang sekeras Julian yang notabenya anaknya sendiri.
Julian mulai mengeluarkan uang di dalam amplop coklat itu dan meletakanya dengan kasar di atas meja.
"Ini yang papa bangga-bagain uang ini ngapain papa kasih ke mama buat apa buat beli harga diri mama iya hah...??" ucap Julian dengan nada tinggi dan keras baginya uang itu hanyalah mirip dagangan sayur yang tak laku dan terlanjur layu.
"Oh gitu ya rupanya....?" tanya Julian dengan sinis sembari mengangkat dagunya ingin rasanya Dia memukul kembali papanya namun Dia urungkan karena luka di wajah papanya itu masih nampak membiru.
"Ternayata lebih bela wanita itu ya di banding anak sendiri bisa ya jadi orang tua kaya gitu...?" ucap Julian dengan nada tiada sopan santun dan tanpa rasa peduli sedikitpun akan perasaan papanya.
Pembantu itu bergidik ngeri akhir-akhir ini sering terjadi percek-cokan diantara keluarga itu rasanya Dia sudah tak betah namun Dia bisa apa Selain pasrah dan menungu bulan depan untuk pulang ingin rasanya Dia tak akan menginjakan kedua kakinya itu di rumah ini lagi.
Julian segera beranjak dari tempat duduk yang Ia tempati itu sembari menedang kasar kursi yang tak bersalah itu rasa marahnya tiada bisa mereda selalin teris memuncak.
Lelaki itu merasa sangat gila hari ini Dia dihadapkan diantara dua pilihan yang sulit antara memilih anak atau selingkuhanya itu. Dia menghela rambut hitam lekat miliknya dengan kasar rasa lelahnya terasa tak kujung sudah namun justru menambah.
"Oh gila sekali hidup ini..." ucapnya dengan frustasi sembari meneguk satu teguk air mineral dalam gelas putih itu ya setidaknya bisa merilekskan pikiranya yang kelu itu walau hanya sesaat.
"Mbak..." ucap lelaki itu seprrti biasa memanggil pembantu itu dengan nada sopan.
__ADS_1
"Iya pak...?" wanita berpakaian seadaanya itu segera menghampiri tuanya dan menanyakan perihal memanggil namanya.
"Tolong beresin semua ini ya...?" ucap lelaki iti dengan nada rendah ya baginya Dia beruntung ada orang yang betah tinggal dirumahnya yang sekarang mirip hunian kosong.
"Iya pak...." jawab Mbak inah dengan mengerti perintah tuanya ketika melihat meja yang tampak berantakan itu Dia tau harus apa saat ini.
Sedang lelaki itu berusaha mengejar Julian ke kamarnya walau itu hanya melakuakn hal yang sia-sia belaka.
Lelakai itu mulai meredakan emosinya Dia muali bisa berfikir jernih setelah memabasuh wajahnya dengan ajr mengalir itu rasa lelahnya Dia simpan terlebih dahulu ingin sekali rasanya bisa bertemu anaknya agar bisa berbicara dengan kepala dingin.
"Jul buka nak papa mau bicara..." ucap lelaki itu perlahan sembari mengetuk pintu kayu berwarna putih itu dengan pelan.
Julian tetap Diam dan mulutnya Ia kunci rapat-rapat hatinya masih sakit tak ada hal yang dilakukanya selain menatap layar ponsel itu ya saat ini Dia sedang chatingan dengan Amelia waniat kesayanganya karena saat ini Eliza sedang tak online.
"Jul papa mohon buka pintunya nak..." ucap lekaki iti tiada lelah dan terus memohon.
Lelaki itu akhirnya pasrah atas apa sambutan yang di berikan anak lelaki itu kepadanya yang hanya menambah rasa kesal itu kembali.
Dia kembali berjalan ke kamar dan segera membersihkan diri.
Sedang Julian masih terus memainkan ponsel miliknya.
Satu jam kemudian lelaki itu tampak tak jera ingin bertemu Julian dengan baik-baik namun sayang hati anaknya sudah mengeras sekeras batu akibat perbuatanya sendiri.
"Jul buka nak..."ucapnya dengan perlahan agar anaknya bisa luluh dan mebukakan pintu untuknya walau tanpa Dia tau Julian sudah tertidur pulas denagn rasa lelah itu.
Julian tetap melanjutkan tidurnya karena kehidupan yang lebih indah di hidupnya itu hanya berada di alam mimpinya.
....... ....... ........
Hay para readers kesayangan author๐ apa kabar nih kalian๐....??"
Semoag dalam keadaan baik dam sehat selalu ya๐๐๐๐
__ADS_1
Tetap semangat walau menjalani hari tiada lepas tanpa cobaan๐ฉ๐๐๐.