
H-2 pernikahan Wijaya dan Ayunda.
Sedari semalam Ayunda tampak tak bisa tidur, rupanya acara pernikahan yang akan di gelar hari minggu nanti di gedung mewah itu tampak membuatnya gerogi walau Dia sudah berpengalaman menikah sebelumnya.
Ayunda kini terlihat sedang membereskan beberapa barang kenangan milik alamarhum suaminya dulu, rupanya Dia tak ingin membuang dan ingin menyimpan semua kenangan yang berbentuk album serta barang berharga itu di dalan laci almari yang terletak di baris paling bawah.
Dia dan alm suaminya setidaknya telah mengarungi bahtera rumah tangga kurang lebih tujuh belas tahun lamanya bukan waktu yang singkat hingga membuatnya tak mudah untuk kembali bangkit seperti sekarang ini.
Ketika belahan jiwa itu terasa terlepas sebagian tampaknya akan membuat hidup kita serasa terjatuh tak bertulang.
Dan Wijayalah sosok lelaki yang berhasil membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama Ayunda.
Dia mulai menarik laci itu dan memasukan semua barang bekas pemberian suaminya itu hatinya tampak gusar semoga lekaki yang sudah tenang di alam baka itu merestui pernikahanya dengan Wijaya walau Dia menikah dengan merebut suami orang.
Dia menutup kembali dan mengunci rapat-rapat laci berbahan kayu itu dan menyimpan kunci itu di dalam almari yang berisikan barang berkas-berkas penting.
Hari belum terlalu sore Dia memutuskan pergi ke pusara suaminya yang berjarak tak jauh dari rumahnya sebelum esok siang untuk segera pergi ke hotel dimana tempat acara pernikahanya.
"Han..." ucap Ayunda kepada Rehan yang tengah sibuk dengan gadgetnya itu.
"Iya ada apa ma..?" tanya Rehan yang tak meneloh ke sumber suara mamanya dan masih tetap sama memainkan game online di dalam ponselnya itu.
"Boleh anterin mama ke makam ayah kamu nak....?" ucap Ayunda seraya menarik kerudung hitam yang melorot ke arah belakang itu dan berdiri di depan putranya.
"Oke..." jawab Rehan menuruti keinginan mamanya dengan berdiri dan mematikan layar ponsel miliknya itu.
Ayunda sudah berapakian serba hitam tak lupa kacamata hitam yang Dia beli saat di prancis itu dengan manis menempel di sisi kedua matanya tak lupa sekeranjang bakul berisi bunga itu sudah Ia siapkan untuk acara menabur bunga nanti di pusara alm suaminya.
Rehan mulai mengeluarkan motor dari garasinya sedang Ayunda terlihat menunggunya di halaman depan rumah seperti biasa, Rehan mulai menepikan motornya di depan mamanya dan dengan segera Ayunda naik dipunggung motor berwarna hitam itu karena warna warna kesukaan Rehan.
Rehan mulai melajukan motor miliknya dengan kecepatan sedang, perlahan Dia melalewati gang-gang sempit itu dan melanjutkan ke arah perumahan memang Julian hanya melewati jalur pintas jalan menuju Tempat pemakaman umum itu.
Hingga akhirnya mereka sampai di TPU tempat peristirahatan terakir ayahnya.
Rehan mulai menepikan motor hitam miliknya di pingiran makam dan Ayunda perlahan mulai turun di ikuti Rehan yang terluhat sedang mekepas helm miliknya dengan perlahan.
"Kamu ikut kan...?" tanya Ayunda pada Rehan dengan tatapan seperti biasa
"Iya ma sekalian sekaki-kali lihat pusara ayah...." jawab Rehan dengan suara bas khasnya.
Mereka mulai melewati rumah masa depan itu yang terlihat bertambah hari dan tahun bertambah penuh dan padat saja.
__ADS_1
Terlihat tampak banyak jenis rupa tipe bangunan yang berdiri kokoh di atas makam itu.
Ayunda mulai berhenti ketika mendapati tempat pusara alm suaminya yang berada di area kelas mahal itu yang disampingnya terdapat pohon kamboja yang mulai tampak mengugurkan bunganya yang terlihat tampak cantik itu.
Ayunda mulai duduk berjongkok dan mengelus-elus batu nisan itu dengan lembut serasa Dia seperti berjumpa dengan suaminya lagi walau itu hanyalah buah dari ilusinya.
Dan di ikuti Rehan yang melakukan hal yang sama.
Dia beraki-kali menyeka air matanya serta tak lupa menaburkan bunga mawar di tas pusara itu dan Dia mulai berdoa
"mas aku minta restu kamu mas, besok aku akan nikah dengan lelaki pilihanku" begitulah doa Ayunda yang berharap suaminya akan tenang disana.
Tatapan mata Rehan terlihat begitu sayu ketika melihat pusara ayahnya Memori indah saat bersama ayahnya itu kini serasa bermunculan kembali di hadapanya, kini hatinya ingin mengadu kepada ayahnya bahwa terkadang hidup ini terasa tak adil dan tak memihaknya.
Kurang lebih setengah jam mereka berada di makan itu hingga pada akhirnya mereka nemutuskan untuk kembali pulang karena langit tampak menghitam dan terlihat pula hari tampak semakin petang yang diikuti suara ******* angin makam yang terasa menusuk kalbu
Sampai rumah.
"Han besok minggu mama nikah di tempat yang sudah mama beritahu kamu sebelumnya kamu bisa datang kan..." ucap Ayunda kepada anaknya untk ke dua kalianya karena Dia sangat berharap akan kehadiran anak lelakinya namun sayang Rehan tampaknya tak merespon ucapan Ayubda dan membuat hati Ayunda kini terasa sedih.
"Oh iya kan lagian aku juga sudah beri mama restu kurang apa lagi emamg ma kedaranganku..??" ucap Rehan kepada Ayunda terlihat begitu kesal hingga akhirnya Dia berusah meninggalkan Ayunda namun dengan cepat Ayunda menahan tangan kokoh milik m Rehan.
"Ada apa lagi ma..?" tanya Rehan pada Ayunda dengan ketus dan membuat Ayunda tersentak kaget ternyata marahnya sang anak bisa membuatnya merasakan sakit hati sesakit ini.
"Duduk..." perintah Ayunda dengan halus dan tatapan sendu.
Rehan mulai duduk kembali dengan posisi yang sama perlahan Ayunda mendekati putranya dan mengelus-elus punggung Rehan itu dengan lembut.
"Maafin mama ya sayang kalau mama egois karena mama ada alasan lain melakukan semua ini nak" jelas Ayunda dengan nada berat tampaknya kehadiran janin yang kini sudah berada di dalam perutnya itulah yang menjadi penyebab utamanya Dia harus segera melangsungkan pernikahan itu dengan Wijaya.
"Udah ma cukup sampai kapanpun aku gak akan hadiri pernikahan mama" ucap Rehan yang terkesan dingin itu dan simpatinya kini menghilang serta rasa oercaya terhadap mamanya sekarang berkurang sebagian.
Ayunda hanya menganguk tampaknya Rehan tak akan memberikanya restu sepenuhnya untuk pernikahanya dengan Wijaya besok yang do gelar hari minggu nanti.
"Ma aku cuma ingin mama bahagia gak lebih jadi maaf ma besok aku gak bisa dateng ke acara mama karena lebih banyak acara lain yang peting yang tentunya masih menanti kehadiranku..." jelas Rehan dengan nada sinis sembari beranjak pergi dari tempat duduk itu.
Tampaknya pernikahanya besok akan sangat sepi tanpa kehadiran Rehan walau dari sanak saudaranya sudah bayak yang mendukung acara penikahanya dengan Ayunda namun kekurangan satu orang tamapak jelas membuat Ayunda sangat kecewa bukan berkebihan tapi ini adanya.
Ayunda tak mengejar putranya Dia paham betul akan sifat putranya seperti apa.
Dia segera beranjak dan berjalan ke arah kamar dan mengunci pintu itu dengan rapat-rapat hatinya kini sangat sakit mendengar perkataan Rehan yang menyakitkan itu yang tampak tak sudi menghadiri hari bahagianya dengan Wijaya
__ADS_1
Sedang di sisi lain Wijaya tampak lesu walau sebenatar lagi acara pernikahan yang diimpikan dengan Ayunda akan digelar, tampaknya tak ada persiapan sepsial untuk acara pernikahanya denhan Ayunda.
Dia sudah serahkan semua kepada Ayunda bagaimana keinginanya nanti Dia tak mempermasalahakan uang sebanyak apapun, yang hanya menjadi permasalahanya sekarang adalah keluarganya yang tiada sudi menghadiri acara pernikahanya dengan Ayunda.
Hatinya tampak gusar memikirkan keputusanaya besok yang akan Dia ambil untuk menikahi Ayunda, dulu memang Dia sangat mencintai Ayunda tapi dengan kepergian Julian membuat langkahnya kini ragu karena Dia benar-benar telah kehilangan anak lelaki satu-satunya. Dia tak pernah sedikitpun memikirkan anak peremupuanya yang justru masih membutuhkan sosok figur ayah di hidupnya.
Tentang Amelia Dia memang sudah tak punya cinta kepada wanita yang sejujurnya jauh lebih baik daripada Ayunda walau wajah bukan penetu segalanya.
Malam terasa semakin dingin, Wijaya terlihat begitu susah untuk menutup matanya walau hanya semenit saja pikiranya kini terasa amburadul memikirkan kehidupan ini untuk kedepanya.
Matanya hanya menatap kosong ke arah cahaya lampu yang berdiri kokoh diatas tiang jalanan itu Dia saat ini sedang duduk di kursi teras depan rumahnya.
Dengan ditemani secangkir kopi hitam dan juga sambutan dinginya hawa angin malam. Bulu di tanganya serasa berdiri dan hembusan angin malam itu tampaknya sedang berayun-ayun mesra di dekatnya.
Dia mengusap peluh keringat yang berada di wajahnya itu dengan kasar Dia berkali kali menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskanya dengan berat.
....
Amelia tampak merenung selangkah lagi suaminya akan memiliki istri baru hatinya terasa sangat sakit dan saat Dia berdoa seperi ini dengan bersimpuh di hadapan Khaliknya serasa beban di hidupnya serasa bisa termuntahkan semua dan di sertai air mata yang sukses membanjiri seluruh bagian wajahnya.
Dia berusaha semaksimal mungkin memelankan suara isak tangisnya agar Reva tak tau dan seisi rumah tak mendengarnya karena baginya Reva adalah sosok gadis yang membuatnya semangat seperti ini dengan melupakan kesedihannya.
Dia terus menangis mengeluarkan beban hidupnya yang kian hari kian berat saja rasanya, permasalahan lahir batin semuanya terasa lengkap sudah Ia rasakan.
Dia menyeka air mata itu dengan tisu dan dengan segera wanita itu melepas mukena yang menempel di kepalanya Dia mulai duduk di tepian ranjang itu sembari memandang tubuh mungil Reva yang tampak sangat merindukan sosok ayah di hidupnya.
Tanpa Amelia sadari Julian berdiri di dekat pintu kamar itu hingga pelukan hangat itu datang dan menempel dengan lembut di pundaknya.
"Mama gak perlu bersedih ada aku kita iklasin ayah ya ma suatu saat mama aku jauh lebih bahagia dari wanita itu..." ucap Julian dengan lembut kepada mamanya sembari menyeka buliran bening itu Julian tau seberat apa rasa sakit yang di rasakan mamanya hingga Dia tak mampu mengucapkan drngan kata-kata.
"Apaan sih mama gak nangisi papa kamu kali Jul mama tu kepikiran sama Reva kok sekarang mulai kurusan apa karena mama kurang banyak cari duitnya..." jawab Amelia justru semakin terisak di sertai senyum yang di paksakan tampaknya Dia tak kuat untuk berpura-pura kuat di depan anaknya kini semua sandiwara itu terasa gagalah sudah.
"Ma mama gak perlu berbicara seperti itu aku janji dalam waktu dekat aku akan cari kerja ma..." jawab Julian dengan menunjukan senyum manisnya perasaan ingin mencari tambahan rupiah itu kini bergentar di dadanya.
"Jul kamu harus sekolah oke mama janji akan berusaha lebih keras lagi..." ucap Amelia dengan mengangkat dagunya dan menyeka sisaan air mata itu.
Julian mulai memeluk dengan lembut tubuh mamanya yan kini terasa bergetar Julian tau mamanya sedang nerusaha kuat di depaya namun ada kalanya sekuat apapun kita berdiri bakal rapuh juga jikalau terkena badai.
"Iya aku percaya sama mama tapi aku anak lelaki mama sudah sepantasnya aku bisa jadi tongak hidup mama..." jawab Julian dengan nada bergetar ya Dia tamoaknya tak pernah tega melihat mamanya bersedih seperti ini.
Part selanjutnya adalah pernikahan Wijaya dan Ayunda😀
__ADS_1