
Hari senin tiba, aku mulai menghabiskan segelas susu dan memakan satu lembar roti yang sudah aku olesi dengan selai nanas kesukaanku.
"Teen tenn" bunyi klakson bagai terompet yang terdengar dari luar rumah itu terus mengusik gendang telingaku, mereka adalah kedua sahabatku yang sengaja menjemputku untuk berangkat ke sekolah entahlan karena apa tiada angin tiada hujan sifat mereka tak seperti biasanya.
"O... Iya sebentar" ucapku dengan berteriak sembari mengambil sepatu serta memakainya.
"Buruan El telat....!!" teriak Vey yang super duper jail itu.
"Iyaaaa" teriaku lagi dengan keras aku segera membuka pintu mendapati mereka hanya menyapaku dengan cengiran khas mereka.
"Puas ya bikin aku panik..." ucapku dengan berkacak pinggang.
Mereka emang sengaja membuatku justru semakin panik.
"El bibir lo kenapa...??" tanya Vey degan muka serius seolah-oleh mendapatiku dengan keanehan yang nyata.
"Kenapa.. Kenapa sih ...??" tanyaku dengan memegang bibirku aku merasa tak ada yang aneh dari bibirku.
"Yee ada yang salting nie....!!" dan jleb ternyata mereka hanya menjailiku.
"Apaan sih kalian aneh deh..." ucapku kepada mereka yang justru saling mengedipkan mata.
"Udah-udah buruan berangkat ntar telat lho .."
Akhirnya kita berangkat aku berada di depan sedang kedua temanku berboncengan di bekakang.
Selama di perjalanan kita saling ejek- mengejek sembari tertawa lepas menikmato begitu bahagianya di saat kita sedang bersama.
Sampai di sekolah kita bergegas menuju lapangan upacara terlihat gerbang besar itu hampir ditutup.
"Santai kali masih jam segini juga..." ucapku dengan nada sesantai mungkin berusaha agar Vey tak panik.
"Eliza bisa gak sih lo tertib..." ucap Rena dengan ngos-ngosan.
"Dibilangin juga...." ucap Vey dengan nada pasrah dengan tertunduk lesu.
Benar saja saat sampai sekolah barisan sudah tampak tertata rapi aku bersama kedua temanku hanya diam melongo.
Kita menuju baris paling belakaang tentunya dan tak berapa lama upacara di mulai.
"Lo sih pake kelamaan dadan..." ucap Vey memasang wajah cemberut karena dia termasuk murid tertip jadi terlambat sedikit amarahnya mulai meledak.
"Kok gue sih..." ucapku berusaha membela diri tentunya.
__ADS_1
"Sutth nanti kedengaran.." Rena berusaha melerai keributan kita yang akan membuat kegaduhan ini jika di biarkan.
Hampir satu jam lamanya kita mengikuti upacara matahari sedang terik-teriknya walau masih pagi sudah tampak sepanas bara api.
"Gila baru kali ini tau gue hampir telat upacara bisa-bisa nasipnya sama tu kaya yang sedang hormat depan tiang bendera" ucap Vey dengan terus berucap tanpa henti, aku dan Rena hanya diam menangapi ucapan Vey yang terus mengerutu dengan kesal atas keterlambatanya pagi ini walau hanya di jeda kata (hampir)
Setelah mengikuti upacara selesai kita berhamburan dan berjalan ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran.
Saat jam istirahat
Aku mencoba mencari Dia yang sedari tadi tak tampak oleh mataku walaupun hanya sehari tak bersama rasanya hampir ribuan hari.
"Lo ngapain El celingukan...??" tanya Rena sembari duduk di sebelahku dengan membawa sepiring mi gireng dan segelas jus.
"Gak papa..." jawabku dengan arah bola mata yang yerus melihat sekelilingku.
"Biasa nyari bang Jul" ucap Vey mencoba mengodaku.
"Gak kok orang aku lagi nyari stevi juga..." jawabku berusaha mencari kambing hitam.
"Kiraiiinnnnn..." ucap Vey dengan meningikan suaranya seperti seoramg bernayanyi seriosa.
Tiba-tiba Dia datang dengan tangan yang diperban aku langsung panik ingin rasanya aku mendekatinya tapi itu tak mungkin disaat sedang banyak siswa yang sedang mengisi perut di kantin.
"El tu dateng noh..." rupanya mata Vey jeli juga dan dengan seenaknya dia memberitahuku dengan suara yang cukup lantang.
"Gue udahan deh mau belajar buat ulangan bahasa indonesia nanti..." ucapku sambil berdiri meninggalkan semakuk bubur yang beluum aku sentuh ini.
"Kamu mau duluan...??" tanya Rena dengan tatapan serius.
"Iya kalau mau buat kamu aja ini belum aku makan kok..." jawabku sambil memasukan kembalian uang untuk membeki bubur ini tadi kedalam saku seragamku.
Aku tak ingin Julian melihatku aku memutuskan untuk terlebih dahaulu berjalan ke kelas sebelum dia melihatku sedang Vey masih sibuk dengan antrian untuk memesan makanan yang terlihat cukup banyak itu.
Aku berjalan dari kantin menuju kelas yang sebenarnya tak terlalu jauh tanpa aku sangka ada Dea dan temanya sedang berdiri di dekat pintu kelasku aku mencoba tetap berjalan walau rasanya terasa berat serta aku berusaha menahan emosiku.
Satu langkah demi langkah kini hampir mendekat dan kita bertemu lagi.
"Gak berani ya mau lewat kasih jalan dong Dev..." ucap Dea dengan tampang membenciku.
Ketiga mantan temenku itu hanya saling berbisik satu sama lain dengan tatapan merendahakanku.
"Uuh kasian..." ucap Dea lagi dengan memutar bola matanya.
__ADS_1
Aku berusaha menahan amarah ini agar tak meledak namun entah kenapa rasa sakit ini justru semakin terasa menusuk di dadaku.
"Lo masih dendam sama gue...??" ucapku dengan nada halus tak seperti biasa yang ku ucapkan dengan Dea yang selalu kasar.
"Wiihh suaranya berani keluar rupanya"
Aku tak nenjawab ucapnya aku tetap terus berjalan melewarinya aku berusah memposisikan diriku sedang melewati orang gila yang tak perlu aku dengar ocehanya.
"Dasar anak kampung gak punya harga diri" dan ucapan Dea seperti guyiran waktu itu terasa membuatku semakin marah dan emosiku meledak
"Oke Dea kalau nyali lo berani besok kita ketemuan bertiga dengan Rehan biar dendam lo sedikit mereda biar gue masih bisa angep lo manusia lagi...!!" ucapku dengan lantang dan amarah yang terus membara dengan bola mata yang ku tatapkan tajam kearahnya.
"Udah jangan ribut gak baik buat kegaduhan di kelas..." ucap Aftur yang datang tiba-tiba memisahkan pertikaianku dengan Dea.
"Lo gak papa.." tanyanya dengan ucapan menyetuh.
"Gue gak papa makasih ya" jawabku dengan senyuman tipis.
Setelah itu Dea pergi tanpa menjawb ucapanku.
......
"Tangan kamu kenapa Jul...??" tanyaku pada akhirnya saat jam istirahat kedua ini aku susah payah bertemu dengan Julian dan berhasil membawanya ke gedung belakang sekolah yang di depanya tampak hamaparan perumahan.
"Gak papa kok..." jawabnya berusaha menengakanku walau dia tau aku tak bakal tenang bila aku tak mengetahui dengan sebenarnya.
"Bohong coba aku lihat ..." aku berusaha menyentuh tangan itu aku mencoba membuka perbanya hingga dia berucap ''aww pelan-pelan sayangku..."
Aku hanya tersenyum dan terus berusaha membuka perban yang terlihat kurang rapi itu.
"Kena air panas ya, kok keliahat melepuh sih...?" ucapku berusaha mengetahui penyebab tanganya.
"Iya kena kopi kemarin..."
"Ini tu jangan sampai kena air Jul sama kamu kasih salep aja nanti juga sembuh sendiri..." jelasku ke Dia dengan membetulkan lagi balutan perban ini dengan rapi.
Julian hanya terdiam sembari senyum-senyum sendiri dia tak peduli tanganya akan diapakan Ekiza yang terpenting baginya adalah adanya Eliza sudah membuatnya baikan dan tak merasakan sakit.
"Udah besok bawa perban biar aku ganti lagi ya"
"Iya boleh kiss gak..." ucap Julian dengan tatapan mengoda.
"Gak..." jawabku dengan menolak nafsunya.
__ADS_1
Tap.. Tap terdengar suara langakhan kaki.
"Di belakang ada orang ya...." ucap seseorang yang terdengar suara telapak kakinya mulai mendekat ke arah aku dan Julian.