
Kita saling terdiam namun aku tetap terus memandang wajah memilukan itu dalam hati kecilku aku berteriak aku menangis dalam diam.
Melihat dia yang berbeda membuat lara tersendiri di hatiku, dulu wajah yang selalu ceria sekarang tampak redup serta tatanan rambut yg acak-acakan menandakan dia sedang tak baik-baik saja
Dia tersenyum memperlihatkan luka lara di hatinya.
"Jul...??" tanyaku dengan tatapan mendalam.
"Apa...." dia menjawab namun padangan matanya dia alihkan ke arah lain.
"Lo udah gakpapa kan...??" tanyaku dengan rasa peduli.
"Gak, uhukkkk" jawabnya dengan suara serak dan di ikuti suara batuk.
"Lo sakit'' aku berusaha menyetuh dahinya namun dengan segera dia menjahukannya dari tanganku.
"Oh maaf aku terlalu khawatir" aku kembali menarik tanganku dengan kaku.
Keadaan kembali canggung.
"Lo kalo jadi aku bakal gimana El" dia berucap seolah-oleh sikap kerasnya mulai mereda.
''Gue gak tau juga sih Jul tapi yang jelas aku masih tetap gunain akal sehatku karena dengan cara apapun tidak bisa merubah keadaan Jul terkadang memang manusia hanya mampu berharap tanpa tau jalan Tuhan seperti apa" jawabku dengan menatap dedaunan liar itu dengan tatapan kosong dengan sendirinya mulut ini mengucapkan kata-kata yang bermakna.
"Kamu bener juga aku hanya bahagia sesaat El..." ucapnya menatap arah langit yang mulai gelap itu
"aku hanya melampiaskan semuanya dengan mengonsumsi barang haram itu tanpa tau akibat apa yang akan aku terima..." ucapnya lagi seolah-olah dia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang di alami saat ini.
"Iya Jul aku paham kamu sekarang di posisi yang gak mudah, dan inget satu hal kamu harus berubah tatap masa depan kamu, kamu harus bangkit, kamu harus jadi Julian yang dulu aku kenal" ucapku penuh emosional jelas hatiku kecilku sangat menyanyanginya dan dengan sifatnya yang seperti sekarang aku juga merasakan kesedihan yang sedan Dia alami.
"Ehm..." dia hanya berdeham.
"Lo ngapain ada di sini...??" mata itu mulai menatap aku dan tatapan kita saling bertemu.
"Gue habis ke minimarket dan kebetulan aku lihat kamu dan aku ..." sebenarnya aku kangen Jul sama kamu ucapku dalam hati melanjutkan ucapanku yang aku hentikan.
"Oh... terus ngapain nyamperin aku...?" pertanyaanya seperti menanyai kesunguhan hati ini.
"karena aku masih sayang sama kamu" jawabku dengan menatapnya.
Dia hanya terdiam dan berusaha menyembunyukian senyumnya yang menawan itu.
Aku menjadi kesal sendiri dengan diriku yang begitu apa adanya mengungkapkan isi hatiku yang tidak Dia balas sedikitpun ucapanku tadi.
"Kok cemberut...??"
"Gak papa"
"lo kok gak peka sih Jul..." umpatku dalam hati.
Dia terdiam dan suasana kembali menjadi awakkrdd
"O iya aku minta maaf ya Jul kalo aku udah nyakitin kamu waktu itu" aku mulai memecahkan keheningan dengan perlahan perasaan bersalah ini mulai terbuka.
''Iya gak papa"
"Kayaknya udah mau azan magrib kamu sebaiknya pulang El...!"
"Terus kamu..."
"Aku pengen di sini" ucapnya dengan tatapan sendu seolah-olah rumah bukan tempat ternyamanya.
__ADS_1
"Aku gak bakal biarin kamu sendiri di sini aku bakal temenin kamu" jawabku mencari celah agar aku tetap terus bersamanya.
"Jangan keras kepala El...!!" ucapnya dengan kesal.
aku tau Jul kamu tu masih sayang sama aku buktinya kamu khawatir sama aku. Umpatku dalam hati sembari menari ria.
"Kamu yang harusnya jangan keras kepala kamu kan lelaki baik kamu harus kasih contoh yang baik ke aku Jul" ucapku penuh nada penyemangat.
"Iya-iya aku pulang"
"Nah gitu dong itu baru Julian yang aku kenal...." ucapku sembari memberikan dia jempol
''Bisa pulang sendiri kan...?" godaku lagi biar dia kembali muruh senyum seperti dulu.
"Ya bisalah" dia bangkit dan beranjak pergi tanpa menoleh belakang, aku memandangi punggung yang mulai menghilang itu dengan senyum tipis dan sedikit rasa kecewa.
Aku sedikit bahagia sekarang akhirnya aku bisa bertemu Julian lagi walaupun hubungan kita tak menau bagaimana namun ada perkembangan setidaknya sedikit membaik.
Aku menghempaskan nafas perlahan dan mengusap sisa air mataku dipelipis
Tuhan aku berharap kali ini aku bisa memilikinya lagi bisa memiliki ciptaanmu yang hanya satu ini.
Dan aku mohon kembalikan senyuman yang menawan itu untuk kembali muncul lagi seperti semula.
......
Sampai rumah, seperti biasa papa selalu sibuk dengan wanita tak tau diri itu mendengar canda tawanya mirip suara radio rusak bagiku begitu mengelikan tingkah orang berumur itu bantiku kesal dalam hati.
Papaku memang sedang buta karena cinta tanpa tau bagaimana perasaan mamaku aku dan adikku saat ini.
"Udah pulang kamu..." di balik kesibukanya bercanda tawa dia menegurku.
Aku tak menjawab pertanyaan bodoh papaku aku hanya melangkahkan kakiku maju untuk berjalan menuju kamar yang berada di lantai atas.
Semua ini mengambarkan betapa kacaunya hidup aku sekarang.
Aku berbaring di tempat tidurku bayangan mama selalu ada dengan jelas di pelupuh hatiku.
Baru beberapa hari dia tak ada di rumah rasanya seperti ribuan hari tanpanya.
Aku mulai memejamkan mata dan aku berharap Tuhan memberikan aku mimpi indah di malam ini.
Dret.... Getaran benda tipis di atas nakas itu membuat mataku kembali terbuka.
Dengan rasa malas aku mencoba meraih ponsel berwarna hitam itu.
Aku melihat dan ternyata layar tipis ini memperlihatkan wajah mamaku sepertinya Tuhan mengabulkan doaku.
"Hallo ma..." ucapku dengan nada bahagia.
"Hallo sayang, udah tidur ya nak...??" jawab mamaku dengan suara lembut selembut kain sutera.
''Belum ma" jawabku berbohong, karena aku tak ingin mama menutup teleponnya.
"Bagaimana kabar kamu sayang" ucap mama menanyai kabarku dari sebrang telepon.
"Baik ma..." jawabku sopan.
"Eum... kamu kapan mau main ke bandung..?" ucap mama, aku jadi teringat janji aku akan menemui mama secepatnya.
"Secepatnya ma..." jawabku tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Uhukkk aku kembali batuk dan dengan susuah payah aku menjauhkan ponsel dari bibirku agar suara batukku tak terdengar oleh mama.
"Kamu gak papa kan kok suara kamu serak kamu batuk sayang...??" tanya mama ku dengan rasa khawatir.
''Gak ma" jawabku dengan suara berat.
"Jul kamu jangan bohong sama mama" ucap mama dengan nada sedih, mukin insting ibu selalu benar mama tak bisa aku bohongi.
"Gak ma cuma flu aja" jawabku berusaha menengkan mama.
"Betul cuma flu aja" tanya mamaku lagi dengan khawatir.
"Iya" jika mama mengetahuiku mabuk aku akan membuat kesedihan mama berlipat ganda.
"O iya sekolah kamu bagaimana...?" pertanyaan yang membuat aku membenci diriku.
"Ma Julian disini baik-baik saja mama sama adek jaga kesehatan ya..." aku berusaha mengalihkan pembicaraan yang lain aga mama tak khawatir dengan kondisiku saat ini.
"Iya sayang jangan lupa tanggal dua puluh hari ulang tahun adik kamu dia bakal sedih kalo kamu gak datang ya rencananya mama mau masakin dia nasi kuning seperti biasa kamu datang ya..." ucap mamaku dengan nada gembira dan sangat mengharapkan kehadiranku.
Hatiku kembali sedih akankah papaku mengigat hari bahagia itu
"Iya ma pasti" jawabku dengan semangat yang tinggi jelas aku tak akan mengecewakan wanita yang sangat aku sayangi itu.
"Yaudah ya Jul mama tutup, kamu lanjutin lagi tidur kamu ya..." ucap mamaku yang seperti embun penyejuk yang selalu tau tanpa aku memberitahu.
"Kok cepet banget mama sibuk ya aku gak tidur kok" jawabku dengan tangan mengaruk kepala.
"Gak sayang mama cuma gak mau kamu besok kesiangan sekolahnya dari suara kamu tu gak bisa bohong kamu habis bangun tidur kan.." jelas mamaku diikuti suara tertawa.
"Besok kita sambung lagi ya sayang" lanjut mamaku lagi yang selalu pengertian denganku.
''Iya ma, maafin aku ya ma kalo belum bisa bahagiain mama" jawabku dengan suara berat seolah-olah sekarang aku tau betapa beratnya masalah yang sedang di hadapi mamaku.
"Iya sayang" jawab mama dengan halus.
Kemudian aku menutup telepon, aku kembali duduk termangu merenungan kelakuan yang seharusnya tak aku lakukan.
Uhukkk aku kembali batuk diikuti dadaku mulai sesak.
Aku terus batuk hingga aku mengeluarkan dahak kental berwarna merah.
"Oh..." Ucapku sembari menggegamm darah kental di telapak tanganku.
Pikiranku kembali kalut dalam kebodohanku, aku bertanya-tanya penyebab ini semua seolah olah otakku sedang di kuliti hidup-hidup.
Aku berjalan menuju washtafel aku mencuci tangan dan kembali membasuh wajahku.
Aku terdiam aku melihat pantukan diriku di cermin bagai langit dan bumi perbadinganku dulu dan sekarang aku tersenyum acuh aku menertawai kebodohan diriku.
Aku kembali duduk aku melihat benda berbentuk hati yang di berikan Eliza waktu itu.
Aku kembali teringat akan Dia, wanita yang dulu pernah membuatku gila membuat kisah cintaku begitu berbeda
Membuat setiap goresan luka tersebabkan karena dia hingga aku percaya ketulusan cinta yang di berikan padanya begitu bermakna.
Aku tersenyum ketika melihat wajah dia di layar ponsel aku memang salah sudah memutuskanya waktu itu, bisa di bilang saat itu keadaan mentalku sedang diobrak abrik menyebabkan semua kehidupanku hancur berantakan.
Aku mengiriminya tanda hati serta ucapan terimaksih setidakanya hal itu bisa melegakan hatinya.
Namun perlahan rasa suka ini sedikit goyah mukin karena pikiranku sekarang lebih terfokus dengan keluargaku menjadikan dia tak terlalu peting bagiku.
__ADS_1
Aku memang padai memainkan hatinya hingga dia terbelengu dan sulit terlepas dari jeratanku.
Hatiku gusar memikirkan Eliza aku tak bermaksud memainkan hatinya namun keadaanlah yang memaksaku menjadi seperti sekarang.