Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 139


__ADS_3

Gerimis menyapa namun tak mematahkan semangat Julian untuk melabrak Rehan di rumahnya semangatnya untuk meluapkan emosinya itu semakin berkobar-kobar hebat hingga api pun tak sangup memadamkanya.


Dengan bermodal nekat Julian mendatangi rumah Rehan dengan emosi yang sudah mengebu-ngebu Dia mencoba melampiasakan amarahnya pada lelaki yang pernah berkelahi denganya karena Eliza dan saat ini karena lelaki yang justru jadi panutanya itu.


"Permisi....!!" ucap Julian ketika samapi di gerbang bercat hitam itu.


Permisi...!"" ucapnya lagi dengan keras


Permisi..." ucapnya ketiga kali lagi dengan nada semakin keras.


"Woy bisa sopan gak...?" jawab Rehan yang baru muncul dari pintu utama itu menghampiri Julian dengam tatapan kesal.


"Buka pintunya...!!!" ucap Julian yang tak pernahengampuni oramg yang ada di depannya itu dan siap perkelahian sengit itu akan terjadi.


Rehan yang terasa tersulut api amarahanya segera membuka pintu gerbang itu dengan kasar


" Cuihh ada apa sih mau cari siapa... ?" tanya Rehan dengan nada tinggi dan kesal sembari meludah ke arah Julian.


Julian tertawa pilu melihat makluk  di hadapanya saat ini yang terlihat bagai lelucon ludahan air liur Rehan berhasil Ia hindari.


"Buaght..."


Dia kepalkan kedua tanganya erat-erat dan satu pukulan keras itu mendarat dengan mulus ke arah bibir Rehan.


Rehan yang tak tau apa-apa itu tak ada persiapan untuk menangkis pukulan dari Julian hingga Dia harus merasakan sakit di wajah sebelah kirinya.


"Woy gila lo ya punya otak gak sih lo..." ucap Rehan dengan tatapan tajam ke arah Julian sembari menyentuh pipinya yang terasa sakit itu


Julian memgambil nafas dengan perlahan dengan tersenyum tipis Dia tertawai wajah Rehan itu dengan puas.


"Apa lo bilang gue gila lihat gue dengerin ucapan gue baik-baik dengerin anak pelakor kalau lo masih punya telinga....!!!" ucap Julian dengan cekikikan memertawai kegilaannya saat ini seakan rasa sakitnya itu justru semakin menguasai pikiranya dengan tangan kanan memegang telinganya agar Rehan paham arah pembicaraanya.


Merasa tak terima dengan kelakuan Julian yang tanpa sebab memukul Rehan, Rehan berusaha membalas pukulan itu yang diterima manis di wajah Julian tanpa balasan.


"Buagh..." pukulan ini tentunya lebih keras namun rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan mamanya.


"Oh terimaksih ini gak sebanding sama rasa sakit gue Han..." ucapnya dengan tersengal-segal sembari menyeringai puas dengan bibir bergetar..


"Dasar lo gila dateng ke rumah orang cuma mau cari masalah sama gue cari ribu lo rupanya....!!" teriak Rehan dengan keras sembari nelayangkan pukulan itu lagi ke arah Julian lagi yang tanpa balasan.


"Ini kan rumahnya Ayunda ya iya kan....!!"tanya Julian dengan nada merendahakan nama wanita itu seperti layaknya palstik bekas yang tak ada gunanya.


"Woy jaga mulut lo ya jaga mulut busuk lo jangan bawa nama-nama nyokap gue...!!" jawab Rehan dengan amarah yang semakin meledak Dia jelas tak terima wanita yang di pangil mama olehnya itu di rendahakan seperti itu.

__ADS_1


"Dasar anak pelakor punya nyokap tapi ngerebut lelaki orang lo ngerti gak ngerti gak looooo...!! Ucap Julian sembari berteriak dengan lantang kakinya berusaha menedang perut milik Rehan namun Dia mengurungkan niatnya karena Dia sadar Rehan habis operasi.


"Apa maksud lo ngatai nyokap gue hah..???" Rehan maju ke arah Julian dan berusaha mengangkat kerah milik Julian dengan brutal.


"Nyokap lo ngerebut bokap gue anjing....!!" jawab Julian sembari menyikut wajah Rehan kembali.


Rehan hanya terdiam sembari berusaha menahan emosinya hatinya juga ikut merasakan sakit harga dirinya terasa terinjak-injak.


"Dasar bajingan" Julian memukul Rehan kembali dengan tak ada ampun perlahan Rehan kalah dan Dia jatuh tersungkur ke tanah Julian menertawai begitu lemahnya lelaki yang dulu pernah bermain api denganya dan kini Dia terseungkur tak berdaya tak layak halnya rosokan yang tak ada gunanya.


Tanpa mereka sadari Ayunda dan lelaki yang mulai menepikan mobil itu berhenti saat melihat pertikaian itu, Ayuda yang mengetahui anaknya jatuh tersungkur segera keluar dari mobil dan menghampiri anaknya serta lelaki itu melakukan hal yang sama berusha melerai pertikaian itu.


"Julian jaga sikap kamu" ucap lelaki itu pada anaknya yang terlihat menatap Rehan dengan tatapan kosong.


"Oh mulai bijak rupanya bajingan ini dasar papa ya masih punya otak untuk manggil nama aku gak malu pa, papa gak malu..." Julian jelas tak ingin di ceramahi oleh lelaki ini ya menurutnya apapun yang keluar dari mulut lelaki itu mirip makanan basi.


"Rehan" Ayunda berusaha menghampiri anaknya.


"Dan lo wanita jahanam terimaksih atas sakit ini" ucap Julian dengan menjukurkan jarinya ke arah Ayunda dengan tatapan merendahkan.


"Julian jaga mulut kamu ..." ucap Lelaki itu berusaha menahan putranya tapi sayang Julian dengan kasar menepis tangan itu.


Julian segera pergi dan berjalan mengambil motor miliknya dan melajukannya untuk pulang pikiranya kalang kabut hatinya hancur rasa percaya diri untuk hidup rasanya hanya tinggal ucapan.


......   ..... .....


"Jul kenapa sih kamu sampai lebam kaya gini...?" tanya Eliza sembari menyentuh pipi yang lebam itu dengan raut wajah kecewa karena luka itu mengingatkan permasalahan yang di hadapi Julian beberapa bulan lalu.


"Biasa anak laki mainya berantem,,," jawab Julian dengan tersemyum Eliza mengelengkan kepala Dia heran dengan kekasihnya itu yang masih bisa tersenyum saat dirinya merasa kesakitan seperti ini.


"Serius sayang kamu habis berantem sama siap Sih ...?" tanya Eliza sedikit kesal sengan Julian yang selalu menyelesaikan masalah dengan emosi.


"Sama Rehan" jawab Julian dengan tersenyum tipis dan membuat Eliza terkejut entah permasalahan apa hingga membuat pertikaaian ini terjadi kembali.


"Jul kamu serius...??" Eliza terkejut dengan jawaban Julian


"Iya aku bakal bela mama aku sampai kapan pun karena Dia hidup aku jadi aku gak salah kan lakuin semua ini..." ucap Julian dengan tatapan kosong Eliza mencoba memaklumi keadaan Julian saat ini yang sedang di alaaminya


"Jul plis jangan selesain masalah ini dengan emosi...." ucap Eliza berusaha menasehati Julian walau Dia tau ucapanya akan justru membuat permasalahan baru.


"Karena kamu gak tau rasanya jadi aku plis jagan komentari apa yang aku lakuin saat ini...." ucap Julian dengan raut wajah memilukan itu


"Iya-iya aku minta maaf ya kalau aku salah o iya kamu sayang banget ya sama mam Kamu" Eliza berusaha menjaaga ucapanya agar tidak menyakiti hati Julian.

__ADS_1


''Iya sayang banget" jawab Julian dengan sendu


"Tapi sayang aku belun ngobrol banyak sama mam kamu ya" ucap Eliza dengan nada kecewa karena Dia ingin sekali berbincang-bincang dengan wanita yang membesarkan Julian itu.


"Nanti juga ada waktunya" jawab Julian dengan meraih jemari Eliza dan di tempelkanya di ulu hatinya.


"Tadi udah makan kamu..?" tanya Eliza berusaha menyeka keringat di pelipis Julian.


Julian hanya Diam sembari memainkan jemari milik Eliza


"El kalau aku pindah ke Bandung kamu gimana gak papa kan....??" tanya Julian dengan perlahan karena mengucapkan kalimat itu membuat hatinya terasa sakit


"Maksud kamu apaan..? apa kamu mau libur lagi ke sana..?" tanya Eliza berusaja mengalihkan topik pembicaran yang membuat hatinya juga merasakan tersayat pisau yang tajam


"Gak El aku di Jakarta udah gak kuat nahan sakit ini" jawab Julian berusaha menatap mata Eliza.


"Jul kamu kenapa sih kamu sakit apa..?" tanya Eliza beusaha terlihat bodoh dengan ucapan Julian yang menyakitkan itu walau Dia tau arah pembicaraan Julian.


"El kamu tau gak sih rasanya jadi aku..!" jawab Julian dengan nada tinggi dan perasaan sakit di hatinya itu serasa di reemehkan oleh Eliza.


"Iya aku tau Jul tapi kamu harus kuat kamu harus sabar ini semua ujian buat kamu..." ucap Eliza berusaha mengelus- elus pungung milik Julian dengan lembut


"Sabar itu mudah El pengucapanya tapi kenyataanya susah" jawab Julian dengan kasar pikiranya saat ini telah tertutup emosi menjadikan Dia tak bisa menerima nasihat yang baik.


"Iya aku paham" Eliza berusaha mengerti dengan menyudahi memberi saran ke Julian yang saat ini terlihat sedang frustasi itu.


"Maaf ya El aku emosi aku tingal di rumah itu udah gak betah jujur aja.." jelas Julian dengan menindurkan kepanya di bahu milik Eliza ya saat ibi Dia butu hseseorang untuk sekedar berbagi asa


"Jul kamu harus tau dan lihat semua ini mungkin udah rencana Tuhan buat kamu mungkin ini yang terbaik buat kamu sayang" ucap Eliza lagi berusaha memberi kata-kata bijak untuk Julian dengan ucapan yang manis.


"Iya El aku tau tapi serius aku benar-benar gak kuat lihat wajah papa aku saat ini nanti atau bahkan aku gak tau..." Jelas Julian lagi dengan nada sedih seperti beban di hidupnya itu seakaan-akan terus bertambah.


Eliza mulai meraih tubuh Julian dan mulai memeluknya dengan erat di bawah rintihan hujan itu


"Jul jangan tingalin aku ya" ucap Eliza demgan lembut sembari menyentuh dengan lembut pipi itu memikirkan hal itu membuat beban berat di hati Eliza.


"Iya gak akan kok aku tadi cuma emosi aja jangan di pikirin ya..." jawab Julian beusaha tersenyum ke arah Eliza walau hanya di paksakan.


"Oh iya sebantar lagi kita sekolah aku berdoa semoga kita satu kelas..." ucap Eliza dengan gembira namun sayang Julian tak menangapi dengan rasa yang sama yang sedang di rasakan Eliza.


"Oh iya semoga ya biar sering ketemunya" jawab Julian berusaha tersenyum walau terasa menyakitkan.


"Iya sayang kita bakal sering tatap-tatapan..."

__ADS_1


Julian tertawa menangapi ucapan kekasihnya yang terasa meneduhkan itu walau dia tak tau akan mampu atau tidak menjalani semua ini.


__ADS_2