Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 164


__ADS_3

H-1 Pernikahan Ayunda dan Wijaya.


Ayunda saat ini tengah membereskan semua barang yang akan Dia bawa ke hotel begitupun sejumplah kerabatnya yang tampak sudah siap berangkat menuju hotel tempat Ayunda akan melangsungkan pernikahanya besok. sedang Rehan tak usah di tanya lagi saat ini Dia sedang nokrong dengan temannya ruapnya pernikahan mamamya tak penting baginya ucapanya benar terbukti Dia tak akan sudi mendatangi acara pernikahan itu.


"Anak kamu gak ikut yun...?" tanya wanita yang di pangil tante oleh Ayunda itu yang terlihat judes dari aura wajahnya.


"Gak tan biasa Dia susah di bilangin" jawab Ayunda dengan nada seperti biasa walau Dia tampak suasah payah menyebunyikan kebenaran bahwa Rehan tak ada niatan untuk menghadiri pernikahanya.


"Lagian tante cuma mau bilang aja ya seharusnya  kamu tu terlebih baik nikah biasa-biasa aja dirumah gak usah mewah seperti ini..." lanjut wanita itu yang ucapanya sangat menyingung hati Ayunda.


Ayunda hanya Diam dan berusaha menghindari dari percakapan itu lagi Dia mulai mengambil koper miliknya dan memasukan satu-persatu koper milik keluarganya yang datang dari luar daerah itu.


Setelah selesai dan siap mereka mulai masuk ke dalam mobil masing-masing yang berjumplah tujuh mobil .


Dan tak berapa lama mobil mewah itu mulai berjalan beriring-iringan menuju hotel.


Terlihat semua keluarga Ayunda adalah termasuk keluarga dengan kelas menegah atas.


Hanya butuh waktu satu jam mereka sampai di depan hotel itu Ayunda sengaja memesan hotel yang sedikit lebih jauh dari kediamanya.


Ayunda mulai turun dari mobil yang mulai menepi itu dan berjalan ke lobi hotel Dia ingin segera menelphone Wijaya lelaki yang sedari tadi sangat susah untuk Dia hubungi. Sedang untuk urusan chek in sudah Ia limpahkan semua ke kakaknya.


"Mbak aku ada urusan sebantar ini tolong urus semua pembayaranya ya..." ucap Ayunda seraya menyerahkan kertas dan kartu atm milliknya itu.


"Oh  iya..." jawab wanita yang memiliki rupa dan perawakan sama dengan Ayunda yang terlihat bagai pinang di belah dua.


Sampai di lobi hotel Ayunda berusaha keras menghubungi Wijaya yang tampak tidak on itu hingga berulang kali.


"Ini kemana aja sih mas Wijaya..." ucapnya dengan nada kesal karena hingga beberapa kali Ayunda menelpon lelaki itu yang selalu nihil mengangkat teleponya.


Akhirnya Wijaya mengangkat telepon darinya dengan buru-buru Ayunda berbicara dengan emosi yang mulai memuncak.


"Hallo..." ucap wijaya mendahului pangilan telepon dari Ayunda.


"Hallo mas, mas dimana sih ini aku udah chek in di hotel keluargaku udah ada semua disini mana keluargamu...?" tanya Ayunda yang terlihat kecewa dengan Wijaya karena begitu tak mempedukikan acara pernikahanya yang hanya tinggal sehari.


"Oh aku masih ada rapat sejam lagi aku akan segera ke hotel..." jawab Wijaya dengan nada terburu-buru tampaknya Wij\ya benar-benar sedang sibuk dan pekerjaan itu adalah segalanya.


Ayunda mematikan telepon itu dan wajahnya tampak marah bercampur kesal di saat hari sebelum penikahan bisa- bisanya lelaki yang disayangainya itu masih menyibukan diri dengan pekerjaan.


Hingga akhirnya Dia memasukan ponsel miliknya itu kembali ke dalam tas bermerk italia itu dan Dia mulai berjalan menemui saudaranya yang tamapak sudah mendapatkan kamar-masing-masing


Tak lupa Dia bertemu WO yang akan mengurusi pernikahanya besok dan sesuai keinginanya WO itu tampak memiliki pengalaman yang membuat Ayunda tenag serta menyerahkan semua kepada WO yang terlihat masih muda itu dengan berseragam kerja serba biru dongker itu.


"Oh baik kalau gitu saya permisi" ucap Ayunda dengan angun seperti biasanya seraya berjabat tangan denagn wanita berpakaian jas itu.


"Oh iya buk semoga besok rencanaya lancar ya sesuai permintaan ibu..." jawab wanita bernama Gladis itu dengan menujukan senyuman.

__ADS_1


" Iya semoga ya..." jawab Ayunda berusaha melongarkan tanganya.


Ayunda mulai berjalan ke kamarnya tak lupa Dia terus menghubungi Wijaya lekaki yang besok akan mengucap ihab qobul di depan para tamu undangan.


Dia rebahkan tubuhnya yang terasa capek akibat kondisi tubuhnya yang saat ini sering mengeluhkan sakit akibat ada si calon bayi di perutnya. Dia elus-elus perut yang masih tampak rata miliknya itu dengan lembut dan harapannya selangakah lagi akan terwujud dan kelak anaknya lahir tentu dengan kehadiran ayah yang sudah sah.


Hari hampir sore terlihat pemandangan di luar hotel itu tampak menakjubkan dengan langit terhiasi sorotan mentari yang terlihat mulai tengelam itu pikiranya tampak sedang memikirkan Rehan yang tak tau bagaimana keadaanya sedari semalam Dia tak pulang sedari pusara ayahnya itu Ayunda memang tak menampik Rehan sampai kapanpun tak akan sepenuhnya merestui pernikahaannya.


Ayunda kaluar dari kamar hotel dan masih terus menanti lekaki itu di tempat yang sama seperti semula hingga tak berapa lama Wijaya datang dengan berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Maaf ya pekerjaanku banyak banget" ucap Wijaya yang tampak berjalan terburu-buru dan dengan nafas yang tampak tersengal-sengal


"Mas bisa gak sih mas libur sehari tingalin pekerjaan kamu besok kita mau nikah mas apa kata orang kamu tu kayaknya gak serius sama acara pernikahan kita dari awal kita rencana nikah semua yang handel aku sendiri mas tanpa kamu, kamu tu kaya gak ada niat tau gak..." jelas Ayunda yang tampak emosi dengan Wijaya yang serasa hanya mempermainkan pernikahaan ini


"Iya aku tau tapi maaf ini tadi urusan penting.." jawab Wijaya dengan menghela nafas dengan berat.


"Terserah mas terserah alasan mas...!!!" ucap Ayunda dengan semakin marah.


Hati Ayunda serasa kembali sakit Wijaya yang Dia kenal bukanlah Wijaya yang dulu seakan-akan janin yang ada di rahimnya ini tak diangap oleh Wijaya.


"Oke sekarang mana kuncinya kayaknya aku perlu mandi dulu deh.." ucap Wijya dengan menyeka keringat di wajahnya.


Ayunda tampak semkain kesal dengan Wijaya yang tamapknya tak menysepesialakan perniakahn itu.


"Saudara mas bermalam di hotel mana...?" tanya Ayunda sembari menyerahkan kunci kamar bertulis 031 itu.


"Mas gak gini caranya..." ucap Ayunda dengam frustasi yang hanya diangap tak penting oleh Wijaya yang terlanjur berjalan menuju kamarnya.


....


Sedari pukul lima pagi Ayunda sudah bersiap dengan tatanan gaun berwarna putih bersih yang tampak cantik dan terlihat mewah itu dengan hiasan mutiara disetiap sudutnya tak lupa manik-manik itu bergemerlap di semua sisi gaun itu dengan sewaan MUA berbuget fantastis tentunya.


"Kamu cantik banget yu..." ucap wanita bernama Selia itu bisa di bilang kakak kembaran Ayunda.


"Iya makasih mbak..." jawab Ayunda dengan tersenyum manis.


Pukul 07.00 Ayunda mulai berjalan menuju ruang acara pernikahan itu begitupun Wijaya yang hanya datang sendirian serta menyiapkan segalanya sendiri dan tentunya menimbulkan tanda ranya besar di benak keluarga besar Ayunda.


Tamapaknya pernikahan ini hanya membuang-buang waktunya saja dengan tampang Wijaya terlihat melakukan ini semua dengan terpaksa.


"Mana keluarga memplei laki-laki Yun..?" tanya Ratih kakak tertua dari Ayunda dengan wajah serius.


"Maaf mbak semua tak bisa datang...??" jawa Ayunda dengan raut wajah lesu hingga membuat Ratih tak tega melanjutkan ucapanya .


Ratih hanya menghela nafas sembari mengelus-elus pundak adiknya


"Maaf bukan maksud mbk ingin buat kamu sedih ya Yun..." lanjut Ratih berusaha meminta maaf ayas pertanyaanya yang menyakitkan bagi Ayunda.

__ADS_1


"Ya" jawab Ayunda dengan suara bergatr.


Acara pun Dimulai dengan diawali sambutan dan lain sebagainya hinga pelakasanaan akad nikah itupun Dimulai Wijaya tamlak terpesona dengan kecantikan Ayunda ketika di poles wajah hingga menjadi secantik itu. Wijaya tersenyum penuh harus serta Ayunda juga merasakan hal sama akhirnya mimpinya bisa menikah dengan Wijaya Tuhan kabulkan walau harus terlebih dahulu membuat lubang dosa.


"Saya nikahkan engkau Wijaya Adi saputra bin Adi sucipto dengan Dewi Ayunda binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan dengan uang seratus juta di bayar tunai.." ucap penghulu itu kepada Wijya dengan tangan saking berjabat tangan.


"Saya terima nikah dan kawinya Ayunda binti Ahmad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai..." ucap Wijaya dengan tegas dan sempurna hingga membuat semua bertepuk tangan meriah.


"Bagaiman saksi...?" ucap penghulu jeoada para sajsi dan tanu undangan.


"Sah..." jawab semuanya serentak.


Semua berteriak sah walau tamu undangn itu tampak hanya dihadiri keluarga dekat dan sahabat namun tak mengurangi acara pernikahan yang terbilang mewah itu.


Setelah acara akad selesai kini tinggal melanjutkan acara selanjutnya yang terbilang sukses itu dengan di suguhkan acara kesenian daerah serta banyak tamu undanagn yang menyumbangkan lagu yang pas dengan kisah cinta kedua mempelai itu dan membaut semua tertawa penuh dosa.


Walau Ayunda sudah berumur tampaknya tak mengurangi niatnya untuk melangksungkan pernikahan ini mirip anak muda.


Hingga pada akhirnya pukul dua siang acara itupun selesai.


Kini Ayunda mulai berjalan mendekat ke arah Wijaya dan berjalan bersama menuju kamar hotel bekelas bintang lima itu.


"Mas makasih ya udah nikahin aku ." ucap Ayunda dengan lembut ke arah suaminya tak luap Dia mencium tanagn kokoh milik Wijaya.


"Iya sama-sama" jawab Wijaya namun dengan tatapan datar dan senyum di paksakan.


"Mas kenaap sih mas akhir-akhir ini kaya kurang suka dengan semua ini..?" tanya Ayunda dengan wajah khawatir dan tau sikap Wijaya tampak berbeda.


"Aku gak papa sayang.." jawab Wijaya berusaha memeluk tubuh Ayunda.


Walau perasaan Wijaya tak bisa bohong Dia seprti sedikit menyesal menikahi Ayunda walau Dia pun tau janin yang berada di kandungan Ayunda adalah buah hatinya dan menjadi alasan pernikahan ini terjadi.


"Yaudah aku mandi dulu ya mas..." ucap Ayunda dengan nakal ke arah Wijaya yang mulai melepas satu persatu kain yang menepel di tubuhnya itu hingga membuat Wijaya tertegun dengan lekuk tubuh Ayunda.


"Iya sayang.." jawab Wijaya yang terlihat sedang menahan air liurnya menetes.


Ayunda mulai datang dengan gaun malam berwarna merah yang berarti berani yang membuat Ayunda terlihat sangat seksi itu.


Malam-malam yang panjang itu menajdi saksi bisu gulatan cinta Ayunda dan Wijaya yang tampknya mereka sedamh mengukir cinta terlarang.


Baru pertama kali Wijaya menyetuh perut yang masih rata milik Ayunda dan membaut Ayunda menangis haru.


"Ini anak kita mas.." ucapnya dengan tersenyum bahagia dan meneteskan air mata.


"Iya sayang .." jawab Wijaya denag ikut tersenyum pula terlihat jelas kini wajahnya tampak bahagia.


Mereka masih di posis yang sama melakukan hubugan suami istri sebagai mana mestinya.

__ADS_1


__ADS_2