
"Yaudah deh mbak aku pulang aja kelihatanya juga mendung" ucap Eliza dengan berdiri sembari melihat ke arah atas langit yang terlihat mulai menghitam itu.
"Iya mabk tadi namanya mbak siapa ya saya lupa...??" ucap wanita berbaju sederhana itu dengan malu-malu.
"Eliza..." jawab Eliza dengan spontan.
"Emang Julian gak ada ya mbak...?" tanya Putri bergantian karena Dia belum tahu kalau Julian sedang pergi ke Bandung.
Eliza tampak murung rencananya seakan akan tidak berjalan mulus, Dia memasukan kembali kaos yang sudah Ia cuci itu kedalam tasnya lagi.
"Di Bandung mbak..." jawab mbak Inah dengan tersenyum.
"Pulangnya kapan ya mbk kalo boleh tau...??" tanya Putri lagi yang membuat hati Eliza semakin kesal karena begitu pedulinya Dia dengan Julian.
"Centil banget sih jadi cewek..." ucap Eliza dalam hati dengan memasang tampang tidak sukanya itu.
"Kurang tau mbak..." jawab mbak Inah yang membuat hati Eliza sedikit lega.
"Oh iya maaf ya mbak saya masih banyak kerjaan mungkin mbak Putri mau nunggu di sini dulu...??"
"Oh Pulang aja deh..." jawab Putri yang melegakan hati Eliza seketika.
Eliza terlihat sok sibuk dengan motornya Dia berusaha ingin tau rupanya alasan Putri datang kesini untuk apa.
"El barengan aja.." ucap Putri sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf Put gue ada urusan lain" jawab Eliza dengan datar.
"Oh yaudah mbak ini aku titip makanan tolong di kasih Julian ya..." ucap Putri dengan menyerahkan kotak kecil berisi makanan itu.
Wajah Eliza tambah kusut rupanya ketika melihat Putri mengambil sekotak makanan dari tas kecil yang Ia bawa itu.
Tak berapa lama Dika datang dengan motor kesayanganya warna hitam itu dia tampak keren dengan gaya berpakaian yang terlihat macco.
"Putri rupanya lo disini...?" tanya Dika ke arah putri sembarii membuka kaca helmnya
"Iya Dik" jawabnya tanpa melihat ke arah Dika
"Kok gak ngomong sih kalau mau kesini kan aku bisa jemput kamu" ucap Dika berusaha mendekati Putri.
"Maaf emang kita ada janji ya...??" ucap Putri dengan datar dia tau maksud arah pembicaraan Dika.
Eliza justru tertawa terbahak-bahak melihat Dika yang terlihat naksir dengan Putri namun sikap Putri terlihat tak menangapinya lebih cederung cuek.
"Kok lo ketawa...??" tanya Dika ke arah Eliza.
"Gak papa gue duluan ya semoga lo cepet nembak Putri...." ucap Eliza sedikit berteriak yang membuat Putri semakin kesal dengan situasi ini.
Dika hanya menangapinya dengan senyum termanisnya justru Putri yang tampak kesal dengan ucapan Eliza.
"Kok lo pulang Put..?" tanya Dika dengan mata menatap lembut ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Iya Dik soalnya Julian gak ada" jawab Putri masih berusaha mendinginkan hatinya.
"Yaudah kita jalan aja gimana...??" ucapan Dika seolah-olah sambaran petir bagi Putri.
"Maaf Dik aku ada janji sama Dea duluan ya" Putri hanya membual rupanya Dia hanya mencari alasan agar segera tehindar dari Dika.
"Oh yaudah kalau gitu hati hati ya" ucap Dika sembari melambaikan tangan namun Putri justru tak menangapinya.
Putri mulai melajukan motornya sedang Dika masih berada di atas motornya Dia pandangi wanita yang sangat Ia cintai itu mulai menghilang dari pandangan matanya.
"Suatu hari aku akan nembak kamu Put..." ucap Dika dalam hati sembari senyum-senyum sendiri.
....
Setelah sholat asar aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Mama dan oma, pangilan baru untuk nenekku sedari tadi sudah menyiapkan sejumplah makakan dan kue kering yang sudah di tata rapi di kardus putih itu.
"Banyak banget ma...??" tanya Julian sembari mengangkat kardus itu Dia tampak keheranan dengan barang bawaanya yang begitu berat saat di jinjing.
"Ini isinya makanan ringan ntar buat kamu nyemil juga ada abon dan beberapa sambel nanti di makan ya kalau kamu gak suka lauk di rumah..." jelas mamanya dengan rapi menata bungkusan beberapa macam makanan ringan ini.
"Oh iya ma" jawab Julian sembari memakai sepatu.
"Ini juga ada kue Jul nanti di bawa ya..." ucap Oma menyerahkan dua bungkus kue yang terlihat mengiurkan itu.
"Oma banyak banget itu..." ucap Julian dengan mengelengkan kepala.
"Udah gak papa kalau kamu kerepotan biar nanti mama kirim online aja gimana..." mamanya selalu mengerti akan Julian dia berusaha agar Julian tetap nyaman dalam perjalan pulang nanti.
"Gak usah ma gak papa" jawab Julian mulai memikirkan cara membawa yang efisien untuk nanti.
"Mama oma aku kan laki-laki gak papa aku bawa sendiri aja...." Julian tetap ngekeh untuk membawa barang itu sendiri.
"Oh yaudah terserah kamu Jul..." mamanya tak mempermasalahkan jika Julian bisa membawanya.
Julian mulai mengenakan jacket serta masker di wajahnya tak lupa Dia memakai topi berwarna hitam itu.
"Jul jaga diri baik-baik ya" ucap wanita itu berusaha menatap arah lain ia taku jika mata itu bertemu bertambahlah kesedihanya.
Serasa pertemuanya kemarin terasa bagai angin berlalu yang terasa tanpa bisa teraba. Kesedihn itu kini mulai menghampirinya.
"Cup iya ma pasti" ucap Julian sembari mencium kening mamanya.
"Jangan lupa makan dan sembahyang ya Jul" ucap mamanya lagi memgingatkan
"Pasti"
"Reva kakak pulang dulu ya" Julian mulai memangil adik kesayangajya yang sedang duduk di kursi sofa itu.
"Em padahal baru sebentar disini kenapa gak besok aja sih kak pulangnya" Reva terlihat begitu sedih dengan kepulangan kakanya yang terlihat hanya seperti mimpi.
"Kakak masih banyak tugas dek belum di kerjain semua" jelas Julian sembari memakai tas ransel berwarna hitam itu
__ADS_1
"Yaudah tapi lain kali nginep disini yang lamaan kak entar kita ke Trans studio bareng-bareng" ucap gadis itu yang membuat hati Julian tak tega untuk melihatnya.
"Iya pasti"
"Jaga mama ya" ucap Julian lagi dengan tatapan penuh harap ke adiknya.
"Iya kak"
"Oma aku pulang ya" Julian bergantian memeluk omanya.
"Iya Jul jgn lupa sambel bikinan oma di makan ya" ucap wanita Tua itu sembari mebawakan barang bawaan cucunya ke depan.
"Baik oma"
Wanita itu menitihkan air matanya kembali namun dengan cepat dia mengusap dengan tanganya agar Julian tak melihatnya.
"Mama aku pulang ya" Julian berpamitan sembari memeluk erat wanita itu.
Keharuan itu terjadi kembali.
"Udah Mel kasihan Julian nanti kehujanan itu udah mulai gerimis"
"Oh iya"
"Inget pesan mama ya" wanita itu menatap anak lelakinya dengan tatapan sendu.
"Pasti mama gak boleh sedih ya suatu saat aku pasti akan bahagiain mama" Julian menyeka air mata itu dengan halus tak lupa ia mencium tangan ibunya.
"Aku berangkat ma" ucap Julian lagi sembari meneteng barang bawaan yang begitu berat kedua tanganya penuh dengan barang bawaan sekarang.
"O ya nak"
Julian mulai berjalan keluar dengan membawa barang yang sejujurnya terlalu banyak, mobil yang ia pesan itu sudah tiba di depan segera Julian berjalan ke luar sambil melambaikan tangan ke arah mama, oma dan adiknya.
"Daa..."
Justru wanita itu terlihat sedih dia segera berjalan ke dalam.
Wanita yang di pangil oma itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak keempatnya itu.
"Terlalu rapuh kamu Mel..."
"Reva kejar mama kamu hibur Dia oma mau beresin makanan dulu" ucap wanita tua itu dengan halus kepada cucunya yang sedang melihat kakanya masuk ke dalam mobil Crabcar yang dipesan lima belas menit lalu itu.
"Iya oma..." ucap Reva sembari mengejar mamanya yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Ma udah jangan sedih lagi mama gak sayang ya sama aku...??"
"Maaf dek mama mudah menangis akhir-akhir ini..." jelasnya sembari mengusap air matanya kembali
"Mama harus kuat biar Reva kelak jadi wanita kuat seperti mama" anak gadis itu terus berusaha menghibur wanita kesayanganya itu.
__ADS_1
"Iya nak tu mama udah senyum kan" ucap wanita itu sembari menunjukan senyum yang Ia paksakan.
"Nah gitu itu baru mamaku.." Reva mulai memeuk mamanya sembari menyemangatinya kembali.