Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 56: Rindu Yang Berat


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lebih tiga puluh lima menit malam, namun mataku jua tak kunjung menutup walau aku lelah aku masih selalu melamunkan dia, Julian.


Berat, seberat aku rindu akan sosoknya.


Ibarat sebuah recehan berat banyak namun tak bernilai.


Di temani cahaya remang lampu jalanan aku terduduk merenung di balkon kamarku sembari membayangkan takdir memihaku agar aku bisa bersama Julian namun hanya sebuah hayalan yang tak mungkin terwujud.


Benih-benih cinta inipun mulai muncul seiring waktu berjalan


Aku tak bisa memungkiri rasa suka ini akan terus tubuh subur.


Aku bahagia bisa memiliki rasa cinta ini namun yang lebih menyakitkan aku terjebak diantara rasa cinta yang seharusnya tak aku rasakan.


Julian Dokta


Nama yang sekarang seperti sebuah pelangi yang datang setelah hujan seperti kejutan yang akan membuat siapapun bahagia melihatnya.


Dret... Dret...


Ponselku berbunyi segera aku mengambilnya dan melihat notif pesan yang masuk.


Ternyata dari Eliza


Aku tersenyum sinis membayakan semua hal yang terjadi di antara aku dan dia


Aku terasa seperti orang jahat yang siap mengacungkan pisau ke ulu hatinya.


Dia memintaku untuk menemuinya besok tentu aku iyakan karena aku ingin berbagi rasa antara aku dan dia.


****


Kafe pelangi


Segera aku memarkirkan motor dan menemuinya di kafe yang sudah ia pesankan.


"Ada apa El kok kamu pengen ketemu sama aku...???" tanyaku ke Eliza


setelah aku menumuinya dan menghampirinya di tempat duduk yang telah ia pesankan untukku.


"Ada yang pengen aku omongin Put..." jawab Eliza sambil tersenyum tipis.


"Oh ada apa...??" tanyaku sedikit gerogi karena dari tatapan matanya dia ingin membicarakan hal yang serius lantas aku bertidak selayaknya orang yang siap jadi pendengarnya walau hanya kepura-puraan yang aku tunjukkan.


"Um... aku mau bilang terimakasih soal yang kemaren saat kita bertemu bertiga kemarin dan itu menjadikan aku sekarang percaya bahwa diantara kamu dan Julian tak ada hubungan yang sepesial" jawabnya dengan terus tersenyum layakanya orang yang sudah menemukan sebuah kunci yang selama ini menghilang.


"Iya El" jawabku sedikit berat karena sesunguhnya aku telah menyimpan rapi semua rasa suka terhadap Julian.


"Kok kamu jawabnya kaya gak yakin apa karena aku kemarin marah-marah sama kamu terus menuduh yang tidak-tidak...??" ucapnya sedikit kawatir.


"Gak kok El ..." jawabku lagi sedikit menyakinkan.


"Oh iya hubungan kamu sama Feri udah lama ya...??" ucapnya lagi menanyakan sesuatu yang membuatku bimbang.


"Em.. Udah dua tahub sih El" jawabku dengan pelan.

__ADS_1


"Lama banget ya langeng lagi..." ucapnya menanggapi perkataanku.


"Iya" jawabku sambil berusha menutupi segala hal yang terjadi yang sesunguhnya


''Oh iya soal Dea kamu tenang aja kamu cukup gak perlu lademi dia..."


"Iya El" jawabku sembari mengalihkan pandangan mataku ke arah luar.


Ya Tuhan Eliza orang nya benar-benar baik dia tak sedikitpun menyalahkan perasaanku yang aku kunci rapat untuk Julian dan dia berusaha membelaku saat Dea mengancamku.


"Oh iya kita sedari tadi ngobrol terus sampai lupa, kamu mau pesan minum apa...??" tanyanya ke aku yang sebenarnya hanya basa-basi


"Aku sama kaya kamu aja El" jawabku sedikit menggantung.


"Baiklah aku memesan beberapa  minuman dulu ya..." jawabnya dan segera beranjak berdiri.


"Iya.." jawabku samnil terus merutuki kesalahanku terhadapbya


Tanpa aku sadari di depanku sudah ada Julian yang mukin dia udah janjian juga sama Eliza.


"Lo disini Put...?" ucapnya dengan segala ucapan yang membuatku terbius


"I...ya" ucapku sedikit tersendat


"Lo sediri" ucapnya lagi yang seperti tusukan.


"Aku lagi makan bareng sama Eliza..." jawabku sambil berusaha menghilangkan rasa cangkung yang kini menghampiriku.


"Oh gitu gue juga sama kok mau makan bareng El" jawabnya yang membuat dadaku sedikit sesak.


"Jul...??" ucap Eliza yang langsung menghampiri kita berdua aku sedikit mengalihkan pandanganku ke arah yang lain.


"Kita makan bertiga ya Jul..." ucapnya lagi menyambung perkataanya tadi.


"Iya gak papa lagian biar rame.." jawab Julian sembari duduk di depan Eliza.


Setelah itu Eliza duduk di sebelahku dan menghadap Julian


"Oh iya aku sekarang pengen traktir kalian" ucap Eliza yang terdengar riang


"waoo bagus tu El lagi bahagia ya" ucap Julian menanggapi tingkah Eliza sambil terus memandang wajah Eliza yang membuatku iri.


"Apaan sih Jul kan aku yang ajak kita jalan bareng" jawab Eliza terdengar malu-malu.


Mereka begitu bahagia dan selalu tersenyum layakanya sebuah kebahagiaan yang lengkap aku iri tentu namun aku harus bisa menepatkan diri aku siapa


"Put kok lo sedari tadi diem...??" tanya Eliza yang tak ingin aku mendengarkanya.


"Gak kok El" ucapku yang tak terasa buliran bening ini jatuh.


"Lo kok nangis Put...??" tanya Eliza yang membuatku justru tak bisa menahan gumpalan hitam ini.


"Iya lo sakit ya...??" tambah Julian yang justru membuat hatiku demakin sakit dan gumpalan hitam ini siap jebol


Gak kok, ini tadi gue kan pas malem gak bisa tidur terus gue tidur kemaleman jadi mata ku sedikit perih.

__ADS_1


"Oh gitu tapi lo serius gak apa apa kan..??" ganyanya yang kawatir.


"Gak kok El" jawabku sedikit menunduk


Setelah itu aku pamit pergi ke toilet karena rasa sesak di hatiku kini semakin menjadi


Ini semua salahku


Andaikan aku tak memiliki rasa suka separah ini tentunya hatiku tak mukin akan merasakan duka sedalam ini


Hatiku sakit hidupku pilu aku merasakan pedih nya sakit hati


Karena kamu Jul aku mengorbankan seseorang yang tulus terhadapku walaupun kamu tak membalas sedikitpun tentang perasaan ku namun aku tak masalah asal kamu bahagia walau semuamya berat.


Aku tak membenci kamu El tapi aku membenci hatiku yang tak tau diru menyukai orang lain yang sudah memiliki pasangan


Aku terus menangis dalam diam merasakan rutuhan batu yang terjal yang berada di hatiku.


Juliam pov


Aku sedikit bingung dengan sifat Putri akhir-akhir ini padahal dia bukan apa apa dariku namun aku merasa ada sesuatu yang sedang dia pendam.


Apa mukin dia menyukaiku...??? Ucapku bertanya dalam kegelisahan yang kini menghampiriku tak terasa kopi panas yang baru mulai aku sruput menumpahiku


Byurrrr


"Jul..?" ucap Eliza terdengar kawatir sembari membersihkan noda yang ada di bajuku.


"Udah gak papa kok" jawabku yang masih sedikit syok.


"Tapi jul..??" ucap Eliza


"Udah gakpapa aku ke toilet bentar ya buat bersihin" jawabku sembari beranjak.


"Iya tapi kamu gak papa kan...??" tanyanya yang terlihat kawatir dan berusaha berdiri.


"Sayang tunggu bentar kamu disini aja yaa" ucapku menenangkan dia.


"Tapi aku pengen ikut Jul.." jawabnya merenggek lagi namun aku tolak.


Segera aku berjalan menuju toilet namun betapa terkejutnya aku melihat putri menangis walaupun aku tak tau penyebab dia menangis


Aku mengepalkan tangan sedikit mengeretakan gigi ingin aku meraih tanganya namun aku tau yang aku lakukan justru membuat ia sakit karena aku sedikit kawatir akan keadaanya.


"Put..." ucapku sedikit mendekatinya yang berada di washtafel.


Dia menolah dan segera menyeka air matanya.


"Kamu kenapa...??" tanyaku sedikit mendekatinya.


"Aku gak papa..." jawabnya dengan suara terdengar parau


"Julian....???" ucap Eliza yang datang tiba-tiba dan membuatku tertegun begitupun Putri


Next

__ADS_1


__ADS_2