
Sudah hampir seminggu lebih Eliza melakukan rutinitas sekolah seperti biasa ya semnjak Dia menginjak kelas tiga waktu belajarnya semakin padat dan untuk mendapat waktu bertemu Julian itu baginya sangatlah susah walau mereka satu kelas untuk ada waktu berdua dengan Julian rasanya susah.
Hari ini sepulang sekolah Eliza bersama ketiga temanya, Fitri Devi dan Intan akan berkunjung ke rumah Dea karena Eliza ingin sekali mengetahui kondisi Dea saat ini Dia hanya mendengar kabar Dea dari ketiga temanya tanoa tau kondisinya secara langsung.
Seperti biasa Devi yang mahir menyetir mobil itu segera mengambil alih dengan duduk di depan sedang Eliza duduk disebelahnya dan kedua temanya duduk di belakang.
Mobil berwarna putih itu segera melaju melewati padatnya lalu lintas di pusat kota.
Mereka tampak akrab Eliza sekarang lebih bisa memahami sifat dari ke tiga temanya itu di perjalanan mereka terus bercanda ria melepas tawa.
Eliza tak menyangka ternyata ketiga temanya itu memiliki sifat yang baik yang tak seperti di bayanganya dulu, selagi ada Intan semua pembicaraan itu terasa tak ada habisnya.
"Eliza..." ucap Inatan sembari memeluk kursi yang di tumpangi Eliza dari belakang.
"Iya ada apa Tan" jawab Eliza dengan menoleh kebelakang mendapati Intan sedang berusaha memangil namnaya.
"Udah punya cowok belum nih...?" tabya Intan dengan mata di kedipkan ke arah Eliza.
"Kepo deh" sela Devi yang terlihat sedang menghabiskan sebungkus ciki ball kesukaanya.
"Kalau belum kita ada kenalan" tamabh Fitri berisaha mengoda Eliza juga sembari senyum-senyum sendiri.
"Ada lah tapi masih rahasia" jawab Eliza dengan menyengir ke arah temanya baginya Jukian itu sepesial jadi wajar dia merahasiaakan itu.
"Jangan main rahasia rahasiaan dong sama kita kan kita udah temenan" sela Intan denagn raut wajah cemberut.
Eliza hanya tersenyum menangapi ucapan Intan yang terkenal di sekolahnya Ratu kepo itu.
Mereka mulai sampai di depan rumah Dea. Fitri mulai membelokan arah setir ke kanan jalan dan berhenti di samping pagar berukuran tinggi itu.
Mereka melangkahkan kaki untuk turun satu persatu dan berjalan ke arah gerbang bercat hitam itu.
"Permisi .." ucap Devi dengan suara serak khasnya.
Tanpa ada jawaban hingga Devi mengulangi ucapanya berkali-kali.
"Permisi...." ucapnya lagi
Mereka menunggu sedikit lama hingga kurang lebih sepuluh menit baru ada jawaban dari wanita paruh baya yang berjalan ke arah gerbang itu.
"Maaf cari mbak Dea ya..." ucap wanita paruh baya itu seraya membukakan gerbang karena Dia hafal betul dengan kehadiran anak SMA berpakain putih abu-abu itu yang sering datang.
"Iya bi..." jawab Firti dengan tersenyum.
"Oh iya silahkan masuk..." pembantu itu mempersilahkan masuk dengan ramah.
Mereka berempat mulai berjalan masuk ke ruamh Dea.
Tampak rumah Dea terasa sepi hanya ada wanita yang sedang duduk di ruang tamu itu sembari membaca majalah ya Dia adalah wanita bernama Amira.
"Permisi tante..." ucap Devi dari arah pintu.
"Oh kalian silahkan masuk..." jawab wanita itu dengan ramah sembari menutup majalah itu dan meletakanya di atas meja.
__ADS_1
''Oh iya maksih ya tante...." jawab Fitri sembari berjalan masuk dan diikuti ketiga temanya.
"Dea ada di kamar silahkan masuk...." ucap wanita itu tak bertele-tele seraya mempersilahkan masuk.
Eliza Devi Fitri dan Intan segera berjalan ke kamar milik Dea yang tak jauh dari arah pintu utama.
"Ceklek..." mereka mulai membuka pintu dan bersama-sama berjalan masuk ke kamar Dea yang terlihat Dea sedang duduk melamun di kursi rotan yang menghadap ke Jendela berukuran besar itu dengan pemandangan taman yang luas disertai kolam renang.
Eliza mulai berjalan terlebih dahulu menghampuri Dea, terlihat pandanagn mata Dea tampak kosong dan dengan keadaan yang teramat memilukan.
Eliza segera berjalan ke arah Dea dan duduk di sampingnya tak lupa tangan kanan Eliza membawakan sakantong berisi buah apel, buah kesukaan Dea.perasaan bersalah itu muncul di benak Eliza, Dia berusaha mendekati Dea sedekat mungkin dengan duduk di sebelahnya.
"Dea..." ucap Eliza seraya menyentuh pipi yang tampak tirus itu wajahnya tampak pucat seperti orang tak sehat bibir merah meronanya itu berubah menjadi kelabu.
Dea hanya diam tanpa menoleh sumber suara matanya tampak berair dan tanganya bergetar sedang Devi dan Fitri berusaha memeluk Dea dari belakang.
"El dia gak akan jawab" ucap Intan yang sudah mengerti keadaan Dea akhir-akhir ini.
"Oh iya maaf " Eliza berhenti berbicara dangan melakukan hal yang sama Dia segera berdiri dan memeluk Dea yang tampak kurus dan sayu itu.
Eliza tampak terenyuh sembari menahan air matanya Dia merasakan tubuh Dea tampak bergetar dan air mata itu perlahan muncul di iringi isak tangis dari Dea Eliza semakin miris melihat kondisi Dea yang sekarang ini.
"Dea yang kuat ya..." ucap Devi sembari menyeka air mata itu.
"Iya Dea kamu harus sembuh" tambah Fitri yang ikutan meneteskan air mata.
Mereka mulau melongarkan pelukan dari Dea dan berdiri di belakang Dea untuk sekedar menemaninya Dea semain terisak dan dengan nafas tersengal-sengal.
Sedang Eliza duduk di ranjang tempat tidur Dea yang tampak acak-acakan seperti mengambarkan kondisi Dea yang saat ini.
"Ceklek..."
Wanita itu terseyum ke arah Eliza, Eliza yang tau maksud dari wanita itu mulai mengambil alih dan membawa nampan itu dan di bawakan ke arah Dea.
"Biar saya yang bawa..." ucap Eliza dengan sopan berusaha mengambil nampan itu dan segera berjalan ke arah Dea.
"Kamu makan dulu ya...?" ucap Eliza dengan perlahan ke arah Dea dengan tangan kanan membawa sendok berisi nasi yang akan Dia suapi ke arah Dea.
Dea hanya mengelengkan kepala dengan masih sama menatap dengan tatapan kosong
"Kamu siapa...??" tanya Dea nada pelan.
"Aku Eliza De.." jawab Eliza dengan berhalan memgahdap ke arah Dea.
Mendengar suara Eliza seketika Dea mengigil dan seperti sedang ketakuatan dengan berteriak sangat keras dengan kedua tangan menjambak rambut ikal miliknya.
Kedua sahabat yang sudah paham dengan keadaan Dea itu segera melakukan tindakan cepat dengan memberikanya pil obat penenang.
"Cepat Kamu kasih Dia Dev..." ucap Fitri sembari memberikan sebutir pil yang di ambil dari wadah obat itu kepada Devi.
Eliza ikut merasa ketakutan dengan sifat Dea yang membuatnya sangat terkejud itu.
"Udah biasa kok gak papa..." ucap Intan kepada Eliza berusaha menengkan Eliza.
__ADS_1
Dengan sedikit paksaan akhirnya Dea berhasil meminum obat itu dengan satu teguk air mineral walau perlahan Dea mulai menutup mata dan tampak tertidur di atas kursi itu.
Wanita bernama Amira itu segera masuk ke kamar anaknya ketika mendengar teriakan dari Dea yang sangat keras.
"Kenapa...?" tanya Wanita itu dengan raut wajah cemas.
"Dea kambuh Tan..." jawab Intan dengan nada sendu.
"Oh udah kamu kasih obatnya...?" ucap wanita itu seraya berjalan memdekati anaknya yang tampak tertidur akibar obat penenang yang muali bereaksi itu.
"Udah Tan..." jawab Devi sembari berusaha merapikan rambut Dea yang acak-acakan.
Dengan sabar wanita itu menghampiri putrinya dan mengangkat tubuh Dea ke tempat tidurnya dengan di bantu Eliza dan Devi dengan perlahan sedang Fitri mengambilkan selimut dan berusaha menutupi tubuh kurus itu dengan selimut berwarna coklat yang tebal itu.
Mereka yang mengetahui Dea mulai tertidur segera keluar dari kamar itu
"Maaf ya Tan...." ucap Eliza merasa berslaah jarena kehadiranya sembari menutup pintu karena Dia berjalan yang paling akhir.
"Gak papa kok ya ini memang ujian buat keluarga kami jadi kami harus menerima semua ini dengan iklas..." jawab wanita itu dengan nada pasrah.
"Iya yang sabar ya Tan..." tambah Eliza sembari memeluk tubuh wanita berperawakan tinggi itu.
"Di minum dulu..." wanita itu mulai menawarkan minuman yang sudah tersaji rapi di meja kayu jati yang tampak mewah itu.
Eliza bersama ketiga temanya segera duduk dan berbincang-bincang dengan wanita bernama Amira itu.
"Jadi Dea semenjak kejadian itu perlahan mulai berubah dia sering nangis sendiri tiap malam kadang tertawa sambil nangis tapi yang lebih sering Dia dikamar terus duduk di kursi rotan kesayanganya itu...." ucap wanita itu dengan suara parau dan nada bergetar membuat siapapun terenyuh mendengarnya.
"Tante udah berusaha semaksimal mungkin buat nyembuhin penyakit mental yang dialami Dea namun hasilnya masihlah sama tak ada perubahan yang spesifikan...." tambah Amira lagi sembari menyeka air mata yang ia simpan rapat-rapat namun terlanjur menetes itu.
"Tante yang sabar ya" ucap Eliza berusaha menguatkan Amira walau Dia belum berada di posisi yang di alami kelaurga tante Amira.
"Aku minta maaf ini semua gara-gara aku" tanpa sengaja Eliza mengucapkan kata-kata itu karena Dia sangat merasa bersalah dengan kejadian waktu itu hingga membuat Dea seperti sekarang.
"Engak nak Eliza, tante tau kok permasalahanya ini di mulai dari Dea sendiri jadi ya ini memang sudah ujian dari Tuhan buat Dia...." jawab wanita itu kembali berusaha tegar dan di jawab anggukan oleh Eliza Dia berusaha paham dengan ucapan tante Amira.
Suasana kembali hening keempat sahabat itu mulai meminum segelas Jus jeruk yang sudah di persiapkan tante Amira.
"Yaudah ya Tan kita mau pamit dulu semoga Dea bisa lebih membaik...." ucap Fitri sembari memeluk tante Amira .
"Iya terimaksih ya udah mau berkunjung kesini sering-sering dateng kesini biar bisa hibur Dia ya..." ucap Amira dengan nada sangat berharap.
Keempat sahabat itu hanya menganguk dan segera berpamitan pulang.
....
Eliza kini sedikit berubah semenjak berteman lagi dengan Fitri Devi dan Intan seakan sifat Eliza yang dulu itu kini tak sama. Vey dan Rena ikut bahagia karena Eliza kembali berkumpul dengan teman-lamanya walau mereka tak memungkiri ada sedikit rasa iri di hatinya.
Seperti biasa saat hari libur Eliza hanya berdiam di kamar sembari memainkan jemarinya diatas layar bening itu.
Sedang disisi lain Julian masihlah sama menjadi Dirinya dengan permasalah keluarga yang tak ada habisnya.
Ya hampir satu pekan Julian dan papanya tak saling tegur sapa mereka hanya orang asing di dalam satu atap itu kedua insan itu sama-sama egois tak mau mengalah satu sama lain masih tetap dengan pendirian yang salah itu.
__ADS_1
Hampir seharian penuh julian hanya di kamar seperti Eliza menghabiskan waktunya hanya berbaring dan berkirim pesan dengan Eliza.