Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 156


__ADS_3

Setelah azan mahrib Julian mulai mengantarkan Eliza pulang walau hari hampir malam namun mereka berdua rasanya engan untuk berpisah.


Mereka saat ini sedang duduk berduan di dekat poskamling di perumahan yang di tempati Eliza yang terlihat tampak sepi itu karena mengingat hari mulai malam di dalam sawung itu terlihat Julian sedang memuaskan hawa nafsunya untuk mencumbui setiap sisi wajah Eliza mereka begitu bergelut dengan nafsu birahi hampir lima belas menit mereka di posis sama dengan Eliza duduk di pangkuan Julian dan Julian dengan bebas meraba setiap sisi kepunyaan Eliza hingga pada akhirnya Eliza menghentikan semua ini.


"Jul udah ya nanti takut ketahuan orang" ucap Eliza sedikit bernisik dengan suara pelan sembari melihat semua sisi dengan berharap semua aman-aman saja.


"Iya.." jawab Julian sembari menganguk.


Julian segera menyeka sisan darah di bibirnya begitupun Eliza melakuakn hal yang sama.


Mereka mulai duduk perlahan berusaha terliat sedang berbincang-bincang biasa sembari membenarkan pakaian yang terlihat tampak berantakan itu.


"Sayang..." ucap Julian dengan sendu.


"Iya..." jawab Eliza dengan menatap ke arah mata Julian.


"Kalau kita nanti ketemuanya satu bulan sekali kamu gak papa kan...?" lanjut Julian dengan nada berat dan sedikit canggung, sontak membuat Eliza terlihat kecewa dengan ucapan Julian.


"Iya kamu jahat berarti" ucap Eliza dengan nada begetar yang terdengar sedang menahan air matanya jatuh begitu teriris rasanya hati miliknya itu ketika mendengar ucapan yang membuatnya kecewa.


Ya alasan Julian lagi-lagi karena kondisi ekonominya saat ini, Dia tak akan berani menceritakan semua masalahnya ke Eliza, jikalau Eliza tau pastilah Dia akan mengerti.


"Gak gitu sayang kita harus fokus belajar bukan..." ucap Julian lagi berusaha memberi pengertian untuk kekasihnya sembari meraih tangan itu kembali.


"Iya tapi masak satu bulan kelamaan, iya dua minggu aja gak mau harus nunggu satu bulan kan lama kalau perlu aku yang ke Bandung aja..." ungkap Eliza dengan susah payah menahan gelombang air mata itu jatuh.


"Iya udah aku usahain dua minggu oke" ucap Julian yang tak tega melihat wajah Eliza yang terlihat hampir menangis itu..


Eliza mulai memeluk tubuh kokoh milik Julian rasanya Dia engan berpisah dengan Julian air mata itu terasa hampir menetes merasakan kemali beratnya berpisah dengan kekasihnya. Namun semaksimal mungkin Eliza menahan agar terjatuh nanti saat Dia di kamar tibuh Juliam itu bagai candu baginya.


"Aku harus balik sekarang tiketnya jam delapan soalnya" ucap Julian sembari melongarkan pelukan dan membaut Eliza merasakan kepedihan itu kembali yang terasa amat berat melepaskan namun mengegam jua tak bisa.


Hingga tanggul yang dia tahan itu tumpah seketika hingga air matanya menetes namun dengan cepat Dia mengusap dengan telapak tanganya Eliza membuang muka ke arah lain agar Julian tak mengetahuinya.


"Cup udah dong jangan sedih kita itu hanya beda tempat sayang tiap hari juga viciocallan kan..." terang Julian lagi sembari memeluk tubuh Eliza kembali yang terasa bergetar itu Julian tau Eliza sedang menangis namun Dia berpura-pura tak tau.

__ADS_1


"Iya tapi kurang...." jawab Eliza dengan nada parau.


"Mau apa emang...?" tanya Julian lagi dengan nada begitu sabar.


Eliza hanya mengelengkan kepala tampaknya sifat asli Eliza kini mulai bermunculan dan membuat Julian harus ekstra lebih mengerti.


"Duduk dulu coba...." perintah Julian dengan halus Namun mendapat penolakan dengan Eliza.


"Gak gak usah yaudah pulang aja sekrang" jawab Eliza nenolak ucapan Julian dengan nada kesal.


"El plis kamu lebih dewasa sedikit oke iya udah aku nanti dua minggu lagi akan kesini ya" lanjut Julian kembali berusaha memberi pengertian kepada Eliza.


"Tapi janji kan...?" ucap Eliza dengan kembali melhat ke aeah langit yang tampak menghitam itu agar air matanya tak jatuh.


"Iya janji..." jawab Julian dengan tersenyum.


Julian mulai meraih tubuh itu kembali dan dirasakan pelukan singkat itu terjadi hingga akhirnya Eliza melepaskan pelukan itu.


"Yaudah aku minta maaf ya kalau masih belum bisa lebih dewsa belum bisa mengerti kamu" ucap Eliza terdengar minta di pedulikan perasaanya.


"Iya tapi belajar ya..." jawab Julian menangapi ucapan Eliza dengan halus.


Eliza hanya menganguk sedang Julian mulai berjalan ke luar dari perumahan ini Eliza memandang tubuh itu mulai menghilang kenangan manis yang terjadi hari ini begitu idah serta setiap lukisan yang terjadi hari ini memiliki makna tersendiri baginya.


Eliza semakin marah dengan dirinya yang terlalu cinta dengan Julian Dia memang gadis manja namun hatinya sangat seria.


Sampai Rumah


Eliza mulai membuka gerbang dan melangkahkan kakinya masuk.


"Habis dari mana aja jam segini baru pulang kamu itu anak cewek lho El ...!!" ucap wanita yang sedang membuka majalah itu dengan nada sinis Dia begitu jengkel dengan anak gadisnya yang seharian penuh berpergian dengan siapa yang tak menau kejelasanya seprti apa.


"Mama sehari aja gak bawel kenapa sih aku udah dewasa gak perlu mengatur ini itu ma...." jawab Eliza dengan nada begitu tinggi dan memuat wanita itu hanya mengelengkan kepala dengan kecewa.


Tampaknya kekesalahnya dengan keadaan membuat Eliza marah dengan semuanya.

__ADS_1


"Ma udah biarin Dia kan udah ijin buat jalan sama temenya kita maklumi dong ma asal tidak berlebih aja..." ucap lelaki yang sedang meminum kopi itu dengan nada sabar.


"Papa Itu selalu manjain Eliza dan papa lihat kan sekarang Dia berani lho bentak mama.." jelas wanita itu yang justru kesal dengan suaminya.


Eliza tak mempedulikan ucapan mamanya Dia begitu acuh dan berjalan menuju kamarnya.


Hingga saat sampai kamar Eliza langsung mengunci pintu kamarnya itu engan rapat-rapat dan kambali menangis meluapkan semua kesedihannya hari ini lagi-lagi saat berpisah itu terasa begitu menyakitkan baginya.


Kenangan bersama Julian hari ini terasa begitu indah hingga Dia selalu terbanyang-bayang akan kehadiran Julian saat ini di sampingnya.


Dia menyeka air mata itu dan Dia bediri di depan cermin tampak tanda pemberian dari Julian tadi berada di lehernya Dia berpikir keras untuk besok menutupi tanda merah ini.


.....


Julian mulai melangakhkan kakinya masuk ke dalam kereta tubuhnya tampak lelah dan Dia meraih kembali dompet coklat itu yang tersisa hanya tinggal seratus ribuan pikiranya tampak kalut memikirkan wanitanya dan juga mamanya yang sama-sama penting baginya.


Julian mulai menyandarkan kepala di tempat duduk itu dan perlahan Dia mulai tertidur seakan-akan rasa lelahnya sedang terhibur walau hanya dengan mimpi-mimpi sesaat.


Kurang lebih empat jam Dia sampai rumah.


Dia mulai menapaki rumah yang berdiri kokoh, rasanya semakin berat baginya untuk melangkah masuk ke dalam.


Dia membuka pagar itu dan segera berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat gelap itu, hari hampir larut Dia percaya seisi rumah sudah tidur semua Dia berjalan perlahan-lahan menuju kamarya.


Dia mulai mengabari Eliza bahwa Da sudah sampai setidaknya rasa lelahmya hari ini terbayar tuntas oleh pertemuanya dengan Eliza tadi.


Dia berjalan ke kamar mandi dan melakukan rutinitas mandi yang terasa air dingin itu bagai bongkahan es batu yang membuat tubuhnya bergidik ngeri setelah selesai mandi Julian kembali merebahkan tubuhnya hingga pada akhirnya pintu kamar miliknya terbuka dan mendapati Amelia datang menghampiri anak lelakinya.


"Baru pulang..." ucap Amelia dengan nada pelan sembari berjalan duduk di tepian tempat tidur Julian.


"Iya ma kok belum tidur ..,.?"jawab Julian sembari bangun dan menanyai alasan mamanya datang ke kamarnya karena saat ini hari hampir larut malam.


"Mama tadi nungguin kamu sayang kamu tadi udah makan malam belum...?"jawab Amelia yang begitu perhatian terhadap putranya.


"Eum belum ma" jawab Julian dengan menjawab sejujurnya yang terlihat salah tingkah itu.

__ADS_1


"Yaudah makan dulu tadi mama ada nasi box pemberian temen mama belum mama buka kamu makan ya" ucap Amelia sembari beranjak dan berjalan ke arah dapur.


Hati Julian begitu terenyuh dulu Dia sering sekali menyia-nyaiakn makanan tapi untuk kali ini Dia begitu menghargai harga sebutir nasi bagaimana


__ADS_2