
Julian mulai mengantarkan Amelia dengan motor miliknya menuju butik.
Seperti biasa jalanan tampak macet ketika sore hari namun hal itu tak mengurangi niatan Julian untuk mengantarkan mamanya, rupanya kini Dia benar-benar menjadi anak yang berbakti dan membuat Amelia semakin bersemangat melalaui hidup yang terasa keras ini.
"Ma emang pelangan mama siapa sih yang pesen baju semendadak ini ...?" tanya Julian kepada mamanya dengan tatapan mata terus menatap ke arah bahu jalanan dan kedua tangan yang sibuk memainakn stang motor.
"Ini ada pelangan menurut pesan yang mama baca sih saat ini Dia sudah menunggu di depan Butik, kayaknya pelanggan baru deh Jul soalnya belum tau kalau hari Jumat mama libur." jawab Amelia sembari merogoh ponsel miliknya yang berada di dalam tas yang selalu Dia bawa saat bekerja.
"Oh tapi mama kenal kan orangnya...?" tanya Julian lagi memastikan walau hanya basa-basi namun sesunguhnya pertanyaan itu ada kalanya benar menanyakan kebenaran pelangan itu.
"Belum sih Jul, ini kayaknya nomer baru Jul..." jawab Amelia yang terdengar polos itu dan membuat Julian sedikit khawatir.
"Mama seharusnya lebih teliti lagi ya lain kali aku cuma takut kaya kejadian beberapa waktu lalu mama menerima tamu tak di undang itu..." jelas Julian lagi sembari memgingat kejadian saat waniat itu bertemu mamanya, yang hanya di iyakan oleh Amelia karena perkataan Julian ada benarnya.
Julian mulai membelokan arah stang motor milinya itu hingga melaju ke arah persimpangan jalan menuju tempat butik mamanya.
Begitu terkejutnya saat Julian mengetahui ada mobil hitam yang familiar dengan matanya yang terlihat sedang berhenti di depan butik mamanya itu dan membuat Julian merasa cemas-cemas hebat dadanya terasa berguncang hingga Julian begitu panik. Nafas di dadanya serasa sedang bertabrakan dengan ritme detak jantungnya hingga Dia segera menepikan motor kesayanganya itu dan membuka kaca helm miliknya dengan perlahan.
Dia mulai turun begitupun Amelia benar saja dugananya papanya saat ini sedang berada di depan butiknya bersama Ayunda entah apa yang di lakukanya Julian merasa terbodohi kembali rasanya.
Julian terlihat begitu murka melihat kedua manusia yang tak punya hati nurani itu berdiri di hadapnya dengan tanpa tau malu, sedang Amelia hanya berjalan di belakang Julian mendapati mantan suaminya bersama wanita selingkuhanya hatinya jelas sakit namun ini kenyataanya Dia harus bisa menghadapi segalanya dengan iklas.
Kini Julian harus siap menghadapi segala resiko yang terjadi.
"Oh Julian..." ucap Wijaya berusaha menghampiri putranya yang sangat Dia rindukan, namun hal itu hanya membuat Julian tertawa pilu melihatnya, melihat papanya berdiri di hadapnya dengan wanita yang membuatnya merasakan sakit hati yang sangat sakit sedalam ini.
"Mau ada apa...?" tanya Amelia memberanikan diri dengan berjalan ke ke arah depan tampaknya Dia tak ingin terlihat lemah saat ini walau image seperti ini Dia bangun dengan susah payah, walau sekedar hanya untuk berkata ''aku baik-baik saja tanpa kamu" itu tak semudah mengedipkan matanya.
"Mama mingir...!!!! mama mingir......!!!" ucap Julian dengan keras dan sangat lantang emosinya saat ini tampak sedang memanas terasa hingga keringat itu mulai mengalir dari atas pelipisnya sembari menyentuh pundak Amelia agar melangkahkan kakinya ke belakang.
"Oh rupanya papa masih punya muka ngapain papa disini hah ngapain belum cukup papa sakiti mama..!!" ucap Julian dengan mata melotot tajam ke arah Wijaya hatinya serasa tercincang-cincang hebat dengan sebilah pisau tajam, perlahan kemarahanya terasa semakin meledak dengan disertai denyutan jantung yang mulai berdetak tak beraturan.
"Jul dengerin papa kita bicara baik-baik nak" jawab Wijaya berusaha meraih tangan anaknya yang hanya di tepis Julian dengan kasar terkadang kerasnya batu mengalahkan kerasnya hati manusia.
"Lepas gak perlu tangan suci ini papa sentuh dengan tangan kotor milik papa..." ucap Julian dengan nafas tersengal-sengal begitu baiknya alam memepertemukan Dia kembali dengan orang yang sangat Dia benci Dia ingin marah sudah pasti namun Dia bisa apa selain menahan dendam ini.
__ADS_1
"Julian jaga sopan santun kamu" ucap Ayunda yang mulai keluar dari mobil milik papanya dengan tampang terlihat begitu angkuh dan membuat hati Amelia semakin sakit. Melihat itu Julian bersumpah serapah akan membenci wanita jahanam itu selamanya dan tak akan merestui hubungan mennjijiakn itum
"Oh wanita gila mau apa datang kesini hah....?" tanya Julian dengan berjalan ke arah Ayunda sedang Amelia hanya memandang sinis ke arah Ayunda Dia hanya mencoba sabar dan paham semua ini sudah rencana Tuhan walau pahit untuknya namun Dia bisa apa selain menerima dengan iklas.
"Tante cuma mau bilang hari minggu nanti tante akan nikah sama papa kamu tante cuma mau kasih undangan aja...." jawab Ayunda dengan memeperlihatkan undangan itu ke arah Julian dan Amelia dengan begitu bangga. Hati wanita mana yang tak sakit melihat kelakuan wanita yang merebut suaminya dengan bangga menyodorkan secarik kertas berisi undangan itu.
"Maaf gak perlu repot-repot undang kita' jawab Amelia sembari menyilangkan tangan didadnya air matanya terlanjur beku dan Dia tak akan menangisi kelakuan bejat suaminya dengan Ayunda walau undangan itu hanya sebagai tanda perselingkuhan itu nyata adanya dan berakhir menyakiti dirinya.
"Jangan terima ma buat apa barang haram itu kita sentuh kita masih banyak hal bersih buat tangan kita lakukan..." jawab Julian dengan menyentuh tangan mamanya agar tak sampai menerima undangan itu.
"Julian udah mending kita pulang aja ya..." ucap Amelia yang tampaknya terlihat kelelahan dan pertengkaran ini jika diteruskan tampaknya hanya akan menambah masalah saja.
"Jul pulanglah lagi ke rumah nak.." ucap Wijaya penih harap kepada anaknya.
"Benar tentunya kehidupan kamu akan jauh lebih baik ketimang disini bukan...?" lanjut Ayunda yang hanya mengangap rendah Amelia dan Julian bagai di kata seperti gembel yang seenak hati di injak-injak dan di rendahakan olehnya.
Julian tampak tak tinggal diam Ingin rasanya Julian membungkam mulut busuk milik Ayunda namun jika itu Dia lakukan saat ini tentu tak mungkin karena Dia saat ini sedang bersama mamanya tak mungkin Dia bertidak seanarkis itu dan dengan susah payah Dia berusaha mengatur emosinya agar sedikit menjernihkan pikiranya.
"Oh maaf aku masih punya tempat setidaknya lebih baik daripada tinggal di neraka..." jawab Julian tuntas dan membuat Ayunda dan Wijaya seperti sedang di bodohi kata-kata oleh Julian.
Julian segera menarik tangan mamamya dan berusaha menaiki motor miliknya di ikuti mamanya duduk di punggung motor itu.
"Udah mas aku udah puas..." ucap Ayunda dengan menunjukan wajah angkuhnya.
Julian hanya Diam Dia berusaha menyalakan motor miliknya dan melajukan motor itu dan meningalkan kedua orang yang tampak hina baginya.
Julian hanya Diam hatinya jelas sakit di datangi kedua orang yang sangat Dia benci Dia tak bisa menyalahkan mamanya namun Dia tak seharusnya mengantarkan mamanya pergi dan hanya berakir seperti kejadian hari ini.
"Jul mama Minta maaf...." ucap Amelia dengan sendu Dia tau anaknya sedang Diam dan itu menandakan Dia sedang marah.
"Gak perlu lain kali mama lebih teliti lagi" jawab Julian denagn nada datar.
Di dalam perjalanan ibu dan anak itu hanya saling terdiam dan tak bersuara serasa alampun tau akan perasaan kedua orang yang sedang nerboncengan di atas motor itu melewati kerasnya jalanan.
Sampai rumah.
__ADS_1
Julian membating keras sepeda motor miliknya dan berjalan dengan kasar ke arah kamarnya.
Dia tertunduk lesu di dekat ranjang tempat tidurnya tekanan batinya serasa sedang di adu, perlahan Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan Dia hembuskan dengan berat dan tanpa Dia sadari butiran bening itu jatuh dengan sendirinya terkadang hidup itu lebih menyakitkan dari pada perumpamaanya dan lebih menakutkan daripada perkiraanya dan untuk menjadi baik-baik saja itu hanya permainan kata hanya untuk mengelabuhi kenyataanya.
Amelia berdiri di depan kamar itu Dia berusaha mengahampiri putranya yang tampak sedang marah hebat namun tertahan oleh tangan mungil milik Reva.
"Kakak sedang ingin sendiri mama cerita di kamar aku aja ya..." ucap Reva sedikit berbisik ke arah Amelia yang tau keadaan kakanya sedang tak ingin di ganggu.
Amelia hanya menuruti anak perempuanya dan berjalan ke arah kamar putrinya.
"Ada apa sih ma...?" tanya Reva kepada Amelia yang terlihat penasaran dengan apa yang terjadi hingga membuat kakanya semarah ini.
"Mama tadi ketemu pelanggan tapi gak jadi beli jadi kakak kamu tampak kesal Rev..." ucap Amelia dengan berbohong Dia tak ingin membaut Reva sedih yang sering berkata ingin bertemu papanya karena terkadang rindu itu Makin lama makin tak mampu menahanya.
"Mama gak perlu bohong tadi papa ada di depan butik mama Rev..." jelas Julian di depan pintu kamar adiknya, Amelia dan Reva tampak terkejut dengan kedatangan kakaknya yang sidah berdiri di depan pintu itu.
"Apa papa...?? ma aku ingin ketemu papa..." ucap Reva dengan nada berat terlihat jelas rindu itu kian hari kian terasa semakin menyiksa batinnya.
"Reva maaf ya mama mohon jangan nak..." ucap Amelia yang justru bersedih dengan ucapan anak perempuanya yang tampak membuat hatinya tersentuh karena Dia tak bisa mewujudkan mimpi anaknya walau hanya untuk bertemu papanya.
"Aku kangen ma sama papa..." ucap Reva lagi dengan nada berat berusaha menahan air mata itu jatuh karena Dai sangat rindu.
Julian menatap tajam ke arah Reva dan berlalu pergi Dia jelas tak akan memberi ijin jikalau adiknya bertemu lelaki itu.
"Mama kenapa bohong kenapa gak sama aku aja ketemu papa ma jujur Reva rindu banget..." ucap Reva dengan membalikan badanya berusaha menyeka air mata yang muali menetes itu.
"Maaf ya sayang mama gak bisa wujudi keinginan kamu karena mama tak bjsa" jawab Amelia berusaha menyenyuh pundak putrinya.
Mendengar ucapan adiknya dari luar kamar itu serasa Julian ingin sekali menyeret wajah papanya dihadapan adiknya agar Reva tau tak seharusnya Dia mengharap rindu dengan lelaki bejat itu.
Julian hanya terdiam dan berjalan ke arah kamarnya Dia mengunci pintu itu rapat-rapat suasana hatinya kini sedang hancur lebur bagai letusan bom yang sudah terlanjur menjadi abu.
Matanya memerah dan tubuhnya terasa lesu dadanya sakit mengingat kejadian hari ini seperti kenangan yang terjadi beberapa waktu lalu dan mengingatkan saat Dia mengetahui pertama kali papanya mengugat cerai mamanya.
Luka itu belum sembuh namun kini perlahan terbuka kembali pangilan dari Eliza hanya Dia tolak seakan suasana panas membuat semua terkena imbasnya.
__ADS_1
"Plis sehari aja ngertiin aku Elllll....!!" ucapnya dengan keras dan lantang sembari membanting ponsel miliknya itu ke atas kasur.
Mukin ini awal rencana Tuhan yang terbaik untuk dirinya dan untuk kedua orang wanita yang saat ini harus Dia lindungi.