
"Kalian putus"
Ucap seseorang secara tiba-tiba dan mengejutkanku bagitupun Julian aku segera membalikan wajah dan melihat yang brrbicara demikian.
Deg!!!!
Dan ternyata Rehan.
Pikiranku serasa berbelit-belit bertambah kacau
"Apalagi yang akan terjadi" umpatku dalam hati sambil aku menunjukan wajah pasrah.
Mendengar itu Julian langsung menunjukan wajah kesalnya dengan tangan yang mulai dia kepalkan erat-erat.
Kemudian dia menghampiri Rehan yang terus menatap tajam ke arah Julian
Dan dia menarik kerah baju Rehan dan siap meninju.
"Mau lo tu apa sih ...!!" ucap Julian dengan mata melotot dan dengan suara keras.
Dan Rehan yang tak ingin kalah berusaha melawan Julian dan meladeni tinjuanya.
Aku melihat itu serasa hanya menjadi boneka yang akan diperebutkan oleh dua orang
Dan kejadian ini terjadi berulang-ulang.
"Stoooppppp...!!!!!!" ucap ku keras dengan berlinangan air mata.
"Rehan aku mohon kamu berhenti ganggu aku sama Julian pliss...!!! Han" ucapku dengan suara parau dan dengan nafas yang tak karuan.
"Asal kalian putus aku akan berhenti ganggu Julian" jawab Rehan dengan senyum palsunya.
Plakkk.....!!!!! Wajahku serasa ditampar keras-keras oleh kata-kata itu.
"Sekarang ada di lo El lo pilih aku apa Rehan???" ucap Julian dengan wajah memerah dan nada marah yang tak pernah aku dengar.
"Aku milih kamu Jul aku mohon kamu percaya sam aku" ucapku sambil mendekati dia namun dia berusaha menghidar dari aku.
"Asal lo tau Jul gue udah suka sama Eliza sejak dia kelas satu dan lo cuma ikut ikutan aja iya kan ..." ucap Rehan sambil memperbaiki dasi yang berantakan.
"Apa lo bilang lo kira gue percaya ucapan sampah lo hahhh.. ?????" jawab Julian tak mau kalah.
"Cuih ...terserah".
"Udah kalian ini ngomong apa sih kak aku mohon kakak pergi kali ini aja jangan ganggu aku sama Julian" ucap ku memohon ke kak Rehan.
"Terus gue harus kalah dengan anak bau kencur ini" ucap kak Rehan yang masih memberontak.
"Apa lo bilang lo tu yang bau kencur jelas- jelas lo yang kaya banci pacar orang mau di rebut seenak hati dikira dia mainan hah....???" bentak Julian sambil mendorong dada Rehan dan membuat dia sedikit bergerak kebelakang.
Belum sempat Rehan meladeni Julian tiba-tiba datang security yang kebetulan jam segini sedang berkeliling komplek.
"Hei ada ribut apa ini...?" ucap pak satpam dari belakang dan seketika mengejutkan kita bertiga.
"Jangan bikin onar disini" tambah pak satpam lagi dan memperingati untuk tidak membuat keributan.
"Dia ini pak yang ganggu pacar saya" ucap Rehan mendahului.
"Dia orang gila pak tolong seret dia ke..."
belum sempat julian melanjutkan ucapanya Rehan langsung menonjok wajah Julian dan meninggalkan luka memar.
__ADS_1
"Sialan lo...!"
Bruakkk
Balas Julian yang sekarang menendang perut Rehan.
Dan terjadilah pertikaian lagi.
"Kalian ini gak pada punya malu ya anak sekolah kelakuanya kaya anak jalanan" ucap pak satpam dengan suara keras dan sedikit membentak.
"Oke pak karena yang lebih waras disini saya jadi saya akan pergi" ucap Rehan dengan sinisnya dan kembali menyengol bahu Julian.
Dan Rehan beranjak pergi.
"Dan kamu kalo bertamu disini jangan bawa musuh !!!" ucap pak satpam memperingati Julian
Setelah itu pak satpam berlalu pergi.
"Udah ya Jul mending kita masuk aja" ajakku ke dia sambil berusaha mengusap bekas air mata di wajahku
"Gak...!!!" tolaknya mentah-mentah
"Ayolah Jul kita duduk diteras malu kalo ada yang lihat" ajakku lagi dan berusaha memaksa dia.
"Yaudah" jawabnya singkat namun berarti
"Akhirnya'" ucapku lega
"Aku buatin minum ya Jul" tawarku ke Julian yang sedang duduk.
"Gak perlu ...cepat duduk" perintahnya dengan keras dan membuat aku sedikit kaget
"Baik..." jawabku datar dan segera duduk disebelahnya.
"Diamm..." jawabnya dengan membentak.
Selanjutnya aku sebisa mukin terdiam dan menundukan wajah aku karena aku yang membuat hati dia dan pikiran dia menjadi seperti ini.
"Aku kecewa El sama kamu ...?" ucapnya lagi yang membuat ku sedikit bosan mendengar namun itu adanya.
"Kecewa kenapa Jul..?" jawabku dengan nada pasrah.
"Karena kamu terlalu cantik aku serasa seperti ....."
Cup....
Dam....!! hatiku seketika meleleh dibuatnya.
Dia mencium bibirku.
"Aku sayang kamu" ucapnya sambil menarik bibirnya dari bibirku yang sedari tadi menempel cukup lama.
Aku tersenyum seketika dunia ku berubah menjadi cerah yang sedari tadi terasa gelap.
"Aku taku El kehilangan kamu" ucapnya lagi sambil memperlihatkan senyum yang sedari tadi tak tampak.
"Aku tak bisa membalas semua ucapan kamu Jul tapi satu hal yang harus kamu tau aku akan jaga hati ini hanya untuk kamu Jul' ucapku sambil terus memandang wajahnya yang terlihat menenangkan hati aku.
"Kamu gak papa kan..?" ucapnya yang membuatku binggung.
"Apanya...?" tanyaku balik.
__ADS_1
"Keadaan kamu tadi saat berantem sama Dea" jawabnya dengan nada sedikit khawatir.
"Oh itu gak papa kok Jul udah biasa aku".
"Tapi di wajah kamu ada luka El" jawabnya sambil menujuk luka di wajah aku.
"Ini sedikit sayang" jawabku berusaha menenangkan dia.
"Tapi kalo gak di bersihin bisa infeksi"
"Apa sih Jul ini cuma tergores sedikit"
"Kamu yang kayaknya terasa lebih sakit" ucapku sambil sedikit memegang luka memar diwajah kirinya.
"Awwww.... sakit tau" teriaknya sedikit manja
"Aku kompres boleh gak..?" tanyaku yang terlihat bodoh
"Gak usah ini udah biasa sayang anak laki haruslah lebih kuat" jawabnya yang terlihat kedewasaanya muncul.
"O... iya tadi kenapa ada Aftur..?" tanyanya yang pasti akan ditanyakan ke aku
"Aku gak tau juga tiba-tiba dia datang tanpa aku suruh dan tak aku undang" jawabku panjang lebar.
''Kaya jalangkung aja" jawabnya terdengar seram
"Ya tapi benaran kan" ucapku sambil sedikit bercanda.
Dan selanjutnya kita bercanda ria menikamati waktu berdua kita yang terasa hanya sesaat.
****
Eliza...
Cantik bak bidadari
Wajahnya yang berseri setara rembulan di malam hari.
Senyumnya cerah secerah cahaya mentari dipagi hari.
Suaraya yang lembut bak alunan melodi yang tak tersentuh.
Dia yang sekarang sedang aku cintai
Dari padangan pertama jadilah rasa suka tumbuh menjadi sayang dan berkembang menjadi cinta.
Cinta...cinta...cinta... Lima huruf namun banyak mengandung arti.
"Hum..." gumanku dalah hati
Aku tersenyum girang layaknya anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
"Tapi cowok tadi siapa ya" ucapaku berbicara sedirian dikamar sambil mengingat cowok yang datang ke rumah Eliza tadi yang garis ketampananumya sejajar dengan aku.
"Sedikit...?" umptaku dalam hati.
Aku kembali menginggat waktu pentas kemarin begitu penuh kejutan, saat adegan bersamanya serasa aku ingin mewujudkan kelak jika aku berjodoh denganya.
Dan Dea, aku mengerti dibalik rencana busuk yang sudah dia rencanakan.
"Tapi lihat saja Dea waktu akan mihak lo apa gue....." umpatku sambil menyeringai.
__ADS_1
***