Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 128


__ADS_3

                   LIBURAN ke BANDUNG 1


At night..


Eliza saat ini sedang berkemas-kemas dia akan membawa satu koper berukuran besar yang penuh akan baju serta perlengkapan untuk berwisata nanti. Selama Dia beberes Julian dengan setia menemaninya lewat vidiocall yang saat ini sedang mereka lakuakan.


"El....." tanya Julian yang saat ini sedang berbaring di tempat tidurnya sembari mengigit tusukan gigi itu terlihat aneh memang tapi baginya itu kebiasaan yang sangat susah Ia tinggalkan.


"Iya sayang" jawab Eliza yang tengah sibuk menata baju di dalam koper itu.


"Bukanya kebanyakan segitu...." ucap Julian yang tampak terheran-heran dengan barang bawaan Eliza yang begitu banyak.


"Gak lah kan buat empat sampai lima harian sayang.." jawab Eliza tanpa menoleh ke arah Julian dan masih tetap melakukan hal yang sama.


Julian hanya terkekeh mendengar jawaban Eliza.


"Kamu sendiri Jul...?" tanya Eliza kepada Julian sembari memasukan peralatan mandi dan make up di dalam minibag berwarna bening itu.


"Udah..." jawab Julian dengan beranjak dari tempat tiurnya dan memperlihatkan tas ransel yang berisi pakaian itu.


"O iya jangan lupa bawa kamera..." tambah Eliza lagi nemperingatkan Julian untuk nembawa kamera seperti janjinya kemarin untuk nanti mereka mengambil foto saat liburan di Bandung.


"Siap sayang" jawab Julian dengan tersenyum dan mencoba menempelkan bibirnya pada layar ponsel itu, melihat itu Eliza hanya tertawa geli.


"Jul udah dulu ya ini udah malem cepet bobok dan besok kita berangkat..." ucap Eliza berusaha meutup obrolab mereka karena hari terlihat hampir larut malam.


"Iya jangan lupa besok aku tunggu di stasiun..." jawab Julian yang terlihat mulai menguap itu sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Iya sayang..." jawab Eliza dengan tersenyum. Walau sesunguhnya Dia belum berbicara dengan mamanya perihal Dia akan naik kereta untuk perjalaan besok.


Eliza mulai mematikan layar ponselnya dan berusaha untuk memejamkan mata.


....


Minggu


Kring... Kring


Suara alarm yang terus berdering itu mampu membangunkan Eliza dari alam mimpinya Dia segara membuka mata dan mematikan mesin itu. Dia tersenyum begitu baiknya Tuhan membangunkanya tepat waktu.


Dia mulai beranjak dari tempat tidurnya dengan membuka gorden kamarnya yang kini terlihat matahari mulai menampakan senyumnya dengan sorotan cahaya bening itu,


Dia tersenyum karena hari ini adalah hari yang sangat Ia nantikan karena sebentar lagi Ia akan merasakan liburan bersama Julian.


"Eliza bangun..." teriak wanita yang sudah bangun sedari fajar tadi dari luar pintu.


"Iya ma..." jawab Eliza dari dalam kamar Dia segera mandi dan mempersiapkan segalanya untuk berangkat ke Bandung.


Sehabis mandi Eliza mulai turun dengan tangan membawa koper yang mulai Ia tarik sedang yang satunya memegang jaket yang Ia beli di bali beberapa waktu lalu yang belum Ia kenakan itu.

__ADS_1


Hari ini Dia mengenakan atasan kaos lengan pendek serta celana jeans biru tak lupa sepasang aeropon sudah tertempel di telinganya.


"Ma..." ucap Eliza ketika menemui mamanya uang sedang menyiapakn sarapan di meja makan berbentul oval nan besar itu.


"Iya..." jawabnya sembari mengaduk kuah bakso itu.


"Boleh gak aku ke Bandungnya naik kereta" ucap Eliza dengan nada berat karena Dia takut mengungkapkan keinganya itu.


"Gak kita bawa mobil sebentar lagi kak Bima datang lagian masih muat kok mobilnya kan kak Bima bawa mobil sendiri" jelas wanita itu sembari menyicipi kuah didalam sendok sayur itu dengan terus mengecap rasa dari kuah itu.


"Ma plis..." ucap Eliza terus memohon dengan memeluk tubuh wanita itu.


"Jangan dikasih ma pasti ada alasan lain" seka Dio sembari menempelkan telapak tanganya sehabis makan ke arah wajah Eliza.


"Ih kak Dio rese banget sih bau amis nanti pipi aku..." teriak Eliza dengan keras yang merasa tak terima atas kelakuan kak Dio yang membut wajahnya kini menjadi cemberut seperti pakaian kusut.


"Dio cepet mandi nanti macet lagi..." ucap wanita itu berusaha meredam tingkah laku Dio.


"Tau tu telat aja kita tinggalin.." ucap Eliza masih dengan rasa kesal akibat wajahnya kini sedikit berbau amis.


"Ma tadi kan belum di jawab.." ucap Eliza mnunggu jawaban dari wanita itu dengan terjs memohon.


"Gak sayang..." jawab wanita itu tak mengijinkan keinginan anaknya.


"Asallamualaikum..." ucap lelaki bernama Bima yang baru datang itu dan berjalan dari arah pintu.


"Raca sini ikut oma" wanta itu meningalkan sup bakso yang baru matang itu dan mengahampiri cucunya.


Eliza semakin sebal ketika wanita itu melarangnaya dan justru lebih memilih mengendong cucu pertamanya itu.


Dengan langkah gontai dia memghampiri kak Tea wanita berkacamata itu yang kini menjadi kakak iparnya.


"Eliza selamat ulang tahun ya" ucap kak Tea dengan tersenyum sembari meyerahkan sebungkus kado yang terlihat mewah itu dengan di tambahi pita emas berukuran besar.


"Iya makasih ya kak" jawab Eliza menerima bungkusan kado itu.


Wanita bernama Tea itu adalah seorang dokter kandungan yang terkenal ramah Dia bekerja di rumah sakit Bina Medika. Termasuk salah satu Rumah sakit terkenal di jota ini.


"Raca salim dulu sama tante Eliza" perintah wanita itu sembari mendekatkan cucunya ke arah Eliza.


"Uh Raca udah bisa jalan aja sekarang" ucap Eliza sembari mengedong bocah berusia satu tahun itu yang mulia di turunkan mamanya.


"Bawa sini ikut kakek..." lelaki yang sudah berapakaian rapi itu mulai mengampiri cucu pertamanya dan berebut dengan anak gadisnya.


"Ayah ih kan aku dulu yang gendong, ayah nanti" Eliza merasa kesal baru juga mengendong sentar udah direbut oleh ayahnya.


"Dio mana ma" tanya Bima sembari duduk di kursi berbahan rotan itu.


"Itu masih mandi biasa lelet dia" Bima hanya tersenyum menangapi ucapan mamanya.

__ADS_1


Kurang lebih pukul tujuh pagi mereka sudah siap berangkat.


"Ayo buruan keburu macet ni jalanan." teriak wanita itu dengan nada seperti emak-emak kebanyakan yang rempong.


"Iya iya ma" Dio mulai berjalan menuju mobil dan mengambil alih kemudi sedang lelaki yang di pangil ayah itu duduk disebalhanya.


Dua mobil itu mulai berjalan menuju kota Bandung. Namun wajah Eliza tampak murung karena keinginanya tak diijinkan oleh mamanya.


....


Tak terkecuali Julian saat ini Dia sudah rapi dan siap berangkat terlihat lelaki yang sedang menali tali sepatu itu terlihat tampak bahagia.


"Mbak" ucapnya pada mbak Inah yang terlihat sedang mengepel lantai itu.


"Iya mas" jawabnya sambil menoleh ke arah sumber suara.


"Bapak mana" tanyanya sembari memakai jaket kesayanganya itu.


"Oh bapak ada tugas ke luar kota mas" jawab mbak Inah dengan jujur.


"Oh kok gk ngomong sih" ucap Julian dengan nada kesal karena Dia tak tau jika papanya tak ada di rumah saat wekend seperti hari ini.


"Maaf mas saya kurang tau"


"Yaudah gak papa mbk entar kalo bapak pulang bilangin aku ke Bandung kurang lebih nanti seminggu aku nginep disana" jelas Julian kepada mbak Inah sekalian berpamitan.


"Oh iya mas." jawab mbak Inah dengan angukan.


"Yaudah aku pergi dulu ya jaga rumah baik-baik" Julian mulai keluar dari rumah itu yang terlihat sudah menaikan tas ransel dipundaknya.


"Iya mas."


Julian mulai mengambil ponselnya sembari memakai masker, Dia membuka latar ponselnya dan mencoba menelphone Eliza namun sayang no telephon Eliza sedang tidak aktif.


Ya Dia tetap terus berjalan mencari angkot untuk menuju stasiun baginya tak ada salahnya menaiki kendaraan yang satu ini walau dia jarang menaikinya.


Dia menaiki angkot itu dan mulai berjalan masuk kedalam dan duduk di tempat duduk yang sempit itu walau rasanya terasa penuh akibat banyaknya penumpang yang naik.


Saat sampai di stasiun Julian mulai melakukan layak halnya orang naik kereta tak lupa dia terus mencoba menelphon Eliza sebelum dia melakukanya Eliza sudah terlebih dahulu mengirmnya sebuah pesan yang berisi permintaan maafnya yang tak bisa melakukan hal yang Julian inginkan.


"Maaf ya sayang aku gak di ijinin naik kereta aku udah otw ni udah masuk tol"


Memebaca pesan itu Julian sedikit kecewa karena sejurmya Dia ingin menikmati naik kereta berdua dengan Eliza


Dia hanya membalas pesan Eliza dengan emoji berbentuk hati tanpa ada lanjutan kalimat yang lain.


Dia mengehala nafas dengan kasar.sembari menaiki gerbong kereta disepanjang perjalan dia hanya diam dalam kesenduan itu berharap hatinya akan lebih membaik Dia duduk di kursi kosong itu sembari menyenderkan kepalanya.


Suara musik yang terdengar klasik itu mampu membuatnya tegelam dalam lamunanya yang terasa menjadi teman setiananya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2