Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 39 : Salah Paham


__ADS_3

"Gue kecewa El sama lo...!!!!!!" ucap Julian dengan keras sambil berdiri dan beranjak menaiki motornya.


"Tunggu Juliannnnn.....!!!!!" Teriaku keras.


Namun dia tidak merhiraukan ucapanku dan tetap berjalan meninggalkan aku


Segera aku berlari mengejarnya.


"Jul ini... gak.. seperti.. yang.. kamu.. bayangkan...!!!" ucapku lagi dengan suara terputus-putus.


"Eliza tunggu" ucap Aftur mencegahku.


"Lepasin gue Tur...!!!" jawabku  sambil menolak pegangan tangan dari nya.


Aku segera berlari sebisa mukin dan kutahu dia berhenti sejenak tepat di dekat jembatan dan keadaan jalan yang sedikit sepi karena hari sudah hampir petang.


'Jul....!!" ucapku dengan nafas tersengal- segal serta keadaan tubuh yang sangat tak karuan dengan rambut acak-acakan dan keringat yang terus menetes.


Dia terdiam dan aku sangat bersyukur dia berhenti.


"Julian maafin aku sayang...!!" ucapku lagi sambil berusaha mendekati dia.


"Gue sakit El" jawabnya dia seperti menodongkan sebilah pisau tajam ke arahku.


"Iya Jul aku tau tapi plis kali ini aja dengerin penjelasan dari aku dulu...!!" ucapku sambil terus meneteskan air mata.


Dia turun dan menghampiri aku.


"Apa lagi yang mau kamu jelasin...??" ucapnya keras dengan suara bergetar dan satu tetes air matanya jatuh.


Aku melihat itu semakin terisak dan semua ucapan yang ingin aku ucapkan serasa berhenti di tengorokang


"Jawab El...?" ucapnya lagi sambil berusaha menyeka air matanyag


Kemudian aku berlutut dibawah kakinya "Jul aku mohon semua ucapan Rehan itu palsu" ucapku dengan pelan hampir tak terdengarg


"Aku gak bisa percaya El sama kamu saat ini" jawabnya yang membuat pikiranku seketika terombang-ambing.


Tanpa aku sadari ada mobil Aftur  berhenti dibelakangku dan turun menemui aku dan Julian.


"Eliza lo ngapin sih..??" tanyanya keheranan.


"Lo yang ngapin ikutin gue Tur cepat pergi...!!!" jawabku yang tak seharusnya kata-kata itu aku keluarkan.


"Kamu nanti gak bakal aman El...!!" ucapnya lagi yang membuatku seketika ingin memukul dia .


"Lo tau gak sih Tur aku lagi berantem sama Julian" jawabku dengan amarah yang hampir meledak.


"Cukup El...!!! kalo hanya semua ini yang ingin kamu tunjukan ke aku, aku yang akan pergi" ucap Julian dengan kasar dan tatapan ketidak sukaanya ada Aftur.


"Gak gitu sayang aku serius..." jawabku dengan suara yang berusaha meluluhkan hatinya


"Jangan pangil aku dengan kata itu..!!" ucapnya yang sangat menusuk tajam dalam hati aku.


"Tapi Jul...?"


"Cukup El...!!!" ucapnya keras dan dia beranjak ninggalin aku.


"Oke... Jul aku akan lompat sekarang...!!!" ucapku dengan keras dan aku bersiap-siap akan melompat.


Aku merasakan keputusasaan hidup yang sangat dalam dan ingin rasanya aku mengakhiri ini semua.


"Jangan El.." ucap Aftur dan berusaha menahan tanggan kananku.


"Lepas Tur...!!" jawabku dengan keras dan berusaha menghempaskan tangganya.

__ADS_1


"Gak usah lakuin hal bodoh..." ucapnya dengan keras dan berusaha menampik badanku dan aku terjatuh ke trotoar.


Hatiku semakin sakit terasa berdenyut- denyut dan otakku seketika kosong saat dia memperlakukan aku dengan kasar.


"Kamu tega Jul..!!" ucapku dengan tertatih dan aku berusaha bangun


Aku merasakan hempasan sesak didada aku dan seketika air mataku kembali mengalir.


Julian masih diam mematung memandangiku dengan raut wajah kecewa dan Aftur masih berdiri di depan mobil.


"Oke Jul terserah kamu aku cape" ucapku sambil menyeka air mataku.


"Apalagi aku Eliza...??" ucapnya sambil melotot ke arah Aftur.


"Julian jangan buat aku gilaaaaa....!!!!!!" ucapku dengan sangat keras dan amarah yang sudah tak terkendalikan .


Air mataku terus mengalir dan aku terus sesegukan merasakan kepiluan aku hari ini.


"Aftur kamu bisa pergi sekarang dan terimaksih sebelumya sudah selamatin aku dari Rehan" ucap ku dengan lirih.


"Tapi kamu El...?"


"Udah gak papa aku bisa naik taksi".


"Yaudah hati-hati El.." jawabnya sambil berlalu pergi.


"Sekarang kamu harus dengerin ucapanku dulu Jul" ucapku sambil membalikan badan ke arah Julian.


"Gak perlu El, ini ongkos buat naik taksi..!!"  ucapnya sambil melemparkan uang lima puluh ribu ke arah ku dan berlalu pergi.


"Aku gak butuh uang Jul yang aku butuhin kamu" jawabku sambil berusaha mengambil uang yang dia lempar.


''Aku cape Eliza aku pengen pulang..!!!" ucapnya sambil menyeret tanganku dengan kencang.


"Tolong antarkan gadis ini ke alamat nya" ucap Julian ke supir taksi.


"Siap mas" jawab si supir taksi sambil membuka pintu mobil.


Aku diseret keras olehnya dan dimasukan ke dalam taksi.


"Lepas Jul aku bisa jalan sendiri aku bisa cari taksi sendiri" ucapku dengan keras dan berusaha keluar.


'Terserah...!!!" ucapnya dengan ketus dan dia beranjak mengendarai motornya.


Azan mahrib berkumandang dan saat ini aku masih ditempat yang jauh dari rumahku dan aku terus memikirkan saat aku nanti pulang bagaiman reaksi mama sama ayahku


Sejenak aku tak ingin pulang tapi kemana aku harus pergi


Dan Julianpun sudah berlalu pergi.


Aku terdiam cukup lama...


Drett.... ponselku berdering, segera aku mengambil dari saku dan berusaha melihat


Ternyata benar ada panggilan masuk dari mama.


Aku tak menghiraukanya, segera aku berjalan mencari angkot agar aku bisa segera pulang dan tiba-tiba Julian datang dan menawariku naik.


Dengan rasa malu serta tak enak hati aku melangkah maju dan naik dibelakang motor Julian


"Cepat naik...!!!" ucapnya ketus


Segera aku naik dan dia melajukan motor dengan kencang.


Selama di perjalanan dia terus terdiam begitu pun aku yang ada hanya suara derungan mesin motor

__ADS_1


Aku terus menatap sepanjang jalan dengan tatapan kosong tanpa arti dan makna.


Selang setengah jam aku sampai di rumah.


"Jul aku boleh ngomong..?" ucapku berusaha mencairkan suasana.


"Masuk dan segera tidur...!!!" ucapnya dengan tegas dan segera melajukan motornya kembali.


Aku terus memandang tubuhnya yang berlalu pergi yang sudah tak tertampak oleh mataku


Aku hembuskan nafas kecewaku.


Sebisa mukin aku terus mengusap air mataku dengan baju seragam yang mukin saat ini sudah kumal.


Aku segera masuk...


Dan mama sudah ada di depan.


"Dari mana aja kamu El....??" tanya mamaku dengan nada tinggi seperti biasa.


"Maafin El ma..." jawabku dengan sesengukan, aku sangat susah menahan air mataku untuk keluar.


"Kamu kenapa lagi El....???" tanya mamaku sambil melihat baju seragam serta rambut yang acak-acakan.


"Apa yang kamu lakukan El, kamu habis berantem.....???" tanya mamaku lagi dengan nada curiga dan terus melihat setiap inci wajahku.


Aku jawab dengan angkuan, walau ingin rasanya aku menceritakan semua hal yang aku alami kali ini.


"Prakkkk" mama menamparku dengan keras.


"Mama apa-apan sih anaknya baru pulang kok di tampar'' ucap ayah membelaku.


Aku terus menangis dan ayah memegang lembut pundakku.


"Udah ke kamar aja ya sayang.." ucapnya sedikit menenangkan pikiranku


"Eliza tunggu mama....!!!"


"Udah ma biarin dia istirahat...!!!"


"Dia habis berkelahi yah gak bisa dibiarin punya anak cewek punya sifat kaya gitu!!!" ucap mama aku penuh emosi.


"Eliza tunggu, mama peringaatin sekali lagi ya kalau sampai mama dengar kamu berkelahi mama akan pindahkan kamu ke asrama" tambah mama aku lagi dengan suara tinggi.


Mendengar ucapan mama otakku rasanya berhenti bekerja dan harapanku selama ini lenyap seketika.


"Apalagi kalau mama sampai tau aku disekap cowok apa yang akan aku terima saat aku pulang...???" umpatku dalam hati.


Segera aku hempaskan keras tubuhku di ranjang, aku terus menangis tanpa henti dan tak menghiraukan keadaanku saat ini.


"Aku ingin mati....!!!!!" ucapku dengan keputusasaanku yang sudah di ujuk tanduk dan langkah kaki yang sudah tak ingin melakah, mata yang sudah lelah untuk melihat, dan otakk yang lelah bekerja.


"Aku ingin mati....!!!!!!" ucapku lagi dengan keras dan dengan tatapan kosong.


Crakkkk....


Aku berusaha membanting vas bunga yang ada di nakas dan segera mengambil serpihan kaca.


"Aku harus segera mengakhiri semua beban kesedihanku aku lelah dengan hatiku juga kehidupanku" ucapku dengan senyum memilukan.


Segera aku ambil dan ku tempel dekat pembuluh nadi di pergelangan tanganku.


"Aku harus siap dengan yang baru" ucapku sambil berusaha menyayat tanggan ku dengan serpihan kaca yang lumayan tajam.


Srrrreeetttt......

__ADS_1


__ADS_2