
Mentari mulai berjalan ke sisi timur menendakan siang menghilang tergantikan sore, langit tampak menghitam diselimuti dinginnya semilir angin yang menusuk kalbu.
Walaupun gerimis tampak menyapa tak membuat mereka mereda karena rintihan air berjatuhan itu bukan penghalang, melaikan sebuah pelengkap bingkisan kisah romantis mereka.
Jemari putih nan mulus itu sedang melingkar dengan nyaman di perut rata milik kekasihnya rasa hangat itu datang bersamaan dengan rasa nyaman.
Guratan wajah lelaki itu terlihat tampak bahagia terpancar jelas kedua insan itu tengah menikamati waktu kebersamaan mereka.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju menampakan butiran kenangan yang selalu datang bermunculan dan silih berganti, angin yang semilir terasa menusuk kalbu namun kebahagian itu tampak dengan sempurna menutupi setiap celah rasa dingin itu.
Mereka mulai turun dari motor dan masuk kedalam swalayan itu Julian mengambil keranjang sedang Eliza berjalan disebelahnya.
Hari ini sehabis pengampilan rapor Julian dan Eliza memutuskan untuk membeli beberapa makanan ringan untuk liburan ke Bandung nanti.
"Eum..." Ucap Julian dengan berdeham sembari menatap Eliza lekat-lekat.
"Apa kok gitu banget liatinya malu tau Jul..." si empunya nama tersipu malu di tatap selekat itu.
"Sayang makasih ya impianku untuk pergi ke Bandung sama kamu sebenatr lagi terwujud...." ucap Julian pasa akhirnya dengan mulai mendorong troly belanja itu.
"Iya aku justru yang berterimaksih sama kamu karena di balik sifat kekanak- kanakanmu terkadang muncul sifat dewasa kamu dengan sabarnya kamu bisa menerima keputusanku..." jelas Eliza dengan terkekeh.
Julian hanya tersenyum dan mulai berjalan memilih makanan ya walaupun tidak Julian sukai namun demi wanitanya Julian rela meningalkan egonya.
Mereka tengah sibuk dengan acara memilih cemilan itu sembari bercanda ria menikmati waktu yang diberikan Tuhan untuk mereka.
Kurang lebih dua jam lamanya mereka selesai memilih berbagai macam makanan ringan itu dengan segera Julian mengambil dompet miliknya namun sayang kartu kredit miliknya tertinggal di dompet satunya yang Ia taruh di dalam laci.
Eliza yang mengetahui itu segera mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu Atm miliknya.
"Udah biar aku yang bayar oke...." ucap Eliza dengan tersenyum ke arah Julian srdang Julian terlihat panik karena baginya hal ini sangat memalukan.
"Tapi sayang...?" Julian berusaha menahan langkah Ekiza.
"Udah gak papa..." ucap Eliza sembari menyerahkan kartu itu kepada wanita berseragam yang tengah menghitung barang belanjaannya dengan mesin komputer itu, tak butuh waktu lama transaksi selesai dan mereka keluar dengan tangan yang penuh kantong plastik berisi barang belanjaan.
Setelah usai meraka memuruskan untuk pulang karena di luar hujan sudah mulai mereda.
__ADS_1
Didalam perjalanan itu Julian hanya diam Eliza yang mengetahui itu mencoba memahami kekasihnya itu
"Jul kenapa....?" tanya Eliza mencoba memahami isi hati kekasihnya itu.
"Gak papa kok..." jawab Julian dengan mada datar namun terasa memikul beban.
"Kok tumben sih kamu diam gitu...?" tanya Eliza yang mencoba teris memahami Julian dengan sifat yang terasa berbeda ini.
"Gak papa sayang..." jelas Julian lagi masih dengan nada yang sama.
"O iya kita makan dulu yuk di kedai seafood sebelab kanan jalan itu..." tawar Eliza dengan semangat Dia berharap cara yang dia lakukan akan mengubah mood Julian saat ini.
Julian hanya kembali diam dia merasa tak enak dengan Eliza yang membayar semua barang belanjaan tadi yang cukup banyak.
"Jul kamu kenapa sih kita turun dulu deh..." ucap Eliza lagi yang tak tahan dengan sifat diam Julian yang penuh akan teka-teki ini..
Julian mulai menepikan motornya dan Eliza turun menatap wajah kekasihnya itu
"Jul kenapa...?" tanyanya dengan memajukan dagu dan memyentuh wajah Julian yang tampak murung itu.
"Gak seharusnya kamu yang bayar tadi" jelas Julian dengan mengalihakan pandangan matanya ke arah bawah tanda Dia malu.
"Kok malah ketawa sih...?" tanya Julian dengan tatapan berbeda.
"Ya kamu lucu itu cuma segitu Jul dibuat makan di restoran ternama pun juga cuma dapet satu porsi.."jelas Eliza tak habis pikir dengan kelakuan pacarnya yang mempermasalahkan hal kecil menjadi besar
"Senyum dulu dong .." ucap Eliza berusaha menyetuh wajah itu hingga membuatnya tersenyum.
Julian mulai tersenyum namun dengan dipaksakan.
"Yaudah ayok tapi janji kamu makan yang banyak biar cuby dikit lah pipi kamu ya kan..." jawab Julian sembari memcibit pipi milil Eliza dengan lembut.
"Siap"
Julian kembali melajukan motornya dan menuju kedai makanana yang berada diseberang toko material itu.
Julian mulai menepikan motornya dan membuka helm berwarna hitam miliknya namun pandangn mata Eliza teralihakn oleh sosok yang sangat dia kenal yang sedang membeli makanan di kedai itu.
__ADS_1
Mereka adalah tante Ayunda dan kak Rehan yang sedang duduk menikmati sajian makanan itu.
"Jul kayaknya gak jadi aja deh tiba-tiba aku pengen yang lain lagian disini rame banget ternyata...." ucap Eliza dengan membual memcari alasan lain agar Julian tak bertemu dengan tante Ayunda.
"Kok gitu sih aku udah gak marah sayang...'' jawab Julian dengan rasa kurang mengerti dengan sifat Eliza yang tiba-tiba berubah pikiran itu.
"Gak gitu Jul aku ada alasan lain..." jelasnya lagi berusaha mengalihkan pandanganata Julian ke arah lain agar tak sampai menengok kearah di dalam warung makan itu.
"Kenapa...? atau gak mau bawa pulang aja biar aku yang beliin..." tanya Julian yang kini semakin heran dengan Eliza Dia menundukan wajahnya kembali tanda Dia sedikit kesal dengan Eliza.
"Gak deh Jul kita beli yang lain aja serius aku lagi gak mood tiba-tiba" jawab Eliza memberikan alasan yang terdengar muluk-muluk.
"Kamu aneh deh sayang kan kita udah jauh jauh lo kesini..." Jlian memakai helm itu kembali dengan kasar.
"Maaf ya sayangku.." Eliza tentu berusaha mengembalikan mood pacarnya.
Dengan terpaksa dan penuh tanda tanya Julian menuruti kemauan Eliza walau dengan rasa kesal.
Eliza sedikit lega walau dia tau konsekwensinya Julian akan marah.
"Sayang...." Eliza berusaha mendekati Julian atas dirinya yang membuat Julian kembali diam.
"Apa..." tanyanya dengan nada datar.
"Yaudah aku terserah kamu aja mau makan dimana..." ucap Eliza berusaha meluluhkan hatinya yang terasa beku itu.
"Pulang aja deh..." jawab Julian dengan sinis.
"Kalau gak kita beli roti bakar disitu aj Gimana..?" tawar Ekiza lagi berusaha memperbaiki suasana hati Julian.
"Serius nanti gak pindah lagi kan...?" ya begitulah cinta selalu dengan mudah menuruti kemauaan kekasihnya.
"Ya gak akan janji deh..."
Mereka mulai turun dan menepi di kedai Roti Bakar lumaer itu.
Mereka duduk di bangku berbahan kayu itu nan terlihat artestik.
__ADS_1
Senja mulai tiba dengan lukisan yang begitu indah mereka mulai mengisi perut kosong mereka Sembari menikmati dinginya angin sehabis hujan di sore hari.
Lelehan coklet panas itu begitu nikmat hingga tersimpul jelas kebahagiaan yang terukir jelas di wajah mereka.