
Azan asar mulai berkumandang setelah selesai sholat asar Julian mulai mengambil bola basket miliknya, hari ini butik tempat mamanya membuka usaha tutup dan libur sehari, menjadikan Dia tak perlu repot-repot pergi ke butik seperti hari biasanya membantu dan menjemput Amelia.
Waktu terasa berjalan sangat cepat hingga membuat langkah kaki kita terasa tak berasa hampir satu bulan lamamya Julian tinggal di rumah omanya rumah mewah terkadang bukan jaminan membuat hidup orang bahagia seperti yang tampak dirasakan Julian saat ini.
Julian sedang bermain bola basket di belakang rumah omanya yang bersebelahan dengan kolam ikan yang terdapat berpuluh-buluh ekor ikan koi kesukaan omanya itu yang terlihat berenang di kolam yang airnya tampak jernih itu.
Julian terlihat begitu bersemangat memainkan bola tu hingga Dia tak mendengar ponselnya berdering beberapa kali karena keasikan main.
"Kak ponsel kakak berbunyi nih...." ucap Reva sedikit berteriak ke arah kakanya dengan tangan kanan membawa camilan ubi goreng.
Mendengar teriakan adiknya Julian segera menghentikan bermain bola dan berjalan ke arah Reva.
"Oh ada telepon...?" ucap Julian seraya menghampiri adiknya dan meraih ponsel miliknya itu yang menampakan panggilan vidio dari Eliza tak lupa tangan kanannya dengan cepat mencomot ubi goreng yang masih mengepulkan uap panas itu.
Julian tampak bergembira ketika mendapati pacarnya meneleponya ya padahal baru lima belas menit Dia tak membalas pesan dari gadis itu hingga membuat Julian mengelengkan kepalanya dengan kelakuan Eliza saat ini karena jelas dugaanya bahwa Eliza saat ini tampak sedang rindu berat denganya.
"Hallo" ucap Julian seraya mengeser layar pangilan vidio masuk itu.
"Iya hallo apa kabar Jul perasaan sekarang sibuk banget..." jawab Eliza dengan memutar bola mata tanda Dia kecewa dengan Julian karena begitu sibuk untuk sekedar membalas chatingan darinya.
"Baik sayang maaf ya aku tadi habis asar terus main basket kelupaan lihat chat kamu deh..." jelas Julian yang mudah di pahami Eliza namun tampaknya Eliza hanya diam serasa perkataan Julian itu seperti bualan semata.
"Kok bengong..? lagi mikirin apa sih.. ?" tanya Julian dengan serius yang melihat kini Eliza hanya memandang ke arah lain bukan wajah dirinya.
"Gak papa, sekarang ini aku di sekolah juga banyak kegiatan jadi juga sibuk terus kalau kamu disana bagaimana ..?" ucap Eliza rupanya Dia ingin membahas hal lain untuk sekedar mendinginkan hatinya yang terasa panas.
"Sama tapi aku batasi aja soalnya aku mau fokus sama UN ..." jawab Julian dengan menyeka keringat yang menetes di pelipisnya.
Di seberang sana tampaknya Eliza ingin mengusap peluh keringat yang menetes itu, melihat wajah penuh akan keringat membuat Eliza semakin terkagum oleh lekaki di dalam layar ponselnya itu.
Mereka saling berbincang-bincang kurang lebih satu jam lamanya hingga panggilan dari Amelia menghentikan percakapan mereka.
"Julian" ucap wanita itu kepada anaknya.
"Iya ada apa ma..." ucap Julian seraya meneloeh ke arah mamanya yang terlihat berjalan terburu-buru dan berjalan menghamliri mamanya.
"Ini ada pelanggan mama mau ketemu sekarang boleh kan mama minta anterin sekarang..." jelas Amelia dengan suara khasnya, di seberang sana tampak Eliza terlihat kecewa lagi dan lagi Dia harus menahan rasa rindunya dengan Julian,karena terkadang cinta mengajarkan kita untuk egois dan posesif.
"Yaudah Jul kita tutup aja..." ucap Eliza pada akhirnya yang terlihat kesal, Julian mencoba memahami Eliza yang makin hari makin sering ngambek.
"Sayang maaf ya soalnya ada urusan mendadak...." seka Julian yang kini tampak mengerti Eliza mulai menunjukan sikap yang aneh karena terpancar jelas dari wajah Eliza.
__ADS_1
"iya tutup aja aku tau kamu sekarang berubah mulai sibuk tentunya...." jawab Eliza dengan wajah tampak murung dan kesal dengan pandangan mata Ia arahkan ke arah lain.
"Sayang plis pahami aku ya..." ucap Julian yang hanya di anggap angin berlalu oleh Eliza permintaan apapun dari Julian tampkanya tak membuatnya merubah kekesalah hatinya saat ini.
Tanpa menjawab Eliza justru mematikan pangilan vidio itu hingga membuat Julian mengelengkan kepala.
"Kapan kamu ngerti sih Jul di cuekin itu sakit banget..." ucap Eliza dengan membanting ponsel miliknya dengan kasar, raut wajahnya kini mirip pakaian kusut.
Terkadang cinta memang benar hanya membuat kita buta oleh keadaan.
Hari mulai sore Eliza kini ingin sekali berbelanja ke minimarket tampaknya udara yang panas dan hati yang panas membuatnya haus dan Ia ingin minum boba yang berjualan di dekat minimarket itu.
Seperti biasa Dia mulai berjalan kaki menuju minimarket yang tentunya tak terlalu jauh dari rumahnya.
Dia memakai topi serta masker untuk menutupi kulit mulusnya agar tak terkena sinar matahari.
langit tampak cerah dan terlihat terselipi cahaya mentari yang tampak mulai menepi itu.
Dia melangkahkan kakinya membuka pintu berbahan kaca itu dan berjalan masuk ke dalam minimarket tanpa disadari Dia bertemu lelaki memakai baju hitam dan tertutup dengan masker itu, Dari aroma serta cara berpakaian Eliza tau Dia Rehan ya lelaki yang selama ini tak pernah Dia cintai walau nyawanya pun sudah Ia pertaruhkan demi dirinya namun cinta rupanya tak semudah membalik telapak tangan.
Ingin sekali rasanya Eliza pergi dari tempat ini sesegera mungkin. Mejauh dan tak ingin nampak di depan lelaki yang membuatnya harus menjadi bukan dirinya. Dia mulai membalikan badan menuju rak yang berisi berbagai macam mi instan itu namum bukan Rehan namanya jika Dia tak mengetahui siapa wanita yang sedang berpura-pura mengambil mi instan itu.
Eliza segera mengangkat wajah dan mendapati Rehan sudah berada di belakangnya.
"Oh kak Rehan..." jawab Eliza dengan wajah berura-pura terkejut tentunya.
"Iya mau beli mi ya...?" ucap Rehan dengan lembut ke arah Eliza tatapan matanya itu tampak tak berubah sedari dulu selalu dengan tatapan yang sama membuat wanita manapun tau itu tatapan cinta.
"Iya kakak sendiri..."jawab Eliza sembari menanyakan keberadaan kak Rehan yang jauh-jauh berbelanja disini.
"Mau beli mi juga biasa males masak jadi ya cari yang mudah-mudah aja...." jawab Rehan dengan ikut serta mengambil mi yang tanpa Dia lihat dulu Dia sedang mengambil mi berkuah rasa kare ayam yang sangat tidak Dia sukai.
Eliza mulai membayar barang belanjaanya di ikutu Rehan yang mengantri di belakangnya karena kehadiran Rehan membuat Eliza menjadi salah tingkah serta serba salah.
Eliza jadi terlupa barang apa saja yang seharusnya akan Dia beli karena kehadiran kak Rehan yang menbuatya menjadi kikuk.
Rehan dan Eliza mulai duduk di tepian kursi lapak penjual boba itu yang tampak penjualnya belum berjualan.
"Mau buru buru aja nih..." tanya Rehan kepada Eliza yang terlihat tak ada niatan untuk berbincang-bincang denganya
"Iya nih kak ada tugas..." jawab Eliza dengan nada terburu-buru namun cenderung hanya di buatnya.
__ADS_1
"Udah gak usah bohong kita ngobrol dulu plis sekali ini aja..." ucap Rehan lagi dengan tatapan penuh permohonan
"Maaf kak aku ada tugas serius lain kali aku janji akan turuti kemauan kakak untuk ngobrol bersama...." jawab Eliza berusaha mencari alasan lain sembari berdiri karena baginya berbincang-bincang dengan kak Rehan sama saja hanya membuatnya terus merasa tak enak hati untuk menerima niatan baik kak Rehan.
"Plis..." ucap Rehan dengan tatapan penuh harap dan karena Eliza tak tega Dia kembali duduk.
Suasana kembali hening dan suasana canggung seperti ini yang sangat di benci Eliza, hingga pada akhirnya Rehan berbicara.
"Masih sama Julian..." tanya kak Rehan yang sukses membuat Eliza ingin diam seribu bahasa membahas lelaki kesayanganya itu tampaknya jika Dia lanjutkan akan membuat hati kak Rehan sakit seperti mengadu domba keduanya.
"Masih kak alhamdulilah ..." jawab Eliza yang terasa mulutnya berucap tanpa bisa Dia rem sedikitpun dan kata terakir itu jelas membuat Rehan sakit hati.
"Beruntung banget ya Dia udah punya kamu sekarang papanya ngembat mama aku juga" ucap Rehan terlihat begitu membenci lelaki bernama asli Julian Dokta itu, baginya nama itu akan menjadi musuhnya sampai mati nanti.
"Kak..., Julian bukan seperti yang kakak pikirin jadi plis jangan benci Dia" jawab Eliza tentu berusaha membela pacarnya.
"Iya karena kalau sudah cinta memang akan selalu membela orang yang di cintainya bukan begitu...." jelas Rehan terlihat semakin kesal entah alasan apa Rehan tampak tak nyaman dengan jawaban Eliza yang cenderung berpihak ke arah Julian padahal kedua-duanya adalah sama-sama korban.
Rasanya Eliza benar-benar canggung dengan situasi dan posisi yang seperti ini. Hingga Dia terus berulang kali mengusap rambutnya dengan kasar.
"Yaudah aku mau balik dulu kamu hati- hati ya" ucap Rehan kepada Eliza seraya berjalan ke arah motornya yang di parkirkan di depan.
Ya Eliza paham kini kak Rehan semakin membenci Julian saja rasanya.
Tak berapa lama penjual boba itu datang dan membuat Eliza harus segera pergi tentunya.
"Mau beli ya mbk...?" tanya penjual boba itu yang tampak tak tau yang di tanyainaya sedang berada di mood kurang baik.
"Gak bang maaf cuma numpang duduk aja..." jawab Eliza sembari beranjak pergi dari tempat duduk itu dan tanpa Dia sadari belanjaan kak Rehan itu tertinggal ingin rasanya Dia mengembalikan tapi pastilah akan membutuhkan waktu lama jika akan memyimpananya itu jelas bukan sifat Eliza.
"Bang nitip ya kalau oranganya datang lagi cari kantong plastik ini tolong di kasih ya.." ucap Eliza ke arah penjual boba itu sembari menujuk ke arah kantong plastik putih itu.
"Oh iya siap mbkk..." jawab penjual boba itu terlihat semangat.
Hari semakin sore dan Eliza kembali pulang dengan berjalan kaki udara nan sendu itu muali bersayup-sayup merdu di teliganya Dia muali melewati gang untuk jalan pintas Dia berjalan kaki. Pertemuanya dengan kak Rehan tampaknya hanyalah membuatnya semakin sedih perihal Dia serasa dicintai lelaki yang sama hanya hatinya tak berpihak sama.
Tak berapa lama Dia sampai di rumah dan langsung menuju arah dapur untuk memasak mi kuah kesukaanya itu tak berapa lama kedua orang tuanya datang dan Eliza segera menyelesaikan acara memasak mi dengan membawa semangkuk penuh berisi mi kuah yang tampak lezat dan mengugah selera itu.
"Asalamaualiakum ..." ucap wanita yang terlihat berjalan masuk dan menghampiri putrinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Walaikumsalam..." jawab Eliza dengan mulut terus meniup uap panas yang keluar dari mangkuk berisi mi kuah itu.
__ADS_1