
"El'' ucap Julian seraya mendekatiku namun aku berusaha menghindarinya.
"Maaf aku lancang nampar kamu" tambah nya lagi dan berusaha nyentuh pipi aku
"Gak perlu aku gak papa aku mau pulang" jawabku sembari menolak sentuhan dari dia.
"Silahkan....!!!" ucap Julian sedikit kesal dan alis yang terangkat.
"Baik..." jawabku dengan santai segera berjalan menuju arah parkiran.
Dan dia berjalan mengekoriku dari belakang.
Dalam hati aku sangat kesal menatap Julian saat ini namun aku juga iba membiarkan dia terus aku diami aku serba salah rasanya.
"Motor aku kemana....!!" ucapku seketika saat melihat motor yang biasa aku kendarai tak ada di tempatnya semula dan yang tersisa hanya hitungan.
"Lo kan....??" ucapku menunjuk ke Julian yang sekarang ada di belakangku dan karena senyum palsunya yang mulai muncul dan menandakan dia pelakunya.
"Kalo iya kenapa ..??" ucapnya dia balik bertanya yang membuatku semakin kesal
"Kamu bawa kemana Jul...??" ucapku lagi seraya memohon.
"Gak lucu Jul...'' ucapku sedikit menyeringai
"Ya habis lo ngehindar dari gue dikira gak berat buat gue...." jawabnya dia yang membuatku justru semakin muak.
"Tapi gak seharusnya lo lakuin hal mirip bocah gini Jul....!!" ucapku penuh kesenduan.
"Terserah lo mau pulang apa tidak...!!" ucapnya seperti tamparan keras.
"Oke ambil aja motor aku, aku gak masalah toh masih banyak bus ini....!!" jawabku dengan singkat seolah-olah aku mampu mengelak semua pertanyaan bodohnya.
"Apa emang gara-gara Putri kemarin kamu giniin aku...??" ucap Julian menanyakan alasanku bertingkah tak seperti biasanya.
"Kamu tau kan Jul hati wanita, wanita mana sih yang bisa percaya...??" ucapku mengantung.
Tiba-tiba dia membungkam mulutku dengan sapu tangan yang berbau seperti candu
Dan .....
Julian pov
Aku kesal sekesal-kesalnya dengan Eliza karena akibat kejadian kemarin dia berusaha menjahuiku lagi dan itu membuatku berat, aku berencana pulang sekolah nanti mengajak dia jalan namun lagi-lagi kesabaranku di uji dengan tingkah anehnya.
Dan tangan bodohku ini menampar dia untuk yang ke dua kalinya jujur aku salah namun aku bisa apa emosiku kini yang lebih menguasai setiap langkahku.
__ADS_1
Aku segera mengambil sapu tangan yang sudah aku kasih obat bius dan aku tempelkan di mulutnya jadilah dia tak sadarkan diri.
Aku tersenyum puas akhirnya aku bisa memandang wajah wanita yang sangat aku sayangi dengan dekat.
Segera aku membawa dia ke dalam mobil yang terpakir disisi jalan
Aku melihat sisi halaman Sekolah yang kini sedang memihaku dan tak ada orang yang melihat tingkahku.
Aku menciumnya dengan buas tak lupa setiap inci dari wajahnya tak luput dari ciumanku aku seperti serigala kelaparan yang tak makan berhari-hari.
Segera aku melajukan mobilku keluar dari Sekolah dan menuju tempat yang akan aku tuju bersama Eliza.
Dia tertidur pulas dengan ketenangan jiwa yang kini membawanya dia terlihat cantik dan manis tak lupa bibir mungilnya mengodaku untuk menyentuhnya.
Setelah beberapa menit aku menarkirkan mobilku di sisi jalan yang sepi.
Belum sempat aku menyetuh wajahnya kembali tiba-tiba dia tersadar.
"Lo apa apaan sih Jul...??" ucapnya dengan suara parau dan mata yang berudaha membuka.
"Lo apain aku...??" ucapnya lagi dengan sadar karena nyawa yang sudah terkumpul kembali.
"Sayang tenang aku gak-apa apain kamu kok...!!" jawabku memastikan agar dia tenang.
"Aku mau kita nikah..." ucapku lagi dengan berani karena rasa ingin memiliki dia seutuhnya sangat dalam dan aku tak menghiraukan apapun yang terjadi.
"Apa kamu bilang kamu ngaco Jul kita masih sekolah...??" ucap Eliza dengan amarah yang memuncak.
"Iya aku akan buktiin kalo aku cuma sayang sama kamu dan bukam mulut kamu yang gak pernah percaya sama aku" jawabku meyakinkan jarena sejujurnya aku siap untuk menikahinya.
"Kamu cabul Jul gak seharusnya kamu giniin pacar kamu sendiri" ucapnya dengan air mata yang mulai turun.
"Kamu bisa diem gak...??" ucapku dengan terus membukam mulutnya.
Aku sangat bernafsu kali ini karena rasa sakit di hatiku serta kecewa sudah tak terhitung lagi dengan sifat Eliza yang membuatku semakin kesal
Jul aku mohon lepasin aku aku takut Jul..." ucap Eliza memohon namun aku hiraukan.
Aku terus menciumnya tanpa henti seperti otakku serasa tak bekerja dan pikiranku kosong yang aku mau hanya ingin dia terus di sampingku
"Eliza aku sangat mencitaimu" ucapku dengan nafsu yang sudah tak terkendali.
"Ini botol apa....??" ucap Eliza yang mengetahui botol bekas minuman dan memunculkan bau yang tak sedap.
"Sial" ucapku dengan brutal dia mengetahui apa yang aku lakukan semalam.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakuin Jul semalam...?"" ucapnya bertanya-tanya kepadaku dengan tatapan kecewa.
"Aku..." jawabku terputus
"Plak kamu mabuk kan...??" ucapnya menjawab tebakan yang benar.
Aku tak bergeming aku tertunduk lesu
"Jawab Jul....??" ucapnya lagi memastikan.
"Dan ini kamu ngrrokok..." tambahnya lagi sembari mengambil puntungan rokok yang masih tersisa.
"Kamu berubah Jul" ucapnya dengan sendu.
"Asal kamu tau El gimana rasanya jadi aku saat kamu tak percaya sama aku aku sakit El pikiranku kacau dan aku cinta mati sama kamu aku...!!" ucapku dengan lantang dan berusaha menyeimbangkan emosiku.
"Gak seharusnya Jul dan aku gak suka punya cowok kaya kamu kalo ada masalah kamu gak bisa dewasa..." jawabnya yang membuatku seakan-akan yang aku lakukan salah besar.
"Apa kamu bilang inget El waktu itu kamu nusuk tangan kamu sendiri itu yang lo sebut dewasa" jawabku membalikan pertanyaan kepadanya.
"Jaga mulut kamu Jul jangan bicara seolah-olah saat itu aku cari pelampiasan karena saat itu aku berasa aku tak pantas hidup namun lambat laun aku berubah"
"Sama kan...?"" ucapku bertanya kepadanya.
Awww tiba-tiba dia mengigit tanganku dengan kencang dan setelah itu dia berusaha keluar dari dalam mobil dengan sekuat tenagaku aku mencegah agar dia tak lolos.
"Eliza aku mohon kamu tetap tinggal disini sembuhin otakku yang sudah tak bermoral ini" ucapku memohon dengan pasrah sembari meraih tangan mulusnya.
"Cukup Jul aku mau pulang kepala ku pusing dan lepasin aku aku harus pulang" jawabnya dengan mengelak semua permohonanku dan berusaha keluar.
"Oke kalo kamu keluar botol ini akan aku pukulkan di kepalaku..!!" ucapku ketus dan mengancam.
"Terserah..." jawabnya membuang muka dengan santai.
"Oh oke satu... dua.... Ti..'' ucapku menghitung
"Stoppp..." ucapnya dia membalikan wajah sontak aku menghentikan tingkah bodohku.
"Kita bisa perbaiki hububgan kita El..." ucapku memberi solusi dan berusaha merai tanganya.
"Aku maunya kita putus..." jawabnya dengan raut wajah pasrah.
"Gak El aku gak akan pernah putusin kamu" jawabku dengan kukuh.
"Aku capek Julll..." ucap Eliza dengan berlinangan air mata
__ADS_1
"Maaf..." ucapku sambil menyeka air matanya namun dia menolak.
Next...