
Lanjutan.
-ULTAH ELIZA-
"Oh iya liburan nanti kita ke Bandung yuk sekalian kamu aku ajak ke rumah oma aku yang disana juga ada mama aku nanti aku kenalin..." ucap Julian dengan terus memandang wajah Eliza. Dinginya malam itu serasa tergantikan oleh hangatnya senyuman yang terpancar dari wajah kekasihnya itu.
Eliza hanya diam sembari menghempaskan nafas dengan berat jujur dalam hatinya tak tega menolak ajakan Julian namun Dia bisa apa.
"Kok diam kamu gak tertarik ya....?" tanyanya dengan raut wajah kecewa.
"Aku takut..." jawa Eliza pada akhirnya dia tak bisa menutup-nutupi apa yang Dia rasa saat ini.
"Takut apa..?" tanya Julian dengan mengusap rambut miliknya ke arah belakang yang terlihat mulai panjang itu.
"Aku takut mama aku gak ngijinin Jul kamu tau semdiri aku anak gadis satu-satunya..." jelasnya lagi melanjutkan kalimat yang terpotong tadi.
"Aku yang akan maju minta ijin mama kamu kalaupun perlu sekarang aku siap..." jawab Julian denagn nada tidak main-main namun tetap dengan suara pelan.
Eliza hanya tersenyum dia tak bisa menjawab ucapan Julian begitupun Julian yang hanya kembali diam.
"Kamu gak pengen tidur lagi...?" tanya Julian yang melihat wajah Eliza yang terlihat begitu sayu.
"Engak karena malam ini terlalu berharga bagi aku jadi aku engak akan membiarkan satu detik pun untuk menutup mata jika masih ada kamu disini..." terang Eliza sembari berusaha mengegam jemari Julian dengan erat dengan kepala yang Ia tidurkan di pundak Julian. Julian semakin sayang dengan kekasihnya itu dengan terus dibelai lembut rambut milik kekasihnya yang beraroma wangi bunga.
Hampir fajar menyingsing Julian masih berbincang-bincang dengan Eliza hingga mulutnya mulai menguap tanda matamya minta diistirahatkan.
"Jul mending kamu pulang ..." ucap Eliza yang mengetahui pacarnya mulai mengantuk itu.
"Iya kayaknya ngantuk banget mau tidur disini tapi belun sah..." jawab Julian dengan terkekeh.
"Jangan lah haram..." ucap Eliza sembari membenarkan kancing baju Julian yang kurang rapi itu.
"So swet deh, Yaudah bolehkan aku pulang jangan lupa besok jalan..." bisik Julian kearah Eliza dengan nakalnya dia mengigit telinga milik Eliza.
"Sakit ih..." ucapnya sedikit keras namun dengan cepat Julian membungkamnya.
Eliza hanya tersenyum sembari membuka pintu kamar miliknya dengan perlahan diikuti dengan berjalan mengendap-endap
"El nanti mama kamu bangun..." ucap Julian dengan suara lirih dengan langkah kaki yang terasa berat seperti menjamah duri.
"Suthhh diem yang peting ikut aku aja..." jawab Eliza menjulurkan jari telunjuknya ke arah bibir Julian sedang tangan satunya mengegam erat tangan kokoh milik Julian.
Mereka mulai menuruni anak tangga dengan perlahan-lahan tak lupa Eliza selalu berdoa agar kedua orangtuanya tak bangun.
Mereka sekarang tak layak halnya penyusup yang siap merampok rumah targetnya.
"Akhirnya sampai pintu belakang" umpat Eliza dalam hati sembari membukakan pintu keluar untuk Julian.
"Hati-hati ya makasih Jul aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita hari ini..." ucapnya dengan menghempaskan nafas lega.
"Iya jangan lupa di habisin kuenya..." ucap Julian dngan mengedipkan mata.
"Iya buruan" perintah Eliza dengan kofe "Segera"
"Daa..." Julian mulai melambaikan tangan.
Mereka mulai berpisah di pintu belakang itu tak lupa Julian mengecup kening milik Eliza yang tak ada bosanya itu.
Ketika memastikan Julian mulai pergi dengan segera Eliza menutup pintu itu dengan perlahan-lahan.
"Eliza..." ucapan yang tiba-tiba datang itu sontak membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, serasa kakinya terasa seperti ada yang menahan dari belakang.
''Iya ma" jawab Eliza dengan nada ketakutan.
"Ada kucing ya kok tumben ke dapur" ucap wanita berpakaian piyama itu yang terlihat sedang meneguk air mineral yang berada dalam botol kemasan.
__ADS_1
"Iya ma habis ganggu tadi pas ke kamar mandi..." jawab Eliza asal dengan cengiran khasnya.
"Kok tumben ke bawah..." tanya wanita itu dengan mengeriyitkan kening karena tak biasanya putrinya itu ke dapur di jam segini.
"Iya lagi pengen aja ma habis gak bisa tidur tadi..." jawab Eliza membual dengan mengaruk kepalanya yang tak terasa gatal itu.
"Buruan tidur lagi besok kan masih sekolah" perintah wanita itu kepada putrinya yang kini membuat hati Eliza lega.
"Iya ma"
Eliza begitu bersyukur akhirnya mamanya tak mengetahui Julian sedari semalam yang berada dirumah ini.
Dia kembali ke kamarnya dengan perasaan begitu bahagia tak lupa setelah smpai kamar dia mengintip Julian yang pelahan mulai menghilang dari padangannya itu.
....
Sampai sekolah Eliza segera berjalan menuju kelasnya dengan mata yang mirip panda akibat semalam ada kejutan dari pacarnya yang membuatnya kesusahan untuk tidur saat pagi hari yang tidak kurang lebih dari satu jam itu.
"Happy brith day to you" ucap Vey dan Rena secara bersamaan sembari memeluk Eliza yang baru datang dari arah pintu masuk itu.
"Eh tapi lo habis bedadang ya El kok mata lo kaya panda yang imut itu sih...?" tanya Rena dengan segera menghampiri sahabatnya itu dengan menoel pipi yang telihat agak tirus itu.
Eliza hanya menganguk sembari menguap.
"Kamu sih kebayakan nonton drakor deh atau jangan-jangan kamu dapet suprise dari seseorang lagi...." ucap Vey dengan nada sok imut dan mata berkedip-kedip.
"El selamat ya semoga cita-cita kamu terkabul di hari ini..." ucap Reba dengan terus meneluk erat Eliza
"Amin makasih ya..." jawab Eliza sembari memeluk kembali kedua sahabatnya itu.
Tak berapa lama siswa-siswi yang lain melakukan hal yang sama namun dengan kejutan yang tak terduga dan membuat Eliza begitu haru.
"Eliza selamat ulang tahun happy sweet seventeen..." ucap Syena sembari membawa kue yang diatasnya berdiri amgak tujuh belas itu.
Begitupun saat ini semua siswa siswi itu sedang berkumpul membentuk lingkaran dan Eliza duduk di kursi tengah diapit oleh Vey dan Rena dengan diiringi lagu selamat ulang tahun.
" Tapi kan minta permohoan dulu ya gak teman-teman..." tambah Nidy si siswi tomboy itu.
Eliza mulai menutup mata perlahan 1.... 2...3.... Packkk...
Dan kue ultah berukuran sedang itu sukses mendarat di wajah Eliza dengan mulus.
"Kalian jahat bangst sih tapi baik kok hihihi..." ucap Eliza terkekeh sembari menahan kesalnya namun juga ikut haru dan bahagia
Semua tertawa dan memeluk Eliza satu persatu sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
"Selamat ya El somoga sehat selau..."
"Eliza selamat ya..."
Begitulah ucapan dari kesemua teman sekekasnya secara bergantian.
Vey dan Rena hanya menertawai Eliza seperti teman mereka yang lain. Tak lupa mereka berfoto selvi untuk menjadi kenang-kenangan mereka nanti saat lulys nanti.
Tanpa Eliza sadari dari belakang kursi yang Dia duduki, Andin siswi berkacamata itu sudah membawakabya sekotak kue yang mirip dengan yang sekarang hancur berantakan itu untuk dimakan bersama-sama.
Eliza bertambah haru Dia tak menyangka begitu baiknya Tuhan hari ini serta teman-temanya yang memberikan kejutan sebahagia ini.
Karena hari ini hari bebas Eliza tak perlu khawatir akan kondisi seragamnya. Walau ada beberapa siswa lain yang menertawainya.
.
.
Hari mulai siang sang mentari mulai berada di atas kepala, hari ini tak ada jadwal latihan dengan berjalan sedikit cepat Eliza mulai mengambil motor matic miliknya
__ADS_1
"El lo kok buru buru amat sih mau ada apa hayo...?" ledek Vey dengan menyegol bahu Eliza.
"Gak ada apa-apa serius lagian mau langsung pulang mau ada acara..." jawab Eliza dengan membual namun dari pancaran wajahnya, sahabatnya itu tau Eliza sekarang memiliki kekasih.
"Kok gue gak di undang sih El...?" ucap Rena dengan berpura-pura cemberut.
"Nanti kalo jadi acaranya bakal aku undang kalian...." ucap Eliza berusaha melegakan sagabatnya.
"Janji...?"
"Iya..." jawab Eliza dengan tangan mulai menyalakan mesin motor itu.
Eliza mulai mengendarai motor miliknya menuju lokasi Dia dan Julian bertemu sedang kedua sahabatnya itu masih berdiri sembari membicarakan tingkah Eliza yang aneh hari ini.
Kurang lebih tiga km Eliza sudah sampai di tempat janjian itu, Julian terlihat sudah berdiri di pintu masuk menuju kedai kopi itu memunggu Eliza tentunya dengan mengenakan hodie berwarna navy.
''Udah dari tadi Jul...?" tanya Eliza sembari menghampiri Julian yang terlihat senyum-senyum sendiri.
"Udah kok buruan sini..." jawab Julian sembari meraih tangan mulus itu.
Mereka berjalan masuk kedalam Cafe bertulis kedai cofe itu dengan bergandengan tangan.
Juluan mulai memilih tempat duduk dan mempersilahkan kekasihnya itu untuk terlebih dahulu duduk.
"Seperti biasa ya pancong dua sama es capucino dua.." ucap Julian kepada pelayan itu dengan nada seperti biasa karena Julian sering mampir ke kedai ini.
"Sip bang..." jawab pelayan yang mengenakan seragam merah hitam itu dengan mengacungkan jempol.
"Jul khusus hari ini aku yang bayar..."ucap Eliza dengan menyilangkan kedua tanganya di atas meja kayu itu.
"Gak bisa aku lelaki Eliza Anandian..." Julian jelas hanya menangapi gurauan ucapan kekasihnya itu.
"Plis Jul kali ini aja"mohonnya lagi tanpa ampun.
"Engak simpen tu uang kamu buat beli makeup...'' jawab Julian sembari mencupit pipi kekasihnya itu dengan meninggalkan jejak merah.
"Julian ih resek..." ucap Eliza berusaha mebahan rasa sakit yang datang tiba-tiba itu.
Mereka mulai menikmati sepiring pancong yang mengoda selera itu dengan ditemani es capucino.
"Sayang aku boleh minta tolong gak...?" ucap Julian sembari mengaduk minuman itu dengan sedotan.
"Apa kok kayaknya serius banget..?" tanya Eliza dengan raut wajah penasaran.
"Em.. aku minta tolong kapan-kapan temenin aku ke rumah Rehan.." jawaban Julian sukses membuat Eliza terkejut.
"Ha...?" ucap Eliza tak percaya.
"Iya soalnya aku...." ucap Julian yang dipotong oleh Eliza.
"Jul jujur deh sama aku apa alasanya...?" tanya Eliza dengan serius.
"Sayang aku penasaran sama mamanya Rehan..." jelasnya lagi dengan mulut penuh makanan bertoping coklat itu hingga Eliza mulai mengambil sehelai tisu dan Ia bersihkan tumpahan coklat itu di dekat bibir Julian.
Eliza mulai cemas apa yang dipikirkan beberapa waktu itu akan menjadi kenyataan.
Perasaan campur aduk kini menyelimutinya sebab satu sisi Dia berusaha menjahui kak Rehan.
"Mau bantuin aku kan...?" tanya Julian yang membuat Eliza sangat tak enak hati menolak.
"Semoga ya Jul..."jawab Eliza dengan menghindari tatapan mata Julian.
Happy new year my reader.🎉🎆
Semoga di tahun 2022 ini akan menjadi tahun yang lebih baik 😍 dari tahun sebelumnya tetap semangat dan semoga sehat selalu👍, tetap menjaga prokes ya 😊😊
__ADS_1
Salam dari Julian dan Eliza