Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 118


__ADS_3

Seminggu berlalu wanita bernama Ayunda itu sedang menghabiskan jam makan siangnya dengan lekaki bekemeja garis-garis itu dengan ditemani sepiring spageti dan segelas Jus yang baru disajikan itu.


"Gimana kondisi Rehan udah baikan...??" tanya lelaki itu yang tengah sibuk mengulung spageti dengan sumpit yang berada dalam gegaman jemarinya itu.


"Udah mas Alhamdulilah semenjak pulang dari rumah sakit makin hari makin membaik kok.." ucap Ayunda sembari meyeka sisaan bumbu di dekat bibirnya dengan sehelai tisu.


"Syukurlah kalau gitu aku jadi tak terlalu memusingkan hal itu..." ucap lelaki itu dengan raut wajah tenang.


"Terus gimana masalah ini mau kamu bawa ke polisi aku ada pengacara bisa bantu kamu...." tambahnya sembari menawarkan bantuanya.


"Udahalah mas rencananya sih aku mau ketemu sama temen wanitanya Rehan yang nusuk itu aja, ya mau tau aja sih tangapan dari Dia gimana lagian juga gak sengaja.." jawab Ayunda dengan nada pasrah karena baginya masalah ini tidaklah main-main namun Dia tak sampai hati jika harus membawanya ke rana hukum.


"Sebaik itu kamu..." Tanya lelaki itu tak menyangka sikap Ayunda sebaik itu dengan menaikan alis matanya.


"Mas yang nusuk Rehan itu cewek dan masih sekolah dia anak kelas sebelas adik kelasnya Rehan..." jelas Ayunda lagi sembari Dia menyeruput dinginya jus buah apel itu.


"Terus kesananya mau aku anterin...?" lelaki yang dekat denganya kurang lebih enam bulan itu selalu berusaha perhatian denganya


"Gak perlu mas nanti aku ajak Eliza aja" Tolak Ayunda dengan halus


"Siapa Eliza...?" tanya Lelaki itu dengan nada terkejut nama itu sepertu pernah di dengar olehnya.


"Itu yang kemarin nolongin Rehan bawa ke rumah sakit sama temen lelakinya gak salah namanya Julian mirip ya sama anak kamu namanya..." ucap Ayunda tanpa berpikir panjang.


"Tunggu Julian...? Tanya lelaki itu dengan terkejut dia menghentikan kunyahanya dan menatap Ayunda lekat.


"Iya ada apa mas...?" ucap Ayunda dengan tanda tanya dengan mengerutkan kening.


"Coba deh kamu ceritain anak kamu Rehan sekolah di mana...?" Tanya lekaki itu berusaha menggali pertanyaan Ayunda yang semakin merujuk ke arah Julian anaknya.


"SMA Pelita Bangsa..." ucapan Ayunda sukses membuat lelaki itu begitu terkejut


"Kamu serius...?" tanyanya dengan tatapan yang tiasa bisa diartikan.


"Serius mas kan aku dulu udah pernah cerita kenapa emang mas, Julian yang kamu maksud jangan bilang Dia anak kamu Julian itu...?" Ayunda justru terbelalak kaget dia sampai tak jadi menelan sepageti itu yang sudah berada dalam mulutnya...


Mereka saling terdiam kembali mencerna suatu rahasia yang terbuka selama ini.

__ADS_1


"Gak.. gak.. mungkin Ayunda dunia ini sempit sekali..." lelaki itu terus mengelengkan kepala tanda kebenaran ini tak mudah akan Dia terima ternyata Julian secara tidak langsung sudah bertemu dengan Ayunda.


"Mas aku gak nyangka banget jadi Dia seminggu yang lalu sama cewek bernama Eliza itu datang kerumah aku mas Dia jengukin Rehan duduk ngobrol sama aku itu terlihat begitu ramah mas..." ucap Ayunda lagi dengan begitu tak percaya.


"Oh pantas Dia nanya-nanya yang aneh waktu itu..." jelas lelaki itu lagi tak


Ayunda tertunduk lesu wajahnya terlihat pucat pasi Dia berulang kali mengusap wajahnya Dia tak menyangka begitu terkejutnya dengan hal ini sedang lekaki itu berusaha keras memperbaiki semua yang sudah terlanjur terjadi.


"Ini kalau sampai Dia tau gimana mas...?" tanya Ayunda dengan khawatir.


"Aku juga gak tau..."jawab Lelaki itu dengan mengelengkan kepala seperti sedang menemui jalan buntu.


Lelaki itu kembali Diam dia mengusap wajahnya dengan kasar


"Dia sebaik itu mas sama Rehan bagaiman kalau dia tau aku selingkuhan kamu..." tanya Yunda lagi dengan cemas.


"Udah deh kamu tenang biar aku yang urus untuk sementara waktu kita jangan bertemu dulu hingga situasi kondusif.."


"Iya mas itu lebih baik"


"Udah biar aku yang bayar aja..." icap lelaki itu sembari mengeluarkan kartu kredit dari dompet berwarna hitam itu.


....


Julian saat ini sedang di kelas tak ada yang dilakukanya selain membolak-baklikan buku paket yang terbal itu semenjak obrolan dengan mamanya di via telepon menjadikn Dia ingin merubah sifatnya Dia tak ingin mengecewakan wanita kesayanganya itu.


"Tumben Jul kamu buka buku paket matematika itu...?"tanya Putri dengan nada halus seraya berjalan mendekati Julian tak lupa satu buku catatan sudah bertenger di gegamanya.


"Iya kenapa emang aneh ya...?" Jawab Julian yang merasa dirinya tak seperti biasanya.


"Gak sih tumben aja..." ucap Putri dengan mengeser kusi kayu itu untuk Dia duduki di sebelah Julian.


"O iya put kapan-kapan kerja kelompk yuk gue mau naikin nilai gue nih..." ucapan Julian seperti tak terdengar oleh telinga Putri akibat Dia terlalu dekat sekarang jarak duduknya menjadikan Julian harus mengulang bicaranya.


"Apa Jul...?" tanya Putri lagi .


"Kapan-kapan kerja kelompok bareng bagaimana kamu bisa apa gak...?" tanya Julian lagi dengan nada serius.

__ADS_1


"Seriusss..." Jawab Putri dengan rasa sangat bahagia melebihi Dia saat di beri uang jajan seratus ribu oleh ibunya.


"Ya soal waktu terserah kamu sama jangan lupa ajak Dika Roy dan Denis juga..." tambah Julian lagi seperti menambah paket lengkap dengan bertambahnya keempat sahabatnya itu.


"Kok gak kamu aja sih Jul" guman Putri dalam hati, tadi yang hatinya seperti sedang terbang melayang kini seakan-akan terhempas angin dan jatuh.


"Bisa kan..?" ucap Julian lagi memastikan.


"Ya bisa kok..." jawab Putri dengan tidak keberatan.


Tanpa mereka sadari ketiga teman Julian itu sudah datang dari arah pintu.


"Tu mereka..." ucap Julian dengan mengarahkan padangan ke arah pintu masuk.


"Ada apa sih pdkt sama cewek orang aja nih sobat kita..." cibir Roy dengan menyegol bahu Denis. Yang disengol hanya terkekeh.


Dika datang dengan wajah bersungut- sungut serasa ledekan Roy diangapnya serius.


"Nih yang punya marah lho kawan..." ledek Roy lagi dengan logat yang bikin orang lain ikut tertawa.


"Eh udah deh jangan pada Drama gue mau adain kerja kelompok nih kan sebentar lagi ulangan akhir semester gimana menurut elo-elo pada.." ucap Julian berusaha menegahi perdebatan konyol kedua sahabatnya itu.


"Jul kok tumben otak lo beneran dikit ada apa sih...?" decak Roy dengan duduk di depan Julian dengan kursi Ia putar ke arah belakang sehingga bisa berhadapan dengan Julian sekarang.


"Ya kali-kali gue nujukin bakat terpendam gue ya gak..." ucap Julian mirip dengan memajukan dagu kearah mereka berempat.


Putri hanya tersenyum malu-malu merasa saat ini dia sedang dibutuhkan Julian serasa waktu seperti ini sangat berarti baginya.


"Gue diajak kan Jul soalnya kan ada Putri" ucap Dika dengan senyum-senyum justru nama yang di sebut menampakan wajah ketidaksukaanya.


"Ye lo mah gak usah diajak paling yang masuk di otak lo tu cuma sejarah percintan Dik..." ledek Roy lagi dengan menepuk bahu Dika dan sontak membuat suasana semakin pecah sedang Dika hanya berusaha memahan rasa malunya.


"Gak gitu juga kali kan pengen juga pinter kaya kalian..." ucap Dika dengan mengaruk kepala yang tak terasa gatal itu.


"Diajak lah Dik kan biar kita pinter bareng-bareng..." ucap Julian berusaha menaikan mood sahabatnya itu kembali


Dan mereka melajutkan ke konyolan itu hingga bel masuk berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2