Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 76


__ADS_3

Saat ini mereka berdua sedang di Cafe yang berada di pusat kota Jakarta yang letaknya rak begitu jauh dari Sekolah mereka, Cafetarian namanya bisa di bilang Cafe yang memiliki diameter luas itu selalu ramai akan pengujung.


Terlihat berpuluh-puluh motor yang parkir serta beberapa buah mobil.


Awalnya Eliza menolak ajakan Rehan tapi Rehan terus memaksa Eliza, Dia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemaun lelaki tinggi berwajah tampan berbadan tegap itu.


Sekarang mereka sedang duduk berdua berhadapan di kursi taman berwarna hitam yang di desain cantik itu, mereka memilih tempat duduk di luar selain pemandanganya yang indah juga udara terasa lebih segar, Rehan selalu menunjukan senyum yang mengembang sedang Eliza hanya diam dan berusaha menunjukan wajah biasa-biasa saja. Raut wahahnya tergambar jelas dia hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang.


"El....?" tanya Rehan ke Eliza tangan kananya dengan nakal berusaha memegang pergelangan tangan Eliza, namun dengan cepat Eliza berusaha menghindarinya.


"Ada apa...??" tanya Eliza berusaha menarik tangannya sedikit menjauh dari tangan Rehan.


"Eumm" Rehan sedikit mengambil nafas dalam-dalam.


"Lo kalau jadi aku bakal gimana....?" Tanya kak Rehan dengan tatapan mendalam dia seperti sedang menyimpan rahasia dalam hati yang ingin ia ungkapan.


"Maksudnya....??" jawab Eliza bingung karena pertanyaan kak Rehan terdengar konyol di telinganya.


"Lo tau kan Ayah aku baru meninggal setahun yang lalu" Rehan melanjutkan lagi pembicaraanya dengan mata terlihat sendu.


"Eum... terus....??"


"Sekarang mama aku mau nikah lagi" tambahnya lagi dengan tatapa kosong tergambar jelas dia sedang banyak pikiran.


"Jujur kakak mau cerita perihal kaya gini ke aku...?" tanyaku meyakinkanya karena aku sedikit heran aku bukan orang terdekatnya dan untuk menceritakan hal sepribadi ini tentunya dia tak ingin ikut campur.


"Emang kenapa, gue gak ada temen El temen gue kebanyakan hanya nunjukin kepopularitasan gak ada yang lain selain pamerin duit banyak, barang mewah itu gak peting buat aku" lanjutnya panjang lebar dengan nada kesal.


"Semua tinggal di kamu sama mama kamu kak aku gak mukin bakal ikut campur sama urusan pribadi gini kan" jawabku sedikit ragu karena aku masih canggung dengan kak Rehan.


"Seengknya lo kasih saran, gue anak tunggal gue gak ada saudara selama ini gue tu gak pernah El curhat ini ke orang lain selain kamu"


Dia menatap kosong ke arah lain mukin dia memang sedang butuh teman cerita.


"Aku paham sama posisi kamu kak, tapi satu hal kamu harus bicara dari hati ke hati sama mama kamu soalnya hal kaya gini bukan main-main kak" jawabku terus terang aku jekas tak berani memberi saran karena aku bukan siapa-siapanya dan aku takut justru meleset saran yang aku berikan akan berakibat baik atau buruk nantinya.


"Tapi mama aku gak pernah punya waktu selain kerja dan kerja" ucapnya dengan nada pasrah.


"Justru itu mukin kakak kurang perhatian sama mama kakak" jawabku berusaha mencari celah untuk menyemangatinya kembali.


"Mukin El, o iya minum dulu Es nya keburu anget lagi lho" ucapnta seoerti lawakan.


"Iya" jawabku sambil mengaduk es degan ini dengan sendok.


"O iya gimana hubungan kamu sama Julian...?" tannya kak Rehan yang membuat pikiran kalut itu kembali muncul.


"Baik-baik aja kak" jawabku berbohong jelas saat kak Rehan menanyakan itu hatiku jadi teringat Dia dan penyebab aku putus dengan Julian adalah salah paham dengan kak Rehan.


"Oh enak ya Julian punya cewek kaya kamu" ucapnya dengan nada cemburu.

__ADS_1


"Apaan sih kak aku biasa aja kok, kak Rehan busa saja lho nembak Dea kasihan dia ngejar kakak terus lho...?" ucapku bercanda agar sedikit mencairkan suasana.


"Apaaa... Inget ya El aku tu dari dulu gak ada rasa sedikitpun sama Dia" jawabnya dengan tatapan jengkel ke arahku.


"Yaudah kan kakak kelas banyak juga kak" tambahku lagi berusaha membuat Dia semangat.


"Gak ah El hati aku udah buat satu seorang tapi sayang dia udah ada yang punya jadi ya gitu..." jawabnya yang terdengar patah semangat.


"Lagian bentar lagi aku lulus udah basi kalo mau nembak cewek" tambahnya lagi dengan raut wajah cemberut.


"Emang susu kak bisa basi..." menangapunya dengab candaan farung agar dia tak terkalu melow.


"Bukan cuma susu yang basi tapi perasaan juga ya kan..." jawabnya yang justru membuatku kalah telak dan kita tertawa bersama.


"Gak lucu...." ucapku berusaha menha mau depa ka Reha.


Tiba-tiba rintikan hujan datang aku dan kak Rehan beranjak dari tempat duduk dan berusaha mencari tempat meneduh


"El pakai jaket aku aja..." ucapnya sambil memakaikan jaket berwarna hitam itu ke badan aku.


"Makasih kak...," jawabku sambil berlari menuju ruangan dalam Cafe itu di ikuti kak Rehan dari belakang.


Cafe tampak penuh dengan pengunjung  yang awalnya duduk di luar kini mereka meneduh kedalam karena di luar hujan terlihat semakin deras.


"Kak pulang aja yuk soalnya aku masih banyak tugas dan besok harus di kumpulkan" ucapku berusaha mencari alasan agar segera pulang karena suasana seperti ini membuatku menjadi cangung


"Gakpapa kak" jawabku dengan mengedipkan mata.


"Nanti kamu sakit...?" ucapnya terlihat mengkhawatirkan aku.


"Gak kak..." jawabku dengan meyakinkanya.


"Yaudah yuk kamu anterin aku ke rumah dulu ya..."


Setelah itu kita berjalan ke luar dan menuju tempat dimana motor kita diparkirkan.


"Iya..."


Setelah itu mereka berdua naik ke motor dan berboncengan mereka berjalan melawan derasnya hujan namun tergambar jelas Lelaki bernama Rehan itu justru terlihat


"El...?"


"Apa...??"


"Gue sayang sama lo..." ucap kak Rehan yang membuat jantungku berdengup semakin kecang.


"Gak denger kak jangan ngebut...!!!" ucapku berpura-pura tuli ke kak Rehan.


"Gak papa" jawabnya dengan tersenyum karena pantulan wajahnya bisa aku lihat di kaca spion.

__ADS_1


Rehan benar-benar sedang bahagia sekarang karena bisa berboncengan dengan Eliza sangatlah langka di tambah guyuran hujan yang menyejukan ini seakan-akan beban dalam hidupnya perlahan berkurang.


"Eliza...." ucapnya lagi semakin kencang.


"Apa kak gak denger..." kali ini Eliza memang benar-benar tak mendengar ucapan kak Rehan.


"Lo mau kan jadi cewek gue...." ucap Rehan dalam hati dia memang mirip pecundang sekarang.


Raut wajahnya terlihat senyum-senyum sendiri bak anak kecil yang di turuti kemauan ibunya.


Tak berapa lama meraka sampai dan hujan perlahan mulai reda, terlihat rumah minimalis bergaya artestic dengan dinding berbalut batu alam itu ditambah pewarnaan yang alami membuat Eliza terkagum-kagum namun pandangan mata Eliza teralihkan oleh mobil yang terparkir di luar rumah yang membuatnya terus berpikir karena terlihat familiar dengan pandangan matanya dia sedikit melirik ke dalam


"Ini rumah kamu kak...?"" tanyaku ke kak Rehan basa-basi.


"Iya" jawabnya sambil turun dari motor.


"Kamu gak mampir dulu masuk gih..." ucap Kak Rehan dengan senyuman manis semanis buah manggis.


"Gak kak makasih..." jawabku tanpa basa-basi.


Dia turun dari motor dan membuka gerbang dan betapa terkejutnya saat dia melihat mamanya sedang duduk berduan dengan lelaki berjas itu dan itu juga membuat Eliza terkejut.


"Mama apa-apaan bawa lelaki kesini...!!" ucapnya dengan segera menghampiri mama dan lelaki berjas itu dengan brutal.


"Rehan ini teman mama cuma mampir aja kok" jawab mamanya berusaha mengelus-elus kak Rehan yang sedang emosi itu.


"Mama tu udah gila" jawab kak Rehan dengan keras.


"Oh Tuhan itu ayahnya Julian" umpatku dalam hati.


Setelah melihat kejadian itu aku segera buru-buru pergi aku tak mau ikut campur dengan urusan keluarga kak Rehan.


Di dalam perjalnan hatiku menjadi gundah gulana pikiran negatif itu selalu bercabang di itakku, aku terus berdoa berharap pikiran negatifku tak menjadi nyata.


"Julian.... semoga keluarga kamu baik-baik saja Jul..." doaku dalam hati ini.


Sampai rumah aku langsung buru-buru masuk ke kamar dan menganti pakaianku yang basah dengan tang bersih. pikiranku kembali terngiang-ngiang oleh teman mamanya kak Rehan tadi aku beragumen bahwa itu ayahnya Julian aku semakin penasaran sembari menungu rambuku kering aku duduk santai di dekat jendela kamarku.


Aku kembali membuka layar ponselku aku amati kembali foto Julian bersama keluarganya yang di kirimkan beberapa waktu lalu, dengan hati gusar ingatanku aku tempelkan pada foto keluarga kecil yang terlihat bahagia itu.


"Jelas tak mukinnnnnnnn....!!!!" ucapku sambil mengigit jari.


Terlihat di bingkai foto itu tampak lelaki berwajah bersih itu begitu mirip dengan yang Ia lihat tadi di runah kak Rehan.


Pikiranku kembali terarahkan dengan olat mobil hitam tadi.


Ia terus membuka galerinya berharap harapanya hanya hayalan belaka.


Namun bukti memang nyata dan benar utu mobil yang pernah ia tumpangi bersama Julian beberapa waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2