Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 103


__ADS_3

Saat hari minggu seperti biasa Julian selalu bangun siang tak ada yang di lakukan di rumah selain merebahkan badanya alias tidur karena hal ternyaman baginya adalah tidur.


Hidupnya saat ini memang terasa cukup membosankan baginya, otaknya sekarang penuh akan hayalan-hayalan yang tak masuk akal.


Cahaya mentari mulai masuk dengan sorotan yang menyilaukan itu hingga akhirnya membuat Julian terbangun.


"Uammm..." Dia bergulat sembari merentangkan tangannya untuk malepas semua rasa lelahnya.


Dia mengusap mata dan melirik jam beker yang sudah menunjukan jarum panjang 9 dan jarum pendek diangka 8.


Dia mencari ponsel miliknya yang berada di atas nakas dekat tempat tidurnya itu.


Dia mulai mnyenderkan badanya di antara tumpukan bantal yang membuatnya tampak nyaman itu.


Dia melihat pesan dari Eliza yang membuatnya mengeluarkan guratan senyuman.


Tak lupa Putri juga ikutan absen mengirimkanya pesan namun hanya di baca oleh Julian.


Dia kembali teringat bahwa ketiga temanya akan datang kesini siang nanti Dia langsung menyibakan selimut dan berjalan ke luar kamar.


Julian mulai turun ke lantai bawah tempat yang Ia tuju pertama kali adalah dapur, tempat yang selalu menyajikan masakan istimewa baginya.


"Mbak masak apa...??" tanyanya pada wanita yang sedang sibuk memotong bahan makanan itu.


"Ini tadi bapak sudah pesenin mas Julian ayam geprek kesukaanya mas, ayamnya udah ada di meja situ mas sambelnya berada di mangkuk....." jawab Mbak inah sembari menujukan letak ayam goreng yang berada di atas meja itu.


"Oh serius...?" ucap Julian hanya basa-basi berusaha menghargai papanya, dia sedikit terheran dengan sikap papanya yang tiba-tiba berbeda dari biasanya.


"Tumben amat tu bapak-bapak" ucapnya sembari menarik kursi dan setelahnya Ia duduki.


"Belum bangun bapak...??" Julian menanyakan keberadaan lelaki yang dipanggil papa itu kepada pembantunya


"Udah kok mas ..." jawab mbk Inah dengan tersenyum.


Tiba-tiba lelaki yang di pangil Julian dengan sebutan papa Itu muncul dan duduk di kursi yang berhadapan depan dirinya.


Mereka memang tampak seperti orang asing yang tak saling mengenal dan terlihat acuh satu sama lain.


"Jul akhirnya papa bisa ngobrol juga sama kamu" ucap lelaki itu dengan wajah gembira tersirat jelas bahwa Dia sangat menyayangi anak lelakinya itu.


Julian hanya diam sembari berusaha menelan makanan yang entah kenapa seperti menelan batu utuh.


"Kemarin kamu ke Bandung kenapa gak bilang sama papa langsung....??" ucapnya lagi berusaha mendekati anaknya karena jujur lelaki itu sangat ingin anaknya bersifat seperti waktu dulu.


"Gak pa maaf..." ucap Julian sambil menguyah daging ayam itu yang terasa seret,


"Minum dulu Jul..."


"Maafin papa Ya kalau kurang perhatian sama kamu..." ucap lelaki itu dengan tatapan sendu.


"Iya gak papa..." Julian hanya menjawab dengan jawaban yang tak memuaskan bagi lelaki itu.


Lelaki itu hanya mengelengkan kepala tanda Dia tak habis pikir kenapa susah sekali untuk mendekati anaknya.

__ADS_1


Dreet... Dreet.. ponsel milik papanya bergetar nembuat Julian menduga itu dari wanitanya, Julian menunjukan wajah sekesal mungkin dengan sengaja sendok Ia goresekan ke dalam piring hingga menimbulkan bunyi.


Papanya hanya senyum memandangi layar ponsel itu, selanjutanya Dia bangkit dari tempat duduk \dan mengangkat panggilan suara itu.


"Hallo..." ucapnya mendahului pembicaraan.


"Sebentar ya Jul..." ucap lelaki itu yang tak ingin obrolanya di dengar oleh anak lelakinya.


"Hampir aja aku memafkan kesalahanmu pa tapi ketika melihat papa seperti ini lagi menjadikan aku tak mau untuk memaafkanmu lagi pa..." ucapnya sembari menghentikan acara makanya.


"Mbak kemarin oleh-oleh dari bandung belum di buka kan...??" tanyanya kepada mbak Inah.


"Belum mas.." jawab mbak Inah membuat Julian tenang.


"Buka aja mbak nanti kebetulan temenku mau kesini, nanti buat mabk Inah ada di kardus kecil itu sebungkus itu buat mbak semuanya...." jelas Julian dengan terperinci.


"Iya mas"


"Oh ini ada sambel bikinan nenek kamu kan...??" tanpa Julian sadari papanya sudah main comot aja barang pemberiaan neneknya itu, wajah Julian kembali memerah dia begitu membenci lelaki yang tega menyakiti hati mamanya tersebut.


Julian hanya diam tak mengomentari kelakuan papanya namun nafsu makanya justru hilang seketika dia membanting garbu serta sendok itu secara kasar hingga membuat papanya terkejut.


"Jul kok gak di habisin...??" ucapan papanya justru membuat Julian semakin kesal.


"Engak...!!" Julian berdiri dia sudah tak nafsu makan lagi rupanya, moodnya seketika hilang.


"Julian kali ini aja temenin papa makan..." mohon papanya dengan nada sendu.


Julian tetap tak bergeming dia terus berjalan dan berpura-pura tuli.


Gak....!!" ucapnya keras sekeras hatinya saat ini yang perlahan mulai membatu kembali.


Begitu berharganya waktu jika lelaki itu bisa berbincang dengan anak sulungnya itu matanya memandang anakl lelaki itu dengan guratan wajah kecewa.


Lelaki itu mendekati Julian lagi Dia berusaha menahan Julian agar tak pergi lagi


"Jul" ucap lelaki itu sembari memegang erat tangan anak laki-lakinya.


"Lepas" ucapnya dengan brutal


"Kamu gak bisa ya buka sedikit hati kamu untuk menerima permintaan maaf papa?"


"Gak akan pernah...." ucapnya dengan keras tak sengaja tanganya menyenggol secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap itu.


Dan pyurr kopi itu tumpah dan mengenai telapak tangan Julian.


Aww ucapnya sembari merintih kesakitan


"Kamu gakpapa Jul..?" ucap papanya dengan easa khawatir.


"Gak" Julian segera pergi dan berlalu menuju kamarnya.


"Mbak Inah..." ucapnya pada mbak Inah yang dipanggil namanya segera datang

__ADS_1


"Iya ada apa pak..?" tanyanya dengan terburu-buru.


"Ini tolong kamu beresin pecahan cangkir ini..." perintah lelaki itu kepada mabk Inah sembari menunjukan serpihan kaca yang berceceran itu.


"Oh baik pak..." pembantu itu hanya melakukan apa perintah tuanya tanpa ingin tau penyebabnya.


Rehan pov..


Saat ini aku sengaja berkunjung ke rumah Eliza sehabis main futsal kusempatkan mampir ke rumahnya karena jarak tempat futsal tak terlalu jauh dari rumahnya.


Tak lupa aku membelikan dua minuman boba kesukaan Dia.


Ting tung aku memencet bel rumah itu yang biasa aku lakukan ketika berkunjung ke rumahnya.


Tak berapa lama keluar wanita yang mungkin itu mamanya Eliza.


"Ada ap Ya..." tanya wanita itu dengan ramah


"Saya temenya Eliza, Elizanya ada buk.??" tanyaku langsung dengan nada sopan.


"Oh iya sebentar ya ibu panggili." wanita itu masuk kembali kerumah sembari mempersilahkan aku masuk


"Masuk dulu gih biar ibu pangilin dulu.."


"Iya buk terimakasih"


Aku sedikt lega karena respon dari mamaya Eliza cukup baik dan membuatku semakin yakin kelak aku akan di terima jadi mantunya.


"Oh kak Rehan ada apa...?" ucap Eliza yang sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang membuatku sedikit kecewa.


"Emm mau main aja..." jawabku dengan jujur namun terdengar garing.


Aku segera duduk begitupun Eliza dia duduk di sisi sebelah kanan sedang aku disisi sebelah kiri.


"El...?" tanyaku dengan berusaha melihat tatapan matanya.


"Hemm.." Eliza hanya diam dan berdeham.


kita saling terdiam menikmati waktu kita masing-masing.


"liburan kemarin kamu jalan sama Julian ya...??"


"Gimana kak sama Ujian kakak kemarin..??" tanpa menjawab pertanyaanku justru Eliza mengalihkan pembicaraan yang lain.


"Ya doain aja nilaiku memuaskan.." jawabku dengan


Terlihat Eliza saat ini sedang tak mood menemui kak Rehan dia hanya bicara seperlunya saja dan berusaha menghargai kedatangan kak Rehan.


"O iya ini ada boba kamu suka kan..??" ucapku semari mengeluarkan dua buah cup berisi minuman boba.


"Oh malah kadi ngrepotin..." ucapnya yang merasa tak enak hati dengan caraku.


"Gak papa tadi aku habis futsal jadi sekalian aja mampir.." jelasku ke Eliza yang hanya di tanggapi dengan senyum

__ADS_1


Kita saling menikmati minuman ini tapi lagi-lagi sifat Eliza yang tak seperti biasanya membuatku jadi tak bersemangat.


__ADS_2