
Wijaya saat ini tengah sibuk dengan pekerjaanya, rasanya hari-harinya hanyalah di habiskan dengan tidur dan bekerja seperti tiada hal lain yang di lakukanya.
Tak terkecuali Ayunda walau masih mengalami gejala hamil muda tak membuatnya senantiasa terus berbaring di tempat tidur.
Di tengah kesibukannya itu Ayunda mulai membatasi pekerjaanya agar dirinya tak terlalu kelelahan dan tidak terjadi apa-apa dengan janin yang tengah di kandunganya.
Dia selalu tersenyum ketika melihat perutnya yang semakin hari membuatnya bahagia, ada makna di balik senyumanya itu, Dia berdoa agar rencananya untuk menikah dengan Wijaya akan terwujud dengan lancar dan Dia penuh harap dengan kehadiran anak di janinya akan memperkuat hubunganya dengan Wijaya kelak.
Pukul lima sore Ayunda sudah siap pulang seperti biasa Dia sudah duduk dan menunggu Wijaya datang di depan kantornya sembari memainkan ponsel miliknya.
Seperti biasa Dia menunggu kurang lebih lima belas menitan untuk menunggu lelaki datang.
Senyumnya mulai mengembang ketika lelaki yang di tungguinya itu datang dan menepi di depanya.
Ayunda mulai melepas kaca mata hitam yang menutupi kedua bola matanya dan berjalan masuk ke dalam mobil.
"'Mas..." ucap Ayunda dengan tersenyum seperti biasanya.
"Iya ada apa....?" tanya Wijaya dengan nada datar sembari memutar setir yang sedang Dia gengam.
"Besok jadi kan kita ke Bandung. ..." jawab Ayunda dengan antusias mendengarkan jawaban dari Wijaya.
"Entahlah..." jawab Wijaya dengan gusar bagaiman tidak wanitanya akan menemui mantan istrinya bagaimana jika itu terjadi dan pastilah akan menimbulkan masalah besar.
"Mas aku gak minta yang lain hanya antarkan aku aja aku ingin liburan disana mas..." jelas Ayunda lagi dengan nada kesal karena Wijaya tampak kesusahan walau hanya untuk mengabulkan keinginya yang tak mahal ini.
"Ayunda plis lihat posisi kamu mau ketemu sama Amelia sama aja kamu itu berdiri di tepi jurang tau kan maksudnya " ucap Wijaya tampak kesal dengan keinginan Ayunda yang semakin membuatnya geram.
"Oke lihat aja nanti kalau sampai ada apa-apa dengan calon bayi kita itu salah kamu karena kamu gak bisa nuruti apa mau aku lagian sebenyar lagi kita nikah sekalian kita undang Dia..." jawab Ayunda panjang lebar tampaknya sifat asli Ayudnda perlahan mulai terlihat yang selama ini Ia tutup-tutupi dengan manis karena hati orang bisa berubah kapan saja dan di mana saja.
"Sayang jaga ucapan kamu gak baik ngomong sembarangan kaya gitu karena ucapan adalah Doa lagian kamu ini ngaco aja masa iya kita udang Amelia apa katanya nanti dikira aku gak punya harga diri dong..." ucapnya dengan tersulut api emosi yang terus bergentar hebat di dadanya Dia begitu marah dengan sifat baru Ayunda yang kian hari kian membuatnya pusing namun harugmns bagaimana lagi selain menirutinya karena kondisi kehamilan Ayundalah yang merubah sifatnya yang berubah seperti ini.
Ayunda tak merespon ucapan Wijaya dengan sepatah katapun dengan wajah Dia buang ke arah kaxa jendela mobil tanpa melihat Wijaya, mengetahui hal itu Wijaya berusaha memahami Ayunda.
"Udah dong jangan ngambek iya besok kita jadi ke Bandung..." ucap Wijaya dengan nada halus sembari berusaha menyentuh tangan mulus milik Ayunda namun dengan cepat Ayunda menolak sentuhan itu.
Ya Wijaya harus lebih dewasa tentunya menghadapi sifat Ayunda. Hingga pada akhirnya Mobil hitam itu mulai menepi di depan rumah milik Ayunda dengan cepat Ayunda membuka pintu mobil itu dan dengan cepat keluar dan menutup pintu mobil itu kembali Dia tak mepedulikan ucapan Wijaya yang terus berusaha meminta maaf terhadapnya.
__ADS_1
"Sayang maaf kita bisa ngobrol dulu sebentar kan..." ucap Wijaya dengan nada tulus dan penuh harap. Ayunda hanya Diam dan menutup pintu mobil itu kembali Dia teris berjalan ke dalam rumahnya dan menutup pintu gerbang itu kembali.
Sedang Wijaya semakin tak habis pikir dengan kelakuan Ayunda yang sekarang tampak mudah sensitif dan emosional itu.
Dia memutar kendali arah mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang di dalam perjalanan itu Dia hanya memandangi padatnya jalanan dengan sendu pikiranya tampak tak fokus dan denyutan di kepalanya itu kian hari kian menusuk rasanya di iringi suara aspal dan derungan mesin kendaraan membuatnya semakin merasakan kegelisahan akan hidupnya. Angin malam, sorotan cahaya kelap-kelip dan di iringi suara azan menandakan Dia rindu suatu masa dulu yanf membuat kenangan itu kini kian berasa.
Kurang kebih setengah jam Dia sampai di depan rumahnya seperti biasa saat Dia memencet tombol klakson dua kali Inah segera datang dan membukakan pintu gerbang itu dengan sopan.
Wijaya segera memasukakm mobil ke dalam garasi. Tak lupa Dia mengunci pengaman mobilnya dua kali. Segera Dia berjalan ke rumah seperti biasa hanya sepi dan hening yang selalu menyapa kedatanganya.
Dia mulai duduk di kursi sofa yang biasa Dia gunakan untuk bersantai di temani segelas kopi hitam rasanya cukup membuatnya nyaman. Berulang kali Dia berusaha menghubungi putranya ya rasa rindu itu kini rupanya berasa setelah hampir satu bulan kepergian Julian dari rumah ini yang tanpa berpamitan denganya dan membuat kehidupanya kembali terasa hampa.
Dia menoleh ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul tujuh malam namun entah kenapa matanya terasa berat seperti ada yang menganjal hingga akhirnya perlahan matanya menutup dan Dia tertidur pulas di atas kursi sofa itu.
Di sisi lain Ayunda tampak murung dengan sikap Wijaya yang seolah-olah tega mencampakanya. Dia mulai berjalan ke meja makan seperti biasa memanaskan makanan tadi pagi yang Dia masak serta menyiapkan segelas susu untuk Rehan.
" Tokk tokk... " suara pintu di ketuk.
"Han..." ucap Ayunda yang berdiri di depan pintu kamar anaknya sembari mengetuk pintu itu dengan pelan.
"Ceklek..." suara pintu di buka.
" Rehan ..." ucap Ayunda sembari membuka gagang pintu Ayunda tak mendapati Rehan berada di kamarnya.
Dia berjalan ke arah meja belajar yang membuatnya suguh terkejut diam-diam Rehan mengambil lembaran kertas berisi hasil pemeriksaan serta hasil usg kehamilanya.
Ayunda tertunduk lesu mendapati itu semua hatinya begitu hancur mendapati anaknya mengetahui rahasianya selama ini yang selalu Dia tutup-tutupi.
Rehan tampak terkejut dengan keberadaan mamanya yang duduk di kursi meja belajarnya.
"Ada apa ma....?" tanya Rehan kepada Ayunda yang terlihat sedang memandang ke arah kertas itu.
"Oh gak papa kok mama cuma mau bilang makam malam sudah siap kita makan bareng yuk...." ucap Ayunda mengangkat kepalanya dengan menunjukan senyum yang di paksakanya.
"Oh iya mama tunggu di luar aja aku mau ganti baju..." jawab Rehan yang terlihat sedang mengerikan rambut basahnya dengan handuk.
"Yaudah mama tunggu di meja makan ya...." ucap Ayunda seraya beranjak dari tempat duduk itu dan berlalu pergi.
__ADS_1
Ayunda tampak was-was jikalau Rehan mengetahui semuanya. Hatinya begitu gusar jika suatu saat nanti Rehan akan memenci anak yang sedang Dia kandungnya ini.
Ayunda tampak cemas pikiranya kembali keruh semakin banyak memikirkan masalah semakin bertambah tinggi pula tensi darah yang saat ini sudah di atas rata-rata, kepalanya perlahan terasa pusing namun sedikit masih bisa Dia tahan.
"Ma..."ucap Rehan yang mulai berjalan memghampiri Ayunda dan duduk di depanya.
"Iya buruan makan sayang maaf ya mam Cuma angetin masakan tadi pagi..." jawab Ayunda terdengar lesu.
"Oh iya gak papa santai aja ma..." jawab Rehan segera meraih gekas berisi susu itu dan muali di minumnya.
Suasana kembali hening Ayunda tak berani menatap mata Rehan jika kebenaran itu terungkap Dia tak tau apakah anaknya bisa menerima.
"Han..." ucap Ayunda yang terlihat sulit mengungkapkan kata-kata itu.
"Iya ma ada apa..?" tanya Rehan dengan menghentikan menguyah makanan itu karena dari suara Ayunda tampak Dia ingin berbicara serius.
"Kamu udah tau semua..." ucap Ayunda pada akhirnya dan membuatnya bertambah was-was.
"Tau apa maksud mama apa ya...??" jawab Rehan yang justru balik bertanya maksud dari pembicaraan mamanya.
"Kamu ngambil sesuatu dari bufet mama kan kamu tau itu apa...?" jelas Ayunda yang serasa semakin yakin anaknya tau semuanya.
Wajah Rehan tampak memerah ya baginya itu hanya keisenganya dan kekawatiranya akan kondisi mamamnya.
"Iya ma aku cuma pengen cari tau aja mama sakit apa soalnya mama sering pusing dan mual..." jelas Rehan yang membuat Ayunda justru ingin menertawai jawaban polos anaknya.
"Oh jadi kamu hanya tau itu ...?" ucap Ayunda dengan tersenyum lega akhirnya Rehan belum mengetahui semua.
"Iya aku belum cari tau sih ma karena kondisi mama kian hari juga lebih membaik jadi aku berpikir positif aja sama kondosi mama." jawab Rehan denga jujur dan membuat pikiran keruh Ayunda sedikit lebih jernih.
"Oh gitu mama gak papa Han cuma kecapean aja..." ucap Ayunda dengan tersenyum tipis.
"O iya sebentar lagi mama mau nikah mama minta tolong beri restu mama ya..." ucap Ayunda kepada Rehan dengan tatapan penuh harap.
"Walau sejujurnya aku gak akan pernah setuju tapi kalau itu mau mama aku gak larang dan aku beri restu mama asal mama bahagia aja.." jawab Rehan denagn nada serius dan menyerah pada akhirnya.
Ayunda begitu bahagia mendapat restu dari anaknya.
__ADS_1