
Halaman sekolah yang luas itu kini berubah menjadi tempat yang megah dengan didekor layaknya di sebuah gedung ternama.
Dengan latar mengambil tema berwarna hijau dan biru dipadukan dengan hiasan bunga yabg tertempel di sepanjang sisi tak lupa sorotan cahaya lampu itu membuat penampakan panggung itu semakin terlihat mewah.
Hari ini adalah hari kelulusan kelas dua belas di SMA Pelita Bangsa hampir tiga dekade sudah meluluskan tak kurang dari ribuan siswa dengan memperoleh predikat lulusan terbaik setiap tahunya.
Rehan sedari pagi sudah bersiap dengan memakai baju atasan putih dan celana panjang berwarna hitam dengan dasi tertempel dikerah lehernya tak lupa rambut lurusnya itu ia sisir serapi mungkin ksrena hari ini hari yang sangat ia tungu-tungu begitupun siswa yang lain.
Siswa kelas dua belas yang berjumplah kurang lebih dua ratus siswa itu sedang bersiap-siap di tempat duduk yang telah disiapkan begitupun wali murid yang duduk disisi sebelah kanan.
Rasa cemas dan tegang terlihat dari setiap sudut wajah para siswa tersebut menanti hasil kelulusan.
Sedang Eliza bersama tim sudah bersiap-siap yang sekarang sedang berada di meja rias dengan wajah yang mulai di poles make up tak lupa rambut miliknya di tata sebagus mungkin dengan gaya moderen.
Acara dimulai tepat pukul delapan pagi dengan diawalai sambutan dari kepala sekolah dan para komite Sekolah
Eliza mulai gugup wajah cantiknya kini bertambah mempesona dengan olesan makeup serta tatanan rambut yang mirip diva itu tak lupa gaun panjang selutut berwarna biru dongker itu sukses membuat penampilanya semakin sempurna tak lupa sepatu hills berwarna senada sudah melekan di telapak kaki jenjangnya menambahkan kesan angunya.
"El kita foto dulu dong" ajak Stevi yang memakai baju seragam karena Dia akan memerankan tokoh anak sekolah di serial Drama kali ini yang berjudul "Prestasi bukan Sensasi"
Setelah kurang lebih tiga pluh menit acara pembukaan selesai kini dimulai pertunjukan pentas seni yang diawali dari pertunjukan tari daerah yang di bawakan dari kelas sepuluh, setelah selesai kini saatnya giliran penampialn Drama yang akan dibawakan oleh Stevi dan teman-temanya.
Eliza semakin gugup ketika waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang karena giliranya akan membawakan lagu bersama ketiga temanya yang akan memainjan alat musik piano.
''Oke diharap tenang masih ada kejutan lagi kali ini akan ada yang membawakan sebuah lagu " ucap panitia itu dengan nada yang menarik.
Eliza mulai menaiki tangga itu dan berjalan keatas pangung dia tersenyum dan memperoleh tepuk tangan meriah dari para siswa kelas dua belas dan para wali murid itu tak terkecuali Rehan yang kini duduk di depan yang pandangan matanya tak bisa dia ahlihkan dari Eliza.
Eliza mulai berdiri dan microfon yang nenempek itu segera Dia cabut dan digegam oleh jemari lentiknya itu.
Alunam melodi piano itu mulai berbunyi dan seketika lampu di redupkan hanya menampilkan Eliza dan sang pianis yang juga dari kelas sebelas.
Eliza menutup mata dan mengambil nafas perlahan-lahan.
"I'm trying to hold my breath" ucapnya dengan perlahan dan sesuai melodi itu serta tangan yang ditempelkan didada.
Wiuuhhh suara gemuruh itu kembali muncul dengan dibarengi suara tepuk tangan.
"Let it stay this way..." Eliza mulai membuka mata dan berjalan sedikit kedepan.
"Can't let this moment end
You set off a dream in me
Getting louder now
Can you hear it echoing?
Take my hand
Will you share this with me?" Eliza mulai berjalan demgan tangan yang digerakan sesuai penghayatan lagu itu.
''Cause darling, without you
All the shine of a thousand spotlights
__ADS_1
All the stars we steal from the night sky
Will never be enough
Never be enough
Towers of gold are still too little
These hands could hold the world but it'll
Never be enough
Never be enough"
Dia mulai menghayati setiap penjiwaan perasaan di lagu klasik itu dengan begitu sempura, pengerakan langkahnya begitu memuncak ketika berada di pertengahan reff lagu itu seperti emosinya sedang di pompa.
Hingga Eliza menghentikan lagu itu begitu apik dan dia berakhir memperoleh tepuk tangan yang sangat meriah dari para penonton.
Rehan melihat penampilan Eliza semakin bertambah rasa cintanya seperti sedang mendapat sebuah kejutan, yang tersimpan bakat di dalam diri Eliza. Tak terkeculi Ayunda Dia begitu tertegun hebat dengan berdecak kagum atas penampilan Eliza kali ini.
Namun wajah yang berbeda tampak ditunjukan Julian Dia begitu tak suka dengan penampilan Eliza yang disukai banyak orang itu memang sifat proktektifnya sering muncul tak tau tempat.
"Berikan tepuk tangan yang meriah dong untuk penampilan Eliza dari kelas sebelas Mipa...." ucap pembawa acara kali ini.
"Eliza bagus banget suara kamu..." puji Rehan dengan menunjukan dua jempol sekaligus.
Tak terjecuali para siswa itu yang berdecak kagum.
Selanjutnya dilanjutan acara pengumuman kelulusan yang membuat wajah tegang dari setiap siswa sudah bersiap menunggu jawaban dari sepucuk surat yang berada dalam ampop putih yang berjejer rapi itu yang tengah di bawakan kedepan oleh panitia.
Stevi yang sangat perhatian terhadap kawanya itu segera memberikan air mineral dalam kemasan botol itu.
"Nih minum dulu biar legaan dikit.." ucapnya dengan menghampiri Eliza dan mengulurkan minuman itu ke arah Eliza.
Julian justru tampak tak suka Dia hanya menatap Eliza dengan sinis Eliza yang merasa ada yang berbeda dari kekasihnya itu hanya mengelengkan kepala.
Eliza mendekati Julian yang duduk di belakang pangung itu padahal hari ini jadwal libur namun tanpa alasan Julian masuk dan membuat Eliza semakin mengerti sifat proktektif Julian sedari dulu tak berubah juga.
Ketika Eliza ingin mendekat justru Julian melangkahkan kakinya pergi dan membuat Eliza harus memaklumi tingkah laku pacarnya itu.
Sebelum acara selesai Eliza sudah pulang terlebih dahulu karena hari ini Dia ada janji dengan Julian yang sudah sedari tadi pergi keluar dari sekolah ini dan meningalkan sebuah tanda tanya dari sifat kekanak-kanakan.
"Gue duluan ya..." ucap Eliza kepada teman-temannya yang tengah sibuk menikmati sajian makanan itu.
"Kok buru-buru aja sih kamu gak makan dulu...." tanya Stevi dengan perhatian tak lupa tangan kanan dan kirinya penuh dengan makanan.
"Gak aku ada urusan harus segera pulang duluan ya...." ucap Eliza lagi seraya berjalan keluar dengan wajah masih terpoles make up Dia mulai berjalan melewati loromg sekolah dan berjalan menuju belakang sekolah tempat biasa Dia janjian dengan Julian.
"Lama ya nungunya...." tanya Eliza kepada Julian dengan nafas terengah-engah.
"Iya ampe jamuren ni muka aku..." jawab Julian dengan tampang sinis.
"Julian jangan gitu dong kan tadi acara sekolah kita mana sih sifat bangga kamu sama Sekolah ini....." jelas Eliza berusaha mendinginkan amarah Julian yang mirip anak kecil itu.
Julian hanya diam dengan siku yang Ia tempelkan pada kepala motor dan telapak tangan buat sadaran di dagunya itu.
__ADS_1
"Gimana jadi gak ke toko buku ..?" tanya Eliza dengan rasa perhatian.
"Jadi dong kan aku mau cari novel buat Reva..." jelas Julian dengan wajah terlihat masih kesal dengan Eliza.
"Yaudah buruan naik...." perintah Julian lagi dengan nada manja khasnya.
Eliza hanya diam dan menuruti apa mau Julian belum sempat Eliza naik ke atas motor, Julian sudah melajukan motornya terlebih dahulu hingga membuat Eliza sedikit kesal.
"Julian kelewatan ngambeknya kenapa sih Setiap aku ngikutin acara di sekolah ini selalu aja kamu ngambek..." jelasnya dengan nada tinggi seraya menyilangkan kedua tangan didada.
Julian hanya diam tak bersuara dan Dia kembali memberhentikan motornya dan memutar balikan motor menuju tempat Eliza berdiri sekarang.
"Nih tisu basah lap dulu make ap yang tebel itu...." perintah Julian yang dituruti Eliza.
Ketika kurang lebih lima belas menit Julian mulai melajukan motornya menuju book store yang akan Dia tuju mengingat haru semakin siang jalanan kembali macet hingga membuat Julian semakin sebal lelaki berseragam putih abu itu terus memencet klaskson motornya agar si pegemudi truk didepanya itu segera melaju.
Teeen.. Tenn... Teeen
"Julian yang sabar dong nanti juga sampai" ucap Eliza sediit berteriak karena suara bisingnya kendaraan.
"Coba tadi kamu gak kelamaan gak jadi macet kan...." jelas Julian dengan nada jengkel Eliza yang kini mulai dewasa itu hanya tersenyum dengan terus memaklumi sifat kekanak-kanakan pacarnya.
Tak berapa lama setelah samai di depan Grandmall Cendana itu kedua pasang kekasih itu segera masuk dan menuju book store yang akan di tuju.
Tempat buku yang akan dicari Julian berada di lantai tiga jadilah harus menaiki tangga eskalator terlebih dahulu terlihat Eliza begitu lelah hinga poni rambutnya muali basah sedang Julian sedari tadi hanya membuang muka ke arah lain.
Mereka mulai membuka pintu kaca yang bertulis Gramedia yang menjual beberapa buku dan majalah itu.
Eliza mulai berjalan mengekori Julian dibelakang, Julian sangat teliti memilih buku novel untuk adiknya itu.
"Sayang cocok gak buku ini..." tunjuknya Ke Eliza yang tengah memilah-milah buku itu.
"Bagus sih tapi ini isinya cuma kisah cinta untuk dewasa Jul...." jelas Eliza sembari membuka sedikit cerita itu.
"Oh kalau ini oh iya kamu mau juga mungkin...?" tunjuknya lagi menunjukan buku bercover wajah wanita itu seraya menawarkan kepada Eliza yang dijawab gelengan kepala.
"Ini bagus tapi kaku deh kayaknya ceritanya...."
"Emang Dia pengen yang gimana...?" tanya Eliza berusaha menanyai kemauan calon adik iparnya itu ya walau dia belum pernah melihat wajahnya secara langsung.
"Ya katanya sih asal penulisnya Boy candra Dia mau-mau aja judulnya terserah asal ada cerita romensnya aja" ungkap Julian yang di balas angukan oleh Eliza.
"Oh baiklah akan aku bantu....." jelas Eliza sembari berpindah ke rak yang berada dibaris kanannya yang berisi semua novel Boy candra.
Eliza memilih salah satu novel berjudul"Pada Senja Yang Membawamu Pergi" itu dengan membaca sedikit ceritanya yang begitu membuatnya tertarik.
"Jul mungkin ini bagus deh kalau gak yang ini...." ucap Eliza memperlihatkan novel pilihanya yang berada dikedua tanganya.
"Ini aja deh judulnya bagus kalau yang ini gak cocok sama Reva..." Julian menerima satu novel bertema romansa itu dan juga menolak novel yang berjudul surat kecil untuk ayah karena baginya kurang pas dengan keadaan keluarganya saat ini.
"Nanti janji ya sayang kita ke bandung plis banget aku mohon untuk kali ini aja" ucap Julian sembari menyerahkan buku novel itu kepada kasir dan membayarnya.
"iya nanti aku ijin dulu sama mama Ayah aku..." jawab Eliza dengan memberikan senyuman.
"Berapa mbak...?" tanya Julian kepada penjaga kasir yang sedang memasukan novel itu kedalam plastik berwarna putih.
__ADS_1
Julian segera membayar dan berjalan keluar begitupun Eliza melakukan hal yang sama.