
Hari senin menjadi hari tersibuk bagi semua siswa karena harus melakukan kewajiabn rutin yaitu upacara bendera yang wajib di ikuti para siswa.
Tak terkecuali Eliza yang masih melakukan kebiasaan buruknya yaitu bangun siang rasanya Dia kalah dengan ayam jantan yang sudah berkokok sedari pagi . Dia melempar jam beker di yang sedang dipegangunya dan Dia kemparkan ke arah kursi, ya tampaknya acara galau- galauanya semalam menjadi penyebab Dia bangun terlamat Dia hanya memandang kesal ponsel berwarna rosegold miliknya ya didalamnya hanya menyimpan luka lara baginya kaena Julian kini tampak berbeda.
Dia mulai bangun tak lupa teriakan keras melantang itu semakin membuatnya kesal ya saat ini kakaknya sedang berada di rumah menjadikan Dia harus menunggu kakanya selesai mandi.
"Kak buruan dong udah jam enam aku nanti telat nih..." ucap Eliza dengan berteriak keras ke arah pintu kamar mandi yang berada di luar disebabkan kamar mandi di dalam kamarnya sedang dalam perbaikan.
"Ya tunggu aja sampai siang..." ucap Dio yang terdengar sedang meledek adiknya dan bertambahlah kekesala Eliza dengan berteriak keras.
"Kak Dioooooo....." ucapnya dengan kembali lebih keras dan tak berapa lama lelaki berbadan tinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter itu sudah berdiri di hadapan Eliza dengan handuk yang hanya menempel dari atas perut dan sampai lutut kaki.
"Mesum ih kak Dio..." ucapnnya lagi dengan menutup kedua matanya dengan handuk bergambar mickey mouse itu pemberian Vey saat ulang tahunya tahun lalu yang jika Dia mengingat satu nama itu mebuatnya kembali bersedih.
"Makanya sabaran dong biar ada waktu pakai baju..." jawab Dio yang terdengar menyebalkan di telinga Elkza.
Dengan wajah kusutnya Eliza mulai menutup pintu kamar mandi itu dengan kencang.
"Woy pelan-pelan anak cewek juga..."ucap Dio dengan terkejut oleh suara pintu yang terdengar mengagetkan jantungnya.
Eliza hanta diam dan mulai melakukan rutinitas mandinya namun terluhat mirip mandi bebek karena sangat cepat.
Dia begitu terburu-buru memakai baju seragam dan melupakan sarapan yang susah payah di buatkan oleh mamanya.
"Eliza sarapan dulu gih jangan buru-buru nanti ada yang kelupaan lho..." ucap wanita yang tengah mebghabiskan nasi goreng yang tinggal dua sendok itu serta segelas susu yang masih seperempat bagian.
"Ma maaf ya sebentar kagi masuk jadi aku harus buru-buru nih...'' jawab Eliza dengan bada cepat dan mulai menghampuri kedua orang tuanya untuk mencium tangan dan berpamiran.
"Sarapan dulu anak gadis papa..." ucap lelaki itu dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Ayahku sayang aku udah terlambat dan harus otw nih..." jawab Eluza dengan meraih tangan dan menciunya yang membesarkan dirinya dengan peluh keringat itu.
Eliza mulai mengeluarkan motor matic miliknya dari garasi dan lamgsung menyalakan tanpa terlebih dahulu memanasinya.
Dan syukurlah Eluza sampai sekolah iru tepat waktu ketiga temanya sudah siap mengatainya habis-gabisan.
"Eh baru dateng nih si manja..." ucap Intan yang langsung menyerocoh tanpa Dia rem terlebih dahulu.
'"Gue kesiangan sumpah deh..." jawab Eliza dengan menaruh rmtas berisi buku itu di atas meja sembari mengacukan dua jari tekunjuk dan jari tengah di atas kepalanya.
"Emang semalem nonton drama apa sih ampe bangun siang amat....?" tanya Devi dengan berkacak pinggang Dia begitu heran dengan satu sahabatnya itu .
"Ada sih drama indo yang sedih banget ampe gue nangis..." jelas Eliza yang sesungguhnya Dia sesdang menceritakan kisah dirinya sendiri dengan Julian.
"Judulnya apa El emang....?" tanya Fitri yang terlihat tampak kebawa cerita yang di bawakan oleh Eliza.
Teeet... Teeen.... Belum sempat Eliza menjawab pertanyaan dari Fitri bel tanda upacara dimulai seluruh siswa mulai keluar berhamburan dari kelas dan berjalan menuju lapangan untuk mengikuti upacara.
Upacara berlangsung dengan khidmad hingga akhir.
Setelah selesai upacara murng lebih empat puluh lima menit seprti biasa semua siswa segera berjalan ke arah kelas masing-masing dan mulai mengikuti pelajaran.
.....
Saat ini Julian sedang latihan basket seperti di sekolah seblumnya bukan hanya sekedar hobi namun juga untuk mengasah badanya agar lebih vit dengan basket tampaknya Julian lebih menunjukan aura ketampananya terbukti sejak Dia masuk di sekolah baru itu banyak siswi yang naksir tak terkecuali adanya wanita kelas dua belas itu yang terbilang ratunya sekolah itu.
"Woy pada kesini deh..." ucap Jesi si ratu sekolah kepada keempat sahabatnya yang tengah duduk di pingiran kelas .
"Ada apa jes...?" tanay Alfi gadis yang berperawakan tinggi dan berkulit putih bisa di sebut tangan kanan Jesi.
__ADS_1
"Kok gue baru lihat sih ada anak baru emang kelas berapa Dia...?" tanya gadis yang memiliki boodygols dan rambut panjang semampai serta berpakaian ketat itu.
"Dia pindahan dari Jakarta dua minggu lalu Jes..." jawab Hena si ramut ikal namun tetap tertolong dengan wajahya yang lumayan itu.
"Oh gitu ada tugas buat kamu cari tau tentang Dia...." ucap Jesi dengan kedua tangan dia silangkan di dada dan dengan senyum misteriusnya.
Julian hanya tetap memainkan bola basket itu tanpa menolah ke arah sumber bicara baginya itu hanya hal bodoh jika Dia sudi mendengarkanya. Lagi-lagi Julian bertemu gadis berkerudung itu yang terlihat sedang berjalan bersama kedua temanya dan membuatnya tertegun bukan cinta yang Dia rasakan hanya kagum semata rupanya cintanya tetap kokoh untuk Eliza seorang wanita yang selalu setia itu.
Julian mulai menghentikan bolanya dan Dia memandang ke arah gadis itu yang sedang duduk di dekat ruang guru entah apa yang sedang Dia lakuakn yang jelas Julian ikut penasaran.
Dia mulai menyadarkan kebodohanya segera Dia buang hayalan halusinasi itu agar tak terus memacu hatinya dan membuat Eliza terluka tentunya.
Mengingat Eliza tampaknya Dia sedang kelelahan memikirkanya.
Dia buang pikiran buruknya jauh-jauh dan membuatnya kembali netral. Di sekolah baru ini tampaknya Julian bisa mengikuti peraturan sekolah dan pelajaran dengan baik Dia mempunyai satu teman lelaki kenalanya bernama Anggayang juga duduk sebangku denganya.
"Istirahat dulu bro gak usah keras-keras latihanya aku akui kok kamu hebat...'' ucap Angga dengan jujur mengomentari kawanya tak lupa dengan jari jempol Dia acungkan ke arah Julian.
"Sip..." jawab Julian dengan berlari ke arah Angga yang tengah meneguk minuman itu .
Tanpa Julian sadari ratu sekolah itu sedang memandangi tubuhnya yang terlihat cool bagi wanita mana saja yang melihatnya, mata wanita itu tampaknya seperti sedang terpanah oleh lelaki yang menunjukan wajah tampanya yang terpenuhi keringat yang membanjiri seluruh wajahnya namun Julian tak menyadari akan hal itu terlihat Dia sedang berjongkok dan meminum air dalam botol itu dan membuat mata Jesi tak berhenti berkedip walaupun Dia sudah punya pacar goodlooking namun tampak matanya masih tergoda oleh lelaki lain.
Julian mulai tersenyum sembari menyeka keringatnya hingga tak berapa lama bel masuk berbunyi.
"Gue duluan Nga mau ganti baju...." ucap Julian dengan menepuk pundak Angga dengan sedikit keras sembari mengambil baju seragam gantinya.
"Sok atuh ntar gue nyusul..." jawab Angga yang masih sibuk dengan ponsel miliknya dan tentunya sedang berchtingan dengan kekasihnya.
Saat pulang Sekolah seperti biasa Julian mulai berjalan ke arah tempat menunggu angkutan itu.
__ADS_1
"Gue duluan brow" ucap Angga yang memang arah rumahnya dan Julian berbeda namun bagi Julian tak masahal justru membuatnya lebih mengenal kehidupan yang sebenarnya, tak disangka wanita yang belum Julian tau namanya itu terlihaat juga sedang menyetop angkot .
Julian hanya diam karena Dia sudah punya wanita yang masih bertahta di hatinya dan Dia selalu menjaga mata dan hati hanya untuk Eliza seorang.