
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'Romantika Cinta Anak Muda'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Kita berjalan keluar, Julian terus merangkul pundakku.
"Jul aku takut..." ucapku yang tak ingin Dia melepaskan tanganya yang melingkar di pundakku.
"Sayang kamu harus tenang nanti kamu ceritain semua ke aku biar lebih tenang"
"Apa mungkin sih Jul aku ceritain semua ini ke kamu, aku hanya takut bila ceritaku nanti justru akan menyakiti kamu" ucapku dalam hati dengan mata menatap kosong.
"Kok malah ngelamun cepet naik"
"Iya" aku segera naik dan memposisikan diri.
Motor ini mulai melaju seakan angin kesegaran kini menyambutku.
Tak jauh dari rumah sakit Julian menghentikan motornya di depan warung makan.
"Aku gak mau makan" ucapku dengan lesu.
"Udah gak papa kita makan dulu dari tadi kamu belum makan kan...??" Julian berusaha membujukku lagi namun tetap aku menolak.
"Gak mau aku mau pulang aja" ucapku lagi dengan kekeh.
Julian menyalakan motornya lagi dengan kasar dari tatapanya Dia sedang marah denganku.
"Sayang kamu gak marahkan...??" tanyaku ke arahnya yang hanya di tanggapi dengan Diam.
Gadis di atas ranjang itu terus berteriak hingga membuat para tim medis kewalahan.
Dengan di berikan dua suntikan akhirnya gadis itu kembali terdiam.
Dia begitu frustasi pikiranya kacau tubuhnya lesu dan air matanya jatuh mwmbanjiri seluruh wajahnya.
Dia meratapi beban kesedihanya serasa tak ada habisnya.
Dia tak menyangka tanganya tanpa sadar menusuk tubuh lelaki kesayanganya.
Kejadian yang terjadi tadi begitu cepat hingga dia tak menyangka tanganya salah, dia terlalu emosi hingga dia tak bisa berfikir jernih.
Dia begitu membenci Eliza saat ini.
__ADS_1
Kedua orang tuanya datang dan membawa pulang gadis itu karena dia hanya sakit mental bukan fisik.
Dia mulai tersadar di peluknya lelaki yang di sebut ayah itu.
"Maafin Dea yah" ucapnya dengan berurai air mata.
Mereka hanya diam melihat putrinya, tak di jawab sepatah katapun.
...
Julian pov.
Sampai di rumah aku langsung berjalan menuju kamarku, aku membuang tasku ke lantai dengan kasar setelahnya aku duduk dan mengusap wajahku perlahan dengan kedua tanganku.
Pikiranku kembali teringat kejadian siang ini yang terjadi bagai sandiwara bagiku.
Aku tak menau kejadianya, tapi yang jelas Eliza terlibat dengan kejadian ini.
Aku tak marah denganya hanya sifat sayangku serasa diabaikan olehnya.
Aku tak menyangka wanita berparas cantik itu memiliki sifat sekejam itu, hingga membyat kasus krimanal.
Aku melihat jam dinding yang sudah menujukan pukul lima sore begitu cepat rasanya waktu berlalu.
Aku segera beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan mengambil air wudhu.
Kurang lebih satu jam aku dikamar aku segera keluar menuju dapur tempat teristemewaku.
"Masak apa mbak" pertanyaan yang biasa kulontarkan ke mbak Inah seperti biasa, sembari aku mengambil buah kesukaanku buah berwarna merah dan terasa asam ini yang tak pernah absen dari tempatnya.
"Sayur lodeh..." jawab mbk Inah yang terlihat sedang membersihkan kompor itu.
"Oh ada sambelnya mbak...??" tanyaku dengan mulut masih penuh dengan gigitan buah apel ini.
"Ada mas...." jawab mbak inah dengan tersenyum.
"Bapak belum pulang..?" tanyaku lagi hanya basa-basi, walau setiap hari aku tak peduli dengan papaku.
"Belum mas tadi bapak ngirim pesan kesaya katanya pulang malam soalnya anak temenya ada yang sakit di rumah sakit...." jawaban mbak Inah hanya kujawab dengan oh saja karena aku tak peduli alasan apapun dari papa.
"Oh gitu"
"Banyak alasan rupanya...." ucapku dalam hati.
Aku mulai mengambil piring dan mengambil nasi tak lupa aku siram di atasnya dengan sayur lodeh plus sambalnya.
Terasa begitu nikmat tak lupa aku tambahkan kerupuk untuk menemaniku menyantap makanan yang lezat ini.
Aku segera menghabiskan makananku tak lupa aku minum dua gelas air putih seperti biasa.
__ADS_1
Setelah itu aku berjalan menuju ruang keluarga aku mencari remot dan memencet tombol merah itu aku memencet berakali-kali barang ini hingga akhirnya membuatku cukup lelah tak ada yang bagus menurutku acara televisi sekarang dan akhirnya aku tertidur.
Satu jam...
Dua jam...
Tiga jam...
"Ceklek.."
Terdengar bunyi suara pintu kayu itu terbuka yang menimbulkan suara hingga membuatku terbangun.
Aku membuka mata aku mendaati papaku baru pulang tak terasa aku tidur cukup lama di depan tv, dengan tv yang masih menyala.
"Belum tidur Jul...??" tanya papaku yang hanya aku hiraukan ucapanya.
"Habis dari mana pa jam segini baru balik" tanyaku tiba-tiba dengan mulut mulai menguap.
"Tadi temen papa anaknya sakit" jawabnya yang tak aku permasalahkan aku masa bodoh dengan alasan papaku yang tak ada gunanya juga aku tau.
"Oh sakit apa sih...??" tanyaku hanya basa-basi sembari beranjak dari kursi sofa yang aku tiduri tadi.
Julian tak mendengar suara jawaban dari papanya yang terdengar samar-samar itu, dia abaikan dan Dia mematikan tv itu sembari berjalan ke arah anak tangga dan berjalan menuju kamarnya.
Dia mulai mencari barang kesayanganya dia membuka layar dan mendapati Eliza menelpon Dia berkali-kali
"Makanya jangan bikin aku marah dong nyesel kan" ucapku dengan senyum-senyum sendiri aku merasa Eliza sangat takut bila aku marah terlihat Dia mengirimku beberapa pesan singkat.
Aku tau dia sekarang sedang down dan untuk itu aku memaafkanya kesalahanya hari ini.
Tak lupa berita hot sedang berkeliaran di stasus watsapp milikku, aku tak terlalu menangapinya, entahlah aku lebih peduli dengan Eliza rupanya daripada berita itu walau aku tau Rehan berusaha menyelamatkan Eliza. Karena aku tau diantara mereka bertiga ada dendam yang saling beradu.
Aku tak memimirkan hal lain yang aku pikirkan hanya Eliza sekaramg karena Dia butuh dukungan dari aku saat ini.
Aku mulai membuka isi pesan yang di kirimkan Eliza.
"Jul aku takut besok sekolah..." tulisnya diatas layar ini dengan segera aku membalasnya jari ini dengan terampil menari-ria di atas keyboard.
"Gak papa ada aku di samping kamu" jawabku dengan cengar-cengir sendiri.
"Aku takut Dea memutar balikan fakta Jul" balasnya lagi dengan cepat terlihat saat ini dia sedang online.
"Gak nanti kalau Rehan sadar dia juga akan bilang siapa pelakunya tenang aja sayangku..." isi pesan yang aku kirimkan ke Eliza.
"Janji ya Jul lindungi aku, solalnya aku takut..." tulisnya lagi dengan cepat yang langsung aku baca isi pesanya.
"Iya sayang" balasku lagi dengan menambahkan emoticon berbentuk hati agar membuatnya Dia percaya aku akan melindunginya.
Walau aku tak bisa membayangkan kondisi Rehan saat ini seperti apa.
__ADS_1