
Hari senin tiba kelas baru dan suasana baru bagi Eliza, Eliza yang bersemangat itu mulai melajukan motor maticnya dengan kecepatan tak seperti biasanya Dia tak peduli dengan sarapan paginya yang yang tak di sapanya karena Dia ingin sekali melihat daftar nama siswa yang akan menjadi teman belajarnya setahun ke depan saat kelas dua belas nanti.
Rasa deg-degan itu kini menghampirinya Dia segera berjalan menuju halaman sekolah terlihat Vey dan Rena sudah berdiri di dekat gerbang sekolah dan menayambut Eliza dengan sebuah pelukan.
"Elizaaa...." ucap mereka berdua dengan gembira sembari memeluk tubuh Eliza dengan erat serasa rasa rindu mereka tak ada habisnya.
"Kaliaan...." jawab Eliza sembari membalas pelukan dari kedua sahabatnya itu yang engan untuk meleoasnya Eliza mengangap kedua sahabatnya itu tak lebih dari sebuah keluarga.
"Sayang banget El kita gak satu kelas..."ucap Rena dengan raut wajah kecewa.
"Demi apa..??" tanya Eliza yang tak percaya dengan uxaoan sahabatnya.
"Lihat aja" jawab Vey sama halnya dengan Rena terkihat aedih dan kecewa.
Dengan terburu-buru Eliza segera berjalan menuju papan mading itu untuk melihat daftar nama Dia di deretan nama yang berada di selembar kertas itu yang saat ini tampak ramai oleh para siswa-siswi yang ingin sekali melijatdaftar nama mereka.
Eliza mulai masuk di perkumpulan siswa siswi yang terlihat tampak berdesak-desakan itu dan dengan sekuat tenaga Eliza berhasil menuju baris paling depan.
"Ih sabar dong jangan dorong-dorong..." ucap salah satu siswa kepada Eliza dan hanya ditangapi cengiran oleh Eliza.
Pandangan matanya mulai meneliti satu persatu nama di selembar kertas putih itu dan ternyata benar saja Dia tak sekelas dengan Vey dan Rena, Dia tampak kecewa tapi kesedihanya itu dapat terobati dengan munculnya nama Julian di papan nama itu.m yang sama denganya.
Dia begitu bahagia dan doanya kali terkabul ingin rasanya Ia sujud syukur di depan mading ini karena bisa satu kelas dengan lelaki kesayanganya.
Dia segera berjalan menemui kedua sahabatnya.
"Ya kan El kita beda kalas kamu di Mipa 3 sedang kita di Mipa 1..." jelas Vey sembari menghampiri Eliza dengan tatapan sendu seperti tadi.
"Iya tapi kan kita masih bisa ngobrol bareng saat istirahat nanti..."jawab Eliza sama seperti mereka menunjukan raut wajah kecewa.
''Yaudah kita mau cari tempat duduk dulu ya"ucap Vey sembari menengok arloji di tangan kananya dan di ikuti Rena yangberjalan di belakanganya.
__ADS_1
"Oh iya aku juga kok" jawab Eliza dengan tersenyum.
Eliza segera menuju kelas bertulis XII Mipa 3 itu Dia berjalan dengan perlahan dan muali masuk ke kelas yang tampak ramai itu.
Dan tanpa Dia sadari ada teman masa lalunya Fitri dan Devi yang sedang berdiri di depan barisan kursi itu.
Tanpa Eliza sadari sifat mereka yang dulu sangat membencinya itu kini berubah drastis dan justru menyambutnya dengan hangat.
Eliza mulai berjalan masuk kedalam kelas dan terus memandang lekat setiap sudut ruang kekas baru yang akan di tempatinya selama setagun kedepan tak ada yang sepesial menurutnya selain papan tulis yang lebih lebar itu.
"Hay kita satu kelas nih..." ucap Devi berjalan ke arah Eliza dan di susul Fitri yang mengekorinya dari arah belakang.
"Oh iya" jawab Eliza dengan gagu ya karena jarang berkomunikasi dengan mereka menjadikannya sedikit kesusahan untuk berbicara normal pada umumnya.
"Kamu mau duduk sama siapa...?" tanya Fitri dengan nada halus tak seprti biasanya wanita berpakaian ketat itu menanyainya dengan nasa halus seperti saat ini dan membuat Eliza sedikit heran dengan tingkag laku kedua mantan sahabatnya itu yang dulu sangat memusuhinya.
"Gamapng nanti" jawab Eliza yang tak terlalu memusingkan masalah tempat duduk itu.
"Oh gak papa kok..." jawab Eliza dengan senyum yang dia arahkan ke Devi.
"El maafin kita dulu ya kalau pernah jahat sama kamu" ucapan mereka yang membuat Eliza kembali memaafkan kesalahan mereka yang tak usah di tanya lagi berapa kali mereka melakukan hal itu.
"Oh iya gak papa bagaiman Dea sekarang" jawab Eliza dengan nada santai sembari menanyai Dea walau hanya sekedar basa-basi.
"Ya bisa di bilang sekarang Dia lagi sakit mental Dia El..." jawab Devi dengan nada lesu sembari mengingat pertemua kemarin yang terasa menyedihkan itu serta ketika ada Dea dulu Dia bisa menjadi siswa keren pada waktu itu.
"Oh aku jadi merasa bersalah..." jawab Eliza dengan raut wajah sedih.
"Udah gak papa lagian kamu tau sendiri sifat Dea kan...?"
Dan dari arah pintu datang Putri yang membuat Eliza sedikit terkejut dengan kehadiran wanita yang dulu juga memusuhinya itu, sekelas dengan Putri menjadikanya seperti mimpi buruk baginya.
__ADS_1
Rasa cangung itu mulai terasa ketika Putri berjalan habya melewatinya tanpa berucap sepatah katapun disertai dengan tatapan sinis.
Eliza paham permasalahanya dulu dengan putri ya karena perihal Julian memikirkan iti rasanya Dia ingin menjambak kembali rambut hitam lekat milik putri.
Eliza mulai memilih tempat duduk, ya baginya baris nomer dua dari depan itu adalah posisi paling pas. Dia mulai duduk di samping Intan yang saat ini datang sedikit kesiangan. Sedang Fitri dan Devi duduk di baris depan mereka.
Perlahan meraka mulai akrab namun yang di tunggu-tunggu Eliza jelas adalah Julian, lelaki yang datang sedikit terlambat itu pandangan mata Eliza hanya Ia arahkan ke arah Julian yang saat ini berjalan dengan cool di depan para siswa. Ya Eliza mulai tersenyum kegirangan ketika Julian menunjukan senyum ke arah Eliza yang disambutnya dengan hangat.
Ya harapan Eliza menjadi kenyataan harapan untuk bisa menatap wajah semanis itu di kabulkan oleh Tuhan.
Dan Julian duduk dengan Riski lelakai berbadan gagah itu ya bisa di bilang Dia idola kaum hawa sebelum posisinya di geser Alvan siswa baru pindahan dari sekolah lain.
Setelah selesai memilih tempat duduk jam upacara telah tiba semua siswa-siswi berhamburan berjalan menuju lapangan upacara yang sudah tamoak rapi menyambut semua siswa yang berjumplah ratusan itu, setelah kurang lebih lima belas menit menyiapkan persiapan upacara pun dimulai.
Eliza sekarang menempati barisan sebelah timur yang biasanya Dia berbaris di baris selatan, karena Dia sudah menginjak kelas dua belas rasa bangga itu tiba-tiba muncul di iringi perasaan haru karena begitu cepat waktu berlalu hingga tak berasa kini Dia sudah kelas dua belas dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah penuh kisah klasik hidupnya.
Hampir lebih empat puluh lima menit upacara selesai namun sebelum di buburkan ada pengumuman dari pak kepala sekolah seperti biasanya dan tentu hari ini adalah hari sepesial untuk semua murid karena hari pertama masuk sekolah setelah libur dua minggu lamanya, sorak sorai dari para siswa-siswi itu bergemuruh yang terdengar riuh ditambah saat ada beberapa doorprizee dari kepala sekolah untuk muridnya yang berprestasi.
Ya yang paling tak disangka-sangka Eliza mendapat apreasi dari pak kepala sekolah berkat suara emasnya serta banyak hadiah lainya untuk siswa berprestasi lainya.
Mulai dari nilai tertinggi, siswa teladan, hingga siswa paling terpopuler tahun ini
Eliza mulai tak percaya diri saat namanya dipangiil namun karena Dia ingin sekali membagi rasa bahagianya kepada Julian membuat langkah yang terasa berat itu kini menjadi lebih ringan.
Dia berbaris diantara siswa- siswi berprestasi lainnya. Rasa bangga itu muncul dan membuat dadanya bergetar senyum sumringah itu Ia tampakan dan Ia simpan rapat-rapat untuk kenangan nanti disaat Dia sudah tak bersekolah di sini lagi, namun terlihat Putri mulai tak suka dengan kebahagian yang kini sedang di rasakan Eliza.
Hadianya tak seberapa namun perasaan bahagia itu yang terasa lebih bermakna.
Setelah selesai Eliza mulai berjalan ke kelas disertai Fitri dan Devi yang berjalan di sampingnya Dia tak menyangak begitu baiknya Tuhan padanya mempertemukanya dengan kedua sahabatnya yang dulu sempat menjahuinya.
Eliza mulai duduk di sebelah Intan dan mulai pendekatan diri dengan teman baru.
__ADS_1