
Di stasiun kota Bandung.
Wanita yang di tolong Julian itu segera berdiri sembari mengibaskan celana kerja yang sedikit kotor itu.
"Makasih ya..." ucapnya dengan wajah merah merona.
"Iya" jawab Julian dengan humble Dia terkesan anak yang baik.
Wanita itu segera turun di ikuti Julian yang berjalan di belakangnya.
Wanita itu tak memungkiri ada sedikit rasa suka terhadap lelaki berbadan tinggi nan tampan itu.
"Sayang belum kenalan" ucapnya dalam hati, hanya bau parmun milik lelaki tampan itu yang diingatnya saat ini dan akan di simpan di memorinya.
Di dekat stasiun arah kanan ada penjulal brownis coklat yang sedang viral itu, dia membeli lima kotak sekaligus karena Dia tau keluarga neneknya pasti semua akan mengumpul disana karena kedatanganya.
Setelah selesai membeli Julian mulai keluar dari stasiun dia berdiri di tepian jalan sembari memesan grabcar untuk mengantarkanya ke rumah neneknya yang berada di tengah pusat kota bandung mungkin sekitar lima belas kilometer dari stasiun.
Sembari mengusap peluh keringat di pelipisnya mobil yang akan mengantarkanya menuju rumah neneknya datang.
:Dengan mas Julian ya...." ucap bapak-bapak bertopi itu dengan membuka sedikit kaca pintu mobil.
"Iya" jawab Julian seraya memperlihatkan layar ponselnya.
Segera Julian masuk dan menutup pintu mobil kembali.
"Jalan merpati no 15 ya mas". Ucap sopir grabcar itu sembari melihat aplikasinya kembali.
"Iya pak" jawab Julian seraya mengaitkan sabuk pengaman.
Kurang lebih setengah jam di dalam mobil melalui kemacetan kota bandung yang begitu padat akhirnya Julian sampai di tempat rumah neneknya.
"Makasih ya pak" ucap Juluan sembari turun dari mobil.
Hatinya mulai gelisah dia begitu rindu dengan wanita yang melahirkanya tujuh belas tahun silam.
Dia berdiri di depan rumah megah bercat cream itu dengan di kelilingi pagar kokoh di depanya.
Dia memencet tombol bel yang berada dipojok gerbang itu seperti biasa yang dilakukan orang bertamu pada umumnya.
"Ting tung..."
Tak berapa lama keluarlah mpok Hesti, pembantu yang sudah puluhan tahun kerja di rumah neneknya.
"Oh den Julian masuk den....." ucapnya sembari membuka gerbang dengan raut wajah sumringah.
"Julian.....!!!" ucap wanita yang terlihat awet muda itu menghampiri putranya dia seraya memeluk erat serasa rindu yang selama ini Ia rasakan terbayar sudah, air matanya pecah dia begitu bahagia melihat anaknya menemuinya rasa haru kini sedang nereka rasakan.
"Masuk sayang...." ucap wanita itu seraya melongarkan pelukan.
__ADS_1
Tak berapa lama wanita Tua yang masih terlihat segar itu juga menghampiri cucunya.
"Aduh cucu nenek makin ganteng aja" ucapnya sembari mengelus lembut rambut cucunya.
"Sini-sini...." ucapnya lagi yang jelas terlihat begitu bahagia.
"Hesti cepat kabari semua anak ibu biar pada ngumpul disini..." ucap wanita Tua itu lagi kepada pembantunya.
"Baik nya" Mpok Hesti selalu memangil dengan sebutan nyonya unyuk majikanya itu
Setelah Julian mulai duduk Dia di cecar banyak pertanyaan oleh mama dan anaknya.
"Kok gak ngabari sih sayang mau kesini....??" ucap mamanya kepada Julian yang mulai duduk sembari beristirahat.
"Iya Jul kan nenek bisa bikinin kamu masakan yang kamu sukai..." ucap neneknya sembari duduk di sebelahnya.
"Kan aku mau suprise nek...." jawab Julian dengan menunjukan senyum menawannya itu.
"Reva mana ma...??" tanya Julian dengan antusias.
"Dia masih sekolah belum pulang...." jawab mamanya dengan sabar.
"Kamu libur ujian kelas dua belas ya....??" ucap mamanya lagi.
"Iya ma"
"Ini tadi aku beli beberapa bungkus brownis kayaknya pada suka...." Julian mengeluarkan beberapa bungkus brownis dari kantong plastik itu.
Setelah utu Julian makan siang dengan nenek serta mamanya.
Tersaji berbagai makanan yang tak mungkin akan ada di rumah Julian.
....
Setelah habis makan siang wanita itu mulai mendekati anaknya yang sedang duduk di balkon lantai dua.
"Jul....??" ucap mamaku sambil duduk di sebelahku.
"Iya ma" jawabku menoleh ke arah wajah mama.
"Makasih ya kamu udah dateng nemuin mama, mama rindu banget sama kamu sayang" ucap wanita itu mencium kening anaknya karena Dia begitu rindu.
"Iya ma sama aku juga rindu. Mama udah gak sering sedih lagi kan"
"Gak dong sayang buat apa mama tangisi lelaki yang udah emgak angap mama..." wanita itu jelas sedang berbohong dia berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya hancur lebur.
"Jul sekarang papa sama mama sudah cerai dan hak asuh kamu jatuh di tangan papa..." jelas wanita itu lagi dengan nada berat dan kepala sedikit menunduk.
"Gak bisa ma kenapa begitu, aku akan lawan papa kalau perlu...!!!" aku mulai me
__ADS_1
"Suttthh.... Jangan kamu hargai dia itu papa kamu oke..." wanita itu berusaha tegar di depan anaknya Dia mengusap air mata yang perlahan mulai menetes itu.
"Mama cuma punya satu pesen kamu harus jadi anak yang baik ya disana..." tambahnya lagi sembari menahan air matanya yang akan keluar itu, rasa sakit yang menutup itu serasa kembali membuka.
"Mama disini hanya bisa mendoakan..."
"Iya ma aku akan inget pesan mama tapi kenapa gak tinggal disana saja ma kita cari rumah kalau perlu..." jelasku oanjang lebar namun seketika aku kadi teringat ketoka dulu aku permah mabuk.
"Gak sayang jika mama disana hati mama akan selaku sakit dan terus menderita mama disini sudah mulai merintis usaha baru jadi mama akan tetap tinggal disini" jelas wanita itu sembari mengelus pundak anak lelakinya.
"Iya ma tapi nanti kalau kuliah aku akan ikut mama disini...." ucapku berusaha membahagiakan mama tentunya karena terpisah dari ibu sungguh sangat menyakitkan bagiku.
"Itu terserah kamu asal kamu dapet ijin dari papa kamu tapi kan papa kamu pasti akan ingat janjinya waktu dulu kamu akan di sekolahkan di Amerika" raut wajah yang semula ceria itu redup kembali.
"Gak mungkin ma tingkat kecerdasanku engak sampai sana..." jelasku berusaha menghibur mama yang mungkin akan sedih jika aku harus kuliah ke luar negeri.
"Siapa bilang mama yakin kamu bakal jadi lelaki sukses kelak nak..." ucap mamanya penuh semangat Dia begitu menyayangi anak pertamanya itu.
"Maksih ya ma..." Julian terkesan dengan doa wanita kesayanganya itu.
"Doain ya usaha mama disini lancar..." ucap wanita itu dengan penuh rasa sayang.
"Iya aku akan dukung mama sepenuhnya" ucapan Julian seperti penyemangat baru bag wanita itu.
Tak berapa lama gadis bernama Reva itu datang dia langsung melepas rindu dengan kakanya dia langsung berjalan cepat dan memeluk erat kakanya.
"Kakak...."
"Adekk...." Julian mencium berkali kali pipi milik adiknya sembari berpelukan erat layaknya teletubis
"Kamu udah lebih tinggi ya sekarang..."
"Iya nih kak..." ucap Reva sembari mensetarakan tingginya dengan kakanya.
"Kok gak ngabarin sih kalau mau dateng" ucap Reva lagi dengan wajah cemberut
"Hahah kan biar suprise" jawabku sembari merenggangkan pelukan.
"Kak gimana kabar papa...??" tanya Reva dengan antusias mukin ada kalanya seorang anak akan rindu papanya.
"Reva diam" ucap wanita iti dengan menatap tajam ke arah gadis berkulit putih itu.
"Maaff ma" ucap Reva berusaha mengerti ucapan mamanya sedang Julian hanya memandang kosong kearah lain.
"Yaudah kita masuk yuk kayaknya udah pada ngumpul semua di bawah..."
wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mengajak kedua anaknya untuk turun dan benar saja semua saudaranya sudah berkumpul semua untuk melepas rindu dengan Julian, pembantu bernama Hesti itu sedang kewalahan sekaramg menyiapakan berbagai makanan yang akan di hidangakan.
"Julian sini nak" ucap wanita yang memiliki tekstur tubuh serta wajah seperti mamanya.
__ADS_1
"Iya bude..." jawab Julian seraya mendekat ke arah wanita yang disebut bude tersebut.
Terlihat jelas bahwa bahagia itu cukup sederhana Julian merasa lebih bahagia sekarang di banding tinggal di rumah yang sepi itu.