
Suara Azan berkumandang wanita itu mulai bangun perlahan Ia menyibakan selimut setelahnya Ia berjalan menuju kamar mandi dia mulai mebasuh wajah dan mengambil air untuk berwudhu.
Dia kembali melihat anak lelakinya begitu pulas tidurnya kemudian dia tersenyum" mukin kamu nyaman ya nak" ucapnya dalam hati.
Dia berjalan dan mulai membangunkan Julian
"Jul bangun sholat dulu gih...." ucap wanita itu sembari menggoyangkan badan Julian dengan perlahan.
"Ini udah pagi ya ma" ucap yang empunya nama sembari mengusap perlahan matanya agar bisa melihat dengan jelas bahwa dia tak sedang bermimpi.
"Iya buruan ambil air wudhu mama sama Reva udah siap nanti kita sembahyang bareng ya..." ucapnya sembari berdiri dan berjalan mengambil mukena yang berada disamping tempat tidur.
Dengan mata yang terasa teramat berat seperti di tindihi batu berton-ton Julian mulai membuka mata
"Huam...." Dia menguap tak layakhalnya orang bangun tidur.
Julian mulai berjalan ke kamar mandi dan mengambil air untuk berwudhu.
Setelah selesai wudhu Dia segera menghampiri mama dan Reva yang sudah siap dengan mukena yang sudah di kenakan serta sajadah yang sudah di gelar dan siap di gunakan untuk bersembahang.
"Kamu jadi imam ya Jul..." ucap wanita itu dengan mata teduh.
"Iya ma" segera Julian mengelar sajadah dan mulai memakai sarung serta peci.
Setelah Julian siap semua berdiri dan Julian mulai melakukan gerakan takbir di ikuti mama dan adiknya.
Setelah menyelesaikan dua rekaat mereka mulai menganggkat kedua tangan dan berdoa mereka memohon kepada sang pencipta atas ikhtiar yang sedang merwka pinta.
Setelah selesai sholat mama sudah sibuk pergi kedapur dan Julian berjalan kembali ke tempat tidur itu dan Dia mulai melanjutkan tidur pagi yang terjeda tadi.
"Huamm..." Dia kembali menguap untuk yang kesekian kalinya kemudian Dia menarik selimutnya dan mulai melilitkan di tubuhnya.
Namun dengan jailnya gadis bernama Reva itu mulai memeluk erat tubuh kakaknya dari belakang.
Julian merasa terganggu namun dia menanggapi dengan tersenyum karena hal seperti ini jarang dia rasakan, bercanda dengan adiknya.
"Jail deh..." ucapnya sembari merebit kembali selimut yang di tarika adiknya.
"Kan kangen aku sama kakak..." ucap Reva dengan terus memeluk erat tubuh kakanya.
"Kasih kakak waktu satu jam aja buat merem lagi oke..." jelas Julian berusaha menghilangakn rasa kantuk yang tak kunjung hilang ini.
"Tapi sambil peluk kakak ya..." ucap Reva dengan nada manja.
"Iya"
Tak berapa lama Reva mulai mendengarkan suara dengkuran orang tidur itu tandanya kakaknya mulai tertidur.
Reva tak tidur Ia hanya ingin melepas rindu dengan kakaknya dia terus memeluk tubuh kakaknya.
Hampir sejam lamanya Julian tidur dan Reva tetap setia menemaninya.
"Kamu gak mandi dulu dek...??" tanya wanita yang terlihat wajahnya lebih ceria dari biasanya itu.
__ADS_1
"Gak ma aku mau libur dulu aku masih kangen ma sama kakak..." jawab anak gadisnya yang masih tetap dengan posisi yang sama.
"Em... Kamu ini emang gak ada ulangan...??" tanya wanita itu lagi sembari mendekat.
"Gak ma tenang aja..."
"Yaudah nanti kalau kakakmu sudah bangun suruh turun ke bawah ya mama sama nenek sudah masakin makanan kesukaanya kakak kamu" ucap wanita itu seraya berjalan keluar kamar dan menutup pintu.
"Iya ma..." jawab Reva dengan tersenyum.
.....
Eliza pov.
Hari ini aku berencana ke rumah Julian ada berbagai alasan tentunya, yang pertama aku rindu Dia dan yang keduaa tak lain halnya aku ingin mengembalikan kaos yang tertinggal di rumahku waktu dia mandi di rumahku beberapa waktu lalu.
Hari belum terlalu siang baru menunjukan pukul setengah delapan hari ini hari libur terakirku dan besok aku akan beraktifitas seperti biasa di sekolah.
Kaos berwarna biru ini sudah aku cuci sebersih mungkin serta aku tambahkan pewangi untuk menambah aroma dari pewangi bermerek Downy agar baunya semerbak, khusus baju ini aku sendiri yang mencucinya tanpa bantuan mama.
"Jul Jul kamu itu mirip candu..." ucapku sembari mencium baju ini dengan lembut.
Setelah selesai mandi serta merias wajahku segera aku mengeluarkan motor kesayanganku dari garasi kebetulan hari ini jadwal pak Armo kerja di rumahku jadi rumah tak terlalu sepi.
"Mau kemana mbak..?" tanya pak Armo yang sedang menyirami beberapa tanaman itu.
"Mau kerja kelompok pak nitip rumah ya pak" jawabku dengan memberikan alasasan berbohong perihal kepergianku.
"Iya mbak El" ucap pak Armo dengan menunjukan wajah ceria yang seperti biasanya Ia tunjukan.
Aku mulai melalui jalan raya yang terlihat tak terlalu ramai tak seperti pagi serta petang.
Aku mulai memasuki perumahan tempat tinggal Julian rasa deg degan serta rasa nervest kini sedang menghampiriku membayangkan pertemuan yang akan jadi seperti apa
Aku mulai melihat-lihat ruamah disekelilingku, aku mencocokan alamat yang sama dengan alamat milik Julian.
Tak terlalu lama aku mencari akhirnya aku menemukan rumah dengan alamat jalan Rajawali no 17.
Senyum mengembang kini terpancar jelas di wajahku.
Aku mulai menghentikan motorku disisi jalan.
Terlihat rumah baru Julian begitu mewah namun terlihat tampak sepi hanya terdengar suara gemericik air di halaman rumah Julian yang nampak dari luar.
Aku berjalan dan memecet tombol bel yang berada disisi kanan pagar.
Tak berapa lama datang wanita yang seusianya kurang lebih sama denganku yang berpakaian biasa saja.
"Maaf mbak mau nanya ini rumah Julian ya...??" tanyaku kepada wanita itu.
"Iya mbk..." jawab wanita itu sembari membuka gerbang
"Julianya ada...??" tanyaku dengan antusias.
__ADS_1
"Maaf mbk mas Julian sedang di Bandung..." jawab wanita itu yang membuat hatiku sangat kecewa aku merasa waktu aku datang kerumah Julian kurang tepat.
"Serius...??" tanyaku lagi untuk memastikan kembali.
"ya mbk, masuk dulu mbak..." ucapnya menyuruhku masuk ke rumah.
"Oh iya makasih ya..." Aku segera masuk dan duduk di kursi yang berada di teras bagian depan itu.
"Mbak yang kerja disini..??" tanyaku dengan sedikit rasa penasaran.
"Iya mbak" jawabnya dengan malu-malu.
"Oh baru ya...??" tanyaku lagi yang super duper kepo ini.
"Iya mabk..."
Aku melanjutkan ceritaku dengan wanita bernama mabk Inah ini yang memiliki sifat cukup ramah dan baik hati.
"Kalau boleh tau dia ada urusan apa ya kok ke Bandung...??" tanyaku berusaha mencari alasan Julian yang tiba-tiba pergi ke Bandung.
"Mas Julian mau ketemu mamanya mbak" jelas mbak Inah yang membuatku teringat bahwa Julian pernah bercerita bahwa mamanya tinggal di Bandung.
"Oh iya aku baru ingat mamanya tinggal di Bandung ya....??" ucapku dengan mengangukkan kepala tanda aku baru paham sekarang.
Belum sempat aku bercerita lain dengan mbak Inah, mataku di kejutkan oleh kedatangan sosok yang membuatku pernah bertengkar dengan Julian.
"Ya ampun bisa barengan gini ya" umpatku dalam hati ketika motor itu berhenti dan menampakan wajah Putri yang super sok cantik itu.
Wajahku yang semual merona kini sayu seketika.
"Eh lo ada di sini El ..??" tanya Putri yang membuatku ilfeal dibuatnya.
"Iya" jawabku dengan cuek.
"Masuk mabk Putri..." mbak Inah memang baik dia tak memadang siapapun yang datang tamu di suruh masuk.
"Iya mabk Inah makasih..." ucap Putri sok ramah.
"Kok samaan sih pakai sweternya janjian ya...??" ucap mbak Inah dengan menunjukan senyum keheranan.
"Gak..." jawab kita bersamaan
Mbk Inah tertawa melihat kejadian aneh nan nyata ini mungkin hatiku begitu kesal betapa miripnya sweter pemberian Julian ini sama dengan sweter yang di kenakan Putri.
"Bentar ya mabk saya bikinin minum..." ucap mabk Inah sembari berjalab masuk dan menuju dapur.
"Lo sendiri ngapain kesini...?" tanyaku dengan menoleh ke arah lain karena ini kode keras( kenapa ada lo di rumah Julian).
"Ada urusan pelajaran...." jawab Putri sok memiliki privasi.
"Emang ketemu di sekolah gak bisa...??" tanyaku berusaha memancing emosinya.
"Gak El kan tau sendiri ini buat besok..." jawab Putri dengan berbagai macam alasan.
__ADS_1
Tak berapa lam Mbak Inah datang membawa minuman.
Aku dan Putri hanya saling diam berusaha mencairkan suasana di Depan mabk Inah agar kita terlihat teman yang baik.