
Air mata itu terus jatuh tanpa henti gadis bernama Dea itu hanya duduk diatas tempat tidurnya, Ia menatap halaman rumahnya dari balik jendela tak ada yang di lakukanya selain menangis dan tidur. Dia tak menyangka tangannya tanpa sengaja menusuk lelaki kesayanganya, yang kini masih tersimpan guratan kesedihan di dalam hatinya.
Tanganya selalu bergemetar ketika mengingat kejadian waktu itu yang terus berputar-putar di kepalanya.
Dia mengacak rambutnya dengan buas.
"Maafin gue Han maafin gue" itulah ucapnya saat ini dengan air mata terus membajiri wajahnya tanpa henti.
Wajahnya tampak tirus dan bibir yang semula merona itu kini tampak pucat.
Dia tak tau harus bagaiman selain mengurung diri di kamar Dia takut menatap Dunia Dia sangat takut apabila keluarga Rehan membenci dirinya apalagi di sekolah dia bakal jadi cacian semua siswa.
"Ceklek"
"Sayang makan dulu..." ucap wanita paruh baya itu berjalan menuju rempat tidur anaknya dengan membawakan sepiring makanan lengkap dengan lauknya.
"Aku gak butuh makan..." jawabnya dengan acuh sembari membuang muka ke arah lain.
"Udah kamu jangan nangis terus sayang gak baik buat kesehatan kamu..."
Dea hanya diam serasa semua orang tak tau perasaanya saat ini tak ada yang peduli rasanya.
"Jika masalah ini di bawa ke polisi mama sudah nyiapin teman mama untuk jadi pengacara buat kamu, kamu gak usah khawatir kamu tinggal pindah sekolah sayang..." jelas wanita itu sembari mendekati putrinya betusaha menyibakkan rambut yang menutupi wajah anaknya itu.
"praak" dengan kasarnya Dea melempar piring itu hingga piring itu jatuh ke lantai tak beraturan makanan yang disajikan dengan penuh kasih sayang itu hancur berantakan.
"Dea kamu ini kenapa sih ini makanan gak seharusnya kamu lempar..." ucap wanita itu dengan terkejut.
"Aku minta mama keluar dari kamar aku aku gak butuh mama....!!!" ucapnya lagi dengan keras dan lantang.
Wanita itu mencoba menahan emosinya Ia menghempaskan nafas dengan kasar dan segera keluar dari dari kamar anaknya.
"Mas kita harus bawa Dea ke psikiolog..." ucap wanita itu kepada suaminya yang sedang duduk santai di sofa kesayanganya itu.
"Iya nanti jika semakin parah kita bawa dia ke Dokter ma..." jawab lelaki itu menyetujui usul istrinya.
Kedua orangtua utu saat ini sedang dirundung gelisah dengan kondisi kejiawaan anaknya yang tak kunjung membaik.
...
__ADS_1
Dua pasang kekasih itu sedang nenikmati waktu bersamanya di sebuah taman yang tampak indah dengan dikelilingi bunga yang tertata rapi.
Mereka masih memakai seragam sekolah berwarna putih abu-abu itu, dan duduk di kursi taman yang mulai mengelupas warna catnya.
"Jul bagaimana kabar kak Rehan ya apa mungkin Dia sudah sadar??" tanya Eliza dengan nada sendu hatinya selalu gundah ketika memikirkan kondisi lelaki yang menolongnya waktu itu.
"Katanya belum sadar El..." jawab Julian apaadanya sebab Dia tau dari temanya yang berkunjung ke rumah sakit.
"Padahal aku pengen banget ketemu aku cuma pengen bilang maksih aja..." ucap Eliza dengan menunjukan senyum tipis.
"Iya nanti aku akan anterin..." jawab Julian sedikit membuang muka dia tak menapik bahwa dia sedikit cemburu.
"Jul kenapa ya hidup ini selalu ada saja masalahan..." cerita Eliza dengan memandang rerumputan di depanya itu dengan tatapan kosong.
"Iya El memang hidup harus begitu ..." jawab Julian menyeimbangi ucapan Eliza.
"Disaat cinta kita mulai bersatu tapi ada aja masalah lain...." ucap Eliza melanjutkan ucapanya dengan mengelengkan kepala.
"Udah kita yang sabar aja yang terpenting kita selalu berdoa" ucap Julian berusaha meraih tangan milik Eliza dan mengegamnya dengan lembut.
"Dulu kamu kuatin aku sekarang aku bisa kuat, tapi kenapa kamu gak bisa kuatin diri kamu sendiri El..." jelas Julian terus mengegam erat tangan yang selalu Ia rindukan kehadiranya itu dan Ia tempelkan di dadanya.
"El kamu pernah mikir gak suatu saat nanti kita nikah..." ucapan Julian membuat Eliza terkejut namun Dia hanya tersenyun diiringi buliran putih itu menetes.
"Kok kamu malah nangis...??" tanya Julian dengan nada khawatir.
"Apa mungkin sih Jul kita jodoh aku bukan wanita sempurna tapi kamu sangat sempurna bagiku Jul aku bukan wanita kuat kebayakan..." jelasnya lagi justru semakin terbawa perasaan.
"Kita berdoa saja kita berjodoh kelak karena didekat kamu aku terlanjur nyaman El..." jelas Julian dengan tatapan rasa sayang yang sudah tak diragukan lagi.
Sedang Eliza hanya tersenyum mendengar ucapan Julian yang membuatnya semakin bahagia ketika di dekatnya.
"Aku janji El jika nanti aku sukses aku pasti akan nikahin kamu..." jelas Julian lagi dengan terus mengegam erat tangan itu Dia berusaha menatap wajah Eliza dengan tatapan mendalam.
"Emang bisa aku pegang janji kamu...??" tanya Eliza sedikit tak percaya walau yang dalam hatinya itu menjadi kenyataan kelak.
"Bisa kalau perlu sekarang kamu aku kenalin sama mama aku..." ucap Julian seperti orang mau melamar kekasihnya
"Serius...?" Eliza terus mencoba mengoda Julian.
__ADS_1
"Iya"
"Gak perlu Jul aku tau diri aku pasti bukan kriteria keluarga kamu..." ucap Eliza merasa inscure dengan dirinya.
"Suthhh" Julian membukam bibir itu dengan jarinya.
"Biar waktu yang akan buktiin...." ucap Julian finis.
Walaupun dalam hati Eliza sedang memikirkan betapa sakit hatinya jika Julian tau bahwa mamanya tidak suka dengan Dia.
Mereka berdua saling terdiam menikmati waktu bersama yang terkadang tak terasa sebahagia ini.
"Kamu mau minum apa sayang...?" ucap Julian memecahkan keheningan.
"Aku mau ice cream aja kayaknya..." jawab Eliza dengan jari memegang lehernya tanda Dia saat ini sedang haus.
"Oke"
Julian mulai berjalan ke kedai toko yang berada diseberang jalan dia mulai membelikan ice cream untuk Eliza Dia pilihkan sebungkus ice cream rasa coklat bertuliskan corneto itu.
"Nih..." ucapnya sembari menyodorkan satu bungkus ice cream berukuran jumbo itu namun hanya satu dan membuat Eliza keheranan.
"Kok cuma satu...?" ucap Eliza dengan terheran.
"Iya buat berdua aja biar romantis" Eliza hanya tersenyum malu mendengar ucapan Julian.
Julian mulai membukakan bungkus itu dan menyuapi Eliza
"Manis kan...?" tanya Julian ikut menikmati dinginya ice cream itu.
"Iya Jul..."
Mereka berdua sedang menikmati manisnya ice cream itu yang kini tinggal sebagian itu.
Julian mulai menggigit tanpa ampun sedang Eliza hanya menertawai tingkah konyol kekasihnya itu
"Di bibir kamu ada bekasnya deh"
Cup... Julian terlalu bersemangat hingga dia tak ingin melepaskan ciuman itu.
__ADS_1