
"Julian.....!!!!!!!!" suara bising bagai terompet yang keras itu mengusik alam mimpiku.
"Sial..." ucapku dengan mata yang belum semuanya terbuka.
Segera aku bangun dan aku menghampiri papaku yang seenaknya membangunkanku mirip maling buronan.
Cklekk suara pintu terbuka.
"Telingaku masih berfungsi pa gak perlu papa bangunin aku kaya maling...!!" ucapku dengan nada tinggi dan sedikit membentak ka arah papaku yang berdiri di depan kamarku.
"Julian jaga ucapanmu ya inii apaan hah papa sudah ke dua kalinya nerima surat itu kamu bikin rusuh apa dan kenapa kamu sampai bolos sekolah....!!" ucap ayahku dengan emosi yang meledak sembari melempar amplop berwarna coklat itu ke arah wajahku.
"Hem..." aku berdeham dengan sedikit mengangkat alisku.
"Jaga sikap kamu depan papa jangan jadi anak durhaka..."
"Papa mending nasehati diri papa sendiri........'' aku berusaha menutup pintu namun tangan papaku lebih dulu menahan.
"Tunggu apa-apaan kamu cepat kamu mandi, sekolah yang bener mau jadi apa kamu nanti..!!" ucap papaku dengan ketus ke arahku.
"Mending aku gak punya otak, dari pada aku punya otak tapi kelakuanku kaya papa,,," ucapku berusaha mematikan ucapan papa memang aku berkesan anak brandalan namun kelakuan papaku lebih menyakitkan ketimabang ucapanku.
Plak tamparan itu kembali mendarat di pipi mulusku.
''Dengerin ya Jul kalo kamu sampai ngomong gak ada sopan santunya sama orangtua, dengan terpaksa papa akan kirim kamu ke luar negeri...!!!" ucap papaku finis dengan tatapan membunuh.
"Gak perlu keluar negeri aku akan ikut mama ke bandung gampang kan" jawabku membatah ucapan papa dan aku berusaha memainkan emosi papa yang mulai meledak itu.
"Dasar anak keras kepala kalo kamu bisa ganti uang papa di kartu ATM papa yang kamu hilangin dengan bebas kamu boleh ikut mama kamu.." ucap ayahku dengan ketus sembari menyeringai puas.
"Oke aku gak akan lanjutin sekolah..!!" jawabku balik mengancam.
"Anak tak tau di untung kamu sekarang berani ya lawan papa kamu...!!" wajah papaku berubah menjadi garang mukin rasa kesalnya kini sudah di ubun-ubun.
"Papa gak perlu basa-basi papa jelasin kenapa papa cerain mama, gampang kan" jelasku ke arah papa mengebu-ngebu.
"Itu bukan urusan kamu anak kecil"
Aku kembali masuk ke kamar tanpa aku pedulikan papaku lagi.
''Hari ini papa pulang malam dan nanti pembatu baru akan masuk kerja hari ini" ucap ayahku dari luar kamar yang tak sudi aku dengarkan telingaku sudah terlanjur memutup jika suara ayahku menepi.
Aku mulai merobek kertas sampah itu rasa malasku ke sekolah semakin menjadi jadi aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang dan kembali melanjutkan tidur.
.....
Waktu istirahat di sekolah.
"El..." ucap Vey dengan tatapan mendalam sembari menyetuh tangan aku.
"Iya ada apa vey...?" tanyaku sembari menghabiskan bakso yang tinggal beberapa gelinding di makuk bergambar ayam jago itu.
"Lo gak heran apa sama Julian kok sekarang dia aneh banget hampir seminggu lebih lo dia gak masuk" ucap Vey lagi panjang lebar dengan guratan wajah serius.
"Ya gitu deh Vey Ren waktu itu aku mergoki dia bolos sekolah" jawabku apaadanya.
"Upps mukin dia lagi ada masalah kali El soalnya denger-denger kepala sekolah ngirim surat lho ke orang tuanya ya siapa tau surat panggilan" tambah Rena dengan sifat sok taunya.
"Ah tau ah aku juga pusing" jawabku pasrah sembari menghabiskan bakso.
"Kok tumben lo santai aja mana sifat peduli lo yang dulu..."
__ADS_1
"Sory nih gue mau ke toilet bentar..." ucapku mencari alasan aku segera berdiri dan beranjak pergi.
"Ya elah El lo cari aman aja ya gak Vey..."
"Tau tu..."
Aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan teman-temanku walau sejujurnya hatiku saat ini sedang dirundung gelisah.
Banyak berita miring yang keluar dari mulut para sisswa di sekolah ini mengenai Julian.
Aku sekarang sedang membasuh wajahku dengan air di wastafel agar setidaknya pikiranku sedikit jernih.
"Jul kamu kenapa sebenarnya...?" ucapku bertanya-tanya dalam kebimbanganku.
.....
Sore ini aku berencana ke supermarket bersama kak Dio untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari yang sudah kosong.
Hampir sejam lamanya aku memilih beberapa barang dan tentu camilan yang selalu aku utamakan.
"Kak, kakak pulang dulu ya soalnya ada teman aku yamg mau ngobrol sebentar di taman dekat lampu merah situ" ucapku ke kak Dio yang sibuk merapikan plastik belanjaan.
"Oh serius kakak pulang dulu" dengan mudahnya kak Dio aku bohongi.
"Iya gak papa kak" jawabku dengan senyum tipis dengan dua jari aku acungkan tanda pics
"Oke kalau gitu kamu hati-hati ya...." ucap kakaku sembari mengelus-elus punggungku.
"Iya kak"
Aku mulai berjalan mengendap-endap tatapan mataku tetap aku arahkan ke arah orang bertopi itu aku sangat yakin itu Julian.
Aku menangis dalam hati ternyata dia membeli rokok.
Hatiku benar-benar sakit rasanya melihat Julian yang sekarang dia bukan Julian dulu yang aku kenal.
Aku mencoba tenang aku berusaha mengikuti dia lagi dan dia berjalan menuju kursi kosong di taman itu.
Dengan tekat yang keras aku menghampiri dia namun terhalang oleh seseorang yamg masih berseragam lengkap memukul kepala Julian dan Julian menyerahkan uang seratus ribuan.
Aku semakin penasaran sekarang dengan Julian dia sejarang benar-benar misterus dari pabdangan mataku.
Aku masih berdiri di balik pohon besar di tepi jalan ini aku terus memperhatikan dia dari kejahuan dia memgeluarkan botol aqua namun terlihat aneh dari isinya karena yang kutahu air mineral asli berwarna bening,
Dengan rasa penasaran yang semakin kuat aku memutuskan untuk menemui dia.
Perlahan langkahku terasa berat namun lambat laun terasa ringan.
''Julian lo mabuk....???" dengan lugas aku menanyainya.
Dia menoleh namun setelah itu dia membuang muka ke arah lain
"Kalo iya kenapa...??" jawabnya datar dan dengan tatapan mata kosong.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan tak berapap lama dia terjatuh dari kursi
"Jul bangun.." ucaoku berusaha mengoyangkan bahunya.
Bau alkohol ini terus menyengat ke indra peciumanku.
"Jul...." Aku meraih tanganya dengan lembut.
__ADS_1
"Lo kenapa...??" tanyaku lagi berusaha menatap wajahnya dalam-dalam.
"Gue gak butuh lo" ucapnya dengan perlahan dan mata setengah terbuka
"Jul sadar ini aku Eliza"
"Udah gue bilangin gue gak butuh lo....!!" jawabnya dengan keras dan mata hampir terbuka lebar.
Dan bibir yang semula seperti buah cerry itu kini berwarna redup, gelap seperti warna langit saat ini.
Aku memandanginya penuh iba.
Gerimis mulai muncul namun langkahlu tak ragu aku akan tetap menemaninya.
"Jul aku mohon kamu sadar" ucapku lagi berusaha menyentuh wajah miliknya.
"Aaawww"
Dia seperti sedang mengigau
"Cup"
Aku mencium lembut bibir miliknya walau terasa menyedihkan air mataku jatuh tanpa aku suruh dan terjatuh ke arah wajahnya.
"Dasar wanita gila apa lo cium bibir gue" ucapnya dia dengan emosi dan mengusap bekas ciumanku utu dengan kasar.
"Aku mohon Jul kamu sadar" tambahku lagi.
"Lo Eliza kan aku mau kita putus" dan dengan dua kalinya dia berucap seperti itu memutuskanku sepihak.
"Jul aku tau kamu lagi di fase yang kaya sekarang tapi lo harus ingat lo gak sendiri ada aku" jelasku ke dia agar setidaknya dia mengerti kalo aku akan selalu ada buat dia.
"Tau apa lo tentang hidup aku" jawabnya dengan nada meremehkan rasa peduliku.
Tak berapa lama hujan mulai turun semakin deras menguyur badanku yang tanpa tau malu.
Aku bersimpuh di kaki lelaki yang sangat aku sayangi itu
"Aku mohon Jul lo seperti biasa lo berubah aku janji aku gak akan kaya dulu lagi" ucapku terus memohon.
"Mending lo pulang aku lagi pengen sendiri....!!!" jawabnya tanpa mau melihat ke arah wajahku.
"Gue gak akan pulang sebelum lo mau berubah lo cerita lo kenapa aku ini kamu anggap apa Jul...?" tambahku lagi menolak ucapanya dan berusaha menatapnya namun nihil mukin saat ini aku memang sudah Dia buang jauh-jauh dari hatinya.
"Terserah..."
"Jul aku mohon.."
Dia menyikirkan tanganku dengan kasar dan dia berjalan pergi
Hari semakin gelap aku menangis tersedu- sedu di pingir jalanan aku sedih melihat Julian yang sekarang, hujan semakin deras hujan seperti menghukumku sekarang jatuh ke badanku tanpa ampun.
Dan julian pergi begitu saja aku hanya mendapatinya sia-sia belaka.
Aku terus berlari mengejar dia yang sudah semakin jauh aku rindu kamu Jul .
Hingga lakah kaki ini rerasa lelah sendiri aku berhenti
"Lo ngapin hujan-hujan disini....?" ucap seseorang dari belakang badanku.
Next
__ADS_1