Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 155


__ADS_3

Langit tampak cerah secerah hati Eliza pagi ini, sinar matahari itu tampak menang berdiri kokoh di atas sang cakrawala sinarnya mampu menyoroti setiap sudut kota, awan putih bergelombang itu tampak sedang tersenyum kepada semesta bahwa dia sedang bahagia.


Walau masih pukul delapan pagi namun terasa hampir siang hari rasanya sinar matahari itu mampu merasuk kedalam kulit rupanya dengan sinar panasnya.


Eliza saat ini sedang di stasiun kereta Gambir menunggu kedatangan kekasihnya datang Dia begitu gerogi walau hanya di tinggal satu minggu tapi rasanya tampak membuatnya begitu canggung, Dia berdiri di dekat gerbang pintu keluar menanti lelaki bernama Julian Dokta itu muncul, setiap kereta berhenti harapannya tinggi akan kedatanganya pada lelaki itu tak luput terkadang matanya salah jua. Sedari subuh Dia sudah tak sabar akan bertemu lelaki kesayanganya itu Dia memang saat ini sedang menjadi budak cinta rela melakukan apa saja demi cinta semata.


Dia terus menunggu dan pandangan matanya tak teralihkan dari kereta yang tengah berhenti itu dan doanya selalu sama.


Dia sedang memainkan layar ponsel miliknya di kursi tunggu itu, hingga pada akhirnya kedua bola matanya terasa gelap dan terasa tertutup oleh telapak tangan kokoh dari seseorang.


Dari baunya Eliza bisa merasakan ada kehadiran Dia di belakanganya saat ini, Eliza bagai sedang menanti buah manis dari kesabaranya.


Wajahnya seketika memanas dan Dia menyentuh telapak tangan itu dengan lembut agar Dia bisa melihat bahwa dugaanya benar.


"Julian kan" ucapnya dengan nada terkejut wanita mana yang tak terkejut ketika kekasihnya datang memberikan momen seromantis ini.


Dia menoleh dan benar saja ada Julian yang sudah berdiri kokoh di belakanganya sontak Eliza langsung memeluk lelaki itu tanpa aba-aba karena rindu kandang tak tau malu.


Julian hanya tersenyum bahagia melihat kekasihnya menyambutnya dengan pelukan sehangat ini bahkan bara api rasanya kalah menghangatkannya.


Pelukan itu terjadi begitu haru memang terkadang jarak menjadi penguat bagi sebuah hubungan jika dilalu saling percaya dan setia serta tak ada rahasia.


"Nunggu lama ya..." ucap Julian yang masih di posisi sama, rupanya Eliza engan melepas pelukan yang terasa bagai candu itu aroma tubuh Julian perlahan merasuk kedalam indra pencium dan membuat Eliza terlena.


Eliza hanya menjawab dengan anggukan sembari meneteskan air mata bahagianya ya walau hanya semingu baginya seperti sebulan.


"Katanya udah gak cengeng kok nangis lagi sih...?" ledek Julian dengan melongarkan pelukan dan berjongkok di depan Eliza dengan lembut menyeka gelombang putih yang hampir menetes itu yang terlihat begitu so sweet


"ya habis nunguin kamu lama jadi berair deh mata aku karena kelamaan" jawab Eliza dengan nada malu namun terdengar begitu bermakna bagi Julian.


"Hahaha bisa aja anak manja" ucap Julian dengan berdiri dan meraih tangan Eliza untuk di gegamnya.


"Kamu kok bikin aku terkejut aja sih datang tanpa aku tau sebelumnya kan aku nunggu disini sayang" ucap Eliza yang terdengar cerewet itu karena pada dasarnya wanita itu cenderung cerewet dan rempong.


"Kan biar jadi kejutan buat kamu" jawab Julian dengan menaikan alis matanya.


Mereka mulai berjalan mengelilingi luar stasiun dan mencari tempat untuk berbincang-bincamg yang lebih nyaman tentunya.


Mereka mulai bergandengan tangan sembari berjalan bersama.


"Kamu sekarang tambah kurusan deh..." ucap Julian pada Eliza Dia bukan memuji melainkan khawatir.


"Masak sih Jul yang ada kamu tu buktinya mata kamu sekarang sedikt menghitam emang banyak tugas ya..?" jawab Eliza yang justru balik meledek kekasihanya  yang terlihat memang kurusan itu.


"Iya aku belajar sayang biar bisa meraih mimpi kita tentunya...." ucap Julian sembari mengusap kasar rambut Eliza dengan tangan kanannya.


Mereka mulai menepi menanti kendaran angkot yang tak biasa buat Eliza yang tampak di dekatnya terlihat banyak penumpang yang sedang menanti kendaraan warna merah itu datang.


"Jul kita kok berhenti disini sih...?" tanya Eliza yang merasa tak biasanya berada di tempat ini.


"Kita naik angkot kamu mau kan...?" jawab Julian sembari menawarkan menaiki angkutan kepada Eliza dengan wajah ceria.


Memang Julian mulai belajar berhemat saat ini namun wajah Eliza tampak murung melihat itu Julian hanya tersenyum sembari memaklumi sifat kekasihnya.


"Tapi Jul kan panas naik taksi aja ya" tak disangka Eliza menolak tawaran Julian dengan raut wajah cemberut karena memang tak biasanya.


"Gak papa, udah kamu coba aja liat nanti turun di suatu tempat oke...." jawab Julian meyakinkan Eliza dengan tersenyum manis

__ADS_1


Julian mulai menyetop angkot bertulis 03 itu dan akan membawakanya ke sebuah Cafe yang terbilang baru itu, ya dengan budget pas-pasan Dia mencoba untuk berhemat.


Eliza di bantu Julian naik terlihat wajah Eliza tampak masam namun ketika mulai memasukan kakinya ke dalam angkutan bau bising serta bau kendaran ini membuat perut Eliza sediki bergejolak hingga ingin rasanya memuntahkan semua yang berada didalam perutnya


Jalanan terlihat tampak macet dan tempat duduk itu terasa semakin sempit karena penumpang semakin penuh dan berdesak-desakan hingga pada akhirnya Eliza duduk di pangkuan Julian.


"Kita turun aja..." ucap Eliza yang terlihat mulai tak nyaman itu.


"Udah sebentar lagi sampai" jawab Julian dengan nada santai.


Setelah melalui perjalan dua puluh menit akhirmya mereka samapi di tempat yang di tuju sebuah cafe yang outdor dengan dilengkapi suasana asri ya tempat ini adalah recomendasi dari sahabatnya yang terbilang cocok untuk di singgahi.


"Kiri bang" ucap Julian menghentikan angkot yang di tumpanginya itu.


Eliza tampak malu baru sekali ini Dia naik angkot semenjak remaja.


'Bisa turun..." ucap Julian berusaha membantu Eliza turun.


"Bisa kok " jawab Eliza mulai melangkahkan kakinya keluar.


Setelah mereka turun Julian menyerahkan dua lembar uang berwarna ungu itu.


Perutnya terasa semakin mual hingga pada akhirnya Eliza mengeluarkan semua isi dalam perutnya dengan perhatian Julian muali memijat tengkuk milik Eliza


"Kamu kenapa...?" tanya Julian begitu khawatir semvari memijat tengkuk ilik Eliza.


"Bau banget angkotnya" jawab Eliza degan terus menahan gejolak di perutnya


"Yaudah maaf ya laian kali gak lagi deh" ucap Julian dengan bada penuh penyesalan.


Julian merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang memaksa Eliza untuk mengikti apa maunya ya walau niat Julian baik.


"Udah duduk dulu..." ucap Julian yang begitu peduli dengan kondisi Eliza semvari nenyeka keringat di pelipis Eliza


"Panas Jul" ucap Eliza dengan kembali menahan gejolak di perutnya serta menahan hawa panas di sekitar jalanan yang membuat perutnya semakin tak nyaman.


"Sini biar aku kipasin" Julian mengambil kipas dari tangan Eliza dan di kibas-kibaskan ke adah wajah Eliza.


Merasa agak mendingan Eliza mulai menunjukan senyum khasnya dan membuat Julian mengangkat kedua alis matanya.


"Kenapa...?" tanya Julian dengan raut wajah penuh tanya.


"Jul kenapa gak naik taksi aja atau busway sih..?" tanya Eliza dengan nada kecewa.


"Nanti aku jelasin mending kita masuk dulu yuk" jawab Julian dengan meraih tangan lembut milik Eliza dan mereka mulai masuk ke dalam Cafe bergaya moderen ini dengan tatanan tubuhan yang menambah kesan begitu asri.


Ya walau ini hanya cafe biasa tampaknya Eliza sedikit terkejut dengan sifat baru Julian yang bukan Julian dulu yang Dia kenal.


"Oke duduk biar aku yang pesen ya" ucap Julian sembari menarik kursi yang akan di duduki Eliza setelahnya Dia berjalan ke meja kasir dan mulai memesan menu karena sistem disini pilih sekalian membayar.


Bisa di bilang tempatnya tampak bagus hanya saja tak seprti biasanya Julian mengajak Eliza ke Cafe berkelas  menengah seperti ini karena biasanya Julian mengajaknya ke tempat nongkrong yang terbilang sedikit lebih mahalan.


Julian mulai duduk mendapati kekasihnya tampak murung itu ya pertemuanya kali ini memang Julian sadari agak mengejutkan Eliza karena Eliza terbiasa selalu di manja olehnya.


"Kamu kenapa sayang...?" tanya Julian mulai menarik kursi berbahan kayu itu hingfa menimbulkan bunyi krek


"Gak gak papa Kok" jawab Eliza dengan senyum sedikit di paksakan.

__ADS_1


"Jujur kenapa cerita...?" ucap Julian lagi dengan raut wajah khawatir karena Dia takut Eliza kenapa-napa dengan kejadian tadi.


Julian sengaja memilih temat duduk yang letaknya paling ujung dan bisa mengarah langsung ke danau buatan yang manampakan susana teduh itu.


Julian mulai mengahmpiri Eliza dan duduk di debelahnya dengan kursi Dia pindah ke dekat kursi yang di tempati Eliza.


"Kamu kurang suka kesini kamu marah ya...?" tanya Julian dengan raut wajah kecewanya.


"Atau karena kita naik angkot...?" tambah Julian lagi menanyai setiap titik kesalahnya.


Julian sadar Eliza tampak bisa di tebak bahwa Dia sedang merajuk.


Eliza hanya mengelengkan kepala dan membuat tanda tanya di benak Julian.


"Cup" dengan manis Julian mulai mengecup kening Eliza dengan lembut sembari dengan perlahan-lahan menyetuh jemari milik Eliza dengan lembut


Tak berapa lama makanan yang di pesan Julian datang.


"Sayang kok pesen makanan berat sih kan baru jam segini" ucap Eliza yang terlihat heran dengan makanan yang di pesan Julian termasuk makan berat.


"Udah gak papa aku tau pasti kamu belum sarapan kan....?" jawab Julian sembari menaruh sepiring nasi goreng itu di dekat Eliza.


Eliza tampak sadar apa yang dilakukan Julian mungkin memberikanya sedikit pembelajaran bahwa terkadang hidup tak seharusnya selalu mewah.


Eliza tampak lebih ceria ketika Julian dengan sabar mengodai waniatnya itu dengan terus menertawai sifat kekanak-kanakannya itu.


"Jul udah aku sedikit aja makanya buat kamu aja" ucap Eliza menolak suapan ke sekian kalinya yang di arahkan ke mulutnya.


"Satu lagi nanti udah ayo ..." ucap Julian lagi dengan meyuaokan satu sendok berusi nasi goreng itu.


Hampir pukul dua belas siang Julian kembali mengajak Eliza berkeliling kota dengan menaiki busway ya nampaknya gadis itu terlihat kelelahan dengan berganti-ganti kendaran.


Julian dengan sabar memasang dadanya untuk sadaran Eliza yang terlihat mulai menguap itu.


"Nagntuk ya" tanya Julian dengan menatap dalam ke arah mata Eliza


"Gak kok" jawab Eliza tentu berbohong namun dengan perlahan matanya mulai menutup dan dengan lembut Julian menempelkan kepala Eliza dengan lembut disadaran dadanya.


Mereka mulai turun dan melanjutkan berjalan ke spot wisata kota tua mereka hanya masuk dan mengambil beberapa foto untuk mereka jadikan kenang-kenangan yang terlihat saat ini begitu ramai oleh pengunjung baik dari luar maupun dalam kota karena tempatnya begitu instragamebel.


Eliza tampak lebih baikan di banding sebelumnya dengan tangan kanan membawa Es krim yang baru di beliakn oleh Julian.


Ya lagi-lagi Julian tertawa di buatnya oleh tingkah kekasihnya itu yang mirip anak kecil pada umumnya selalu bahagia hanya karena makan es krim.


"Kamu mau gak...?" tanya Eliza denagn bibir penuh coklat yang meleh itu.


"Hati-hati dong nanti lumer ke baju, kamu ini udah besar juga..." jawab Julian yang merasa gemas dengan tingkah laku Eliza, namun yang di ceramahi hanya senyum-senyum tanpa tau dosa.


Hari hampir sore Julian dan Eliza memutuskan ke ancol ya tampaknya kenangan manis iti akan mereka lukis disana.


Mereka mulai duduk di dekat pantai beralaskan butiran pasir yang tampak ramai oleh pengunjung ini, Eliza mulai mendudukan kepalanya di bahu milik Julian dan dengan mudah Julian menerima sadaran itu dengan manis.


Dua sejoli itu mulai merasakan beratnya sebuah hubungan yang di jalani berjauhan namun tak kali semesta itu adil.


"Jul makasih ya buat waktu hari ini plis ini indah banget bisa lihat sunset sama kamu bisa kamu lihat awan pun iri sama kita" ucap Eliza denagn kata-kata yang membuat Julian tersenyum haru.


"Iya apapun yang bikin kamu bahagia aku akan lakukan dan itu akan buat aku bahagia juga" jawab Julian yang membuat senyuman Eliza semakin mengembang.

__ADS_1


Mereka saling tertawa bersama seakan-akan waktu menjadi musuh mereka saat ini yang engan berhenti walau hanya sesaat agar setidaknya kenangan manis itu semakin bertambah manis dan meraka bisa sedikit lebih lama merasakn momen kebersamaan seromantis ini.


Alam pun tau kedua sejoli itu sedang mengukir cerita baru.


__ADS_2