
"El...??" ucapku lagi berusaha membuatnya lebih leluasa berbincang dengan aku.
"Iya ada apa ....?" tanyanya dengan mengarahkan wajah ke arahku.
Boba yang aku berikan serasa diabaikan olehnya.
"Gak suka..." tanyaku dengan perasan kecewa.
"Suka kok kak nunggu dinginya ilang dulu soalnya suka ngilu" jawaban Eliza hanya bualan bagiku.
"Aku kira kamu gak suka" ucapku dengan frustasi menghadapi sikapnya yang acuh.
"Entar habis acara kelulusan mau gak jalan sama aku " ucapku berusaha mencari cara agar obrolan ini tak terasa hambar.
"Maaf kak kayaknay gak bisa..." jawaban Eliza membuatku paham bahwa aku ternyata tak di beri ruang di hatinya.
"Karena Julian...??" tanyaku dengan ketus aku berusaha menahan emosiku jika itu ada kata Julian.
"Bukan kak..." Dia berusaha menyembunyikan jawaban yang sesunguhnya itu.
"Emang apa sih hebatnya Julian di banding aku...??" tanyaku dengan amosi yang serasa diaduk-aduk.
"Aku gak bisa jawab..." jawaban Eliza seperti jalan buntu bagiku.
"Oh..." kemudian aku hanya tertawa sinis ternyata Julian emang benar-benar hebat merebut hati wanita yang saat ini membuat ku gila.
"Oh oke aku mau balik" aku segera beranjak aku tak mau kelihatan marah serta kecewa depan Eliza.
"Kamu marah kak...??" jawaban Eliza tepat sasaran namun aku berusaha menunjukan senyum palsuku.
"Engak aku ngerasa kayaknya aku gangu kamu aja..." jawabku dengan bola mata aku arahkan ke atas.
"Gak kok kak..."
"Buktiin aja lain kali kalau kita ketemu apa yang kamu persembahakan ke aku bakal sama kaya gini apa gak itu nanti akan jadi buktinya..." ucapku dengan raut wajah yang tak biasa.
Eliza terdiam dia memandang lelaki yang sangat berharap akan cintanya itu dengan tatapan sendu
__ADS_1
"Aku minta maaf kak"
"Gak cukup, aku mau balik aja itu cukup buat myembuhin hati aku"
Eliza kembali diam mematung di tempatnya dengan cepat Rehan pergi dari rumah Eliza.
Dia mulai melajukan motornya dengan kencang, sekencang badai malam perasaan sakit hatinya seakan-akan memompa hatinya untuk terus mengeluarkan amarah ini yamg tak jua mereda.
Saat sampai rumah aku membuka pintu dengan kasar aku membiarkan mamaku mengomentariku dengan apa yang dia lihay aku tak peduli sekarang karema saat ini aku benar-benar sedng marah.
"Kok pulang marah-marah sih ada apa nak...?" tanya mamaku dengan nada halus.
"Gak papa ma jangan ke kamar aku aku lagi pengen sendiri.." ucapku cukup singkat dan jelas karena aku tak ingin terus memperkeruh suasana hati aku.
Rehan menutup pintu dengan kasar, sedang Ayunda hanya diam dia harus mengerti perasaan putranya sekarang bahwa dia sedang ingin sendiri.
Rehan langsung membuang tas itu kelantai dia membuka kaos yang melekat pada tubuhnya dan menganti dengan kaos yang baru dengan kasar dia tak peduli dunia yang hanya mempermainakan hatinya saat ini.
Dia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke ranjang tempat tidurnya
Hatinya kini lelah bidadari di hatinya sedang tak membuatnya bahagia justru membuat hatinya terluka dia tak menyangka senyuman yang dulu dia tunjukan hanya senyum palsu.
Dia tau penyebab Eliza menolak terus menerus hanya karena Julian seorang Rehan mulai membuka ponselnya dia kembali terdiam dan pikiranya kembali bekerja Dia sedang memikirkan akankah lelaki yang sedang dekat dengan mamanya adalah ayah dari Julian.
Dia terus berharap itu hanya pikiran kosongnya saja karena memang tak masuk akan jika itu benar terjadi.
Hampir dua jam dia merenung di kamar memikirkan hal buruk jika itu memang kebenaran dalam kenyataan ini.
Namun perlahan-lahan dia membuang pikiran itu karena Dia tak ingin membuat pikiranya semakin tak karuan.
"Masih kesel...??" tanya Ayunda ketika mengetahui anaknya mauli keluar dari kamar.
"Gak ma" Rehan berusaha mengerti bahwa mamanya hanya ingin menunjukan rasa peduli tiada lain.
"Sekarng kamu mulai dewasa Han..." jawab Ayunda dengan senyum yang mengembang.
"Aku mau tanya lelaki yang pernah kesini itu apa bener deket sama mama...??" tanya Rehan dengan alis dinaikan.
__ADS_1
"Han mama gak akan bahas kalo itu nyakitin kamu..." suara Ayunda seperti angin penyejuk bagi Rehan karena begitu detailanya dia menjaga hati anaknya itu.
"Jujur ma aku malu kalau sampai temen aku tau mama nikah sama lelaki hidung belang itu..." ucap Rehan dengan terpaksa mengeluarkan ucapan semenyakitkan itu karena Dia tak ingin mamanya di cap sebagai pelakor.
Ayunda hanya Diam sembari merenung, seakan-akan hatinya sedang di runtuhi tumpukan ribuan batu.
"Han maafin mama kalau bikin kamu malu.." ucap Ayunda berlalu pergi baru kali ini anaknya berbicara semenyakitkan itu hingga jini pelupuh di matanya itu jatuh tanpa suara.
...
"Mama aku ikut seneng lho ternyata gak sia-sia oma modalin mama untuk buka usaha bakat mama ternyata benar-benar perfect" ucap Reva yabg terlihat bwgitu bahagia dengan prestasi mamanya kali ini karena begitu kuar biasa seakan-akan Reva tak menyangka.
"Apaan sih Rev mama biasa aja ah..." wanita bernama Amelia hanya menujukan senyum tipis Dia tak terlalu ingin berbanga diri rupanya.
"Tu buktinya banyak yang order ma..." ucap Reva lagi sembari merangkul tubuh mamaya dengan erat serasa gak ingin melepas.
"Iya Alhamdulilah itu artinya itu rezeki kamu dek" jelas mamanya dengan nada rendah hati dan selalu bersyukur.
"Kakak...??" tanya Reva lagi dengan mengoda mamanya karena Dia tak ingin kakanya di nomerduakan.
"Hahah iya mama kerja buat kalian berdua" jawab Amelia pada akhirnya karena Dia tak ingin membeda-bedakan salah satu dari kedua anaknya.
"Ma kadang aku kangen paPa..." 0ucap Reva dengan tatapan kosong Dia sedang membayangkan rasa bahagia di dekat papanya dulu.
"Iya nanti kapan-kapan kamu ke jakarta biar di jemput kakak kamu..." ucap wanita itu sembari mengelus-elis pundak putrinya.
"Tapi apa iya papa masih sayang sama Reva..??" ucapan Reva seperi lelucon bagi wanita itu.
"Sutth jangan ngomong gitu papa jelas masih sayang sama kamu dek" jelas wanita itu berusaha menasehati anaknya dengan ucapan yang lembut Dia berusaha tak ingin membagi celah untuk anaknya bertemu bapaknya.
"Ma kenapa sih mama tu baik banget..." ucapan Reva seperti setuhan malaikat bagi wanita itu karena begitu menyejukanya.
"Kamu kok bikin mama pengen ketawa sih Rev semua wanita itu baik sayang..." jawab mamanya berusaha menutupi kebahagiaan di hatinya.
"Tapi mama beda.." ucapnya lahi dengan bibkr bergetar.
"Apanya yang beda...??" tanya wanita itu dengan menutup buku keuanganya itu seraya berdiri.
__ADS_1
"Udah mama gak mau bahas kalau itu nanti bikin mama jadi sombong" ucap wanita itu dengan meredah diri.
Reva hanya tersenyum tipis mendapati mamanya beranjak dari tempat kerjanya ternyata hati mamanya hanya kakaknya yang mampu menggali.