
Kali ini aku kembali latihan basket, namun aku tidak bisa fokus seperti biasanya pikiranku terus teringiang-ngiang dengan Eliza.
Semenjak kejadian aku menapar Eliza kemarin aku menjadi merasa sangat bersalah aku selaku mencoba mengejarnya namun nihil aku gagal.
Saat itu aku benar-benar emosi dengan tanpa sadar tanganku menampar wajahnya.
"Roy gue balik dulu ya ada urusan besok deh gue lanjutin lo ambil alih aja posisi gue..." ucapku sambil menyeka keringat di dahiku.
Terlihat wajahku kini penuh dengan keringat yang membanjiri.
"Yee main kabur aja lo mau ngapain sih tumben lo gak cerita ke gue..." ucap Roy yang membuat kepalan tanganku menjadi gatal.
"Dasar bocah..." ucapku sambil melepas seragam olahraga dan memperlihatkan dada bidangku.
"Ati-ati lo ada jin lewat nyerobot lo...." ucapnya sambil cengar-cengir.
"Emang dasar lo kurang waras sih..." ledekku ke dia.
Sepulang sekolah aku berencana memberikan hadiah buat Eliza mukin cara ini bisa memulihkan hatinya yang terluka karena kesalahanku waktu itu.
Aku memarkirkan motor merahku di depan toko yang bertulis Istana kado terlihat penuh pengunjung itu karena terbilang toko kado paling ramai di kota ini.
Aku berjalan masuk melihat seisi toko justru aku dibikin dilema dengan banyak pilihan serta berbagai macam barang yang menarik buat menjadi hadiah kepada orang yang sepesial tentunya
Padangan mataku merujuk ke arah sweter berwarna hijau army itu aku berfikir mukin cocok untuknya karena kulitya yang putih sangat cocok bila memakai sweter pilihanku ini.
Aku tersenyum girang hatiku bergembira membayangkan Dia memakai sweter ini karena begitu cocok menurutku.
Aku mulai melihat dan memilah milih mukin lebih mirip aku seperti seorang suami bmembelikan kado buat istrinya.
Tak lupa aku membelikan sebuah jam tangan berwarna putih tulang yang terlihat cantik itu.
Setelah itu aku berjalan ke kasir dan menyerakan barangku untuk segera di bayar
Aku harus mengantri beberapa menit sekita asa enam pelanggan yang sudah mengantri.
"Udah kak ini aja...??" ucap penjaga kasir itu dengan ramah
"Iya itu aja" jawabku langsung tak berpikir lama.
"Totalnya enam ratus tujuh puluh dua ribu mas" ucapnya sambil memperlihatkan layar monitor berisi daftar harga barang belanjaanku.
"Oh iya" aku segera mengambil dompet ku dan mengambil uang seratusan ribu berjumpalah delapan.
"Oh iya sekalian di bungkusin aja ya"
"Iya mas mau nulis ucapan selamat... ??" tawarnya lagi.
"Ini udah aku tulis sendiri tolong di masukin sekalian aja...."
Baik
__ADS_1
Penjaga kasir itu mulai membukus dengan rapih dan segera menyerahkan kepadaku
"Terimakasih ya.."
"Iya sama-sama kak."
Setelah itu aku berencana langsung ke rumah Eliza aku ingin meminta maaf langsung aku was-was semoga rencanaku brrjalan lancar.
Aku mulai menghentikan motorku di depan rumah bertingkat dua bergaya minimalis itu.
"Permisi...." ucapku kepada lelaki paruh baya yang sedang menyiram bungga itu dengan memakai topi yang terlihat lusuh itu.
"Iya ada apa mas...." jawabnya sambil menoleh kearahku.
"Mau nanya Elizanya ada ya pak...?" tanyaku kepada lelaki tua itu sembari membuka kaca helm.
"Kurang tau mas soalnya saya juga baru saja sampai langsung mengurus tanaman" jawabnya justru membuat perasaanku menjadi tak enak.
"Oh gitu bapak kerja disini.....??" tanyaku lagi sembari turun dari motor dan memarkirkan motorku di halaman seraya berjalan menghampiri lelaki itu.
"Iya mas...." jawabnya sambil menghentikan memotong dedauanan itu.
"Maaf pak sebelumnya boleh minta pangilin Eliza gak pak soalnya kurang sopan kalau saya langsung masuk...." ucapku dengan soapan.
"Oh boleh sebentar ya..." ucap lelaki tua itu srraya masuk ke dalam rumah Eliza.
"Iya pak terimakasih sebelumnya...." ucapku dengan berharap Eliza mau keluar menemuiku.
"Maaf mas mbak Elizanya gak mau keluar 0katanya jangan nerima tamu kalo ada lelaki masuk bernama Julian..." ucapnya yang seperti mengekitiki badanku.
"Oh yaudah aku nunggu disini aja boleh kan pak...." ucapku kepada lelaki itu.
"Boleh nak duduk aja..." jawabnya sambil kembali melakukan pekerjaan yang berhenti tadi.
Aku duduk di kursi taman yang tertera disudut rumah Eliza dengan di kelilingi bunga serta tanamn buah.
Aku begitu iri dengan Eliza dia beruntung keluarganya masih utuh di tambah memiliki halaman rumah yang cukup luas menjadikan pikiranku sedikit lebih nyaman.
"Maaf pak namanya siapa ya...?" tanyaku antusian untuk mengetahui namanya.
"Saya pak Armo nak kalau, mas Julian ya..." tanyanya yang membuat wajahku mengeluarkan senyuman.
Setelah itu aku sedikit berbincang-bincang dengan lelaki bernama pak Armo ini.
Banyak kisah inspirasi yang aku dapat darinya.
"Mas sendiri kesini ada apa....?" tanyanya pak Armo mukin hanya sekedar bertanya
"Biasa mau ngembaliin buku pak...." jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal
"Hahaha naksir ya sama mbak El" ucap pak Armo yang membut aku justru ingin tertawa karena terlalu biasa gurauanku kali ini.
__ADS_1
"Bapak ini bisa aja"
"Bapak juga pernah muda nak...." ucap pak Armo menunjukan senyuman.
"Kalau boleh tau sifatnya gimana sih pak Eliza kalau di rumah" tanyaku penasaran.
"Ya begitu dia emang sekarang lebih jutek sifatnya nak sebelum-sebelumnya ramah banget akhir-akhir ini aja sifatnya agak labil" jawab pak Armo panjang lebar.
Mendengar penjelasan pak Armo aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan betapa lucunya wanita yang pernah membuatku gila itu.
"Oh gitu kalau keluarganya sendiri pak" aku tak memunguri aku terlihat terlalu kepo dengan keluarga Eliza ya hitung-hitung kepo untuk keluarga masa depan.
"Baik semua nak ramah terus tidak memandang rendah orang lain contohnya saya disini diberlakukan adil" ucap pak Armo sambil menyapu dedaunan yang berjatuhan akibat di potong tadi dengan sapu lidi.
"Oh gitu ya pak"
"Iya nak"
"Oh yaudah aku mau balik dulu ya pak terimakasih, ini nanti tolong dikasih ke Eliza ya pak" ucapku sambil menyerakan paperbag berisi barang pemberianku tadi.
"Iya mas baik....."
"Ini ada sedikit rezeki buat bapak..." ucapku sembelum nemakai helm dengan menyerahkan uang seratus ribuan kepada pak Armo.
''Gak usah nak terimakasih" pak Armo berupaya menolak pemberianku.
"Udah ambil aja gak boleh nolak rezeki ...." ucapku sambil menyerahakn uang itu ke tanganya.
"Kalau gitu terimakasih banyak ya nak..."
"Iya pak sama-sama" jawabku dengan tersenyum ke arah Pak Armo.
Ya begitulah percakapanku dengan pak Armo yang begitu membuatku menjadi k
Lebih baik bahwa kita tak boleh mengangap rendah orang lain sebab hidup hanyalah sebuah perjalanan dan titipan yang di berikan Tuhan untuk kita syukuri.
Semua ciptaan Tuhan memiliki derajat yang sama dimata Tuhan hanya saja manusia yang membuat berbeda.
Setelahnya aku kembali memakai helm dan menyalakan motorku aku memandang kembali rumah Eliza aku tersenyum semoga semesta merestui hubunganku denganya.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi kurang dari lima belas menit aku sampai rumah.
Tak biasanya jam segini papaku sudah pulang saat ini aku belum berdamai dengan keadaan bertemu papaku akupun tak sudi aku masuk rumah melalui pintu belakang.
"Oh mas Julian" ucap pembantuku sedikit berteriak mukin dia terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Suth diem mbk" ucapku sambil tersenyum ke arahnya agar dia tak semakin berteriak.
"Baik mas ..." jawab gadis muda itu dengan tertuduk
Setelah itu aku masuk ke rumah dan langsung menuju kamarku.
__ADS_1