Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 93


__ADS_3

Hampir jam 12 siang aku baru sampai rumah aku memguap sembari menutup pintu gerbang.


"Huft...'" aku melihat mobil ayah di rumah rasa malasku akan di rumah semakin menjadi-jadi.


Aku berjalan masuk dan membuka pintu


"Ceklekk"


"Kenapa semalem gak pulang....??" Tanya papaku yang sedang asik membaca koran di ruang tamu.


Aku hanya diam sembari melepas sepatuku serta membuka talinya dan meletakanya di rak sepatu.


Aku berdiri dan berjalan melewatinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku.


"Mau sampai kapan kamu anggap papa tak layknya mirip angin...??" papa mulai berdiri dan melipat koran tersebut.


Aku berhenti mengambil nafas secara perlahan, namun aku tetap tak menjawab


"Julian....!!!!" ucap papaku lebih keras.


"Aku akam berubah kalau papa kembalikan mama ke rumah" ucapku dengan membalikkan badan dengan suara ketus.


'Itu mustahil" hawab papaku dengan mengelakan kelala.


"Ya jadi kita imbang aku juga akan mustahil bakalan berubah seperti dulu " ucapku tanpa asa rasa bersalah.


''Anak kurang ajar " suara papaku terdengar mulai emosi denganku.


Aku tak mendengar ocehan papaku yang mirip suara radio rusak.


Aku langsung berjalan menaiki anak tangga dam masuk kamar.


"Jbreeek" aku membanting pintu dengan kasar.


Aku baringkan tubuhku di atas kasur perlahan aku memejamkan mata dan mulai tidur.


Entahlah aku tinggal di rumah ini serasa mirip tinggal di neraka bagiku


Aku memeluk guling bersarung gambar bola ini berharap aku bisa tidur dengan pulas.


Kurang lebih dua jam aku tertidur  pulas hingga azan asar mulai berkumandang.


Aku melihat pantuklan cahaya yang menembus kaca jendelaku terlihat cuaca di luar tampak panas.


Aku duduk merenung membayangkan kisah hidupku saat ini yang mirip layangan putus, seperti hidup tanpa pegangan serta tujuan.


Perlahan perutku mulai berbunyi "kriuk" segera aku menepis lamunanku aku langsung berjalan menuju dapur.


''Masak apa mbk...??" tanyaku keoada mbk Dita yang sedang mencuci piring terlihat banyak tumpukan piring kotor dihadapanya.


"Tadi bapak pesen sayur sop sama ayam ada tempe goreng juga, mas Julian mau apa mau saya bikinin yang lainkah...??" ucapnya Mbak Inah menawarkan masakan yang lain.


"Engak usah aku makan yang ada aja tolong bikinin jus ya mbk..." Mbak Inah segera menghentikan mencuci piring dan membuatkanku jus buah.


"Iya mas"

__ADS_1


"Gukanya dikit aja" tamabkhku ke mbk Inah mengingatkan kalau aku tak suka minuman terlalu manis.


"Bapak bikinin teh ya mbk..." ucap papaku yang datang menyusuklu di meja makan membaut selera makanku jadi hilang.


"Oh iya pak" jawab Mbk Inah yang sedang sibuk membuatkanku jus itu.


"Jul" ucap lelaki itu sembari mengeser kursi dan mulai duduk di hadapan anaknya.


"Heem" Julian menangapinya hanya dengan berdeham.


"Kamu kemarin lomba bola basket kok papa gak kamu kasih tau kan papa jadi malu anak temen papa ada yang ikut lomba juga kemarin katanya lihat kamu" ucap lelaki itu panjang lebar menunjukan ekpresi dia merasa tidak dianggap penting oleh anaknya.


"Penting...??" ucap Julian dengan mengehntikan acara menguyah makananya.


"Ini mas jus nya" pembantu itu dengan ramah membawa dua buah nampan yang di isi satu gelas pemuh berisi jus dan satu cangkir berisi teh manis pemandangan pertikaian ini sudah tak asing lagi baginya.


"Makasih ya mbk" ucap Julian yang terdengar masih bisa mengendalikan emosinya.


"Ya peting lah buat papa kan bisa papa libur kerja jadi bisa lihat pertandingan kamu, oh iya papa tetap bangga kok sama kamu walaupun kamu kalah"ucap lelaki itu sembari menegguk satu tegukan teh tang berada dalam cangkir keramik itu.


"Bukan urusan papa, peduliin aja tu pelakor papa" Julian serasa sudah cukup mendengarkan ucapan papanya dia cukup muak segera dia beranjak dari tempat duduknya belum sempat melangkahkan kaki papanya terlebuh dahulu beranjak berdiri.


"Mau kemana kamu makan aja biar papa yang keluar..."


Lelaki berkepala empat itu beranjak dari tempat duduknya dia memang harus menerima keyataan bahwa anaknya akan terus membencinya.


Memang terkadang cinta harus butuh banyak pengorbanan.


"Mbk Inah..." ucap Julian keoada pembantu itu.


"Mending kamu sekarang duduk sekalian makan, kamu belum makan kan...??" tidak seperti biasanya sikap yang selalu cuek itu kini berubah menjadi baik hati.


"Gak usah malu duduk gih" perintah Jukuan sembari mengambil nasi dan menuangkan sayur ke dalam mangkuknya.


"Maaf mas" Dia memang tau diri Dia merasa tak pantas duduk dengan majikanya itu.


"Hahaha" Julian tertawa melihat pembantu itu begitu lugu, baru kali ini mbk Inah melihat senyum menawan dari anak majikanya itu.


"Kamu asli Bandung bukan....??" tanya Julian lagi di berusaha mengintrogasi pembantu itu rupanya.


"Iya mas" jawabnya sembari duduk namun dengan perasaan gugup.


"Kapan-kapan kita ke bandung yuk aku mau jenguk mama aku" ajak Julian yang membuat pembantu itu keheranan dengan sifat majikanya yang begitu baik.


"Iya mas kalau dapet ijin dari bapak...." Dia menjawab dengan ketar-ketir.


"Gampang soal itu" ucap Julian bak malaikat.


Mbk Inah hanya diam sembari memandangi masakan buatanya yang tampak menggugah seleranya.


"Buruan makan kamu cicipi masakan kamu lumayan lho" Julian mulai mengambil potingan paha ayam itu dia tak memumgkiri masakan mbk Inah sungguh enak.


Pembantu itu hanya malu-malu dan terus menunduk jujur dia ingin makan tapi rasa malunya lebih tinggi sekarang.


"Mbk kenapa masih muda mau jadi pembantu gak sekolah aja" tanya Julian yang terlihat penasaran dengan kehidupan mbk Inah.

__ADS_1


"Adik saya banyak mas semua harus sekolah sedang bapak ibu saya sakit- sakitan" jelasnya dengan tegar.


"Oh gitu jadi kamu jadi tulang punggung keluarga kamu' Julian mulai memahami sekarang betapa beratnya kisah hidup orang lain di luar sana.


"Iya mas"


"Yang sabar ya semoga kelak kamu cepet dapet suami" ucpa Julian mendoakan yang terbaik buat pembantunya itu.


"Maaf mas saya harus jemurin baju dulu" Mbk Inah mulai teribgat bahwa pejerjaanya belum beres.


"Oh iya silahkan makasih ya udah nemenin makan..." ucap Julian yang membuat hati mbk Inah ikut tersenyum di buatnya.


Pembantu itu memang sangat malu dengan Julian hibgga saat menjemur baju pun hatinya berbunga-bunga.


"Aneh dasar mbk Inah emang wajahku serem banget apa ya...." ucap Julian menertawakan kelakuam pembantu mudanya itu.


Setelah selesai makan aku segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruang televisi ingin rasanya aku menonton suaran televisi hari ini.


Terdengar dari luar ada suara wanita yang terdengar familiar dengan telingaku sedang berbincang-bincang dengan papa.


"Oh kamu Putri ya anaknya pak jaya...??" ucap papaku yang membhat rasa penasaranku semakin menjadi.


"Iya om Maaf Julianya ada ya..." ternyata benar fealingku Dia Putri.


"Ada duduk dulu biar bapak panggil..."


''Gangu deh tu cewek" ucapku sambil mengusap kasar rambutku.


"Julian..." benar saja papaku memanggilku dari luar yang suara mirip toa masjid.


Aku mencoba berpura-pura tidur berharap Putri segera pergi namun papaku tetap membangunkanku.


"Jul bangun ada temen kamu" dengan wajah kesal tingkat dewa aku segera bangun dan berjalan menuju pintu depan.


"Jul..." ucap Putri dengan wajah sok manis namun lebih manis Eliza tentunya.


"Iya ada apa..." jawabku dengan datar sedatar dinding tembok mungkin.


"Besok kelas kita ada latihan pensi..." ucapnya sembari mengekuarkan selembar kertas.


"Oh kok baru tau ya aku..." ucapku berusaha cuek karena jelas aku tak tertarik dengan acara pensi.


"Iya ini Pak Imron ngasih taunya mendadak..." ucapnya sembari mengambil ponsel dari sakunya.


"Emang dalam acara apa sih...??" aku sedikit kasihan Dia sudah jauh-jauh datang ke rumahku tapi tidak aku tanggapi kedatanganya dengan baik jelas aku terkesan orang jahat bukan.


"Ini dalam merayakan hari kartini kan tinggal seminggu lagi" lanjutnya lagi sembari membuka lembaran kertas itu.


"Oh gak ikut deh kayaknya aku." ucapku yang memang membut Dia kecewa.


"Plis Jul ini aku lagi cari orang..." Dia memasang tampang kasihanya dan membuat aku tak tega jika menolak.


''Nanti deh aku pikir-pikir dulu..." ucapku berusaha menghargai ucapanya.


"Bentar ya aku ambilin minum dulu" ucapku berusaha mencairkan suasana ya agar dia segera pergi tentunya.

__ADS_1


__ADS_2