Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 113


__ADS_3

Rehan mulai tersadar dari komanya selama kurang lebih tiga hari, wanita bernama Ayunda itu dengan setia selalu menemani anaknya.


Dia duduk disamping Rehan dengan tangan selalu mengegam erat tangan sang anak Terlihat wajahnya pucat pasi dan mata seperti orang kurang tidur Dia selalu berdoa berharap semua segera membaik seperti semula.


"Ma..." ucap lelaki yang berbaring tak berdaya itu dengan lesu matanya menatap dengan perlahan,terlihat tubuhnya masih tertempel beberapa pasang alat medis.


"Rehan akhirnya kamu sadar sayang" ucap wanita bernama Ayunda itu dengan berdiri Ia sentuh wajah yang selalu Ia nantikan kesadaranya itu dengan lembut.


Tangisan wanita itu pecah seketika akhirnya waktu yang Ia tunggu-tunggu itu tiba juga Dia bersyukur begitu baiknya Tuhan padanya.


"Jangan bergerak sayang..." ucap wanita itu ketika mengetahui anaknya berusaha bangun Ia seka buliran bening agar tak jatuh.


"Ma perut aku kenapa berat banget rasanya...." ucapnya dengan nada merintih kesakitan.


"Kamu gak papa sayang itu cuma luka biasa saja" jawab wanita itu berbohong Ia takut bila Rehan mengetahui bahwa Dia habis di operasi akan membuatnya justru semakin syok.


"Terus kenapa aku ada disini kenapa aku gak bisa gerak seperti biasa" ucap Rehan dengan nada terus mengerutu.


Wanita itu hanya diam Dia paham anaknya saat ini masih belum bisa menerima keadaanya saat ini.


Hari semakin sore menjelang malam terdengar azan mahrib mulai berkumandang.


''Sayang mama sembahyang dulu ya" ucap wanita itu dengan halus seraya menyentuh rambut hitam milik anaknya.


"Iya tapi jangan lama-lama ya..." terlihat Rehan tak mau sendiri sekarang.


"Iya sayang.." jawab wanita itu dengan mencium lembut kening anaknya.


Perlahan Rehan mulai mengingat kembli kejadian waktu itu dengan Eliza dan Dea.


Dua teringat kembali kejadian saat Dea hampir menusuk Eliza dan dengan cepat Dia menyelamatkan wanita yang disayanginya itu.


Pikiranya mulai kembali dan Ia ingin bertemu Eliza sekarang.


"Eliza gak papakan ma...?" tanya Rehan kepada wanita yang baru memasuki kamar rawat itu setelah bersembahyang di muhsola.


"Eliza siapa sayang...?" wanita itu tak mengerti ucapan anaknya namun Dia berusaha mengerti Dia berusaha mendengar keluh kesah anaknya.


"Apa mungkin wanita yang mengantarkan kamu ke sini..." ucap Ayunda berusaha mengingat-ingat kembali sepasang kekasih yang mengantarkan anaknya ke rumah sakit.


"Emang yang nganterin aku kesini ciri-ciri wanitanya seperti apa ma..?" tanya Rehan dengan serius dia berfikir Pasti ada Julian di sela cerita mamanya itu


"Ya seinget mama sih dia cantik memakai bando biru waktu itu tapi dia sama anak lelaki sayang apa mungkin Dia namanya Eliza...??" ucap wanita itu lagi berusaha menceritakan anak gadis berseragam abu-abu waktu itu.


Rehan hanya menganguk tanda Dia mengerti maksud ucapan mamnya.


"Aku mau bangun ma.." Rehan kembali memaksa tubuhnya untuk bergerak justru rasa sakit itu kembali menyapanya.


"Sayang kamu harus sabar kita nunggu pulih dulu emang mau apa nak..?" ucap Ayunda dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku pengen minum ma..." ucap Rehan dengan memegangi tengorokanya yang terasa kering itu.


Ayunda mulai membantu anaknya meminum segelas air mineral ysng berada dalam botol itu Ia tempelkan sedotan itu pada bibir anaknya dengan lembut.


"Cukup ma..." ucap Rehan dengan mejauhkan sedotan itu dari bibirnya.


Ayunda mulai menyeka sisa minuman yang menetes dari bibir anaknya.


"Dea mana ma...??" tanya Rehan dengan raut wajah terlihat kesal


"Siapa lagi Dea sayang...??" wanita itu menghembuskan nafas Dia harus bersabar mulai sekarang menghadapi anaknya yang mirip anak kecil lagi.


"Aku mau mama bawa Eliza kesini..." ucapan Rehan justru membuat Ayunda semakin tak mengerti keinginan anaknya yang sulit untuk ia kabulkan kareba Dia tak mengeal gadis bernama Eliza tersebut


"Sayang..." ucapnya lagi berusaha mendekati wajah anaknya.


Lelaki yang disebut namanya itu justru membuang muka ke arah lain, pikranya sekarang justru sedang memikirkan Eliza.


"Permisi apa benar ini kamar pasien bernama Rehan..." ucap salah seorang pelayan rumah sakit yang membawakan senampan berisi makanan tersebut.


"Oh. Iya silahkan masuk..." ucap Ayunda dengan ramah.


Pelayan itu masuk dan meletakan senapan makanan lengkap di atas nakas itu.


"Makasih ya mbak..." ucap Ayunda itu dengan sopan.


"Iya sama-sama" jawab pelayan itu dan seraya berjalan keluar dari kamar.


"Gak ma aku gak lapar lagian perutku juga masih sakit ma" ucap Rehan menolak dengan halus.


"Sayang ini bubur gak masalah sama perut kamu." Ayunda berusaha membujuk anaknya dengan terus berusaha mendekatkan sendok berisi satu suap bubur itu ke arah bibir anaknya.


"Engak ma aku belum laper aku cuma mau Eliza"


Wanita itu menghembuskan nafas Dia harus mengerti dengan sikap anakya sekarang Dia langsung memeluk anaknya dengan lembut


"Iya nanti mama bakal bawa Eliza kesini sayang.."ucap wanita itu seraya memeluk anaknya dengan erat.


"Janji ya kalo Eliza ada disini aku baru mau makan..." ucapan Rehan hanya di tanggapi dengan senyuman oleh wanita itu.


Wanita itu mulai menghubungi Eliza lewat ponsel milik Rehan namun Ia urungkan karena hari semakin larut malam menurutnya sangat tidak sopan bila itu Ia lakukan.


"Besok ya sehabis pulang sekolah ini kan mamal-malam gak baik kalau ngehubungi Dia sayang..."


Rehan hanya diam dengan wajah di tekuk.


"Ngambek ya..?" ucap wanita itu berusaha mengoda anaknya.


"Engak..." jawabnya seperti anak kecil yang merenggek minta di belikan mainan.

__ADS_1


"Suruh kesini Elizanya ma..." ucap Rehan pada akhirnya wanita itu semakin paham siapa Eliza wanita yang disayangi anaknya itu.


"Coba kamu buka mulut kamu satu suap aja buat tenaga kamu..." wanita itu mengambil kembali semangkuk berisi bubur itu dan di dekatkan ke arah anaknya.


"Gak..." jawabnya dengan terus menolak wajahnya Ia jauhakan dari sendok itu.


"Satu aja .." ucap mamanya terus memohon.


Dengan wajah terpaksa Rehan mulai membuka mulutnya dan menyuap satu suapan bubur itu.


"Nah gitu dong..." ucap mamanya dengan tersenyum.


"Udah..." Rehan kembali menolak suapan kedua itu.


....


Dreet...


Ponsel itu terus berdering di atas meja bufet dekat jendela yang berada di ruang makan itu, sedang si empunya masih menghabiskan makan malamnya.


"Sebentar ya Jul..." ucap lelaki itu kepada anaknya namun ankanya menunjukan wajah ketiksukanya dengan tingkah lakuĀ  papanya yang lebih mementikan penelepon itu.


"Hallo..." ucap lelaki itu sembari mengangkat telepon.


"Hallo alhamdulilah mas Rehan udah sadar...." jawab seseorang dari seberang telepon Julian yakin itu pasti selingkuhan papanya.


"Oh bagus kalau gitu besok aku akan segera kesana" ucap lelaki itu dengan rona wajah bahagia.


"Makasih lo mas..." ucapnya dari seberang telepon.


Tanpa Ayunda sadari lelakai itu sedang menghabiskan makan malamnya dengan anaknya.


Julian mulai menyadari ada yang aneh dengan percakapan papanya itu.


"Telepon siapan sih pa kayaknya penting banget.." ucap Julian berusaha menyidir tingkah laku papanya yang mirip anak baru gede.


"Itu teman papa yang kemaren anaknya sakit..." jawab papanya kembali duduk namun dengan jari masih sibuk mengotak-atik ponsel miliknya.


"Oh gitu emang sakit apa...?" tanya Julian dengan penasaran karena kebetulan sekali mirip dengan keadaan Rehan.


"Jul papa mau lembur nih kamu selesai makan habis itu tidur ya..." ucap lelaki itu dengan meninggalkan sepiring makananya yang belum habis.


"Brak...." Julian mengebrak meja makan itu dengan keras.


"Kapan sih papa punya waktu buat aku yang ada di otak papa tu hanya kerja sama wanita...!!!" Serasa beban di dada Julian bisa Ia keluarkan semua hatinya sedikit melega sekarang.


"Julian jaga ucapanmu..." ucap lelaki itu dengan ketus.


Pembantu itu bergidik ngeri Dia segera berjalan menuju dapur pemandang seperti ini sudah biasa menjadi santapanya setiap saat.

__ADS_1


Meja makan yang semula rapi itu kembali berantakan dan tugas pembantu itu semakin bertambah.


"Andai aku bisa sekolah gak mungkin aku bakal jadi pembantu kaya gini." ucap wanita bernama mbak Inah itu sembari membersihkan makanan yang jatuh ke lantai itu.


__ADS_2