Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 145


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hampir sepanjang hari berangkat dan pulang sekolah Eliza selalu berboncengan dengan Julian. Mereka selalu berjumpa di kelas walau hanya saling menyapa dalam diam menatap dalam jauh tapi bagi mereka itu justru menjadi bumbu diantara perjalanan kisah cinta mereka yang kian hari kian terasa manis.


Tak terkecuali sore hari ini sehabis pulang sekolah Julian mengajak Eliza menghabiskan sisa waktu sore mereka di pusat perbelanjaan walau sebelumnya mereka sudah melakukan sisa ciuman mereka yang belum tuntas waktu itu namun rasaya kurang puas, seakan waktu bersama mereka selalu kurang.


Mereka saat ini sedang duduk di kedai kopi Sturbuck yang menyajikan kopi bermerk ternama itu. 


Mereka menghabiskan waktu sore mereka dengan berbincang-bincang sembari di temani segelas kopi.


Ya baru hari ini mereka bisa bertemu sedekat ini ketika di kelas mereka hanya saling tatap-tatapan dalam jauh. Sisa pertemuan kemarin di sekoah rasanya tiada cukup untuk melepas rindu mereka.


"Sayang..." ucap Julian dengan lembut dan nada halus.


"Iya ada apa sayang .." jawab Eliza dengan menatap wajah Julian dengan tatapan mendalam raut wajahnya terpancar jelas Dia sedag bahagia.


"Makasih ya udah nyempetin waktu padahal kamu sibuk..." ucap Julian yang membuat Eliza terkekeh mendengarnya.


"Iya gak papa sayang...." jawab Eliza sembari meminum kopi yang baru Dia pesan itu.


"Kamu mau pesen yang lain gak..?" tawar Julian kepada Eliza walau sebebarnya tanpa memesan menu obrolan mereka sudah cukup mengenyangkan.


"Gak sayang ini aja udah cukup kok" jawab Eliza dengan tersenyum.


Disaat mereka sedang asik berbincang-bincang dari arah pintu datang Rehan bersama ketiga temanya.


Julian dan Eliza tak mengetahui kedatangan Rehan bersama temanya karena suasana tampak ramai dan banyak orang berlalu lalang datang pergi silih berganti.


Begitupun Rehan yang tak menyadari ada Julian dan Eliza yang sedang duduk berhadapan yang tampak romantis itu.


Keempat lelaki itu mulai duduk sembari mengeluarkan ponsel mereka masing masing jarak diantara Rehan dengan Julian dan Eliza sebenarnya tak terlalu jauh hanya tersekat beberapa pasang kursi.

__ADS_1


Hampir satu jam lamanya Rehan baru menyadari ada julian dan Eliza hingga dengan sengaja dia menghampiri mereka karena dendamnya terhadap Julian semakin hari semakin memanas.


"Han lo mau kemana...?" tanya Dino teman tongkrongan berumur sepantaran dengan Rehan.


"Sory ada urusan sebentar..." jawab Rehan dengan berdiri seraya melepas jaket hitam yang menempel di tubuhnya itu.


"Ya oke no problem..." ucap Dino dengan mengangkat telapak tangan tanda tak ada masalah dengan apa yang dilakukan Rehan.


Rehan mulai berjalan ke arah Julian dan Eliza yang tampak sedang tertawa bersama itu, Rehan jelas sangat iri dengan pemandangan menyakitkan itu baginya tiada yang dapat mengantikan rasa cintanya terhadap Eliza dengan wanita manapun karena Eliza benar-benar cinta pertamanya.


"Prok prok prok" Rehan mengahampiri Julian dengan tepuk tangan yang meriah terdengar mengusik telinga Julian dan Eliza mereka mulai terganggu dengan kehadiran Rehan.


Julian dan Eliza menoleh secara bersamaan ketika mendapati suara tepuk tangan seperti tanda menantang.


"Oh rupamya anak pelakor..." ucap Julian dengan menoleh sembari memandang lelaki yang tingginya hampir sama denganya itu dengan tatapan sinis seakan manusia di depanya itu bagai barang menjijikan yang engan Ia sentuh.


Rehab Diam berdiri di depan Julian dengan tatapan penuh dendam tanganya sudah siap rupanya ingin menghabisi nyawa orang di depanya yang sepanjang hari hanya menimbulkan konflik di keluarganya.


Melihat kejadian itu Eliza berteriak histeris karena Julian tak ada persiapan dan hampir jatuh tersungkur ke lantai.


"Juliann..." ucap Eliza denagn berteriak semabri berdiri membantu Julian.


Julian berusaha sekeras mungkin tersenyum ke arah Rehan walau senyummya itu terasa membodohi dirinya sendiri.


"Oh masih punya nyali lo rupanya..." ucap Julian dengan kasar ke arah Rehan dengan mata melotot tajam bagai mata elang yang kedapatan mendapat mangsa.


"Kalau berani jangan disini kita ke lapangan berani gak lo...." ucap Julian lagi denagn nada menantang Dia jelas tak terima Rehan menginjak harga dirinya denah rendahan seperti ini.


"Oh oke siapa takut..." jawab Rehan dengan nada sombong karena sejatinya mereka sama-sama kuat.


Julian mulai adu jotos dengan Rehan hingga membuat pemandangan yang tak enak dilihat banyak orang karena begitu miris.

__ADS_1


"Kak Rehan lepasin Julian..." ucap Eliza berusaha melerai perkelahian kedua lelaki itu.


"Diam kamu Eliza jagan ikut campur sama urusan kita..." ucap Rehan berusaha menahan tangan Eliza yang hampir kena pukulan dari Julian.


Susana justru semakin gaduh dengan terpaksa Security dari kedai ini mengahampiri dan mencoba melerai perkelahian antara kedua lelaki yang sama-sama kuat itu.


Rehan mulai menyeret tubuh Julian ke arah luar dari kedai Strbuck itu dengan tarikan kasar Eliza terus berusaha menghentikan langakh Rehan namun Dia tak bisa apa-apa selain pasrah.


"Duas duas" pukulan hebat itu tak bisa terhindarkan hingga membuat Julian limbung tampaknya Rehan sudah mempersiapkan pukulanya itu matang- matang.


Julian berusaha berdiri dengan menahan rasa sakit di bagian ulu hatinya walau rasanya ini tak sebanding dengan rasa sakit akibat ulah papanya.


"Lo mau apa anjing..." ucap Julian dengan mengatai Rehan dengan bada kasar. Badanya bergetar dan rasa sakit itu perlahan mulai terasa.


"Gue mau lo mati dan gue gak akan pernah sudi punya bokap dari lo apalagi gue sodaraan sama lo ciuh..." jawab Rehan dengan meludah ke arah Julian sifat bencinya itu tampaknya sedang berkobar-kobar hebat.


"Woy lo kira gue sudi puyaa nyokap baru kaya nyokap lo gila otak lo sudah gila mungkin, o iya namnya juga pelakor jijik gue dengernya .." ucap Julian denagn nada meremdahkan wanita uang sangat disayangi Rehan itu hingga membuat mulutnya serasa berbusa.


"Jaga mulut busuk lo kalau gak mampus lo hari ini juga....!!" ucap Rehan denagn kembali menendang tubuh Julian dengan sepatu keras itu.


"Hanya itu mau kamu aku mati...?" Julian bangkit dengan sisaan tenaganya dan menghadap ke arah Rehan yang tampak tersenyum sinis ke aeahnya.


"Iya" jawab Rehan dengan menyilngakn tangan didada.


"Stoppppp" Eliza berteriak sekeras mungkin melihat perkelahian yang semakin memanas itu hatinya perlahan terasa seperti tertusuk ribuan duri satu sisi Dia sangat kasian dengan Julian tapi disisi lain Dia tak tega dengan kak Rehan begitulah orang baik selalu bimbang disetiap sisi mengambil kebaikan.


Mereka mulai terdiam melihat seisi jalanan menjadi ramai akibat ulah mereka yang mirip berandalan dengan berkelahi tanpa tau batas dan tempat.


"Jul udah udah Jul cukup..." ucap Eliza denagn berurai air mata Rehan tampak memandang Eliza dengan ntatapn sendu ya karena wanita Di depanya itu sangat berharga baginginya walau rasanya ingin sekali Dia menyetuh, walau hanya jemari lembut milik Eliza.


Next....

__ADS_1


__ADS_2