
Julian Pov
Sore ini aku menghabiskan waktuku di Cafe yang berada di dekat danau yang dulu menjadi tempat aku nembak Eliza
Aku datang sedirian dan duduk merenung sambil menikmati secangkir cofee yang aku pesan sedari tadi sudah dingin namun itu tak masalah, aku sengaja mengulur waktu sembari menunggu senja tiba
Sudah hampir dua jam aku duduk merenung mendiamkan pikiranku yang sedari tadi terasa kelu
Ramai..
Namun hatiku sepi
Aku dilema antara hubunganku dengan Eliza
Entah apa cerita kelanjutan dari kisah cintaku ini
Mendekatinya... itu berat
Menjahuinya... itupun juga semakin membuatku berat
Aku masih terus menyelidiki Aftur yang menjadi saksi saat kejadian Eliza di culik oleh Rehan
Eliza tidak salah namun hati aku yang belum terbuka menerima kenyataan jika benar dia sudah disentuh Rehan lebih jauh
Aku tau Aftur menyukai Eliza dan itu membuat dia tutup mulut soal kejadian Eliza
Aku pun marah karena aku terlalu bodoh tidak tau saat kejadian itu terjadi
Melihat dia sekarang layaknya aku melihat sisi Eliza yang berbeda
Putri....
Wanita baru yang sekarang sedikit mengoda langkah jahatku untuk mendekatinya
Rasanya tak mukin jika aku menjadikan dia kekasihku aku tak mukin tega melihat Eliza terluka
Rasa yang terjadi saat aku bersama Putri adalah nyaman
Namun aku juga tak iklas jika aku harus melepaskan Eliza
Waktu terasa cepat berputar kita sering bersama saat latihan vokal begitupun saat dia mengantarkan bekal makanan untuk Fahmi saat latihan basket
Mata ini rasanya tak lelah untuk melihat matanya yang cantik
Dan kedekatan kita yang hampir dua minggu membuat hatiku terus terpedaya olehnya
Jujur Eliza lebih cantik dari dia namun ada satu titik di wajahnya yang membuatku jatuh cinta
"Jul..." ucap seseorang yang datang tiba-tiba dan membutku membuyarkan semua lamunanku
Aftur... dehamku dalam hati
Tak ada jawaban dari mulutku langsung aku palingkan wajahku ke arah jendela
"Gue mau ngomong sebentar...!!!" ucap Aftur yang tiba-tiba duduk di kursi tanpa aku suruh
"Ngomong apa..?" tanyaku singkat sembari sedikit meliriknya
"Soal Eliza.. " ucapnya lagi
"Cepet lo ngomong keburu muka gue ilfeal liat lo..!!" jawabku dengan ketus dan wajah yang menatap tajam
"Em... oke gue mohon lo segera mutusin dia...!!!" ucapnya yang membuatku terkejut
__ADS_1
"Apa lo bilang...?" tanyaku lagi memastikan
"Lo kalo ngomong bisa pakai otak lo dikit gak...!!" ucapnya yang membuatku melongo
"Daripada dia digantungin.." ucapnya lagi yang membuatku seketika ingin menampar wajahnya
"lo gue mohon pergi...!!!" ucapku dengan suara keras kearahnya
"Santai Jul..." jawabnya yang tak gentar memantik emosiku muncul
Drakk..
"Kalo gak ada yang lebih penting untuk lo omongin lo bisa pergi dari sini...!!" ucapku sambil mengebrak meja
Dan semua pandangan mata kini menuju arahku dan Aftur yang membuat kekacauan
"Lo tu yang harusnya tau perasaan Eliza saat lo berduan sama Putri...!!" ucapnya dengan suara dedikit dimainkan
Draakk........
Seperti tertimpa tumpukan baru isi hati ku saat ini
"Lo kalo gak tau urusan apa antara aku dengan Putri lebih baik lo diem...!!" ucapku ketus kearahnya
"Inget Jul jangan terus gantungin cewek" ucapnya sambil menaikan alis
''O iya asal lo tau Eliza saat itu gue selamatin dari Rehan dan juga yang lo harus tau Rehan belum nyentuh dia lebih dalam karena gue bisa jadi saksi saat itu" tambahnya lagi sambil menyeringai puas
"Terus kenapa lo gak hubungin gue hah ?" ucapku dengan mata melotot
"Buat apa gue dapet sebongkah berlian gue kasih ke orang kaya lo...!!!" jawabnya yang membuat darahku seketika mendidih
"Jaga mulut lo ya.." ucapku dengan tatapan mengancam.
"Sialan...!!"
"Benar juga ucapan Aftur..'' umpatku dalam hati sembari aku mengepalkan tangan.
Segera aku bergegas ke barista dan membayar pesanan kopi dan segera beranjak ke rumah Eliza untuk menemuinya.
Selang beberapa menit aku sampai di rumah Eliza segera aku turun dan berjalan menuju rumahnya.
Aku mendekati tombol bel yang terpasang ditembok dekat pagar dan aku memencet tombol itu.
Ting.. Tung
Tak berapa lama mbk Inah keluar dan membukakan pintu gerbang.
"Cari siapa mas...??" tanya mbk Inah sembari membukakan gerbang.
"Elizanya ada.." tanyaku langsung ke mbk Inah.
"Oh mbk Eliza katanya tadi keluar sebentar" jawab mbk Inah yang membuatku sedikit kecewa.
"kalau boleh tau kemana ya..??" tanyaku lagi.
"Kurang tau mas.." jawab mbk Inah yang membuatku memutuskan mampir sebentar.
"Saya boleh masuk bentar gak mbk aku pengen nanya sesuatu hal ke mbk..??" ucapku spontan karena aku semakin gencar mengulik hal yang sebenarnya terjadi dengan Eliza.
"Boleh mas silahkan masuk" jawabnya sambil mempersilahkan aku masuk.
Segera aku duduk di kursi kayu yang tertera di teras begitupun mbk Inah.
__ADS_1
"Kalau boleh tau kemaren Eliza gak masuk sakit ya mbk...??" tanyaku langsung.
"Iya mas" jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau boleh aku tau sakit apa...??" tanyaku dengan penasaran.
"Kurang tau mas tapi yang jelas mbk Eliza gak keluar kamar sama sekali dan kata ibuk dia sedang depresi saat si periksa kemaren..." jawabnya yang membuatku langsung terhenyak.
"Beneran mbk...??" tanyaku memastikan.
"Iya mas soalnya dia sering marah-marah sendiri" jawab mbk Inah menceritakan keadaan Eliza saat itu.
"Begitu kasihanya aku sama kamu El" ucapku dalam hati.
"O iya makasih mbk kalau gitu saya mau pamit" jawabku mengakhiri obrolan dan segera pamit pulang.
"Iya mas" jawab mbk Inah.
Setelah itu aku keluar dan memutar balik motor untuk segera pulang.
''Besok masih ada waktu..." umpatku dalam hati
Segera aku melajukan motorku dan bergegas menuju rumah.
Namun saat aku akan belok ke sisi kanan Jalan aku melihat Eliza sedang duduk sendirian di taman.
Aku yang seperti mendapatkan sebuah kesempatan langka segera aku melajukan motorku ke arahnya dan menghampiriya.
Aku parkirkan motorku di tepi taman dan beruntungnya dia tak melihatku dia terlihat sedang mendengarkan musik dengan earphone yang masih terpasang di sisi kanan dan kiri telinganya.
Aku berusaha mendekati dia.
"Boleh aku duduk..??" ucapku sambil melepaskan earphon dari telinganya.
Tanpa menjawab pertanyaanku justru dia melotot tajam ke arahku.
"Buat apa...??" jawabnya dengan membuang muka ke arah lain.
"El aku mau ngomong.." ucapku dengan pelan.
"Ngomong apa..??" ucapnya sambil menatap mataku dengan suara berat.
"Gue minta maaf..".
"Iya gue tau kok Jul kalo lo mau putusin gue dan gue tau lo udah jadian sama Putri" ucapnya dengan suara bergetar hebat dan nafas yang terlihat terburu-buru yang mukin dia sedang menahan sesuatu yang ia tahan selama ini.
"Gak El..!!" jawabku memastikan.
"Gak apa..??" ucapnya sambil mengarahkan matanya agar melihat atas yang aku tau air mata itu akan jatuh dari pelupuk matanya.
"Gue mau minta maaf El..." ucapku sambil memegang tanganya dan aku berusaha memeluknya.
"Lepas...!!!" ucapnya dengan kasar.
"Lo gak usah sok hibur gue, gue sekarang tau sifat asli lo Jul...!!" ucapnya dengan wajah yang sekarang terlihat memerah.
"Gue gak deket sama Putri El...!!" jawabku jujur.
"Selama ini aku tu dituduh kalo Rehan tu udah ngambil keperawananku, asal kamu tau waktu itu aku di culik Jul saat aku sedang nungguin kamu di gerbang dan dengan gampngnya lo gak percaya sama gue dan lebih percaya sama Dea....!!" ucapnya dengan nada tinggi sambil berusaha menyeimbangkan suaranya agar terdengar santai.
"Iya aku tau El tapi apa yabg harus aku perbuat sekarang...??" tanyaku sambil mendekatinya.
"Kalo lo bisa mikir lo harusnya tau apa yang gue butuhin saat ini...!!" ucapnya sambil berlalu pergi ninggalin aku.
__ADS_1
Tanpa diketahui Julian, saat ini Eliza berlari sembari menahan air matanya agar tak jatuh dengan teramat sulit.