Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 148


__ADS_3

Lagi-lagi Ayunda kembali berjalan ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perut kosongnya itu semalaman penuh, rongga perutnya terasa lemas akibat memuntahkan angin dalam tubuhnya yang memaksa keluar.


Badanya teramat letih dan untuk berjalan saja rasanya sangat susah Dia mencoba membasuh wajahnya degan air yang mengalir dalam kran washtafel itu agar setidaknya sedikit lebih bisa menetralkan pikiranya.


"Rehan...?" uacapnya dengan sedikit keras dari dalam kamar namun suara itu tampaknya tak di dengar oleh Rehan dari luar


Dan benar saja Rehan tak mendengar suara Ayunda dari dalam dan Dia saat ini sedang bersiap diri untuk berangkat ke kampus karena ada kelas pagi.


Kini Rehan sedang sibuk menyiapkan sarapan paginya yang biasa disiapkan Ayunda namun karena kondisi Ayunda yang akir-akhir ini sering sakit jadilah Rehan biasa menyiapkan sarapan sendiri walu hanya roti bakar dan seali kacangdi atasnya baginya sudah membuatnya kenyang.


Ayunda mulai mendudukan diri di kursi putih yang biasa Ia gunakan untuk berdandan. Wajah cantiknya saat ini berubah menjadi sayu tampak pucat pikiranya tampak sedang berkemelut hebat.


Hari ini Dia tak masuk kerja karena kondisinya benar-benar tak memungknkan, walau untuk keluar rumah saja itu tak memungkinkan.


Dia terus menelpon Wijaya lelaki yang membuat bibit di perutnya yang tampaknya Dia sedang sibuk hingga tak mengangkat pangilan suara dari Ayunda.


Rehan masuk dan mendapati Ayunda sedang terduduk lemas dan membuatnya tersontak kaget walau Dia marah dengan wanita itu namun di lubuj hati terdalamnya jelas sangat mencintai wanita itu.


"Mama..." ucap Rehan seraya menghampiri Ayunda dengan sedikit beralari terlihat jelas wajah Rehan begitu cemas dan panik.


"Rehan..." jawab Ayunda dengan lesu dan suara bergetar wajahnya tampak pucat.


"Mama kenapa sih ma kenapa kita ke Dokter sekarang....'' ucap Rehan sembari berusaha membantu Ayunda berjalan ke ranjang tempat tidurnya dan menidurkanya dengan perlahan.


"Gak sayang mama gak papa" jawab Ayunda dengan lesu.


"Mama jangan bohong..." ucap Rehan kembali


Ayunda tampak lesu dan menjawab ucapan anaknya hanya dengan senyuman.


Rehan segera berjalan ke dapur dan membawakan air putih hangat untuk Ayunda.


Dia mulai membantu Ayunda duduk dengan perlahan dan membantu menegeuk air hangat dalam gelas bening itu.


"Ma minum dulu apa perlu aku gak masuk hari ini buat jagain mama hari ini...." ucap Rehan sembari membantu Ayunda minum air putih hangat itu.


"Han mama gak papa cuma lagi kecapeean aja kamu cepet berangkat nanti terlambat" jawab Ayunda dengan sedih seakan-akan air matanya mulai menepi dan siap jatuh memikirkan kondisinya yang tak berdaya dan membuat repot anaknya.


"Tapi ma badan mama panas banget..." ucap Rehan sembari menyetuh dahi Ayunda dengan perlahan-lahan.


"Udah gak papa mama lagi flu aja sayang" jawab Ayunda yang mulai meneteskan air mata Dia tak tau akan seperti apa jika anak semata wayangnya mengetahui dirinya hamil hancurlah sudah nanti perasaan Rehan.


"Kita ke Dokter dulu ma" ucap Rehan dengan tatapan memohon


"Gak sayang mama gak papa lihat ini udah gak papa kamu berangkat sana hati hati" jawab Ayunda sembari berusaha terlihat baik-baik saja akan jadi seperti apa jika Dia diperiksa oleh Dokter.


"Yaudah aku berangkat jangan lupa kalau ada apa-apa hubungi aku ya ma" ucap Rehan mengingatkan mamanya lagi sembari mencium tangan mamanya.


"Iya makasih ya han" jawab Ayunda dengan menyeka sisaan air matanya.

__ADS_1


"Iya ma aku pamit"


Ketika Rehan sudah menghilang dari pintu kamarnya Ayunda mulai menangis sejadi- jadinya walau Dia menagis tanpa suara Dia begitu tak mampu rasanya menjalani semua ini tubuhnya semakin lemas dan membuatnya semakin tak berdaya gejolak di perutnya seakan-akan tak mampu menahan rasa mual ini.


Sedang Wijaya mulai bergegas menuju rumah Ayunda ketika mendengar suara Ayunda tampak terdengar suara orang sakit itu dan membuatnya sangat khawatir. Pekerjaan yang mengunung itu tampaj tak tersentuh dan Dia tinggalkan demi wanita yang di cintainya.


Dia mulai menepikan mobil hitamnya di dekat pagar bercat coklat itu dan mulai turun. Dan Dia segera berjalan menuju kamar Ayunda seperti biasanya.


"Sayang..." ucap Wijaya pada Ayunda sembari membuka pintu kamar dan mendapati Ayunda terduduk lemas di atas tempat tidur itu dengan perlahan Wijaya menyetuh wajah cantik milik Ayunda.


"Mas aku hamil...." ucap Ayunda pada akhirnya dengan suara parau mendengar itu jelas Wijaya terpukul hebat oleh kata-kata Ayunda.


"Apa...? kamu serius.....??" tanya Wijaya dengan sangat terkejut dan raut wajahnya tampak memerah Dia menghela nafas dengan frustasi seakan-akan rasanya ucapan Ayunda hanya mimpi belaka.


"Iya mas aku mau mas tanggung jawab..." jawab Ayunda embari menyeka air mata walau rasanya mengatakan itu akan membuat Wijaya terpukul.


Mendengar ucapan Ayunda Lelaki bernama Wijaya itu tampak pontang-panting Dia tak menyangka Ayunda akan hamil secepat ini pikirannya kembali rumit, serumit benang yang keluar dari untaianya.


"Oh ya...." jawab Wijaya dengan mengalihkan wajah ke arah lain sembari mengusap dengan kasar rambut hitamnya kebelakang Dia kehabisan kata-kata rupanya.


"Mas kenapa hanya oh mana tanggung jawab mas....??" ucap Ayunda dengan nada khawatir dan kesal pasalnya Wijaya tampak tak menunjukan wajah seriusnya.


"Ayunda...?" ucap Wijaya dengan perlahan sembari berjongkok di hadapan Ayunda.


"Apa mas mau nolak semua ini ......?" ucap Ayunda dengan keras, hatinya jelas kesal dengan lelaki yang tampkanya tak ada tanggung jawab itu dan mengangap ini semua hanyalah masalah sepele.


"Gak sayang tapi kita tunggu waktu dulu buat kita nikah" ucap Wijaya karena pikiranya saat ini jelas terfokus dengan Julian dan mendapat restu dari anak lelaki kesayanganya itu sanagtlah susah bagai mengapai langit walau kita sudah berada di awan.


"Iya oke tapi" ucap Wijaya dengan bimbang.


"Tapi apa lagi" tanya Ayunda lagi berusaha keras meminta pertangung jawaban dari Wijaya.


"Iya aku akan secepatnya nikahi kamu" ucap Wijaya pada akhirnya walau Dia masih berpikir keras cara mendapat ijin dari anaknya.


Wijaya mulai memeluk tubuh Ayunda sembari mengelus-elus perut yang masih tampak rata itu


"Maafin aku ya sayang " ucap Wijaya dengan tatapan sendu.


"Aku gak akan maafin mas sebelum mas nikahin aku" jawab Ayunda dengan mata Ia alihkan ke arah lain.


"Kamu udah makan...?" tanya Wijaya yang kini tampak khawatir akan kondisi Ayunda yang terlihat demam.


Ayunda tak menjawab dan hanya mengelengkan kepala.


"Yaudah aku pesenin kamu makan ya...."


Seharian penuh Wijaya di rumah Ayunda menemani kekasihnya itu yang tampak sedang sakit sebelum Rehan pulang. Dan beberapa jadwal bertemu para klien hari ini batal semua dan banyak pekejaan baru tentunya untuk Wijaya.


Jarum jam berwarna hitam itu terus berdetum dan berputar memutarai angka demi angka dengan perlahan namun pasti saat ini Wijaya sedang duduk di serambi ruamahnya ya sangat jarang baginya menikmati waktu seperti saat ini pikiranya saat ini jelas memikirkan Ayunda dan Ayunda Dia memikirkan kesalahanya ketika di Bandung hingga membuat Ayunda hamil secepat ini.

__ADS_1


Suara motor milik Julian mulai terdengar dan berhenti di depan rumah Wijaya ya Dia tak pernah menyaksikan anaknya pulang dan mendapat sapaan hangat dari Julian seperti dulu sebelum dirinya jatuh kelubang kehinaan.


Pagar itu muali di buka Inah dengan perlahan menampilkan Julian yang pulang dari Sekolah yang membuat Wijaya tampak bahagia ketika momen ini terjadi kembali.


"Makasih ya mbak..." ucap Julian pada mabk Inah.


Inah hanya menganguk dan kejadian itu membuat Wijaya terenyuh terkadang rasa rindu itu muncul bersamaan datangnya sendu.


Perlahan Dia mulai menayapa anaknya.


"Baru pulang Jul..." ucap Wijaya yang hanya di mandapatkan tatapan sinis dari Julian yang perlahan berjalan melewatinya tanpa bersuara sepatah katapun.


"Mau sampai kapan kamu diam begitu Jul" lelaki itu beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri anaknya yang baru duduk di kursi kayu di dekat ruang keluarga itu.


Julian segera berusaha melangkahkan kakinya pergi sebelum percakapan menyakitkan itu dilanjutkan Dia bukannya sombong tapi rasa sakitnya itu yang membuat Dia berubah menjadi seperti sekarang acuh dan tak berperasaan. Dan Julian berjalan ke kamar.


"Jul papa Mau ngomong..." setelah dua jam lamanya menunggu Julian keluar dari kamarnya denah berani lelaki itu mengutarakan maksudnya.


"Apa...?" jawab Jukian oada akhirnay kDia merasa tak tega mengacuhkan papanya walau salah taoi Dia berusaha memaklumi saat ini.


"Papa akan nikah Jul dalam waktu dekat" ucapan itu sukses membuat Julian terkejut bibirnya serasa kaku dan tak ingin melanjutkan kata-kata.


"Oh papa lagi bercanda ya apa lagi ngelawak papa udah aku ijinin selingkuh tapi masih nglunjak mau nikahin segala" jawab Julian berusaha membuat suasana setidaknya sedikit mencair walau akhirnya hanya akan membuat hatinya kembali terluka seperti saat ini dan amarahnya siap meledak seketika.


"Jul dengerin papa" Wijaya tampak bimbang dengan ucapanya.


"Gak akan..!! papa tinggal pilih wanita itu apa aku" ucap Julian dengan keras dan lantang Dia begitu muak dengan lelaki yang berada di depanya serasa matanya sudah tak sudi melihat pantulan tubuh yang membuatnya semakin hari semakin membencinya.


"Jul jangan kasih papa di posisi sulit itu Jul" ucap Wijaya berusaha memohon terhadap pilihan Julian yang tampak membautnya tak bisa memilih salah satu karena baginya semua penting baginya.


"Gak pa hanya itu yang aku kasih dua pilihan ke papa"


"Julian"


"Papa itu udah bikin kepercayaan sama aku tapi sekarang hilang pa, ibarat gelas pecah sudah tak terbentuk hancur sekarang papa akan buat hidupku hancur lagi oke jika papa tetap lanjutin aku akan angkat kaki dari rumah ini" ucap Julian pada akhirnya dan menatap tajam ke arah papanya untuk pertama kali menatap wajah lelaki yang dulu pernah di banggakanya dan mungkin ini untuk yang terakir kali Dia lakukan.


"Julian dengerin papa"


"Gak akan, dengerin aku pa jika papa lebih memilih wanita itu ketimbang aku, oke itu pilihan papa aku gak akan larang tapi inget aku gak akan sudi punya papa kaya papa"ucap Julian seraya pergi dan berjalan ke kamarnya dengan menutup pintu kamarnya dengan keras.


Hujan tampak menguyur deras seluruh kota Jakarta Julian masih berada diposisi yang sama menatap kesenduan Dunia yang kian hari kian menyapanya. Hujan tampak tak reda kenangan pilu akan asa itu kembali menyapa dalam lukisan awan berwaran hitam itu.


Dia kembali memikirkan Eliza saat tau keputusanya untu meninggalkan kota kelahirnya ini..


Walau memang berat tapi ada kalahnya Dia harus menatap kejamnya dunia ini dengan berkata aku siap karena ini pilihanya yang harus ia lakukan dan untuk melanjutkan hidup di kota ini rasanya Dia sudah tak mampu.


Dia menatap sendu wajah cantik Eliza didalam layar ponsel milkknya Dia bagai pujangga yang tak kehabisan kata-kata untuk mengambarkan akan sosok Eliza yang sangat berarti dalam hidupnya.


Dalam secarik kertas itu ia tuliskan apapun yang Dia rasa saat ini dengan Eliza.

__ADS_1


Hatinya kembli sakit saat mendengar ucapan papanya yang akan menikah dengan Ayunda.


Mukin perpisahan ini akan terasa menyakiykan bagi Eliza tapi ini keputusanya Dan Dia percaya kelak rasa pahit ini akan berbuah manis.


__ADS_2