
Hari terakir bersama Julian.
Seperti isi pesan wattsap dari Julian hari ini Eliza akan pergi ke rumah Julian.
Tak seperti biasanhya saat libur Eliza kini bangun lebih awal seperti keinginan Julian utuk segera datang menemuimya.
Hari ini hari minggu menjadi hari terakir Julian di rumah ini dan lelaki bernama Wijaya itu sedang pergi keluar kota dan itu hanya alasanya saja dan tak menau kebenaranya bagaimana.
Julian mulai menunggu kedatangan wanita terkasihnya walau rasanya semakin berat dan bertamah berat untuk mengatakanya pada Eliza yang saat ini tampak Julian sedang di posisi serba salah
Dan wanita yang di tunggu-tunggu itu muncul juga dengan tersenyum Julian menyambut hangat kedatangan Eliza dengan senyum termanisnya walau hatinya sedang merasa tak baik.
"Permisi..." ucap Eliza dari arah pintu bercat putih yang sudah terbuka itu.
"Sayang" jawab Julian segera menghampiri Eliza dan memeluknya seperti orang baru bertemu setelah sekian lama tak berjumpa.
"Wangi banget habis mandi ya...?" ucap Julian pada kekasihnya itu dengan mencium aroma shampo yang begitu kuat dan membuatnya tergoda.
"Iya dong Sayang" jawab Eliza dengan senyum nakalnya.
"Tumben kamu hari ini ganteng banget..?" ucap Eliza berusaha mengoda Julian walau hanya dengan kata-kata itu mampu membuat Julian bangga dengan wajahnya.
"Masak sih...?" jawab Julian dengan terkekeh.
Mereka mulai duduk di sofa ruang tamu berwarna senada dengan cat di ruangan ini, Eliza tampak terus tersenyum bahagia akirnya Dia bisa kembali bertemu Julian sedekat ini dan terlihat jelas rasa cinta Eliza ke Julian kian hari kian bertambah manis.
"Kok tumben sih nyuruh aku kesini ada apa...?" tanya Eliza dengan nada penasaran dan antusias tentunya melihat keinginan Julian yang tak biasa seperti ini.
"Kangen" jawab Julian simpel namun membaut Eliza begitu berarti.
"Oh serius hanya itu kenapa...?" tanya Eliza berusah mempertemukan mata miliknya dengan mata milik Julian dan seketika kedua bola mata itu bertemu.
Julian mulai meraih tubuh Eliza di pelukanya Dia mulai mencium wajah mulus milik Eliza, perlahan-lahan Dia menikmati setiap inci wajah Eliza hingga yang empunya terengah-engah sepeerti sedang mengeluarkan nafsu gairah.
"Jul udah ah nanti ada mbak Inah lho" ucap Eliza merasa malu jika mabk Inah sampai melihatnya.
"Iya sayang" jawab Julian sembari sedikit melongarkan peluaknya agar Eliza bisa sedikit bernafas.
Mereka mulai berbincang-bincang hingga siang hari Eliza belum sadar Jika Julian besok akan pergi meninggalakn kota ini dan dirinya.
"Masakin aku makanan dong" ucap Julian dengan lembut kepada Eliza rencananya setelah makan siang Dia akan mengutarakan maksudnya walau dengan susah payah dia mencari waktu yang tepat tentunya.
"Kan ada mbak Inah Jul jadi gak enak aku' jawab Eliza merasa tak enak tentunya
"Udah gak papa"
Eliza mulai berjalan ke arah dapur dan disusul Julian yang berjalan mengekorinya di belakangnya Eliza mulai memasak dibantu mbak Inah dan Julian terlihat sebagai koki nya.
Setelah selesai mencicipi masakan Eliza Julian megajak Eliza ke ruang tengah agar sedikit lebih leluasa dan Julian mulai mendudukan tubuh Eliza dengan lembut di pangkuanya di peluknya wanita itu dengan erat hinga Eliza merasa geli Julian mulai mencium bibir Eliza dengan begitu dalam karena setelah hari ini Dia jelas akan rindu ciuman manis ini.
Julian tampak bernafsu dengan Eliza ya memang saat ini Dia beranjak dewasa Dia normal seperti lelaki dewasa pada umumnya.
"Sayang ada ap sih kamu gak biasa nih...?" tanya Eliza pada Julian yang masih terus bernafsu menyentuh benj*l*n di dada miliknya namun Eliza berusaha mengangkat tangan Julian dengan lembut. Dan Julian mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan Eliza dengan kepala Dia tempelkan di pundak Eliza.
__ADS_1
"El aku mau ngomong..." ucap Julian dengan nada bergetar dan terasa berat setidaknya posisi ini tepat mengambarkan kesenduan hatinya saat ini.
"Iya ngomong apa...?" tanya Eliza sedikit heran dengan ucapan Julian yang begitu berat
"Besok aku pindah ke Bandung..." jawab Julian dengan bibir Dia tempelkan di leher Eliza ucapan Julian seketika membuat Eliza seperti sedang bermimpi seperti tak nyata rasanya dan hanya bualan belaka.
"Jul kamu ngomong ap sih jangan bercanda deh" ucap Eliza dengan bibir bergetar dan mengeluarkan keringat dingin serta nafas yang tak beraturan.
"Iya serius aku..." ucap Julian lagi dengan memepererat pelukamya denagn posisi masih sama Dia bisa merasakan perasaan hati Eliza saat ini yang terasa membuatnya tak tega melanjutkan kata-katanya
"Kamu tu jahat gila kamu tu gila Jul..!!" ucap Eliza mencoba berdiri dan melepaskan pelukan dari Julian dengan kasar dan air mata itu perlahan mulai berjatuhan dan hatinya terasa sangat sakit hingga nafas yang keluar itu tak beraturan dan membuatnya tak mampu menatap tubuh Julian saat ini.
Julian berusaha meraih tubuh Eliza kembali namun sia-sia belaka.
"Jadi kamu nyuruh aku kesini cuma mau bilang itu cuma mau bilang kalau kamu mau ninggalin aku itu kan Jul kamu puas hatiku sakit Jul..." ucap Eliza dengan suara bergetar dan rasa sakit di hatinya itu perlahan mulai keluar.
"Tunggu" Julian berusaha meraih tubuh itu kembali.
"Sakit tau gak sih Jul sakit banget" ucap Eliza dengan mengahdapakan wajah ke arah jendela besar yang beradapan dengan taman itu.
"Maafin aku sayang" ucap Julian sembari menyentuh pundak Eliza dengan lembut.
"Emang kata maaf itu cukup buat aku dikira buat aku mampu hidup tanpa kamu Jul dikira aku tu wanita kuat aku bukan wanita pada umumnya karena aku sayang banget Jul sama kamu..." ucap Eliza yang tampaknya tak bisa mengontrol kesedihanya hingga semua perkataan yang keluar dari mulutnya tak pantas Ia ucapkan.
"El pliss maafin aku ini semua juga bukan mau aku ini kelutusan aku tolong pahami aku ya sayang..." ucap Julian memberikan alasan dari keputusanaya.
"Aku mau pulang Jul rasanya berada disini mirip neraka bagiku" jawab Eliza berusaha melangkahkan kakinya keluar namun berhasil di tahan oleh Julian.
"Eliza tunggu plis aku mohon" ucap Julian dengan berusaha menahan Eliza.
"Sayang kita cuma beda tempat hati kita akan selalu sama" jelas Julian berusaha memberi ruang bahwa segala hal itu tak tentu menyakitkan.
"Iya tapi gak gini caranya Jul kamu bilang mendadak jadi alasan kamu ke kantor kepala sekolah kamu mau ngrus surat pindah iya kan" ucap Eliza dengan nada emosi jelas saat ini Dia sedang marah terhadap Julian.
Julian hanya menganguk dengan tatapan sendu
"Ini udah keputusan bulatku El papa aku akan nikah dalam waktu dekat dan kamu posisiin diri kamu di aku karena aku jaga hati mam aku sayang" ucap Julian lagi debagn nada yang terdengar pilu.
Eliza hanya menganguk dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi hatinya jelas sakit karena perpisahan ini terasa sangat menyakitkan baginya.
Eliza tak bisa berkata-kata selain menjatuhkan air mata beningnya di pundak Julian, Julian terus memeluk Eliza dengan erat rasanya Julian juga tak tega sebenarnya meninggalakn Eliza namun Dia bisa apa selain berani memgambil keputusan ini.
"Kita bakal ldr..?" ucap Eliza berusaha menatap mata Julian dan hal ini terasa membuat bibirnya kaku.
"Iya sayang" jawab Julian dengan halus.
"Tapi aku takut Jul" ucap Eliza lagi merasa khawatir dengan hati Julian.
"Takut apa?" tanya Julian sembari mengelus-elus lembut pundak Eliza.
"Kamu milih yang lain kan disana mungkin lebih banyak cewek cantik" jawab Eliza terkesan inscure dengan dirinya disertai pikiran negatif itu bermunculan.
"Gak gak akan" jawab Julian nemastikan.
__ADS_1
"Kamu minta apa sebelum aku berangkat" tanya Julian dengan lembut.
"Aku cuma minta kamu setia disana jaga hati kamu buat aku aja jangan ada yang lain" jawab Eliza dengan jujur Dia tak butuh materi Dia hanya butuh hati milik Julian.
"Iya sayang jangan sedih terus dong nanti aku janji setiap minggu kita ketemu" ucap Julian kepada Eliza agar sedikit lebih membuatnya membaik.
"Yakin" jawab Eliza ragu.
"Iya"
"Tapi apa aku mampu Jul ketika sampai kelas dan melihat kursi kamu itu bakal berat bagi aku Jul" ucap Eliza dengan nada terus bergetar disertai isak tangis dengan terbayang-banyang hari nanti tanpa Julian.
Hampir menjelang mahrib kedua sejoli itu masih di posisi yang sama duduk di kursi bersama dengan berpelukan erat.
Eliza rasanya tak mau berpisah dengan kekasihnya itu yang besok hanya tinggal suara tanpa ada kehadiranya.
Hingga Eliza perlahan tertidur dan Julian membiarkanya. Dia terus memandangi wajah Eliza yang tampak membuatnya sedih Perasaan cinta itu nampaknya membutnya segila ini dengan Eliza dengan perlahan Dia menyeka sisaan air mata milik Eliza dengan lembut.
Hingga hampir pukul sembilan malam dengan terpaksa Julian mengantarkan Eliza pulang dengan terlebih dahulu membangunkan Eliza dengan hati-hati.
"Sayang bangun .." ucap Julian dengan lembut sembari menepuk-nepuk wajah Eliza dengan perlahan.
Perlahan Eliza membuka mata dan mendapati hari mulai semakin malam
"Jul anterin aku pulang..." ucap Eliza dengan lesu.
Julian meganguk dan mulai berjalan keluar dengan memegangi tubuh Eliza.
Dan di perjalanan Eliza kembali menangis membayangkan besok nanti dan selamanya ketika tanpa Julian tanpa senyum penyemangat.
Ketika sampai depan rumah Eliza tampak tak ingin turun dari motor Julian.
"El udah dong jangan nangis terus" ucap Julian menyemangati Eliza agar tak terus terhanyut dalam kesedihan ini.
Eliza hanya diam menganguk dengan tangan menyeka air matanya entah kenapa rasanya begitu berat melepaskan satu mahkluk tuhan yang sempurna ini bagi Eliza.
"Aku pulang ya..." ucap Julian sembari menyeka air mata Eliza.
Eliza semakin terisak dan memeluk tubuh Julian dengan erat serasa perpisahan ini lagi-lagi membuat nya tak mamou menapak dunia nyatanya.
"Besok aku anterin kamu" ucap Eliza pada Julian namun mendapat penolakan dari Julian.
"Gak usah sayang aku gak mau kamu semakin sedih nanti aku jani mingu depan aku akan temui kamu oke.." jawab Julian dengan terus memeluk erat tubuh Eliza.
"Iya" ucap Eliza menutup wajahnya denagn kedua telapak tanganya.
Cup dan Julian mencium kening Eliza dengan lembut.
"I love you" ucap Julian dengan manis mengakhiri ciuman itu
"I love you to..." jawab Eliza yang tak mampu menatap Julian.
Eliza muali berjalan ke kamarnya dengan air mata yang terus jatuh dan Dia rebahkan tubuhnya diranjang tempat tidurnya namun perlahan Dia terbangun melihat Julian dari balik jendela kamarnya yang tampak masih berdiri di depan pagar rumahnya.
__ADS_1
Dan perasaan sedih itu kini bergelayut di tubuhnya di iringi air mata bagai lautan.