
Lanjutan....
Setelah itu aku memutuskan pergi karena Eliza terlihat sudah lebih baik dan aku tidak ingin menambah masalah lagi.
"Andai kamu tau El aku sekarang sedang di posisi berat hidupku masih terpontang- panting menghadapi masalah keluargaku....." batinku dalam hati sambil berlalu pergi.
"Woy Jul lo habis dari mana sih....??" tanya Roy yang datang tanpa aku undang dan membuatku sedikit terkejut.
"Gue ke belakang sebentar...." jawabku sambil mengusap keringatku yang menetes di pelipis.
"Ohh pulang nanti engak ada latihan..." ucap Roy sambil menepuk pundaku ya sudah biasa dia melakukan itu bisa dibilang dia sahabatku paling dekat.
"Bagus deh bisa rileks otak gue..." jawabku sambil berjalan menuju kelas.
Saat akan melangkahkan kaki ke kelas Putri datang bersama kedua temanya dia berjalan dengan kaki pincang.
''Jul makasih ya..." ucapnya dengan lembut serta menujukan rasa terimalasih yang tulus.
"Iya sama-sama udah gak baikan kan...?" jawabku dengan menanyai keadaanya.
"Udah mendingan kok..." jawabnya sambil menahan rasa sakit karena terdengar suaranya sedikit lebih berat.
Setelelah itu pelajaran kembali di mulai.
Saat ini otakku tak bisa fokus dibayanganku selalu Eliza dan Eliza.
Kejadian tadi terus terngiang-ngiang di kepala.
"Woy lo naksir Putri....??" ucap Roy berbisik di telingaku yang terasa geli.
"Kenapa....??" ucapku mencoba memancingnya mengungkapkan maksudnya.
"Dia gebetanya Dika tau.....!!' bisiknya lagi
"Oh sini kuping lo gue kasih kejutan.....!!" ucapku balik mengerjainya.
"Denger baik-baik gue gak suka sama Putri" ucapku dengan sedikit menyembur kuping Roy.
"Bagus deh perang dunia ketiga bakal kepending.....!!!" jawabnya sambil cengar-cengir kaya cacing kepanasan.
"Makanya punya ini buat mikir....!!" ucapku sambil mengarahkan jari telunjuk ke otakku.
"Pada ngomongin apa sih....." si empunya nama rupanya terusik.
"Kepo...." jawabku bersama Roy bersamaan.
Bel pulang sekolah tiba aku segera beranjak keluar kelas.
''Jul kapan-kapan ke rumah gue ya..." ucap Denis yang tak seperti biasanya.
'Sip" jawabku mengacungkan jempol.
Aku memandangi seisi jalan menuju keluar sekolah namun Eliza tak juga memperlihatkan batang hidungnya.
"Mukin dia udah duluan" batinku dalam hati.
"Jul nongkrong yuk...." ajak Roy sambil merangkul pundakku.
__ADS_1
"Oh siap..." jawabku menerima tawarannya.
Aku sekarang sedang berhenti di tempat tongkrongan anak sekolah, ya bisa di bilang cafe kecil namun bertema outdoor.
Ya semua teman-teman disini semua aku kenal. Kita nongkrong sekalian kita reunian karena dari mereka banyak teman masa SMP ku masa dulu.
Sekitar tiga jaman lebih aku nongkrong bersama Roy dan temanku yang lain kita lebih banyak mengobrol ketimbang menikmati sajian pancong berlumer keju itu yang membuat siapapun tergiur ketika melihatnya.
"Jul pancong lo gak lo habisin...??" tanya Roy menggangu obrolanku dengan teman sekolahku waktu dulu itu.
"Oh udah kenyang gue buat lo aja..." ucapku yang tau dia ingin memakanya
"Thanks ya..." jawabnya sambil menyerobot pancong yang belum termakan sebagian itu.
Aku hanya tersenyum geli melihat kelakuannya.
"Balik yuk...." ajaknya setelah oancong utu dihabiskanys.
"Siap..." jawabku sambiil berdiri.
Saat ini aku berboncemgan dengan Roy dan harus mengantarkan Roy pulang terlebih dahulu.
"Jul ucapan lo beneran kan....??" tanyanya mencairkan suasana yang semula hening.
"Iyalah gue tadi cuma refleks nolongin doang gak lebih..." jawabku sedikut berteriak berharap kupingnya panas.
"Bagus deh lo tau sendiri Dika kek gimana.. "
"Iya gue tau, ngomong-ngomong tumben Denis nyuruh gue ke rumahnya mukin lo tau alesannya....??" tanyaku ke Roy mukin tau jawabanya.
Tak berapa lama kita sudah sampai di rumah Roy.
"Thanks ya brow...." ucapnta sambil turun dari boncengan motor.
"Sip..."
Setelah itu aku memutar motorku dan meneruskan perjalanan pulang.
Saat sampai rumah seperti biasa rumahku nampak terasa sepi dan senyap, kenangan- kenangan bersama mamaku mulai bermunculan namun lambat laun hanya seperti khayalan yang mulai berguguran.
"Maaf mbk tolongĀ cuciin baju seragam ini ya besok pagi mau aku pakai soalnya ....." ucapku dengan ramah kepada pembantu yang terbilang masih cukup muda itu sembari menyerahkan kaos olahraga yang aku pergunakan untu main basket.
"Iya mas..." jawabnya dengan menunduk.
"Makasih mbk..." ucapku dengan sopan serta aku berusaha memperbaiki kelakuanku yang dulu kurang sopan
Pembantu muda itu hanya menunjukan senyum dan berlalu pergi ke dapur.
Aku membuka pintu kamarku dan aku rebahkan tubuhku yang lelah ini di tempat tidurku.
Rasa lelahku hari ini berlipat ganda hati serta pikiranku saat ini imbang rasa lelahnya.
Sekitar dua jaman lebih aku masih tertidur hingga suara azan itu berkumandang membangunkanku.
Aku usap mataku perlahan dan aku segera beranjak bangun.
Aku berjalan menuju kamar mandi dan wuudhu setelahnya aku sholat.
__ADS_1
Aku sekarang sedang merenung di dekat jendela kamarku aku pandangi langit yang tampak gelap itu yang di kelilingi ribuan bintang yang berkelap kelip.
Sejenak aku mulai memandangi pantulan tubuhku di kaca jendela rerlighat tubuhju lebih kurus karena kurang terurus.
Semenjak kepergian mama dari rumah kehidupanku terasa berbeda suasana hatikupun jadi tak menentu, kadang baik dan kadang kurang baik, mirip rollcloster yang naik turun tak menentu.
Aku tersenyum pilu menertawai terkadang hidup ini tak selalu berjalan mulus.
Papaku selalu sibuk dengan wanitanya sampai lupa aku juga anaknya.
Luka yang tersimpan di hatiku tak akan sembuh dengan cara apapum akan aku simpan luka lara ini sampai kelak.
Papaku selalu pulang larut malam dan pagi berangkat ke kantor sedang wekend papa lebih sering menghabiskan waktu di luar dengan berolahraga atau main bulu tangkis dengan rekan kerjanya.
Aku kembali mengecek layar ponselku tertera beberapa nomer mengirimku pesan namun nihil tak ada satupun yang aku llhat pesan itu.
"Uhukkk..." Aku kembali batuk dan darah itu keluar lagi
Aku hanya membiarkan saja mukin ini efek keseringan aku mabuk waktu itu.
Perlahan rasa cintaku ke Eliza mulai goyah namun kadang juga membaik seperti semula. Hatiku sekarang sedang diambang dilema.
Terlihat sorotan lampu menyala dari luar pagar rumahku itu tandanya lelaki yang pernah aku sayangi pada waktu dulu itu telah pulang.
Tenn.... suara klakson berbunyi dua kali dengan segera wanita yang mengurus pekerjaan rumah itu membukakan gerbang.
Ini sudah menjadi pemandangan setiap harinya.
Aku menghempaskan nafas dengan kecewa aku mulai menutup gorden kamarku sebelum papa melihatku.
Tak berselang lama seperti biasa pebantu itu mengetuk pintu kamarku untuk menyuruhku makan.
Tokk... Tokk nampaknya bukan ketukan dari pembantuku melainkan dari papaku.
"Jul buka pintunya....!"ucapnya dari luar kamar.
Aku hanya diam berharap papa segera pergi.
Namun ketukan itu semakin keras dan membuat kekesalanku semakin menjadi dan kupingku terasa gatal.
Ceklek aku membuka pintu
"Apa sih pa..." ucapku dengan nada jengkel karena papa mengusik ketananganku saat ini.
"Kamu udah makan belum...?" tanyanya dengan perhatian terlihat di sebelah tangan kirinya menenteng kotak berwarna putih itu.
"Udah aku mau belajar aku capek gak usah ganggu aku..." ucapku dengan jelas dan arah mata yang aku arahkan ke arah lain.
"Jul... Jul kamu ini selalu belum bisa buka hati kamu buat memaafkan papa" ucap papaku seraya pergi, tersirat jelas rasa kecewa tergambar jelas di wajah papaku.
Perutku memang lapar tapi lebih terasa luka lara yang belum sepenuhnya pulih ini.
Terlihat kotak makan itu di letakkan di atas meja makan.
"Mbak nanti kalau Julian keluar suruh makan ini ya..." ucap papaku dengan sopan.
Aku tau papaku masihlah sayang dengan aku tapi dengan kelakuannya sekarang aku belum bisa sepenuhnya memaafkan kesalahan yang diperbuatnya terhadap wanita yang sangat aku sayangi itu.
__ADS_1