Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 74


__ADS_3

Kring.... Kring... Kring


Benda berwarna hitam mentalik berbentuk persegi panjang itu dengan berisiknya membangunkan Julian dari alam mimpinya.


"Sialan....!!" ucaap lelaki yang masih berseragam itu dengan mata belum terbuka sepenuhnya sembari meraih benda itu yaang terletak di atas nakas.


Dia membuka mata dan mendapati hari sudah siang, hari ini dia berencana sekolah ya mukin dia sudah bosan hidup seperti gelandangan.


Dengan perasaan campur aduk dia akan kembali ke sekolah yang sudah selama dua minggu dia tak jamah.


"Mbak tolong nanti di cuciin baju aku jangan sampai rusak...!!" perintah Julian dengan angkuh sambil melempar baju seragamnya ke arah pembantu baru itu.


"Iya mas" jawab pembantu baru itu dengan pelan sembari mengambil seragam kumal yang jatuh itu.


"Julian jaga bicara kamu....!!" ucap papanya yang tiba-tiba datang dari arah pintu dapur sambil membawa secakur teh hangat.


"Ngaca pa..." ucapnya ke lelaki yang sudah rapi dengan baju kerja itu tanpa punya aturan.


Lelaki itu mengelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang semakin hari semakin membuatnya jengkel.


Kemudian menaruh cangkur di meja persegi itu mood minumnya sudah hilang sekarang terlihat teh uang baru Ia seduh hanya diminum satu sruputan.


"Papa berangkat dulu Jul kamu nanti pulang jangan kesorean ya ini jatah buat kamu hari ini...." ucap papanya tanpa mempedulian ucapan anaknya serta memyerahkan uang seratus ribuan.


Dia tak akan menjawab ucapan ayahnya dia hanya butuh cuan yang berada di atas laci kayu jati itu.


....


Sampai Sekolah.


Julian mulai melangkahkan kakinya di Sekolah yang sudah hampir dua tahun di laluinya, Sekolah yang dulunya menjadi tempat favoritnya.


Namun kini berbeda tempat itu seperti menjadi tempat tak berguna baginya.


Banyak siswa berlalu lalang tak sedikit pasang mata itu melirik Julian ya sebab kabar miring tentang Julian sudah tersebar luas.


Dia tersenyum sinis memandangi gedung bertingkat tiga itu.


"Woy Jul" ucap Andi menepuk pundak Julian dari belakang dengan sumringah, bisa digambarkan orang yang baru ketemu karena lama tak jumpa.


"Ya" jawabnya datar.


"Lo....??" tanya Andi ke arah Julian mendapati sahabatnya yang terlihat kurus dan rambut yang begitu acak-acakan.


"Udah deh mending lo duluan...!!" perintah Julian dengan nada tinggi dan tatapan membunuh.


"Oh oke..." (dasar aneh) batin Andi seraya pergi.


Saat sampai kelas semua pasang mata melihatnya tanpa cela seolah-olah dia seperti orang asing yang baru masuk ke kelas.


"Woy pada lihatun gue....!!" ucap Julian dengan ketus ke arah semua siswa yang melihatnya, dia tak akan mengampuni siapapun yang membuat masalah hari ini.


Brakkkk


"Kalau punya mata tu jangan di buat jelalatan" tambahnya lagi seraya mengebrak meja paling depan.


Semua bergidik ngeri mereka tak menyangka bahwa Julian menjadi berubah seperti sekarang.

__ADS_1


Sifatnya tak sama seperti dulu yang selalu menarik bagi siapa saja.


Keceriaan yang dulu terukir jelas di wajahnya kini sirna meninggalkan bulir luka.


Sifat humbelnya kini berubah menjadi arogan.


Dari arah pintu, Dika datang dan adu mulut itu tak terhindarkan.


"Ngapain lo masih sekolah gak libur aja terus samapi lebaran...?" ucapnya melewati Julian dengan sinis dan dengan suara mengejek.


"Bacot lo...!!" jawab Julian menghampiri Dika dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang sudah mengepal erat-erat.


"Hahaha masih punya mulut lo udah gak punya malu ternyata sekarang" dia menyilangkan tangan di dada tanda dia sedang menatang maut.


"Buagh..... sialan lo" dengan brutal Julian meninju wajah Dika dengan kepalan tanganya.


"Buaghhhh..." Dika membalas tamparan Julian dia tak mau kalah dengan Julian.


"Sialan lo....!!" ucap Julian sambil memegan bibir mulusnya yang berdarah itu.


''Kalian ini apa-apaan sih...?" Roy datang dan berusaha menengahi mereka


"Woy udah-udah Dik mending lo keluar dulu" ucapnya berusaha menengkan kondisi saat ini dia menatap Dika dengan tatapan tajam.


"Awwww... dasar bocah gila...!!" ucap Dika seraya merintaih kesakitan.


"Jul lo kenapa sih kalo lo belum siap sekolah lo istirahat di rumah aja" ucap Roy justru membuat darah Julian semakin mendidih.


"Punya hak apa lo buat larang gue...??" Julian memang keras kepala saat ini hampir membatu rasanya.


Roy hanya mengelengkan kepala menandakan dia harus dewasa sekarang menghadapi kelakuan kawannya yang mirip bocah TK.


"Julian...." ucap Putri dari depan pintu dengan gembira, karena hal yang di tunggu-tinggu selama ini muncul juga.


Raut wajahnya berseri-seri bak bidadari turun dari langit.


Julian tak merespon kehadiran wanita itu dia memutar bola matanya penuh rasa geli.


"Putri mending lo duduk sendiri di tempat lo" ucap Roy memerintah sebelum adu mulut itu terjadi lagi.


"O iya...." dengan sedikit ketakutan Dia berjalan menuju tempat duduknya karena melihat yang terlihat berbeda.


Suasana menjadi hening sesaat bel masuk berbunyi.


"Semoga semua aman sampai pulang" batin roy dalam hati berdoa agar situasi kembali membaik seperti sebelumnya.


Julian mukai Duduk dan Tas yang ia bawa Ia jatuhkan dengan keras membuat siapa saja yang mendengar terasa mengerikan.


.....


"El Julian udah masuk lho..."ucap Vey dengan antusias.


"Oh..." jawabku datar.


"Kok lo gak seneng sih...?" Vey sedikit kecewa awalnya Dia ingin menunjukan kejutan tapi yang di beri kejutan hanya menunjukan raut wajah biasa-biasa saja.


"Gue udah putus kok sama Dia..." jawabku tanpa bertele-tele.

__ADS_1


"Serius...?" tanyanya lagi tidak percaya.


"Iya Veyku sayang" jawabku dengan mencupit pipinya yang chuby itu.


"Lo yang mutusin apa Dia...?" tanyanya lagi seperti anak TK yang kepo.


"Dia, mukin Dia udah punya yang lain" jawabku dengan menaikan alis tanda aku berusaha biasa-biasa saja.


"Sory ya El kita gak maksud begitu" timpal Rena yang sedang mengaduk jus di gelasnya.


"Gakpapa kok lagian gak ada yg perlu di sembunyiin juga"


Mereka melanjutkan acara makan siangnya sebelum keributan itu muncul kembali.


Jbrekkkk....


Dengan kasar Julian mengebrak meja kantin dengan keras seketika semua siswa melojak kaget.


Karena saat ini kantin penuh menjadikan kemarahan Julian muncul kembali.


"Lo pergi gue mau makan di sini....!!" perintah Julian dengan kasar ke arah anak jelas sepuluh itu kareba merasa anak baru ke dua gadis berambut lurus itu pergi dengan ketakutan.


"El... Serius itu Julian sumpah ngeri banget" ucap Rena ketakutan.


"Eum... kita pergi aja yuk takut gue...." tambah Vey sembari menarik tangan Eliza.


"Yaudah yuk lagian tugas biologiku belum selesai juga." Eliza ikut beranjak dan mereka bertiga meninggalkan kantin itu.


"Woy lo anak ingusan mau apa lo berani beraninya gebrak meja....??" ucap salah satu anak kelas dua belas dengan lantang yang duduk di baris belakang.


"Dasar gila...." tambah seseorang lagi yang duduk di sebelahnya.


"Apa lo hah, berani sama gue,,,??" Julian datang dan berusaha menantang mereka.


"Udah-udah Jul mending lo duduk sebelah sana masih kosong,," perintah Roy yang memang sedari tadi menjadi seperti pengawal Julian yang berjalan di belakang Julian.


"Gak sudi..." jawab Julian dengan sombong.


Julian tidak jadi membeli makan dan memutuskan pergi dia sudah muak dengan keadaan saat ini.


"Sory ya semua..." ucap Roy berusaha memintakan maaf atas kelakuan temanya.


''Jul lo tu jangan emosian begini bisa-bisa lo...'' belum sempat Ia lanjutkan tiba-tiba Julian memotong pembicaraanya.


"Bisa, bisa apa hah...?" ucap Julian seolah-olah menantang.


"Gak jadi kok" Roy berusaha diam


(mimpi apa sih gue semalem bisa-bisanya ketemu temen yang kaya gini mukin dia kemasukan roh kali ya) ucap Roy dalam hati sembari menyumpahi Julian dalam diam.


"Lo mau ngomong-ngomong aja gak usah di pedem dalam hati" ucap Julian sembari mengambil korek api dan rokok dari sakunya.


"Lo ngerokok...??"


Next


....

__ADS_1


__ADS_2