
Teen... Tenn
Terdengar bunyi klakson yang terdengar berkali-kali membuatku dengan terpaksa harus membuka mata.
"Uam.... Siapa sih pagi-pagi bangunin orang aja gak tau apa orang lagi istirahat...!!" ucapku dengan kesal sembari menyibakkaan selimut.
Tennn... tenn...
"Iya sebentar, palingan juga paketnya mama .." aku tambah kesal dengan bunyi klakson yang tak tau diri itu.
Aku mulai turun dari kamar dengan wajah ya begitulah bisa dibayangkan orang baru bangun tidur dengan penampilan yang acak-acakan
Aku mulai membuka pintu rumah dan berjalan membuka gerbang.
Mataku langsung terbelalak melihat yang datang adalah Julian, perasaanku anatara sedih dan senang kini bercampur jadi satu.
"Oh may gooddd...." ucapku dalam hati sambil mengaruk rambutku dengan kasar.
"Baru bangun ya..." tanyanya dengan halus dan itu mampu membuat hatiku tersentuh.
"Iya" jawabku dengan gugup.
Aku diam mematung memandangi ciptaan Tuhan yang satu ini yang selalu aku tangisi karena kebodohanku mencintainya.
"Masuk Jul" ucapku mempersilahkan Dia masuk ke dalam.
Dia duduk di teras sedang aku berjalan menuju kamarku aku tinggalkan dua sendirian
Aku segera mengambil handuk dan mandi jelas tidak mungkin aku menemuinya dengan keadaan kurang sopan seperti ini.
Entahlah kenapa aku mandi tak selesai- selesai rasanya aku terus membasuh badan ini dengan sabun bermerk purbasari ya memang produk dulu tapi membuat aku nyaman memakainya tak lupa sebelum mandi aku luluran terlebih dahulu.
"Dasar Jukuab datang tiba-tiba ngomong dulu kan bisa jadi gugup kan aku..." ucapku berkomat-kamit walau hatiku senang berlonjak-lonjak rasanya.
Segera aku masuk kamar dan memilih baju, ya memilih baju terjadi sangat membingungkan bagiku sekarang.
"Duh yang pas mana coba...?" keluhku sambil memilih baju yang berada dalam lemari.
Aku memilih celana jeans panjang serta baju garis berwarna hitam.
Setelah hampir lima belas menit aku sudah siap dengan rambut yang hanya aku ikat satu .
Aku mulai keluar kamar dan turun untuk menemui Julian walaupun rasanya jantung ini sedang berdisko.
Entahlah serasa hatiku sekarang terbuka lebar untuknya kesalahan yang diperbuatnya masa lalu seakan hilang terbawa angin malam.
Dia justru memandangiku dengan tatapan penuh nafsu matanya tak berhenti melihat aku berdiri mungkin jikalau ada lalatpun akan masuk kedalam mulutnya.
"Aku boleh numpang mandi...??" ucapnya terdengar basa basi dan itu pertanyaan absrud menurutku karena jarang ada tamu numpang mandi.
"Oh silahakn..." ucapku memeprsilahkan Dia mandi.
__ADS_1
"Sengaja deh kayaknya..." gumanku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Setelahnya aku menunjukan arah kamar mandi yang berada di bawah dan dia mulai berjalan menuju arah kamar mandi yang terletak dekat dengan dapur itu.
Kurang lebih lima belasan menit dia sudah keluar dari kamar mandi
Oh Tuhan jaga nafsu ini dia begitu tampan sekarang wajahnya tampak bersih berseri ditambah baju yang ia kenakan basah terkena air yang menetes dari rambutnya menjadikan rasa suka ini terus begeliat.
Dengan segera aku mengambilkan dia handuk dan menyerahkanya sebelum aku melihat dada bidangnya yang tranparan itu.
Setelah itu kita duduk bersama di tempat biasanaya keluargaku bersantai dengan view menghadap langsung ke taman.
Ternyata kedatanganya kesini ingin mengembakikan kotak makan milikku yang aku berikan kemarin saat pertandingan.
Kita kembali saling diam layaknya orang asing yang baru jumpa pertama kali.
"Oh iya sebentar ya" ucapnya sambil berdiri dan berjalan keluar menuju halaman rumah dimana Dia memarkirkan motor.
"Nih ada bubur dimakan gih..." ucapnya sambil menaruh dua kotak berisi bubur ayam.
Tanpa aku suruh kaki ini dengan sendirinya berjalan menuju dapur ya aku akan membuatkanya coklat panas "Semoga dia suka" batinku dalam hati.
Aku mengambil dua buah cangkir berwarna putih setelah itu aku tuangkan dua sendok makan bubuk coklat ke dalam cangkir dan aku tuangkan air panas .
Aku mulai menatanya di atas nampan tak lupa aku mengambilkan sendok untuk makan bubur pemberianya.
Setelahnya aku duduk di sampingnya
Rasa gugup kini menyelimuti kembali hingga tak sengaja aku menjatuhkan sendok ke lantai hingga bunyi
Aku mencoba mengambilnya begitupun Julian hingga kepala kita bertemu.
"Gak usah gugup ini sendoknya..." ucapnya kepadaku yang membuat jantung ini mulai tak berirama.
Wajahku mulai memerah menahan rasa malu yang tak kunjung hilang ini.
Kita kembali menyatap bubur ini rasanya lumayan cocok dengan lidahku namun aku kurang suka dengan taburan kacang, ya aku alergi kacang hingga pada akhirnya aku sisihkan di pinggir kotak ini.
''Gak suka kacang...??" tanyanya dengan arah mata ke arahku.
"Gak...." jawabku sambil menyendok bubur kembali.
"Nih belepotan tau.." dengan perhatianya dia mengusap pipiku yang terkena cipratan bubur.
Aku hanya senyum kasmaran.
Sehabis makan kita berbincang-bincang Julian kini sekaramg cukup beda dari biasanya sikap yang dulu hilang kini muncul kembali.
Sifat yang membuat aku selalu nyaman berada di dekatnya.
Sifat yang membuatku aku merasa aku menjadi ratu baginya
__ADS_1
Dan sifat yang selalu membuatku merasa sempurna.
Dia melihat jam dinding yang tertempel di di dinding itu.
"Udah mau zuhur aja" ucapnya sembari melihat arah jarum jam yang menunjukan di angka sebelas hampir ke angka dua belas serta jarum panjang berada di angka tujuh.
Pertemuan yang lams ini terjadi begitu singkat.
"Iya nih sholat disini aja" tawarku kepada Julian terlihat dia kurang tidur dengan mata sedikit terlihat sayu.
"Gak boleh pulang ya...?" tanyanya dengan nada mengodaku.
"Boleh kok nawarin aja mau nginep disini apa gak" jawabku menawarkan dia sholat disini walaupun kata sholat aku ucapan menginap.
"Apaa...??" ucapnya dengan terkejut.
"Maksudnya mau sholat di sini apa engak maaf keceplosan..." dengan bodohnya mulut ini bicara seenaknya.
Julian menahan ketawanya yang terlihat dia memalingkan wajah ke arah lain.
"Jangan lupa senyum oke aku balik dulu ya" ucapnya penuh rasa perhatian kepadaku kemudia Dia berdiri sembari berjalan keluar dari rumahku.
"Iya makasih untuk sarapanya" jawabku dengan tersenyum manis semanis madu tentunya.
Aku mengantarkannya sampai gerbang
"Hati-hati ya" ucapku kepada Julian sembari melambaikan tangan.
Dia membalas dengan senyuman.
Dia pulang dan rasa sepi kini menghampiriku ternyata aku benar rindu akan dia aku benar-benar merasa kehilangan dirinya walau pertemuan yang cukup lama ini terasa sangat singkat.
Jika aku boleh meminta aku ingin bangun lebih pagi agar aku bisa memasak makanan untuknya.
Aku mulai memandangi tubuh yang mulai menghilang itu
"Jul jangan pernah sakiti aku lagi ya" ucapku dengan terus memandang kepergianya dia perlahan mulai menghikang jauh dari pandanganku.
Aku menutup gerbang kembali dan aku langsung berjalan menuju kamarku aku membuka pintu lemariku, aku akan mencari barang pemberian Julian waktu itu yang aku simpan di dalam tumpukan barang koleksiku.
"Maaf ya Jul gak seharussnya aku mengabaikan barang pemberianmu ini..." ucapku sembari memandang barang pemberian Julian ini yang terlihat begitu manis, aku tarik kembali kata-kataku untuk mengembalikanya.
Aku mulai membukaya
Ternyata dia memberikanku sweter berwarna hijau army yang langsung aku kenakan dia begitu mengetahui kesukaanku hingga aku cium barang ini berkali-kali walau masih terasa bau pabriknya.
Aku benar-benar dimabuk cinta sekarang.
Setelah itu aku kembali membuka kotak kedua yang berbalut kardus mewah itu
Perlahan aku membuka terlebih dahulu pita berwarna emas ini setelah itu aku buka kardusnya dan ternyata dia membelikanku sebuah jam tangan yang ingin aku beli waktu itu namun tidak jadi.
__ADS_1
Begitu baiknya Tuhan padaku hingga aku masih bisa merasakan cinta ini yang mukai tumbuh kembali.
"Jul aku sayang kamu..." ucapku dengan bahagia.