
"Makasih ya Jul maaf ya aku udah ngerepotin kamu demi urusanku..." ucap Eliza dngan rasa bersalah ya Dia tau diri apa yang dilakuaknya tak wajar tapi ini semua murni yang dia lakuakn dari kebaikan hatinya.
"Gak papa kok kan kamu niatnya balas budi aku iklas bantu itu lagian gak ada salahnya kan Dia juga udah selamatin nyawa kamu waktu itu..." jawaban Julian membuat hati Eliza terenyuh ternyata di balik sifat cemburunya tersimpan sifat hatinya bagai malaikat.
"Kamu gak masuk dulu..." Eliza menawarkan untuk masuk namun Julian menolak.
"Gak deh sayang makasih..." Julian mulai kembali menyalakan mesin motor itu tapi dengan cepat Eliza menahanya.
"Sebentar Jul tunggu sebantar.." ucapnya dengan meraih tangan itu kembali.
"Ada apa" Tanya Julian dengan menaikan alis matanya tanda Dia tak tau maksud dari kekasihnya itu.
"Cup.. makasih ya aku janji gak bakal bikin kamu cemburu lagi..." dengan nakalnya Eliza mencium bibir itu dan membuat si empunya terkejut.
"Oh kirain apaan coba makasih lo udah ngasih kejutan semanis ini..." Yang di cium berasa terbang sekarang di balik sifat yang polosnya ternyata kekasihnya itu cukup nakal.
"Ada lagi gak...??" tanyanya lagi dengan memajukan dagu.
"gak ada Jul cepetan pulang keburu mamaku pulang"
"Iya udah kalau gitu aku pamit ya..." Julian mulai menyalakan kembali motornya dan beranjak pergi.
Sedang Eliza masih berdiri melihat Julian yang mulai menghilang dari pandangan matanya itu.
Pikiran Eliza jadi risau memikirkan ucapan Julian tadi.
Dia menghembuskan nafas semenjak pertemuanya dengan Julian waktu itu kini banyak hal tak terduga yang dialaminya.
Dia menutup kembali pintu gerbang dan berjalan masuk kedalam rumah.
....
Julian mulai menepikan motornya di depan gerbang rumahnya Dia mulai membuka gerbang setelahnya memasukkan motornya kedalam.
Hari semakin petang lukisan senja itupun terlihat mulai pudar tergantikan gelapnya malam.
"Ceklek..." dia membuka pintu rumah dan mendapati papanya belum pulang.
Rumah yang dulu hidup itu kini tampak sepi hanya suara dentuman jam klasik itu yang berdetak berirama.
Julian melepaskan sepatunya Dia mengambil kembali sebuah anting yang Ia temukan tadi di rumah Rehan.
"Mbk mau tanya sering lihat bapak teleponan gak sama wanita...??"
__ADS_1
Julian mulai berjalan ke dapur sembari mengambil gelas bening itu dan menuanginya dengan air dingin rasa penasaran akan wanita itu terus menggangu pikiranya hingga tak sengaja dia mencari informasi lewat mbak Inah.
"Mbk mau tanya sering lihat bapak teleponan gak sama wanita...??" ucapnya lagi karena ucapanya tadi tak di jawab oleh mbak Inah. Dia menarik kursi kayu itu untuk dia duduki.
"Oh sering mas" jawab wanita itu yang terlihat sedang menyiapkan makan malam itu.
"Sering nyebut Ayunda mungkin..?" tanya Julian dengan duduk sembari meneguk minuman dingin itu, mbak Inah yang tak mengetahui dengan pasti Dia hanya menjawab sejujurnya.
"Kurang tau deh mas gak suka dengerin soalnya" jawabnya sedikit gugup.
"Oh yaudah makasih ya..."
Julian mulai berdiri dengan meninggalkan minuman yang masih tersisa sebagian itu.
Julian mulai berjalan menuju kamar papanya,kamar yang dulu di tempati mamanya tapi sayang pintu itu di kunci rasa penasaranya kini justru semakin menjadi.
Dia kembali berhenti memandangi kamar yang dulu selalu tampak membuatnya bahagia itu, ribuan kenangan-kenangan itu seperti kembali muncul hingga perlahan membuat goresan luka itu seprrti menyapanya.
Dia kini menjadi rindu dengan mamanya segera Dia mengambil ponsel hitam miliknya dan melakukan pangilan suara dengan wanita yang disebut mama itu.
"Hallo..." ucap wanita itu yang cepat mengangkat pangilan telepon dari Julian suara lembutnya itu mampu menyejukan hati Julian saat ini.
"Hallo ma apa kabar...?" tanya Julian dengan raut wajah bahagia sembari dia menyenderkan badanya di balik tatanan bantal itu.
"Kok tumben telepon mama engak bilang dulu ada apa sayang...?" tanyanya dengan rasa perhatian yang selalu Ia tunjukan itu.
"Gak apa-apa ma tiba-tiba kangen aja..." jawab Julian dengan raut wajah sangat bahagia seekan akan saat ini Dia mendengar suara mamanya secara langsung.
"Oh benarkah kamu pasti lagi ingin cerita ke mana ya ada masalah apa sih sayang...? Begitulah hati wania selalu tau apa yang sedang di rasakan anaknya.
Mendengar ucapan dari mamanya Julian justru semakin tak tega ingin rasanya Ia menceritakan semua ini ke wanita yang di sebut mama itu namun hatinya terasa tak sampai hati karena jika itu Dia lakuakan justru akan menambah beban pikiran mamanya.
"Udah makan ma...?" tanya Julian dengan perhatian walau itu hanya pertanyaan basa-basi.
"Udah sayang kapan nih mau ke bandung lagi...?" tanya wanita itu dengan sangat antusias karena Dia selalu menanti kehadiran anaknya setiap waktu.
"Oh liburan nanti ma kan sebulan lagi udah libur kenaikan kelas...." jelas Julian agar dia tak memberikan harapan kosong.
''Oh iya udah mama tunggu lho, o iya Jul yang rajin belajar ya biar dapet nilai bagus bisa bangain mama disini...." ucapan mamanya membuat dia terkekeh dengan dirinya karena saat ini dia tak semangat berlajar.
"Iya ma siap" ucapnya berusaha membahagiakan mamanya.
"Udah sembahyang belum sayang...?"
__ADS_1
"Belum ma baru pulang tadi ada kerja kelompok" jawab Julian mencari alasan lain rasanya Dia belum jadi anak baik bagi mamanya.
"Yaudah udah dulu ya mama mau sembahyang, mamavtutup ya jaga kesehatan kamu ya sayang..."
"Iya ma selamat malam..." jawab Julian seraya mematikan pangilan telepon itu.
Perlahan namun pasti mata itu mulai menutup hingga ia berada di alam mimpi.
...
Saat sarapan pagi Julian sengaja melungkan waktu untuk sarapan pagi Ia sengaja melakukanya, ya sebab Dia ingin bertemu dan sedikit bercakap-cakap dengan lelaki yang Ia panggil papa itu.
"Oh kamu udah duluuan Jul cepetlah makan keburu dingin roti bakar kamu..." ucap lelaki yang tengah sibuk dengan rutinitas memakai dasi itu, melihat dasi yang dipakai papanya Julian jadi teringat kejadian kemarin yang masih yeringat jelas diingatanya.
"Iya pa..." jawaban terdengar polos dengan tatapan menatap arah dasi itu.
"Tumben kamu sarapan bareng papa ada apa...?" Tanya lelaki itu sembari duduk di kursi berhadapan dengan Julian.
"Gak pa lagi kebetulan aja" jawab Julian dengan memutar bola matanya tanda sebenarnya ada maksud tersebunyi dari yang Dia lakukan.
"Pa aku mau tanya kemarin papa ke kantor apa ada tugas luar kantor...?" pertanyaan anaknya itu membuat lelaki itu sedikit terkejut.
"Oh maksud kamu Jul..." lelaki itu tak menyangka anaknya akan bertanya seperti itu.
"Gak nanya aja soalnya kemarin aku sempet lihat mobil persis dengan punya papa lewat..."
"Dimana...?" tanya lelaki itu dengan nada cemas.
"Di jalan Gandaria pa..." ucapan Julian lantas membuat lelaki itu tersedak dengan makananya.
"Oh iya memang papa kan ada janji mau jengukin anak temen papa yang baru pulang dari rumah sakit itu Jul..." jawab lelaki itu sembari meneguk air mineral didepanya.
"Oh jadi papa kenal Ayunda...?" ucapan Julian bebarengan dengan suara pangilan masuk dari ponsel lelaki itu.
"Tring.. Tring"
"Sebentar ya Jul ada telepon masuk..." ucapnya dengan meraih ponsel di saku celananya dan berjalan keluar dari tempat makan itu.
Julian sedikit kecewa dengan papanya perasaan tak karuan kini menghampiri pikiranya semakin yakin jika Ayundalah yang menjadi selingkuhan papanya.
"Mbak rotinya di buang aja udah gak nafsu sekalian susunya kasih kucing" ucap Julian dengan nada meremehkan makanan sembari Dia beranjak dari tempat duduk meningalkan makanan yang belum Ia sentuh sedikitpun itu.
Mbk Inah hanya mengelengkan kepala melihat tingkah laku anak tuanya itu.
__ADS_1
"Jul tadi kamu ngomong apa...?" ucap lelaki itu dengan buru-biru menghampiri anaknya namun sayang anaknya sudah tak berada si meja makan itu.