Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter: 149


__ADS_3

Waktu kian hari kian berjalan cepat dua hari lagi Julian akan meninggalkan rumah ini, rumah yang baru satu tahun Ia tempati bersama keluarganya


Julian mulai mengemasi barang- barangnya dan rencanaya Dia akan pindah ke Bandung selagi urusan surat pindah sekolah selesai dan Dia akan segera meninggalkan rumah ini.


Dia menatapi barang-barang yang akan Dia bawa dengan perasaan sendu ini pilihan berat baginya meninggalkan rumah yang penuh cerita baginya serta meningalkan kekasihnya karena berpisah dengan Eliza itu rasanya sangat berat apalagi waktu ini Dia sedang sayang-sayangnya dengan wanita itu.


Satu persatu barang kesayanganya akan dia bawa. Dia mengambil koper besar yang bisa Ia bawa saat keluar kota dulu dengan keluarganya.


Membicarakan keluarganya ya tampaknya itu hanya mirip lelucon. Bisa digambarkan sekarang mirip kapal yang terombang-ambing di lautan lepas tanpa nahkoda dan arah, begitu mudahnya sebuah keluarga itu hancur hanya kerana seorang wanita, Dia paham kelak Dia akan menjadi kepala keluarga seperti papanya namun Dia belajar banyak tentang arti sebuah keluarga dan arti tanggung jawab sebenarnya.


Dan mulai saat ini Dia harus belajar menjalani kata-katanya bukan hanya omong kosong belaka segala hal yang berada di ruangan persegi pajang ini mejadi saksi bisu kepahitan perjalan rumah tangga kedua orang tuanya yang tampak sudah kandas itu.


"Dreeet" ponsel persegi panjang miliknya berbunyi segera Dia beranjak dari tempat duduk itu sembari meraih ponselnya di atas ranjang miliknya Dia segera mengeser panggilan masuk dan mengangkat telephon dari Amelia di Bandung.


"Hallo ma..." ucap Julian dengan nada gembira ya walau hatinya suntuk namun di depan mamanya Dia jelas tak akan menunjukan hal itu.


"Iya hallo Jul ini mama mau nanya kamu serius mau pindah ke Bandung....?" tanya wanita di seberang telephon yang sedang mengambar desain baju untuk pelangganya karena baru kemarin Julian mengabari akan hal itu dan itu terkesan mendadak tentunya dan menimbulkan tanda tanya besar.


"Serius dong ma kenapa ya ma...?" jawab Julian dengan cemas Ia takut akan ada permasalahan saat nanti Dia berada di Bandung.


"Gak gitu mama seneng banget malah kamu bisa pindah ke sini tapi alasanya apa ya Jul...?" tanya Amelia pada akhirnya karena tak biasanya anaknya mengambil keputusan seberani ini walau sebenarnya Dia tak mempermasalahkan hal ini.


"Nanti ma aku cerita pas lagi di Bandung aja yang terpenting keluarga mama bisa nerima aku tinggal disana....?" jawab Julian dengan nada berat karena sesunguhnya hak asuh Julian jatuh di tangan Wijaya dan untuk tinggal di keluarga baru itu tampaknya tak mudah.


"Eum hanya itu jelas nerima lah sayang yaudah kamu kapan datang ke Bandung biar mama siapin segala hal yang kamu perluin disini." ucap Amelia dengan nada gembira karena akan menyambut anak lelakinya yang artinya akan tinggal serumah denganya.


"Secepatnya ma ini sekarang aku lagi beres-beres baju ma" jawab Julian dengan tersenyum sembari memasukkan kembali baju olahraga kesayanganya.


Kurang lebih dua puluh menit Amelia menelpon anaknya hingga ada satu pelanggan yang datang dan meminta arahan dari Amelia menjadikan Dia harus mengakhiri telepon dengan anaknya.


"Sayang udah dulu ya mama ada pelanggan nih" ucap Amelia sembari berdiri


"Iya ma" jawab Julian sembari menutup telepon itu, rasanya hari ini Dia belum bertemu mbak Inah wanita yang biasa membantu pekerjaan di rumahnya karena sebentar lagi akan meninggalkan rumah ini.


Dia berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri mbak Inah yang biasa di jam segini sedang menyiapkan makan malam di dapur namun belum sempat Dia melangkahakn kaki tamu yang spesial itu datang tanpa ada suara kendaraan masuk sebelumnya dan membuat Julian terkejut


Julian berdiri dan mendapati Ayunda berada di depan pintu bersama Wijaya yang tampak pulang dari kencan bersama walau kejadian sebebarnya Ayunda sehabis periksa dari dokter kandungan.


Hati Julian tampak sakit berlipat ganda rasanya, melihat dua sosok orang yang menghancur kehidupanya saat ini.


"Jul duduk dulu" ucap Wijaya sembari menghampiri putranya dan Julian tampaknya sedang berbaik hati.


Dan karena ini adalah kesempatan terakir bertemu langsung dengan orang yang membuat nya harus pergi Dia luangkan waktunya sejenak walau hanya sekedar untuk berbicara tak sama halnya hanya omong kosong belaka.


"Ada apa...?"tanya Julian tanpa memadang Ayunda dan Wijaya yang terlihat tampak antusias untuk bertemu itu.

__ADS_1


"Beri salam dulu ke tante Ayunda Jul" ucap Wijaya yang tampak urat malunya sudah putus membawa selingkuhnya ke ruamah dan menghadapkan ke anaknya bukan suatu hal bodoh bukan


"Oh salam..? maaf pa aku dan tante Ayunda bukan muhrim jadi tak sepantasnya aku melakukan hal itu bukan....?" ucap Julian dengan mengerutkan alis matanya dengan nada bagai penceramah handal.


"Julian beri salam sekarang..." ucap Wijaya lagi yang rupanya tampak kesal dengan Julian.


"Pa dengerin baik-baik aku ijinin papa nikah gak usah bawa-bawa Dia segala kesini apa yang kurang sih pa tenang aja aku akan angkat kaki dari sini biar kalian puas...!!!" ucap Julian dengan lantang dan emosi yang semakin berkobar hebat.


Ayunda tampak tersenyum puas langkahnya terbebas dari Julian tampaknya sudah di ambang mata ya di kehamilanya saat ini Dia sedikit lebih sensitif membuat semua hal menjadi tidak Ia sukai.


"Julian jaga ucapan kamu...!!"ucap Wijaya dengan melotot tajam ke arah anaknya.


Julian hanya terdiam mengangap hanya bicara dengan orang lain yang tak pantas Ia dengarkan.


"Bukan maksud papa begitu Jul.."ucap Wijaya yang tampak ketakutan ditingal oleh anak lelakinya.


"Gak pa aku gak akan bisa lembut seperti Julian yang dulu, hati aku udah sakit pa ini tu mulai terbuka lagi dan akan membekas selama-lamanya jadi jangan harap aku akan seperti dulu...!!" jelas Julian lagi dengan tegas dan hembusan nafas yang terlihat naik turun.


"Julian kamu bisa hormat sedikit dengan papa kamu kedatangan saya kesini hanya minta ijin dari kamu papa kamu akan nikah dengan saya ". Jawab Ayunda yang tak punya malu dengan nada sok manis selain bertemu Julian alasanya kesini adalah ingin melihat rumah Wijaya.


Julian hanya tersenyum sembari terkekeh menangapi ucapan Ayunda yang tampak seperti kaleng bekas yang borot tak berguana dan menyusahkan.


"Cukup demi kebahagian kalian aku akan pergi" jawab Julian seraya meninggalkan Ayunda dan Wijaya yang tampak masih berada di ruang tamu itu.


"Julian jaga ucapan kamu minta maaf ke tante Ayunda dan jangan pergi dari rumah....!!"


Badanya ia sederkan di bahu ranjang itu Ia pikirkan kembali dan Ia semakin yakin untuk meninggalkan rumah yang penuh siksa serta derita ini.


Ia mengusap keringat di pelipisnya sepanjang hari hanya ada pertengkaran di rumah ini dan membuatnya sedikit memilik beban pikiran yang berat matanya tampak sayu dan senyum di wajahnya yang biasa muncul itu kini sirna seketika.


Dia kembali membereskan beberapa barang yang masih berantakan di kamarnya dengan teliti. Dia bungkus satu persatu, Walau masih banyak berharga baginya namun terlebih baik Dia tinggalakn karena Dia ingin mebuka lembaran baru untuk kehiduapn barunya nanti.


Dia memandangi poster saat Ia bertanding basket tahun lalu serta saat Dia kelas sebelas dan itu kini hanya tinggal kenangan terlalu rumit jika di utarakan Dia tersenyum penuh kebangaan.


.......


Sehari berlalu sifat Julian kini semakin berbeda dan membuat Eliza penasaran dengan hal itu dengan terpaksa Eliza memberanikan diri bertanya ke Julian yang saat ini sedang berada di ruang kepsek.


"Jul..." ucap Eliza menghampiri Julian yang sedang berjalan keluar dari ruang kepala sekolah.


"Iya" jawab Julian seraya berhenti dan menjawab ucapan kekasihnya walau setiap hari bersama rasanya tak ada puasnya.


"Boleh minta waktunya..." ucap Eliza dengan mata memohon seperti biasa dan jelas tak mendapat tolakan dari Julian.


"Boleh kita ke tempat biasa..." ucap Eliza yang kini tampak berani meraih tangan kokoh milik Julian dan dengan sendirinya tangan itu menempel bagai magnet

__ADS_1


Mereka kini sudah di belakang gedung sekolah seperti biasa saat bertemu dan mungkin ini adalah pertemuan hari terakir di Sekolah ini.


"Jul aku mau nanya kamu kenapa sih kok sering banget ke ruang kepala sekolah ada urusan apa...?" tanya Eliza dengan tatapn sendu ya pikiran negatif itu tampaknya muncul di benak Eliza takut terjadi apa-apa dengan Julian.


Julian hanya diam Ia ingin sekali mengungkapkan semua namun saat ini belum waktu yang tepat rasanya dan untuk mengatakanya itu semkin berat Dia simpan rapat-rapat nyalinya untuk mengungkapkan ini semua.


"Gak apa apa-sayang" jawab Julian dengan mengalihkan pandangan ke arah lain Dia tak ingin ada kontak mata langsung dengan Eliza.


"Serius gak ada apa-apa...?" tanya Eliza lagi yang tampak tak percaya.


"Serius itu ada urusan keuangan biasa nunggak" jawab Julian sedikit berpikir untuk memberikan alasan yang wajar.


"Yaudah aku percaya sama kamu sayang" ucap Eliza pada akhirnya sembari menyetuh lembut jemari Julian dan di tempelkam di dadanya dan tiba tiba Julian memeluk erat tubuh Eliza yang tak seperti biasanya karena perpisahan itu datangnya menyakitkan dan berlalu menguatkan.


"Maksih ya buat waktunya" ucap Julian yang membuat Eliza merasakn hal beda dari Julian dan semakin yakin Julian sedang merahasiakan hal lain darinya.


"Maksud kamu apa sih Jul kamu tampak beda deh kenapa sih...?" ucap Eliza sedikit kesal dengan Julian tentunya.


"Cup" udah kan itu maksud aku ". Jawab Julian yang tampak pandai memyiman sesuatu rahasia itu.


"Aneh deh yaudah kita ke kelas yuk nanti ada yang lihat lhoo" ucap Eliza kepada Julian sembari meraih tanhanya seprrti biasa.


Julian haya terkekeh saat Dia di Bandung nanti pasti akan rindu dengan wanita di depanya ini yang mirip anakn kecil yang memilik tingkah  selalu mengemaskan.


"Ko diam sih..." ucap Eliza terheran dengan Julian.


"Iya sayang" jawab Juliam sembari berlalu berjalan ke kelas.


...


Saat pulang sekolah Eliza sudah duduk manis di punggung motor hitam milik Julian yang seperti biasa Dia lakukan.


"Sayang" ucap Julian dengan nada berat


"Iya apa sayang" jawab Eliza sembari memeluk tubuh Julian dari belakang


"Kita jalan jalan dulu yuk mau kan" ucap Julian menawarkan keinginanya terakirnya di Jakarta bersama Eliza


"Kok tumben sih tapi aku setuju kok" jawab Eliza seperti bocah


Julian mulai menjalankan motornya dan berjalan melaju mengelilingi kota Jakarta.


Suatu saat Dia akan rindu tentunya dengan kenangan ini Dia terus memikirkan cara aagr bisa mengutarakan isi dalam hatinya saat in dengan Eliza tapi tampaknya susah sekaki ibarat menelan batu kerikil


"Jul kok hanya diam sih aku yakin kamu ada sesuatu pasti" ucap Eliza yang tambah curiga dengan sifat Julian.

__ADS_1


Julian hanya diam dan tetap melanjukan motornya mengelilingi jalanan yang tampak ramai ini.


__ADS_2