Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 44 : Broken Heart part 2


__ADS_3

"Eliza....!!!"


Aku baru melihat wajahnya hari ini saat dia masuk namun yang membuatku sedikit tertegun hebat saat melihat dia dengan keadaanya yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Wajahnya terlihat pucat dan mata yang sembam serta hidung yang memerah


"Apakah dia sedang sakit...??"


"Dan apa hal itu menjadi alasan tidak masuk sekolah...??"


Ucapku bertanya-tanya dalam hati.


"Beban apa yang yang sekarang sedang kamu rasakan El...???"


"Pengakuan apa lagi yang pantas ku ucapkan untuk mu...??".


Otakku saling beradu menetukan benar atau salah setiap dugaan dari ucapan dalam hatiku.


Ingin rasanya aku menyentuh tanganya namun tanganku terasa berat


Dia berjalan menunduk mataku berusaha tak mempeduliakn kehadiran dia namun hatiku berteriak.


"Maafkan aku El ..."


Sebuah rindu itu berat dan yang terjadi saat ini lebih berat untuk aku ungkapkan.


Aku tersadar tanganya terbungkus perban dia berjalan sedikit lebih cepat.


"Apa yang terjadi dengan dia...???" Ucapku bertanya-tanya dalam hati.


"Maafkan aku El" ucapku pelan dan tanpa aku sadari dia sudah berlalu kekelasnya.


Perasaan tak karuan kini datang menyelimutiku


Rasa apakah kali ini...????.


Aku hempaskan nafas lelahku ketika tubuh mungilnya menghilang dari pandanganku


Apakah aku sangup mutusin kamu El....???


Apa hati aku terlalu jahat...???.


"Maaf El...!!" hanya kata kata itu yang sekarang tertahan oleh mulutku.


Segera aku masuk ke kelas dan duduk di sebelah Roy.


***


Pelajaran hari ini lumayan memuaskan aku banyak mendapat nilai bagus.


Dan jam isitirahat ke dua ini aku memutuskan ke perpustakaan, sedikit mencari refresing untuk sejenak menenangkan pikiranku yang saat ini sedang kacau.


"Bro gue perpus dulu ya...!!" ucapku ke Roy Denis dan Dika yang sedang main ponsel


"Oke ati-ati Jul banyak pengoda" ucap Roy sedikit meledekku.


"Apa sih lo kalo mau ikut-ikut aja kali" ucapku gemas menangapi ucapan konyolnya.


"Gak gitu Jul lo perlu was-was aja " tambahnya lagi yang layaknya seorang dukun.


"Entahlah apa maksud kalian" ucapku pasrah dan segera aku berlalu keluar kelas.


Setelah itu segera aku berjalan menuju ke perpustakaan banyak siswa lalu lalang dikoridor sekolah tak terkecuali banyak siswi anak kelas sepuluh yang mengedipkan mata ke arahku.


"Benar juga kata si Roy kalo banyak pengoda tapi mudah buat gue atasi" dehamku dalam hati sedikit sombong.

__ADS_1


Setelah sampai di perpustakaan segera aku mengisi daftar masuk dan meningalkan coretan di kertas betuliskan daftar hadir.


Aku segera menuju barisan buku yang terjejer rapi aku tertarik di barisan samping kananku yang berisikan ilmu fisika segera aku beranjak menggambil.


Settt


"Kamu mau ambil ini Jul...???" ucap seseorang yang disebelahku yang membuatku sedikit terkejut.


''Iya" jawabku sedikit gugup dan kakiku sedikit berjalan mundur.


Dia putri teman duet ku waktu pensi kemaren.


"Sama dong" ucapnya sambil mngambil buku yang sama denganku


"Iya" jawabku sedikit menjauh darinya.


"Jul duduk sini aja yuk...!!" tawarnya ke aku


Aku yang merasa tak enak mengiyakan ajakanya toh tak ada yang salah.


"Boleh" jawabku sambil beranjak duduk disebelahnya.


Setelah itu kita mengobrol bersama layaknya sudah kenal akrab dan dia tipe orangnya cerdas dalam berbicara jadi obrolan kita tidak membosankan.


Cantik kata yang hampir ku ucapkan ketika melihat dia saat tersenyum.


"O iya Jul kok lo tumben sih keperpus..??" tanyanya sambil membuka lembar ke tiga.


"Iya nih lagi pengen aja" jawabku santai.


"Lo sediri..?"" tanyaku yang berusaha menyeimbangkan pertanyaanya.


"Aku sering malahan.." jawabnya yang membuatku sedikut tertarik olehnya.


"Rajin ya.." ucapku sedikit memuji.


Selang itu kita saling terdiam dan wajahku sedikit menjadi merah.


"Sory gue ke toilet bentar ya.." ucapku kearahnya membuyarkan kesunyian yang sesaat tercipta.


"Iya..." jawabnya sambil melihatku beranjak berdirig


Segera aku sedikit berlari menuju toilet menghilangkan rasa gugupku ketika berada di dekatnya.


"Oh sialll..!!! kenapa gue jadi aneh gini sih" umpatku dalam hati.


Segera aku membasuh wajahku berkali- kali serta membasahi rambutku dengan sedikit air.


Ketika aku akan melangkah keluar dari bilik toilet wanita aku mendengar sedikit keributan dan membuatku sedikit tertarik mendengar cekcokkan dari mereka.


Aku mendengar suaranya sedikit familiar


di telinggaku.


"Eliza....???" Ucapku sedikit keras ketika aku mengenal suaranya


Sedikit aku menoleh dari celah pintu yang terbuka dan benar dugaanku Dea yang sedang berantem lagi dengan Eliza.


Otakku terus berputar hebat aku bimbang apa yang harus aku lakukan aku mencoba mengetahui alasan Dea yang tak lelahnya mencari keributan dengan Eliza.


"Lo sih pakai selingkuh segala..." ucap Dea ke arah El yang kutau Eliza sedang tersungkur di lantai.


Aku ingin menolongnya namun langkahku sangat berat saat ini.


"Kenapa gak lo bunuh gue aja Dea...??" ucapnya dengan keras dan emosi yang membababi buta dan menunjuk jari telunjuk nya ke arah Dea.

__ADS_1


"Kenapa gak lo bunuh gue disaat gue di jebak gue dituduh dan Julian aja gak percaya sama gue, lo kira gue apaan???" ucapnya sambil terisak.


Aku sangat kasian kini melihatnya begitupun dengan keadaanya.


"Gue juga manusia De gue juga punya hati" tambah nya lagi dengan suara parau.


"Bunuh gue sekarang biar lo puas ambil Rehan dan gara-gara dia aku sekarang jadi kaya gini...!!!!" ucapnya dengan air mata terus mengalir.


"Sefrustasi itukah El hinga kamu berucap terdengar semengerikan itu" ucapku dalam diam dan degup jantung yang tak lelah bergejolak hebat.


"Kaya gini kenapa??" tanyanya Dea berusaha memegang tangang Eliza.


"Lepas...!!!" ucapnya dengan kasar berusaha menampik tangan Dea.


"Asal kamu tau De aku gak suka sama Rehan seinci pun jadi berhenti jadiin gue pelampiasaan kecewanya hati kamu karena Rehan..." ucapnya lagi berusaha berdiri dengan bibir bergetar hebat.


Settt


Hatiku serasa dipukuli besi berlapis-lapis mendengar ucapan Eliza barusan "jadi selama ini aku salah....!!!" gumanku dalam hati.


Hati ku kini bergetar hebat segera aku ingin memeluknya namun lagi-lagi kakiku berat untuk melangkah.


"El...." Ucapku sedikit pelan dan terpotong dengan dia melangkah keluar dari toilet dengan menangis sesegukan membuat hatiku menjadi iba melihatnya.


"Bodoh...!!" ucapku dalam hati.


Segera aku berlari mengejar Eliza namun dia masuk ke kelas dan keluar lagi dengan membawa tas.


Aku berjalan pelan berusaha mendekatinya.


"Eliza..." teriaku namun sudah ada Aftur di sampingnya.


"Bodohnya aku...!!!' ucapku sedikit memukul tembok yang ada di sampingku.


Aku berusaha mendekatinya dengan langkah ragu dan aku tak yakin untuk melakukan.


"Minggir...!!!" ucapku ke Vey yang ada di sampingnya.


"Mending lo yang pergi....!!" ucap El berusaha berdiri dengan air mata yang membanjiri wajah manisnya.


"Gue minta maaf El..." ucapku pelan.


"Gue pengen pulang Vey" ucapnya lirih dan mengacuhkan ucapanku.


"Biar aku yang antar...!!" ucapku ke Vey


"Gak peru Jul gue bisa antar dia...!!" ucap Vey dengan nada tak suka ke arahku sembari dia memegang pundak Eliza dan membantunya berjalan.


Eliza sedikit melirikku dengan raut wajah yang terlihat memprihatikan dan membuat hatiku teriris tipis-tipis.


"Menyakitkan...!!".


Tanganku berusaha meraih namun nihil semua sudah terlambat.


Segera aku berlari menemui Dea yang membuat Eliza menjadi terpuruk seperti tadi.


"Lo gk seharusnya bentak Eliza Dea...!!"


"Lo kok jadi nyolot sih...??".


"Gue gak akan tinggal diam kalo sampai terjadi apa-apa dengan El...!!!" ucapku dengan kata-kata penuh penekanan.


"Lo masih peduli rupanya...??" ucapnya sedikit meledekku dengan alis dinaikkan.


Drekkk seperti terguyur oeh batu kerikil aku berasa menelan ludahku sediri.

__ADS_1


"Bukan urusan lo...!!!" ucapku ketus ke arahnya dan segera aku beranjak pergi meninggalkan Dea dan segera menuju kelas.


Dengan emosi yang tak kunjung padam kuputuskan menyederkan kepalaku di meja untuk menenangkan pikiranku yang sedang kalut.


__ADS_2