
Aku terus memandang pungung itu yang mulai menghilang perlahan dari mataku, tak berapa lama Dika datang.
Aku mulai mengusap air mataku agar aku tak terlihat sedang menangis.
"Mana Julian El...?" tanyanya dengan tergopoh-gopoh menghampiriku.
"Dia pergi Dik" jawabku lesu.
"Lo gak apa-apa kan...?" tanyanya dengan rasa peduli.
"Gue.. Gak papa" jawabku meyakinkan.
"Serius...??" tanyanya lagi.
"O iya hari ini aku ada ulangan matematika jadi aku harus buru-buru ke Sekolah sekarang juga" ucapku mencari alasan agar aku bisa segera pergi dan tak terlihat kalau aku sedang menangis.
"Okee biar Julian gue yang urus" ucapnya dengan mengangkat tangan tanda dia bisa menyelesaikan masalah ini.
''Yaudah gue pergi dulu ya" pamitku ke dia.
....
Julian pov
Hari ini aku bolos Sekolah lagi di rumah atau di luar rumah sama aja seperti neraka rasanya melihat kedua orang tuaku yang terus bertengkar membuat rumahku bukan tempat ternyaman seperti dulu lagi.
Aku berdiri di atas gedung kosong yang belum sepenuhnya jadi dan dibiarkan tanpa dilanjutkan lagi pengerjaanya.
"Waaaaaaa...."
Aku berteriak sekeras mukin, mukin ini caraku bercerita kepada alam.
Alam memang diam, namun mampu mendengar.
Aku tak peduli kondisiku yang seperti sekarang, menghabiskan uang hanya untuk membeli minuman setan serta beberapa bungkus rokok.
"Bluhh...."
Aku hisap dan aku keluarkan asap manis ini dari mulutku, hidupku terasa bebas sekarang aku tak butuh sosok siapa pun dihidupku saat ini.
Suara semilir angin yang berdesis menjadi temanku dalam keheningan yang memilukan ini.
Kedua orangtuaku akan bercerai dalam waktu dekat dan aku tak menau akan jadi apa aku selanjutnya, aku tak pernah belajar seperti orang dulu bahwa hidup itu keras aku memang hanya anak manja yang hanya bisa menghabiskan hidup dengan tertawa tanpa tau kehidupan tak layaknya seorang raja.
Aku menertawai bodohnya Eliza yang masih peduli denganku aku tak menyangkal bahwa seorang wanita memiliki kodrat hanya untuk menangis dan menangisi orang seperti diriku, "cuihh'' aku meludah dan menyeringai ketika melihat sifat manis Eliza tadi.
Tentang dia aku akan melupakanya.
"Jul..."
Aku menoleh dan mendapati Dika yang berdiri mematung dibelakangku.
__ADS_1
"Lo kenapa men...?" tanyanya dengan lugas.
"Gue...?" jawabku sembari menyusun kalimat.
"Mending lo pergi urus sendiri hidup lo jangan urus urusan gue karena lo bukan siapa-siapa gue....!!'' ucapku melanjutkan ucapanku yang terpotong.
"Cuih.... lo kemasukan roh siapa sih lo bukan Julian yang gue kenal" jawabnya sok seperti peceramah handal itu yang membuat kemarahanku semakin menjadi.
"Terus salah kalo gue milih jalan hidup gue yang kaya gini..." ucapku berusaha mematikan omong kosong dia.
"Udah Jul ini gak waktu bercanda ingat cita-cita lo dulu lo masih punya banyak tugas di sekolah gak usah main-main...!!" jawabnya berusaha menasegati orang bodoh sepertiku.
"Buaghhhh....' gue peringatin sekali lagi jangan pernah temui gue lagi urus sediri hidup lo....!!!" ucapku memeperigati dia dengan tamparan keras.
"Dasar bocah gila...." ucapnya dia dengan sepontan dia terkejut betapa beraninya Julian sekarang
Setelah itu aku pergi membiarkan Dika sendiri di tempat itu, bisa dibilang saat ini aku sedang kacau, pikiranku tak karuan, aku mengerti sifat Dika dia memang benar-banar teman sejatiku, namun egoku sekarang lebih mendominasi.
Aku terus berjalan layaknya orang tak punya rumah, jika aku bergabung dengan temanku di gang seperti biasa jelas aku tak mau mengulang kejadian tadi pagi dua kali, ku menyetuh bibirku dan mengusap bekas darah yang keluar dari mulut serta hidungku.
Sampai rumah
Hari semakin larut aku baru memutuskan pulang aku berjalan sempoyongan seperti gelandangan.
Banyak pasang mata melihatku baju seragam yang sudah bau dan tampak kotor.
Saat sampai rumah aku membuka gerbang rumahku perlahan,
Aku mulai masuk dan mengintip dari jedela ruang tamu terlihat mama sudah membereskan barang-barangnya serta membawa beberapa koper besar dan adikku sudah berpakaian rapi.
"Deg..."
''Mama mau kemana...??" ucapku seraya membuka pintu dan menghampiri mamaku.
"Jul mama harus pergi" jawabnya dengan lembut matanya menyiratkan kondisinya sedang tak baik-baik saja.
"Papa itu gila ya ngusir mama seenaknya...!!" ucapku dengan nada tinggi ke arah papa dan tanganku ku tunjukan ke arah papaku.
"Aku akan ikut mama...!!" tambahku lagi ke arah papa dengan tatapan mengancam.
"Julian masuk kamar....!!" peritah papaku dengan kasar ayah tak pernah mengerti perasaanku sekarang.
"Papa gak punya hak buat atur aku apalagi hidupku sekarang..." jawabku dengan mata melotot aku sangat membenci ayahku saat ini.
"Kita pergi sekaang Ma" ajakku ke mama berusaha mengandeng tanganya untuk pergi dari rumah.
"Jul kamu tetap disini ya biar mama sama adek yang pergi selesain dulu sekolah kamu nanti kamu ikut mama ke Bandung, kalau kamu udah lulus" ucap mama ke arahku dengan berurai air mata seraya melepaskan tanganku.
Air mataku jatuh aku memeluk mama se erat-eratnya
"Jangan tingalin anak bodoh mama ini ma" mohonku ke mama kemudian aku membalikan badan aku berusaha menyembunyikan air mata ini.
__ADS_1
"Sayang kita hanya pisah rumah kamu bisa kapan saja ke bandung buat temui mama dan adik kamu" ucap mamaku berusaha menenangkan pikiranku mukin mama tau perasaanku sekarang.
Hatiku goyah emosiku di pompa.
''Gak ma pokoknya Julian harus ikut..." mohonku lagi dengan penuh harap aku mematap mama penuh permohonan.
"Buagh.....' kamu masuk kamar Jul atau ayah main kasar ke mama kamu lagi....!!!" perintah papaku melarang aku ikut dengan mama dengan tatapan tajam.
"Jadi papa main kasar ke mama papa tu lelaki gak seharusnya papa main kasar ke mama....!!" ucapku dengan suara keras dan brutal.
"Jaga mulut kamu Julian kamu anak kecil gak usah nasehati papa...!!!" papa berusaha membalas ucapanku
"Okeeeee papa pecundang.....papa itu setan hidup....!!!" ucapku keras ke arah papaku dengan mengebu-ngebu.
"Dasar anak tak tau di untung pergi ke kamar sana masih bocah mau ikut urusan orang tua saja...!!"
"Ma suatu saat Julian akan temui mama..." ucapku sembari berjalan ke kamar dengan berjalan melewati papaku tanpa rasa hormat.
"Jeeeblakkk...."
Aku banting pintu kamarku dengan keras aku tendang semua isi kamarku dengan brutal.
Aku tendang semua yang ada di depanku.
Saat ini darahku benar-benar mendidih, kebencianku terhadap ayah semakin meluap-luap andai saja, uangku waktu itu tak aku gunakan untuk berfoya-foya pasti sekarang aku bisa ikut dengan mama
ATM papaku hilang gara-gara teman brandalanku waktu itu dan sekarang papaku melarang aku ikut dengan mama dengan berbagai ancaman.
Aku berjanji aku tak akan seperti papaku kelak.
Aku kembali mengambil kotak kecil berwarna merah berlogo angka 7 dan 6 itu, aku keluarkan dan tanganku yang sebelah kiri mengambil korek api.
Aku tak peduli aku memakai produk murahan aku hanya mencari ketenangan jiwaku saat ini.
Aku nyalakan korek api dan aku bakar ujung dari putung rokok yang berbau menyengat ini.
Uhhhh terasa begitu nikmat dan sedap aku terus menghisap rokok, duniaku lebih lambat berputar rasanya.
Air mataku jatuh saat melihat mamaku mulai pergi dari rumah dadaku sesak dan tanganku gemetar aku sunguh menyayangi wanita itu hingga aku mengakui aku anak bodoh yang tak bisa menjadi lelaki sejati, memoriku kembali berputar menampilkan ribuan kenangan yang tak mukin terulang kembali untuk kedua kalinya.
Aku tak kuasa melihat mamaku berjalan keluar dari rumah.
Aku memandangi pantulan tubuhku di cermin aku menyetuh luka yang belum mengering ini aku lihat wajahku yang terlihat memilukan aku sakit ma hatiku sakit melihat mama pergi.
Punggung yang selalu menjadi batalan lipur laraku itu kini telah pergi.
Suara yang selalu menjadi peneduh hati itu kini telah hilang.
Otakku terus berputar bak komedi putar memutar penumpangnya semua kejadian hari ini terngiang-ngian kembali, saat ini aku belum bisa berdamai dengan keadaan yang memaksaku harus menerima, berat memang satu bagian tubuhku serasa hilang dengan kepergian mamaku.
Perlahan rasa kantukku datang dan mata ini dengan perlahan menutup, deruan nafas yang teratur kini kurasakan setidaknya otakku istirahat walau sejenak.
__ADS_1
.......