
Rehan mulai pergi meninggalkan kedai itu dengan perasaan yang sudah tak usah ditanya lagi ketiga temanya masih berada di dalam kedai itu dan pastilah nanti akan menimbulkan tanda tanya besar.
Motor itu terus berjalan nenuruti kemauan si empunya yang tampak sedang berkalut emosi itu.
Wajah tampanya tampak merah membara tak jua padam hatinya mengeras sekaras batu di padang sahara dengan pikiran rumit yang senantiasa berlari-larian di dalam otaknya.
Azan mahrib mulai berkumandang tanda hari mulai petang Rehan masih mengelilingi padatnya jalan raya yang kian malam kian ramai hatinya tampak sedang gundah gulana memikirkan wanita yang dicintainya tak pernah membalas perasaanya dan membuatnya selalu menemuinya dengan kecewa.
Bahasa kasarnya mencintai tanpa balasan itu lebih menyakitkan karena kita berpura-pura menjadi pahlawan untuk diri sendiri.
Entahlah Eliza hanya wanita biasa namun bagi Rehan wanita itu memiliki candu tersendiri baginya.
Badanya terasa letih hingga pada akhirnya Dia memutuskan untuk pulang karena sesunguhnya tempat untuk menepi terakir hanyalah rumah.
Rehan mulai memarkirkan motorya di dalam garasi Dia sedikit menendang motor pemberian almarhum Ayahnya itu yang meninggal sebelum kecelakaan setahun yang lalu Dia bukan tak suka hanya Dia butuh kehadiran sosok Ayahnya yang sekarang hanya tinggal kenangan itu.
Rehan berjalan masuk melewati wanita yang kini terlihat sedang melembur pekerjaan kantor itu tanpa sapaan.
Ayunda tak tinggal Diam ketika anaknya memperlakukan dirinya tak layaknya orang lain padahal susahnya Dia melahirkan anaknya waktu itu bagai bertaruh nyawa.
"Kenapa sih kok gak ada salam masuk ke rumah Han...?" ucap Ayunda dengan nada tinggi entahlah akir-akir ini Dia lebih sensitif dan mudah lelah serta menangis semenjak pertemuan dengan Amelia waktu itu di Bandung.
Rehan hanya tersenyum acuh ke arah Ayunda baginya diam lebih baik daripada berbicara hanya mencoba membuat luka baru.
"Han jawab mama dong..." ucap Ayunda kembali dengan berusaha menyentuh wajah anaknya namun hanya mendapat penolakan belaka.
"Pokoknya aku gak akan pernah setuju kalau mama nikah lagi apalagi dengan sosok lelaki yang aku kenal betul dengan anaknya..." jawan Rehan dengan keras dan nada tinggi tanpa menoleh ke arah Ayunda.
"Rehan apa maksud kamu...?" tanya Ayunda kembali berusah melihat wajah anaknya Dia begitu terkejut mendapati wajah anaknya memar seperti beberapa waktu lalu.
"Han ini kenapa kamu berantem lagi...?" tanya Ayunda sembari menyentuh luka itu namun lagi-lagi hanya mendapat penolakan keras dari Rehan yang tampak tak ingin ada orang lain ikut campur dengan urusanya.
"Apa sih ma ini semua juga gara-gara mama bikin malu aku tau gak sih ma aku tu dipermaluin Julian depan umum dan itu gara-gara mama semua gara-gara mama....!!!" jawab Rehan dengan ketus serta nada yang membuat hati Ayunda sakit serta tanpa mau merendahkan volume suaranya hingga membaut suara itu seakan-akan mengema.
"Han ini semua berjalan tanpa mama suruh semua berjalan dengan sendirinya..." jelas Ayunda yang hanya diangap lelucon bagi Rehan.
__ADS_1
"Ma yakin berjalan sendiri harusnya mama tu paham gak seharusnya mama rebut lelaki orang ma..." jelas Rehan lagi dan kata-kata terakir itu membuat hati Ayunda terasa sakit apalagi anak sendiri yang mengatai.
Ayunda tak akan kuat menjawab ucapan dari Rehan Dia hanya bejalan ke kamar meninggalkan pekerjaan yang membuat kepalanya seperti pecah dan Dia mulai duduk sembari menyetuh dadanya yang sesak merasakan sakit akibat ucapan anaknya hingga buliran bening itu jatuh menyapa di kedua sudut matanya.
Dia terisak merasaakn setiap ucapan anaknya yang terasa menyakitkan itu ya terkadang memang Dia butuh sesosok lelaki untuk mendapinginya karena untuk berjalan sendiri itu baginya Dia belum mampu dan tak mudah hidup singel parent dan harus membiyayai semua sendiri. Dan sosok wijaya Aji Tama yang mampu membuat hatinya luluh.
Dia tak menyangkal banyak lelaki mapan yang mendekatinya namun hanya satu Wijaya seorang yang berhasil membuka hatinya dan bisa diterimanya.
Entahlah saai ini Dia benar-benar mudah sensitif pekerjaan banyak dan berita simpang siur akan dirinya itu bertebar dimana-mana Dia tentu harus menjaga image dirinya karena karirnya saat ini sedang dimasa jaya-jayanya Dia baru saja di lantik satu pangkat kebih tinggi dari jabatan sebelumnya.
....
Siang hari saat jam makan siang.
"Ayunda kamu kenapa sih gak enak badan" tanya Wijaya kepada Ayunda yang tamoak pucat sayu itu dengan nada khawatir.
"Iya kayaknya mas aku mudah mual sama sedikit pusing" jawab Ayunda dengan nada pelan sembari memegang kepalanya yang terasa bagai di tusuki jarum itu.
"Kita ke dokter yuk kayaknya kamu kelelahan deh..." ucap Wijaya yang tak tega melihat kondisi Ayunda yang tampak memprihatikan itu sembari menawarkan sikap perhatianya je Ayunda.
"Iya oke terserah, kamu sekarang kok mudah banget sih kepancing emosi padahal kan aku ngomongnya baik-baik sayamg" ucap Wijaya dengan nada sedikit emosi karena merasa sikapnya serba salah di depan Ayunda.
'"Iya mas maaf aku kayaknya harus minta cuti deh buat rileksin pikiranku dulu" jawab Ayunda mulai menyadari sikapnya yang kurang pantas itu sembari memijat pelipisnya dengan lembut.
"Iya itu lebih baik sayang" ucap Wijaya dengan mengelengkan kepala sembari meminum air dingin di dalam gelass itu.
"Yaudah mas aku harus balik ke kantor sekarang" ucap Ayunda seraya berdiri dan menaruh uang tiga ratusan ribu itu di atas meja Rasa laparnya mendadak kenyang dengan perbincangannya dengan Wijaya.
Wijaya tampak merasa terendahkan dengan lembaran uang itu.
"Kamu gak makan dulu...?" tanya Wijaya dengan raut wajah memohon walau hatinya jua kesal dengan Ayunda.
"Gak mas soalnya aku mual" jawab Ayunda dengan menahan gejolak di perutnya sembari meningfalkan temoat itu dengan acuh.
Wijaya hanya mengelengkan kepala makin hari kepalanya makin bertumpuk emosi aja bukan masalah rumah bukan masalah wanita semua membuatnya menjadi sefrustasi saat ini.
__ADS_1
Tak berapa lama Wijaya segera beranjak dari tempat duduknya dan membayar di kasir walau makanan belum Ia sentuh sedikitpun tapi nafsu makanya sekarang terasa menghilang tanpa sebab Dia menoleh arloji di tangan kirinya dan mendapati jam makan siang sudah hampir usai.
Sedang Sepulang dari kantor Ayunda segera memberanikan diri mememeriksakan kondisinya ke Dokter yang biasa jadi langananya.
Tak perlu mengantri lama karena Dia tak memakai BPJS menjadikan Dia cepat tertangani.
Betapa terkejutnya Ayunda saat diperiksa Dokter itu menyarankan untuk testpack karena gejala yang dirasakan Ayunda mirip gejala orang hamil. Dia makin tertawa perlahan pikiranya kembali kalut namun Dia bisa apa selain membayar dan mengambil obat di apotik.
Dia mencoba pergi ke bilih toilet di tempat itu Ia mencoba menarik nafas sedalam-dalamnya dan Ia keluarkn secara perlahan-lahan Tanganya gemetar dan perasaan ingin mngeluarkan seluruh isi perutnya itu sudah tak bisa di tahan lagi hingga Dia mual beberapa kali. Hampir lima belas menit Dia di toilet itu hingga pada akhirnya Dia keluar dengan badan kembali merasa tak enak saat ini tubuhnya mulai sedikit deman dan merasakan hawa kurang enak.
Didalam taksi Dia memandang jalanan demgan tatapan kosong Dia hanya diam kembali berbaik sangak pada Tuhan agar memaafkan kesalahanya dan menolongnya saat ini karena saat ini Dia sedang di posisi kurang baik.
Saat sampai rumah Dia segera membuka benda berbentuk pipih itu yang Dia beli di apotik di dekat tempat tinggalnya.
Dia segera terburu-buru berjalan ke arah toilet tanpa menyapa anaknya yang sedang pulang dari kampus.
Dia mulai membuka benda itu dan melaukan pada umumnya untuk menguji kehamilannya.
Satu detik hingga enam detik dan sampai satu menit.
Tangan Ayunda bergetar hebat saat hasil itu menunjukan dua garis merah Dia sangat syok hingga Dia menjatuhkan air matanya dengan sendirinya tanpa Dia suruh.
Dia berjalan ke ranjang tempat tidurnya baru kali ini Dia benar-benar merasakan pahitnya kehidupan setelah di tinggal oleh suaminya meninggal. Dia mencoba menertawai hasil itu karena baginya ini bisa saja salah.
Dia mencoba untuk kembali melakukan hal yang sama dan Dia kembali melihat hasil test pack untuk yang kedua kalinya dan hasilnya tetap sama dua garis merah.
Ayunda mulai menangis Dia tak menyangka akibat nafsu lelaki yang di percayai itu telah merusak kehormatanya Dia tak berfikir panjang akibatbya beresiko sebebesar ini
Dia terus menangis dengan menutup mulutnyadengan telapak tanganya agar anak lelakinya tak memdengar suara isak tangisnya kini serasa dunia sudah menutup segala hal baik tentangnya.
Dunianya runtuh karirnya akan hancur bagai sekejab mata ingin rasanya Dia menolak janin yang berada didalam kandunganya namun Dia tak sejahat itu tentunya namun menerima dengan berkata aku baik-baik saja jekas tak mungkin.
Dia menyeka air matanya ternyata begitu sakit rasanya hamil tanpa suami
Malam semakin larut Ayunda hanya diam mebisu di dalam bilih toilet itu Dia tak menyangka begitu teganya Dia pada dirinya sendiri hingga membuatnya bisa hamil.
__ADS_1
Dia tak bisa tidur semalaman Dia teramat susah untuk memejamkan matanya Dia membayangkan hal buruk sudah menyapanya dengan senyum pembalasan.