
Keluarga Eliza.
Mereka saat ini masih berada di Hotel karena nanti malam keluarga itu akan mengadakan pesta untuk Eliza yang masih di sembunyikan rapat-rapat.
Hari hampir sore namun Eliza masih berada di zona nyaman dengan berbaring sembari mendengarkan musik pop barat serta senyum-senyum sendiri, ya saat ini Dia sedang kesemsem saat chatingan dengan Julian. Apapun terasa menyenankan jika hal itu membahas soal hati mereka.
Kedua kakaknya sedang tidur begitupun lelaki yang di panggil ayah itu.
"Eliza.." ucap wanita itu yang tengah sibuk mengurusi cucunya karena anak mantunya sedang membeli peralatan mandi untuk Raca yang tertinggal.
"Iya ma..." jawab Eliza dengan tak berpindah tempat dan masih melakukan hal yang sama.
"Cepet mandi...." perintah wanita itu lagi namun dengan nada sedikit tinggi karena begitu jengkelnya terhadap putri bungsunya itu.
"Ihh ma itu kak Dio dulu tuh....." ucapnya lagi yang engan beranjak dari tempat tidur itu hingga membuat mamanya naik pitam.
"Eliza buruan..." ucap wanita itu lagi dengan berjalan menghanpiri putrinya begitupun cucunya ikut berjalan di belakanganya dan tanpa sengaja menjatuhkan coklat itu ke arah wajah Eliza.
"Raca jangan tempelin ke tante dong coklatnya kan cemong pipi tante..." ucap Eliza dengan kesal karena coklat yang mulai mencair itu terkena wajahnya hingga membuatnya harus bangun dan anak kecil bernama Raca itu justru tertawa hingga membuat hati Eliza kesal.
"Eliza ngalah dong sama anak kecil..." ucap wanita itu dengan mengelengkan kepala.
"Tapi kan lengket ma..." jawab Eliza dengan melihat wajahnya dipantulan cermin dan terlihat wajah hampir semuanya ditekuk layakanya pakaian kusut.
"Manja banget deh tinggal dicuci juga sayang.." ucap wanita itu sedikut menahan tawanya.
Eliza hanya diam dan berusah membersihkan tumpahan coklat di wajahnya itu.
"Sini Raca ikut oma sambil makan ya..." wanita itu meraih tangan cucunya sembari menyuapinya dengan nasi tim.
Dengan terpakasa Eliza mengambil handuk miliknya dan berjalan ke kamar mandi namun Dia terlupa belum menyimpan ponselnya dan tanpa disadari wanita itu membaca isi percakapan putrinya dengan lelaki bernama Julian itu
Wanita itu sedikit kecewa ternyata alasan di balik Eliza mau di ajak ke Bandung karena lelaki tersebut.
"Sebaik apa sih Julian ini hingga buat kamu buta soal cinta.." ucapnya dengan pelan sembari menghela nafas dengan kasar Dia semakin tak suka dengan lelaki bernama Julian ini.
Eliza keluar dan mendapati kamarnya kosong Dia segera berganti pakaian tak lupa Dia kembali mengecek ponselnya dan membalas pesan dari Julian.
Hari hampir malam kurang lebih pukul tujuh malam keluarga itu sedang mempersiapkan segala hal yang terbaik untuk pesta Eliza.
Dia sudah memboking dua set meja berukuran besar untuk acara nanti tak lupa kue ulang tahun yang sudah dipesanya jauh-jauh hari serta makanan terenak yang akan tersaji nanti.
Terlihat Keluarga besar Handoko itu sedang merayakan pesta ulang tahun putri sulungnya yang berusia tujuh belas tahun yang dirayangkan di testoran ternama yang berada dipusat kota Bandung.
__ADS_1
Eliza sedari tadi masih ditutup matanya dengan kain dan tak di beri tahu acara hari ini yang tentunya suprise untuk Dia.
"Mau di bawa kemana sih kak..." ucapnya dengan rasa penasaran dan sangat heran dengan apa yang di lakukan kak Tea terhadapnya sekarang
"Udah ikut aja bentar lagi juga sampai kok.." ucapnya ketika turun dari mobil.
Tea dengan sabar menuntun adik iparnya itu sedang keluarga yang lain sudah bersiap di dalam balkon restoran ternama itu.
"Hati hati ada tangga..." ucap kak Tea dengan perlahan-lahan.
Eliza hanya menuruti dan berjalan hati-hati. Wanita yang sedang duduk sembari bercanda dengan cucunya itu segera mengahampiri putri kesayanganya dan membantunya berjalan menuju ke tempat yang sudah dipersiapkan.
"Satu... dua... tiga..." ucap mereka serentak ketika Eliza mulai berdiri menghadap pemandangan kota bandung yang teramat indah itu serta hiasan lampu-lampu kecil yang tampak menarik tak lupa beberapa balon berwarna silver dan gold itu sudah terpasang dengan rapi hingga membentuk angka tujuh belas.
Wanita itu mulai membuka kain penutup mata putrinya dan membuat Eliza terkejut Dia tak menyangka keluarganya akan memberikan suprise semeriah ini
"Happy brith day to you my sister..." ucap lelaki bernama Dio itu sembari mencium pipi adiknya.
"Kak Dio..." Eliza menangis haru di pelukan kakaknya karena harang sekali Ia menjumpai sifat kakanya semanis ini.
"Mama serius ini bagus banget..." ucap Eliza tampak tak percaya perlahan-lahan balon itu satu persatu meletus dan membuat kertas origami yang dipotong kecil-kecil itu berjatuhan di atas kepala Eliza.
"Iya sayang selamat ulang tahun yang ke 17 tahun Ya harapan mama kamu akan tumbuh menjadi gadis yang kuat dan cerdas..." ucap wanita itu dengan memeluk putrinya terlihat nada yang dikeluarkan begitu tulus.
Kue ulang tahun berbentuk persegi yang berukuran besar itu dihadapkan ke arah Eliza yang di bawa oleh wanita bernama Tea itu.
"Tiup lilinya..." ucap Kak Bima yang terdengar meriah sembari mengendong Raca.
"Berdoa dulu dong ..." sela lelaki yang berbama Handoko itu.
Eliza mulai menundukan kepala dan mulai berdoa begitupun yang lain mendoakan yang terbaik untuk Eliza.
Setelah itu di tiup lilin berangaka 17 itu semua bertepuk tangan tampak rona wajah bahagia terpancar dari wajah Eliza beserta keluarganya tak terkecuali kak Tea yang juga menyayangi adik iparnya itu.
Mereka melanjutkan makan malam tak lupa ada musisi yang memainkan alat musik angklung itu dipadukan dengan piano yang secara khusus dipesan oleh lelaki itu untuk putrinya.
Ditamabah cahaya kelap-kelip lampu itu menambah kehangat suasana harmonis di keluarga tersebut
Namun kebahagianya terasa kurang karena tiada Julian bagi Eliza.
"Gimana suka gak sayang...?" tanya Wanita itu sembari mencium Putrinya.
"Suka banget makasih ya ma yah..." ucap Eliza dengan memeluk kedua orangtuanya.
__ADS_1
Mereka mulai melanjutkan makan hingga larut malam sembari berbincang-bincang tak lupa membahas acara selanjutnya untuk berkunjung ke tempat wisata.
"Ma..." ucap Eliza terdengar dengan nada bergetar nyalinya kali ini benar-benar ciut.
"Iya..." jawab wanita itu dengan mengangkat alis matanya.
"Besok aku boleh kan jalan sama temen" ucap Eliza dengan perasaan was-was.
"Siapa...?" tanya wanita itu basa-basi karena dia tau arah pembicaraan putrinya pasti dengan Julian.
"Julian mah..." jawab Eliza dan sukses membuat keluarganaya menghentikan acara makanya dan membuat Wliza semakin salah tingkah.
Wanita itu hanya diam membuat dan menimbulkan teka-teki bagi Eliza.
"Udahlah ma gak papa tapi besok Dia suruh kesini dulu ya sayang..." ucap lelaki itu kepada Putrinya Dia tau sifat istrinya yang terlalu mengekang putri satu-satunya itu.
"Iya yah makasih ya..." ucap Eliza dengan rasa bahagia.
"Kaya apa sih yang namanya Julian itu sampai bikin seorang Eliza jadi sebucin ini...." ucap Dio sedikit mengoda adeknya yang tampak ketakutan disaat meminta ijin kepada kedua orang tuanya.
Hati Eliza sedikit memgembang andai Dia bisa bercerita kepada kakanya itu, siapapun tak akan ada yang bisa menyamai semua hal yang di miliki Julian.
Wanita itu tampak tak setuju namun hanya diam sembari melanjutkan makanya.
"Widih besok ada yang mau liburan nih..." celoteh kak Bima yang disusul senyum kak Tea.
Eliza hanya yersenyum malu-malu sedang kak Dio berusaha mengoda adiknya lagi dengan mencomot paha ayam bakar milik Eliza.
"Kak Dio..." ucapnya dengan kesal baru juga terlihat baikan namun untuk bertahan lama sepertinya tak akan mungkin.
"Dikit juga ulang tahun tu bagi-bagi.." ucap Dio yang tak mau mengalah dengan adiknya.
"Iya tapi mama gak sepenuhnya ngijinin kamu lho sayang" ucap wanita itu pada akhirnya mengekuarkan unek-uneknya walau sebenarnya Dia tak akan pernah mengijinkanya.
Eliza hanya menganguk sembari berteriak dalam hati kegirangan.
Malam itu benar-benar menjadi mimpi Eliza yang nyata karena bisa berkumpul bersama keluarga selengkap ini yang sekarang mulai susah untuk berkumpul karena kesibukan masing-masing.
Langit tampak mendungkung dengan tidak menumpahkan beban beratnya itu, di tambah angin malam berhembus dengan merdu serta ditambah alunan musik nan kalsik menambah kesan harmonis di keluarga tersebut.
Tak lupa petasan kembang api itu muncul berkali-kali dan membuat Eliza semakin bertambah bahagia Dia tak butuh kado mewah karena berkumpul seperti saat ini baginya sudah lebih dari cukup.
Eliza bucin banget ya😍
__ADS_1
Salam dari kak Dio